**Bab 9: Satu Atap Saat Badai**
Aira mengernyit heran. Siapa yang bertamu jam segini? Kamila, sahabat sekaligus teman sekamarnya, malam ini sedang pulang ke rumah orang tuanya di Bogor. Ditambah lagi, di luar hujan baru saja turun dengan sangat deras, diiringi angin kencang yang membuat kaca jendela kamarnya bergetar.
Dengan langkah ragu, Aira berjalan ke arah pintu depan. Saat dia membukanya, matanya langsung membelak sempurna.
Di depannya, berdiri Arkan.
Cowok itu mengenakan jaket bomber hitam yang tampak basah di bagian bahu. Rambut depannya sedikit lepek karena terkena tetesan air hujan, memberikan kesan berantakan yangβanehnyaβjustru membuat dia terlihat sepuluh kali lipat lebih tampan dibanding biasanya. Di tangan kanannya, dia memegang sebuah payung hitam yang masih basah.
"Arkan?" Aira mengerutkan kening, bingung setengah mati. "Lo... kok bisa di sini? Jam segini?"
Arkan tidak langsung menjawab. Matanya menatap Aira dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aira yang baru selesai mandi hanya mengenakan kaus oblong longgar dan celana tidur bergambar beruang. Rambutnya yang setengah basah dibungkus handuk kecil berwarna merah muda.
Arkan berdeham, berusaha mengalihkan pandangannya yang sempat tertahan beberapa detik. "HP lo kenapa nggak aktif?" tanyanya, suaranya terdengar dingin seperti biasa, tapi ada nada cemas yang tertahan di sana.
"Oh, lowbat. Lagi gue cas di kamar," jawab Aira jujur. "Emang ada apa? Urgent banget ya sampai lo harus ke kosan gue malem-malem begini?"
"Ikut gue sekarang," kata Arkan ringkas.
"Hah? Ke mana? Di luar badai begini, Kan!"
Arkan menghela napas panjang. Dia menunjuk ke arah koridor luar kosan Aira yang sudah mulai digenangi air setinggi mata kaki. "Daerah sini rawan ba****. Di depan gang lo, airnya udah hampir selutut. Kalau lo telat keluar setengah jam lagi, lo bakal terjebak di sini tanpa listrik dan makanan. Kosan lo ini lant** bawah, kan?"
Aira menengok ke arah luar, dan benar saja, suara gemercik air yang mengalir deras terdengar semakin dekat. Dia mulai panik. "Eh, iya juga... Biasanya emang kalau hujan segede ini, jalan depan langsung kayak kolam renang."
"Makanya. Buruan kemas barang penting lo. Dompet, HP, charger, sama baju ganti buat besok. Gue tunggu di mobil," perintah Arkan dengan nada yang tidak menerima bantahan.
Melihat kepanikan yang mulai menyerang, Aira tidak punya waktu untuk berdebat atau bertanya kenapa Arkan tiba-tiba peduli. Dia langsung berlari ke dalam kamar, menyambar tas ranselnya, mema**kkan barang-barang berharga, dan mengganti handuk di kepalanya dengan jepitan rambut.
Begitu keluar, Arkan langsung merangkul bahu Aira, memayungi gadis itu erat-erat agar tidak terkena cipratan air hujan yang sangat deras saat mereka berjalan cepat menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir di ujung gang.
***
Perjalanan malam itu terasa sangat menegangkan. Wiper mobil bekerja dengan kecepatan maksimal, tapi pandangan ke depan tetap sangat terbatas. Beberapa ruas jalan utama Jakarta sudah benar-benar lumpuh karena ba**** bandang.
"G***, ini hujannya nggak sant** banget," gumam Aira, menatap cemas ke luar jendela mobil. "Kita mau ke mana, Kan? Jalan ke arah rumah lo atau kantor juga pasti macet total."
Arkan memutar setir dengan tenang, meskipun rahangnya tampak mengeras. "Ke apartemen gue yang di Senopati. Itu yang paling deket dari sini dan jalurnya bebas ba****."
"Apartemen lo? Yang... lo tinggalin sendiri?" Aira menelan ludah.
Arkan meliriknya sekilas dari sudut mata. "Kenapa? Takut gue apa-apain?"
"Ya... nggak sih. Tapi kan kita cuma pacaran settingan. Kalau ada yang lihat gimana?"
Arkan mendengus pelan, ada sedikit nada kesal dalam suaranya yang tiba-tiba mengingatkan Aira pada tatapan dingin cowok itu di kantor tadi sore. "Dalam kondisi darurat kayak gini, lo masih mikirin reputasi settingan kita? Lagian, nggak akan ada media yang berkeliaran di tengah badai begini, Ra."
Aira akhirnya memilih diam. Dia merapatkan jaket tipisnya karena AC mobil terasa sangat dingin, sementara pakaiannya sedikit basah di bagian lengan.
***
Apartemen mewah Arkan terletak di salah satu lant** teratas gedung pencakar langit di kawasan Senopati. Begitu pintu unit terbuka, Aira hanya bisa melongo. Tempat itu sangat luas, dengan desain minimalis modern bernuansa abu-abu dan hitam, serta dinding kaca besar yang langsung menyuguhkan pemandangan lampu-lampu kota Jakarta yang malam ini tampak samar terhalang rintik hujan.
"Ma**k," kata Arkan sambil melepas jaket bombernya yang basah dan menggantungnya di dekat pintu. "Sana mandi. Kamar mandi tamu ada di sebelah kiri koridor itu. Gue ambilkan baju ganti."
Aira menurut saja karena tubuhnya memang sudah mulai menggigil. Beberapa menit kemudian, saat Aira baru saja memba**h tubuhnya dengan air hangat, Arkan mengetuk pintu kamar mandi dan meninggalkan tumpukan pakaian di gantungan luar.
Saat Aira keluar, dia melihat pakaian yang disediakan Arkan. Itu adalah satu set kaos polos berwarna hitam berukuran XL milik Arkan dan celana training abu-abu yang dilengkapi tali serut.
Saat Aira memakainya, kaos itu tampak sangat tenggelam di tubuh mungilnya. Panjang kaosnya bahkan hampir mencapai lutut, sementara celana trainingnya harus dia ikat sekencang mungkin agar tidak melorot. Wangi khas Arkanβcampuran maskulin mint dan kayu cendanaβlangsung menguar dari kain kaos tersebut, membuat jantung Aira tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat.
Aira berjalan ragu-ragu menuju area dapur bersih yang menyatu dengan ruang tengah. Di sana, dia dikejutkan oleh pemandangan yang sangat tidak biasa.
Arkan, dengan kaos rumahan biasa dan celana pendek, sedang berdiri di depan kompor. Dia sedang mengaduk sesuatu di dalam wajan teflon. Aroma harum bawang putih yang ditumis dengan mentega langsung menusuk indra penciuman Aira, membuat perutnya yang belum diisi sejak sore langsung berbunyi nyaring.
"Lo... bisa masak?" tanya Aira, melangkah mendekat dengan ragu.
Arkan menoleh. Matanya sempat tertahan beberapa detik melihat Aira yang tenggelam di dalam kaos kebesarannya. Ada semburat tipis yang hampir tidak terlihat di pipi cowok itu sebelum dia kembali fokus pada masakannya.
"Cuma pasta simpel. *Aglio olio*," jawab Arkan datar. "Gojek nggak ada yang mau ambil orderan dalam cuaca kayak gini. Jadi kita harus bertahan hidup dengan apa yang ada di kulkas."
"Gue kira cowok kayak lo cuma tahu cara pesen makanan di restoran bintang lima," celetuk Aira, berusaha mencairkan suasana.
Arkan menarik sudut bibirnya tipis, membentuk senyum sinis yang anehnya terlihat sangat manis. "Jangan remehkan kemampuan bertahan hidup gue, Ra. Gue pernah kuliah di luar negeri dan tinggal sendiri. Kalau nggak bisa masak, gue udah mati kelaparan dari dulu."
Aira memperhatikan gerakan tangan Arkan yang sangat cekatan saat meniriskan pasta dan mencampurnya dengan tumisan bawang putih, cabai kering, dan sedikit potongan daging asap. Otot-otot lengannya yang kokoh terlihat jelas saat dia memegang gagang wajan.
*Sial, kenapa cowok ini kelihatan ganteng banget bahkan saat cuma lagi masak pasta rumahan?* batin Aira, buru-buru menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran aneh itu.
"Nih, bawa ke meja," kata Arkan, menyodorkan dua piring pasta yang mengepulkan uap hangat.
Mereka makan dalam keheningan yang c**up nyaman. Hanya terdengar suara gemuruh hujan yang sesekali menghantam dinding kaca apartemen. Aira harus mengakui, masakan Arkan benar-benar enak.
"Enak banget, Kan. Lo cocok buka restoran kalau bosan jadi CEO," puji Aira tulus sambil mengunyah suapan terakhirnya.
"Gue anggap itu pujian," sahut Arkan, matanya menatap piring Aira yang sudah bersih. Dia tampak puas melihat gadis itu makan dengan lahap.
Namun, kehangatan itu mendadak pecah ketika suara gemuruh yang sangat dahsyat terdengar dari luar.
*DUARRRR!*
Kilatan petir yang sangat terang menyambar, menerangi seluruh ruangan selama sepersekian detik, disusul oleh suara dentuman guntur yang sangat keras sampai-sampai lant** apartemen rasanya ikut bergetar.
Aira menjerit histeris. Refleks, dia langsung memejamkan mata erat-erat, menjatuhkan garpunya, dan meringkuk di kursinya sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar hebat. Sejak kecil, Aira memang memiliki trauma mendalam dan ketakutan luar biasa pada suara petir.
Sebelum Aira sempat tenggelam dalam kepanikannya, dia merasakan sepasang lengan yang hangat dan kokoh tiba-tiba mendekapnya.
Arkan sudah berpindah dari kursinya. Cowok itu kini berlutut di samping kursi Aira, menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Dia membawa kepala Aira untuk bersandar di dadanya yang bidang, sementara tangannya yang besar mengusap punggung Aira dengan gerakan perlahan dan menenangkan.
"Sstt... It's okay. Lo aman di sini," bisik Arkan lembut, sangat dekat di telinga Aira. Suaranya yang berat dan dalam terdengar begitu menenangkan, mengalahkan suara badai di luar.
Aira mencengkeram erat kaos Arkan di bagian dada, menyembunyikan wajahnya di sana. Dia bisa mendengar detak jantung Arkan yang berdegup kencang, tapi konstan. Perlahan-lahan, rasa hangat dari tubuh Arkan menjalar ke tubuhnya, mengusir rasa takut yang sempat melumpuhkannya.
"Gue... gue benci petir," gumam Aira dengan suara bergetar, masih enggan melepaskan pelukannya.
"Gue tahu. Makanya gue di sini," jawab Arkan pelan. Tangannya masih terus mengusap rambut Aira yang sekarang sudah kering, merapikan beberapa anak rambut yang menghalangi wajah gadis itu.
Setelah beberapa menit berlalu dan tidak ada suara petir susulan, Aira mulai tersadar dari kepanikannya. Dia menyadari posisi mereka yang sangat intim. Wajahnya berada tepat di dada Arkan, dan lengan kokoh cowok itu masih melingkar protektif di pinggangnya.
Aira perlahan mendongak, menatap wajah Arkan yang jaraknya hanya beberapa sentimeter saja dari wajahnya.
Di bawah pencahayaan lampu apartemen yang temaram, mata Arkan yang biasanya dingin dan tajam kini menatapnya dengan binar yang sangat berbeda. Ada kehangatan, kelembutan, dan... sesuatu yang lain yang membuat dada Aira berdesir hebat.
Arkan pun tidak mengalihkan pandangannya. Matanya turun menatap bibir Aira yang sedikit terbuka, lalu kembali menatap mata bulat gadis itu yang masih tampak sedikit berkaca-kaca karena sisa ketakutan.
"Kan..." bisik Aira hampir tak terdengar.
"Kenapa, Ra?" suara Arkan terdengar serak.
"Tadi sore... lo kenapa jemput gue ke kantor?" tanya Aira akhirnya, menyuarakan rasa penasarannya yang sejak tadi tertahan. "Lo lihat gue kan tadi?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Arkan sedikit menegang. Dia perlahan melepaskan pelukannya, tapi tidak menjauhkan diri. Dia duduk di lant**, bersandar pada kaki meja makan, sambil menatap Aira dengan helaan napas berat.
"Gue nggak suka lihat lo ketawa lepas sama cowok lain," aku Arkan jujur, tanpa ada niat untuk menutupi perasaannya lagi.
Aira tertegun. "Maksud lo... Kak Dion? Dia itu sepupu gue, Arkan! Dia baru balik dari Bandung dan mampir ke kantor gue buat nganterin titipan nyokap."
Mendengar penjelasan itu, Arkan langsung membeku. Detik berikutnya, dia memalingkan wajahnya yang mendadak terasa panas. Ada rasa lega sekaligus rasa malu yang luar biasa yang menjalar di dadanya.
"Sepupu?" gumam Arkan pelan.
"Iya, sepupu! Jadi... lo cemburu?" goda Aira, meskipun sebenarnya jantungnya sendiri sudah berdegup kencang menanti jawaban Arkan.
Arkan kembali menatap Aira. Alih-alih mengelak seperti biasanya, kali ini dia justru mencondongkan tubuhnya mendekat, membuat jarak di antara mereka kembali terkikis.
"Kalau iya, kenapa?" tanya Arkan dengan nada menantang yang lembut. "Gue tahu ada aturan di kontrak kita buat nggak boleh pakai perasaan. Tapi malam ini, di tengah badai begini... gue rasa gue udah nggak peduli lagi sama aturan bodoh itu, Ra."
Aira terpaku. Kata-kata Arkan barusan seolah meruntuhkan semua tembok pertahanan yang selama ini dia bangun. Di bawah satu atap, di tengah badai yang mengamuk di luar, batasan kontrak di antara mereka berdua perlahan-lahan mulai buram, mencair bersama hangatnya malam yang tidak akan pernah mereka lupakan.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!