Rahasia di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Bab 1: Misi Rahasia di Balik Selimut Warm

Pengaturan Membaca

**Bab 1: Misi Rahasia di Balik Selimut Warm**

"REVISI_BAB_3_FINAL_FIX_BGT_V2_TERBARU.docx."

Kiara menatap nanar baris teks di layar laptopnya yang berkedip seolah sedang mengejeknya. Jam di sudut kanan bawah layar sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Matanya terasa panas, kepalanya berdenyut ritmis, dan rasa-rasanya otaknya sudah berubah menjadi bubur instan akibat disiksa bab analisis data sejak pagi tadi.

"Pak Bambang bener-bener gak punya hati nurani," gumam Kiara dengan suara serak, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kerja yang ergonomis. "Data segini rapi dibilang 'kurang mendalam'. Kurang mendalam matamu, Pak! Ini namanya kerja rodi modern!"

Kiara mendesah berat. Sebagai mahasiswi tingkat akhir jurusan Manajemen yang sedang berjuang demi selembar toga, hidupnya beberapa bulan terakhir ini benar-benar hancur berantakan. Tidak ada lagi waktu nongkrong di kafe *aesthetic*, tidak ada lagi waktu *scrolling* TikTok sampai subuh tanpa rasa bersalah. Yang ada hanya revisi, revisi, dan revisi.

Ia memandangi sekeliling kamarnya. Kamar kos ini adalah satu-satunya tempat pelarian yang layak. Bukan kos-kosan biasa, melainkan kamar di "Griya Aruna", sebuah kos-kosan elit berlant** tiga dengan fasilitas setara hotel berbintang yang terletak di kawasan eksklusif dekat kampus. Kamar Kiara c**up luas, dilengkapi dengan kamar mandi dalam berbahan marmer, AC yang super dingin, TV layar datar, dan ka**r *king size* yang sangat empuk.

Namun, yang membuat Griya Aruna begitu terkenal—selain harganya yang bikin dompet menangis—adalah sang pemilik kos.

Arka.

Cowok berusia dua puluh empat tahun yang mewarisi properti mewah ini dari keluarganya. Arka adalah definisi nyata dari karakter fiksi yang keluar dari aplikasi Webtoon. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, matanya tajam berwarna hitam pekat, dan pembawaannya selalu tenang, dingin, sekaligus misterius. Arka jarang berbicara jika tidak penting, dan ia mengelola kosan ini dengan aturan yang super ketat. Hampir tidak ada anak kos yang berani macam-macam dengannya.

Kiara menegakkan tubuhnya. Rasa penat di pundaknya sudah tidak tertahankan lagi. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepalanya. Malam ini, ia butuh *escape*. Ia butuh waktu untuk dirinya sendiri—sebuah *me-time* intim yang bisa mengembalikan kewarasannya yang sudah berada di ambang batas.

"Pers**** sama skripsi," bisik Kiara pada dirinya sendiri. "Malam ini, gue mogok kerja. Malam ini adalah waktu buat memanjakan diri."

Sebelum memulai ritual pribadinya, tenggorokan Kiara mendadak terasa kering. Ia butuh segelas air dingin untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih. Dengan langkah gont**, Kiara membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar menuju dispenser umum yang terletak di koridor lant** dua, dekat area dapur bersih yang super rapi.

Suasana kosan sangat sepi. Sebagian besar penghuni kos mungkin sudah tidur atau sedang mendekam di kamar masing-masing. Hanya ada suara dengung halus dari AC koridor.

Saat Kiara sedang menekan tombol dispenser air dingin, sebuah langkah kaki yang ringan namun tegas terdengar dari arah tangga. Kiara menoleh, dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak selama satu detik.

Arka berjalan mendekat.

Cowok itu hanya mengenakan kaos polos berwarna hitam longgar dan celana jins pendek abu-abu. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini tampak sedikit berantakan, jatuh dengan ka**al di dahi. Meskipun tampil sangat sant**, aura dingin dan ketampanannya yang di luar nalar tetap memancar kuat, membuat Kiara mendadak merasa sangat sadar diri dengan kaos gomb**ng bergambar kartun pudar dan celana tidur flanelnya.

"Belum tidur?" tanya Arka. Suaranya yang berat dan sedikit serak khas orang yang baru bangun—atau kurang tidur—memecah keheningan koridor.

Kiara menelan ludah, buru-buru memeluk gelas airnya. "Eh, belum, Kak. Masih... biasa, ngerjain revisi."

Arka menghentikan langkahnya tepat di dekat meja bar dapur. Ia menatap Kiara datar, tatapan matanya yang tajam seolah bisa membaca langsung ke dalam isi kepala Kiara yang kacau. "Jangan terlalu malam. Di sini ada aturan jam tenang setelah jam sebelas. Jangan sampai suara ketikan atau musik kamu mengganggu kamar sebelah."

*Dingin banget seperti biasa,* batin Kiara menjerit kecil. Padahal kamar di sini sudah pakai *soundproof* kualitas premium, mana mungkin suara ketikannya kedengaran sampai sebelah? Tapi dasar Arka, selalu saja mencari alasan untuk menegakkan disiplin militernya.

"Iya, Kak Arka. Ini juga udah mau selesai kok. Abis ini langsung tidur," jawab Kiara dengan senyum canggung yang dipaksakan.

Arka hanya mengangguk sekali, sangat singkat. Ia mengambil sebotol air mineral dari dalam kulkas besar di dapur, lalu berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, berjalan kembali menuju kamarnya yang berada di ujung koridor lant** atas.

Kiara mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya begitu sosok Arka menghilang dari pandangan. "Ganteng sih ganteng, tapi kulkas dua pintu aja kalah dingin sama dia," gerutu Kiara pelan sambil melangkah cepat kembali ke kamarnya.

Begitu sampai di dalam kamar, Kiara langsung menutup pintu rapat-rapat. Ia memutar kunci ganda di pintu kamarnya hingga terdengar bunyi *klik* yang memuaskan.

*Pintu terkunci.* Aman. Dunia luar dengan segala keruwetan skripsi dan pemilik kos yang super dingin kini telah tersegel di luar sana. Kamar ini sekarang sepenuhnya adalah wilayah kekuasaannya.

Kiara meletakkan gelas airnya di meja nakas, lalu berjalan ke arah saklar lampu. Ia mematikan lampu utama kamarnya yang terang benderang, menyisakan lampu tidur berwarna kuning hangat di sudut ruangan yang langsung mengubah atmosfer kamar menjadi sangat intim, tenang, dan nyaman.

"Oke, mari kita mulai misinya," ucap Kiara bersemangat, rasa lelahnya mendadak menguap digantikan oleh rasa antusias yang meletup-letup.

Kiara berjalan mendekati ranjangnya. Di atas ka**r empuk itu, terbaring sebuah selimut tebal berbulu halus berwarna abu-abu pastel. Selimut itu adalah "selimut *warm*" kesayangannya—selimut yang sangat lembut, hangat, dan selalu berhasil memberikan pelukan paling nyaman di dunia saat ia sedang merasa terpuruk.

Kiara naik ke atas tempat tidur, lalu memosisikan bantal-bantalnya agar menyangga punggungnya dengan sempurna dalam posisi setengah rebahan yang super sant**. Ia menarik selimut tebal itu hingga menutupi seluruh tubuhnya sampai sebatas dada. Sentuhan bulu halus selimut yang hangat langsung meresap ke kulitnya, membuat otot-otot tubuhnya yang tegang seketika menjadi rileks.

Dari balik selimut hangatnya, Kiara mengambil ponselnya yang diletakkan di dekat bantal. Ini adalah ritual rahasianya. Bagian paling intim dari *me-time*-nya yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun.

Bukan, Kiara tidak sedang bersiap untuk menonton film horor atau membalas pesan grup angkatan.

Kiara membuka sebuah aplikasi membaca novel *online*. Di sana, sudah terbuka sebuah bab terbaru dari novel romantis bergenre *slow-burn* dewasa yang sudah ia ikuti sejak sebulan lalu. Novel yang penuh dengan ketegangan romantis, dialog-dialog manis yang membuat jantung berdebar, dan adegan-adegan intim yang ditulis dengan begitu indah hingga bisa membuat pipi siapa pun merona merah saat membacanya.

Bagi Kiara, membaca cerita-cerita seperti ini di bawah selimut hangatnya, di tengah kesunyian malam, adalah pelarian terbaik dari kenyataan hidupnya yang kering dan membosankan. Ini adalah ruang pribadinya yang paling rahasia, tempat ia bisa bebas berekspresi, tersenyum sendiri, bahkan m****ik tertahan tanpa perlu takut dinilai oleh orang lain.

"Ya ampun, akhirnya *chapter* ini rilis juga!" gumam Kiara dengan mata berbinar-binar.

Ia merapatkan selimutnya hingga ke dagu, menyembunyikan sebagian wajahnya yang mulai terasa hangat. Layar ponselnya yang terang menjadi satu-satunya sumber cahaya di bawah gulungan selimut tebalnya. Kiara mulai membaca baris demi baris kata dengan perlahan, menikmati setiap deskripsi perasaan tokoh utama di dalam cerita.

Ketika membaca adegan di mana sang tokoh pria berbisik lembut di telinga tokoh wanita, Kiara tanpa sadar menggigit bibir bawahnya, menahan pekikan gemas agar tidak lolos dari mulutnya. Ia menendang-nendangkan kakinya di balik selimut, merasa sangat terbawa suasana. Rasa hangat dari selimutnya seolah menyatu dengan kehangatan fiksi yang sedang ia konsumsi saat ini.

"Kenapa cowok fiksi selalu sesempurna ini, sih? Beda banget sama kenyataan," bisik Kiara pada kegelapan kamarnya, wajahnya memerah sempurna. Pikirannya mendadak melayang pada sosok Arka yang tadi ditemuinya di koridor. *Kak Arka kalau lagi gak galak kira-kira bisa selembut tokoh di novel ini gak, ya? Ah, gak mungkin. Dia kan titisan es kutub.*

Kiara menggelengkan kepalanya cepat-cepat, mengusir bayangan wajah Arka yang mengganggu fantasi indahnya. Ia kembali memfokuskan matanya pada layar ponsel, tenggelam semakin dalam ke dalam dunia fiksi yang hangat dan penuh gairah di balik selimut tebalnya.

Malam itu, di dalam kamar yang terkunci rapat, Kiara melupakan sejenak beban revisi skripsinya. Di balik selimut *warm* miliknya, ia menjalankan misi rahasianya dengan sukses—mencuri sedikit kebahagiaan dan kehangatan yang telah lama hilang dari hidupnya yang penuh tekanan. Namun, Kiara tidak pernah tahu, bahwa di balik pintu kamarnya yang terkunci rapat, ada rahasia-rahasia lain di Griya Aruna yang sedang menunggu untuk terungkap, dimulai dari sang pemilik kos yang kamarnya tepat berada di atas kepalanya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca