"Kenapa pakai kacamata hitam di dalem ruangan? Mendung lagi," tanya Arka, melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya menyipit, menatap cewek di depannya dengan pandangan menyelidik yang sangat tajam.
Kiara menelan ludah. Tenggorokannya mendadak terasa kering kerontang seperti padang pasir. *Mampus,* jeritnya dalam hati. Dia lupa kalau kafe ini pencahayaannya agak temaram, dan memakai kacamata hitam ukuran jumbo di sini justru membuatnya kelihatan seperti orang aneh yang sedang merencanakan perampokan bank.
"Oh, ini... *You know* lah, Kak—eh, maksud aku, *Babe*," Kiara buru-buru meralat pangg***nnya dengan nada manja yang dipaksakan. "Mata aku tuh lagi agak iritasi gitu. Semalem habis ada *photoshoot* produk kosmetik sampai subuh, terus kena sorot *ring light* yang super terang terus-terusan. Jadi mata aku agak sensitif sama cahaya ruangan."
Arka hanya mangut-mangut, tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau dia percaya dengan alasan itu. Cowok itu memajukan badannya sedikit, menopang dagunya dengan satu tangan di atas meja. "Oh, ya? Tapi kok kayaknya lo grogi banget hari ini? Gak biasanya."
Kiara buru-buru membetulkan posisi duduknya, mencoba tersenyum selebar mungkin—walau rasanya sangat kaku karena lapisan makeup tebal yang menempel di wajahnya. "Grogi? *Excuse me?* Seorang Valerie gak ada kamus grogi ya di hidupnya. Aku cuma... laper aja kali. Iya, laper banget! Makanya agak lemes."
Saat Kiara bergerak membetulkan letak wig *ash blonde*-nya yang terasa agak bergeser karena keringat dingin, embusan angin dari pendingin ruangan kafe berembus ke arah mereka. Angin itu membawa aroma dari tubuh Kiara langsung ke arah indra penciuman Arka.
Arka mengendus pelan. Detik itu juga, alis tebalnya langsung bertaut rapat.
Aroma ini.
Sangat familiar di hidungnya. Tapi... sangat salah untuk ukuran seorang Valerie.
Valerie yang dia kenal di media sosial adalah tipe *it-girl* yang selalu pamer barang-barang *b**nded*. Biasanya, cewek dengan gaya hidup seperti itu akan memakai parfum mewah seharga jutaan rupiah, seperti Chanel No. 5 atau paling tidak Jo Malone English Pear yang wanginya elegan dan berkelas. Tapi, wangi yang tercium dari cewek di depannya ini justru wangi stroberi yang sangat manis dan menusuk hidung—tipe-tipe parfum murah minimarket seharga lima belas ribu rupiah.
Wangi yang sama persis dengan yang selalu tercium dari koridor kosan mereka setiap pagi. Wangi milik Kiara, cewek kuper nan misterius yang menyewa kamar tepat di sebelah kamar kosnya.
"Parfum lo baru?" tanya Arka tiba-tiba, matanya mengunci mata Kiara yang masih tertutup kacamata hitam.
Jantung Kiara rasanya seperti merosot bebas sampai ke lambung. Dia merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. Bagaimana bisa dia lupa mengganti parfum? Sebelum dandan menjadi Valerie tadi, dia sempat menyemprotkan *body mist* stroberi murahannya karena refleks kebiasaan setelah mandi.
"Ah... ini? Iya, ini parfum... *b**nd* lokal baru yang lagi *endorse* aku. Wanginya... *sweet* dan *fruity* gitu, kan? Anak muda banget," jawab Kiara, mati-matian menahan suaranya agar tidak bergetar karena panik.
"Murah ya wanginya," komentar Arka tajam tanpa filter. "Gak cocok sama *image* lo yang biasanya mewah."
*A****, mulutnya minta disumpal kanebo basah banget,* batin Kiara emosi. Di luar, dia hanya bisa tertawa renyah yang terdengar sangat dipaksakan. "Ahaha... masa sih? Namanya juga nyoba-nyoba produk lokal, *babe*. Kita harus menghargai UMKM, kan?"
Arka tidak menjawab lagi. Dia hanya menatap "Valerie" dengan tatapan dingin yang membuat Kiara merasa seperti sedang diinterogasi polisi. Ada banyak sekali gestur kecil dari cewek di depannya yang terasa sangat asing. Cara cewek itu memilin ujung bajunya karena gelisah, cara dia membetulkan posisi duduknya yang tampak tidak nyaman dengan *dress* ketat itu, bahkan bentuk jemarinya yang polos tanpa cat kuku mewah. Valerie yang asli selalu memamerkan kuku panjang dengan *nail art* yang heboh di Instagram. Cewek di depannya ini justru memiliki kuku yang dipotong pendek dan bersih.
"Gue ada urusan bentar. Kita lanjut nanti," kata Arka tiba-tiba sambil berdiri dari kursinya. Dia meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu di atas meja untuk membayar kopi yang bahkan belum sempat dia habiskan.
"Eh? Udah mau pergi aja?" Kiara pura-pura kecewa, padahal dalam hatinya dia ingin sujud syukur di lant** kafe saat itu juga.
"Iya. Ada hal penting yang tiba-tiba harus gue urus," ucap Arka dingin. Matanya menatap Kiara sekali lagi—sebuah tatapan tajam dan penuh teka-teki—sebelum akhirnya dia berbalik dan melangkah lebar keluar dari kafe.
Begitu punggung Arka benar-benar menghilang di balik pintu kaca Cafe Lumine, Kiara langsung merosot di kursinya. Dia mengembuskan napas panjang yang sedari tadi ditahannya di dada.
"G***, hampir copot jantung gue," gumam Kiara sambil melepas kacamata hitamnya dengan kasar. Keringat dingin sudah membasahi dahinya.
Tanpa membuang waktu lagi, Kiara buru-buru memesan ojek online lewat pintu belakang kafe agar tidak berpapasan dengan Arka di area parkir depan. Dia harus sampai di kosan sebelum Arka pulang. Dia harus menanggalkan semua penyamaran g*** ini dan kembali menjadi Kiara yang biasa-biasa saja sebelum semuanya terlambat.
Sesampainya di kosan—sebuah rumah kos eksklusif berlant** dua tempat dia dan Arka kebetulan menyewa kamar berdampingan di lant** atas—Kiara langsung berlari ma**k ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintu rapat-rapat, bahkan sampai memutar kunci ganda.
Dengan gerakan cepat yang dipenuhi rasa panik, Kiara melepas wig *ash blonde*-nya yang gatal, menghapus makeup tebalnya dengan *micellar water* sampai kapasnya habis setengah botol, lalu melepas *bodycon dress* ketat yang menyiksa organ dalamnya itu. Dia segera ma**k ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dan menggosok seluruh kulitnya dengan sabun antiseptik beraroma netral untuk menghilangkan sisa-sisa wangi stroberi si**** itu.
"Gue harus beli parfum baru. Wangi melon, wangi jeruk, wangi apa aja asal bukan stroberi!" gerutu Kiara sambil mengeringkan rambut hitam alaminya yang sebahu dengan handuk.
Dia kemudian memakai kaus oblong kebesaran berwarna abu-abu dan celana kulot sant**. Sekarang dia sudah kembali menjadi Kiara yang biasa. Mahasiswi sederhana yang harus bekerja serabutan demi menyambung hidup dan membayar utang-utangnya.
Sementara itu, Arka mengendarai mobilnya kembali ke kosan dengan pikiran yang berkecamuk hebat.
Sebagai cowok dengan insting detektif yang c**up tajam—mungkin warisan dari ayahnya yang merupakan seorang mantan penyidik—Arka tidak bisa mengabaikan begitu saja semua kejanggalan yang dia temui hari ini.
Valerie yang dia temui di kafe tadi... sangat mencurigakan.
Pertama, tinggi badannya. Valerie yang biasa dia lihat di foto-foto Instagram selalu terlihat sangat tinggi dan jenjang. Tapi cewek tadi, meskipun sudah memakai sepatu hak tinggi berukuran sembilan senti, tingginya masih terasa pas-pasan saat berdiri di dekatnya.
Kedua, suaranya. Meskipun sengaja dibuat-buat dengan nada manja dan logat anak Jakarta Selatan, ada warna suara atau intonasi vokal tertentu yang sangat familiar di telinga Arka. Nada suara itu mirip sekali dengan seseorang yang sering dia dengar sedang berbicara di telepon di balkon sebelah kamarnya saat malam hari.
Dan yang ketiga... parfum stroberi murah itu.
Arka memarkir mobilnya di garasi kosan. Dia melangkah ma**k ke dalam rumah kos yang selalu sepi di sore hari. Kosan ini memang eksklusif, hanya diisi oleh beberapa penghuni, dan kebetulan seluruh lant** dua hanya diisi oleh dirinya dan Kiara.
Saat berjalan melewati kamar Kiara menuju kamarnya sendiri, Arka mendadak menghentikan langkahnya.
Dia menatap pintu kayu berwarna cokelat tua itu. Pintu kamar Kiara selalu tertutup rapat, seolah-olah cewek itu sedang menyembunyikan rahasia besar di dalamnya. Kiara adalah tipe tetangga yang sangat tertutup, jarang bersosialisasi, dan selalu terlihat kelelahan setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan.
Arka mendekatkan wajahnya sedikit ke celah pintu kamar Kiara. Dia mengendus pelan, mencoba mencari sisa wangi stroberi yang biasanya selalu menguar dari sela-sela pintu kamar cewek itu.
Kosong. Tidak ada wangi stroberi sama sekali. Yang tercium hanya aroma kayu dari pintu dan udara dingin dari lorong.
*Mencurigakan,* batin Arka, matanya menyipit. Biasanya wangi stroberi itu selalu ada, terutama di sore hari seperti ini setelah Kiara pulang dari kampusnya. Kenapa sekarang wanginya hilang sama sekali? Apakah Kiara sengaja menghilangkannya?
Tiba-tiba, terdengar suara kunci diputar dari dalam kamar.
*Cklek.*
Pintu kamar terbuka dengan cepat.
Kiara terkejut setengah mati saat mendapati Arka berdiri tepat di depan pintunya dengan posisi tubuh yang agak condong ke depan, seperti orang yang baru saja tertangkap basah sedang menguping atau mengendus.
Kiara refleks mundur selangkah, memeluk erat sebuah keranjang plastik berisi cucian kotor di dadanya untuk menutupi kegugupannya yang luar biasa.
"Eh... Kak Arka?" sapa Kiara, mencoba bersikap senormal mungkin. Suaranya diusahakan terdengar polos dan sedikit serak khas bangun tidur, sangat kontras dengan suara "Valerie" yang manja di kafe tadi. "Ada apa ya, Kak? Kok... berdiri di depan kamar saya?"
Arka langsung menegakkan tubuhnya dengan cepat, kembali ke mode dingin dan jaim-nya yang biasa. Namun, matanya yang tajam seperti elang langsung menyapu penampilan Kiara dari atas sampai bawah. Rambut cewek itu masih basah, sepertinya baru selesai mandi. Wajahnya polos tanpa riasan apa pun, membuatnya kelihatan sedikit pucat dan lelah.
Dan yang paling penting bagi Arka: tidak ada wangi stroberi sama sekali dari tubuh cewek itu sekarang. Wangi tubuh Kiara saat ini adalah wangi sabun antiseptik yang hambar dan bersih.
"Nggak ada apa-apa," jawab Arka sant**, mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya. "Cuma mau nanya, lo baru mandi?"
Kiara mengerutkan keningnya, berpura-pura bingung dengan pertanyaan random itu. "Iya, baru selesai mandi. Kenapa emangnya, Kak?"
"Pake sabun apa? Kok tumben wanginya beda dari biasanya," pancing Arka, matanya menatap Kiara lekat-lekat tanpa berkedip, mencari tanda-tanda kepanikan atau perubahan ekspresi sekecil apa pun di wajah cewek itu.
*Deg.* Jantung Kiara berdegup kencang seperti sedang maraton. *Arka beneran curiga sama gue!* batinnya menjerit panik. Dia harus memikirkan jawaban yang ma**k akal secepat mungkin.
"Oh, itu... sabun antiseptik biasa kok, Kak. Kulit saya lagi sensitif dan gatal-gatal belakangan ini, jadi dokter nyaranin buat pakai sabun itu dulu untuk sementara waktu," dusta Kiara dengan lancar, meskipun tangannya yang memegang keranjang cucian di dadanya sudah mulai basah oleh keringat dingin. "Emangnya kenapa, Kak? Ada yang salah ya?"
"Nggak ada yang salah," ucap Arka dengan nada datar, namun ada kilatan penuh selidik di matanya yang membuat Kiara merasa tidak nyaman. "Biasanya kan koridor ini selalu bau stroberi murah dari kamar lo yang bikin pusing itu. Hari ini tumben nggak ada wanginya sama sekali. Malah hilang total."
Kiara memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya. "Oh, parfum stroberi saya kebetulan sudah habis, Kak. Belum sempat beli lagi ke minimarket. Lagian kalau wangi yang kemarin bikin Kak Arka pusing, ya bagus dong sekarang sudah tidak ada wanginya? Jadi Kak Arka gak terganggu lagi kalau lewat sini."
"Oh, habis ya?" Arka mangut-mangut lambat, seolah-olah sedang menganalisis setiap kata yang keluar dari mulut Kiara di dalam kepalanya. "Padahal tadi siang gue baru aja ketemu sama orang yang pakai parfum dengan wangi stroberi yang sama persis kayak punya lo. Murah, terlalu manis, dan... jujur saja, agak mengganggu."
Tubuh Kiara seketika menegang. Dia merasa seperti sedang berdiri di ujung tebing yang sangat tinggi dan siap jatuh kapan saja. Dia harus ekstra hati-hati sekarang. Satu kesalahan kecil saja, maka seluruh penyamarannya sebagai Valerie akan hancur lebur, dan pekerjaannya yang menghasilkan banyak uang itu akan melayang dalam sekejap.
"Ah... masa sih, Kak? Berarti parfum pasaran dong ya. Namanya juga barang murah meriah, pasti banyak yang pakai di luar sana," sahut Kiara, mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat garing di telinga. "Kalau begitu, permisi ya, Kak. Saya mau ke laundry depan dulu untuk antar baju kotor ini."
"Silakan," kata Arka, memberikan jalan bagi Kiara dengan melangkah mundur satu langkah.
Kiara berjalan melewati Arka dengan langkah yang diusahakan secepat mungkin, setengah berlari menuruni anak tangga kosan menuju lant** bawah. Dia bisa merasakan dengan jelas kalau pandangan tajam Arka terus menusuk punggungnya hingga dia benar-benar keluar dari gerbang besi kosan mereka.
Arka menatap kepergian Kiara dari atas balkon koridor lant** dua dengan senyum tipis yang penuh arti di bibirnya.
Ada sesuatu yang salah. Sangat salah dengan cewek itu.
Gaya berjalan Kiara saat menuruni tangga tadi... meskipun dia hanya memakai sandal jepit tipis dan pakaian longgar, ada sedikit kecanggungan di pergelangan kaki kirinya. Itu adalah det**l kecil yang sangat mirip dengan gaya berjalan "Valerie" yang hampir terjungkal karena tidak seimbang saat memakai sepatu hak tinggi di kafe tadi siang.
Dan kebetulan macam apa ini? Parfum stroberi Kiara habis di hari yang sama saat Valerie mendadak memakai parfum stroberi murah yang sangat tidak sesuai dengan gayanya?
Arka kembali melangkah ma**k ke kamarnya sendiri, menutup pintu dengan pelan, lalu berjalan ke arah meja kerjanya. Dia membuka laptopnya, mengklik ikon peramban, dan langsung membuka profil Instagram milik Valerie yang memiliki ratusan ribu pengikut itu.
Dia memperhatikan setiap foto yang diunggah oleh Valerie dengan sangat det**l. Mulai dari bentuk bahunya, cara cewek itu memiringkan kepala saat berfoto, lekukan lehernya, hingga cara dia memegang gelas kopi atau ponselnya.
Lalu, dalam pikirannya, Arka membandingkan semua det**l itu dengan sosok Kiara.
Kiara memang selalu memakai pakaian longgar yang menyembunyikan bentuk tubuhnya, memakai kacamata baca berbingkai tebal yang menutupi separuh wajahnya, dan rambut hitamnya selalu dikuncir asal-asalan dengan jepitan murah. Tapi jika semua atribut "culun" itu dilepaskan dan diganti dengan pakaian ketat serta riasan tebal...
Arka menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerja, mengetukkan jemarinya ke atas meja kayu dengan ritme yang teratur.
"Valerie... Kiara..." gumam Arka lirih dengan suara rendah. "Permainan apa yang sebenarnya lagi lo mainkan sekarang, Kiara?"
Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang jarang dia tunjukkan pada siapa pun. Sisi detektif di dalam dirinya merasa sangat tertantang dengan teka-teki baru ini. Dia memutuskan untuk tidak akan langsung menuduh atau mengonfrontasi Kiara secara terang-terangan dalam waktu dekat.
Dia akan mengamati mangsanya perlahan-lahan dari dekat. Membuat Kiara merasa aman dan berpikir bahwa penyamarannya berhasil, sampai cewek itu sendiri yang melakukan kesalahan fatal berikutnya dan membongkar rahasianya sendiri di depan matanya.
Sementara itu, di luar rumah kos, di bawah rintik hujan gerimis yang mulai turun membasahi jalanan Jakarta, Kiara berdiri di bawah kanopi toko laundry dengan perasaan waswas yang luar biasa hebat. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya di dalam kosan tidak akan pernah tenang lagi seperti dulu. Dia harus ekstra waspada setiap kali berpapasan dengan cowok bermata elang bernama Arka itu. Permainan petak umpet ini baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!