"Ah... ini? Iya, ini parfum... *b**nd* lokal baru yang lagi *endorse* aku. Wanginya emang agak beda sih dari seleraku biasanya, tapi demi profesionalitas kerjaan, aku harus pakai terus selama masa promosi," Kiara mencoba tertawa, terdengar sangat canggung bahkan di telinganya sendiri.
Arka menatapnya lurus-lurus selama beberapa detik yang terasa seperti satu abad bagi Kiara. Detak jantung Kiara berpacu g***-g***an. Dia bahkan bisa mendengar bunyi detak jantungnya sendiri di dalam kepala.
"Oh, gitu." Arka akhirnya menarik kembali badannya, bersandar pada sandaran kursi kafe yang empuk. "Gue pikir lo pake parfum anak kosan sebelah kamar gue. Wanginya sama persis. Stroberi murah yang manisnya bikin pusing."
*Mampus.* Kiara hanya bisa tersenyum kaku di balik kacamata hitam jumbonya. Dalam hati, dia sudah menjerit-jerit histeris dan memaki dirinya sendiri yang teledor. Bagaimana bisa dia lupa kalau dia baru saja menyemprotkan *body mist* murah itu sebelum menjelma menjadi Valerie?
Sebelum Arka sempat menyelidiki lebih lanjut, ponsel cowok itu di atas meja mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak "Pak Hendra - Head of Marketing".
Arka langsung menegakkan tubuhnya. Ekspresi sant**nya langsung berubah serius dan profesional. "Bentar ya, Val. Ini bos gue telepon."
"Oh, iya... silakan, Kakβeh, *Babe*," jawab Kiara, masih berusaha mempertahankan suara manja Valerie yang dibuat-buat, walau suaranya kini agak bergetar karena syok.
Arka mengangkat telepon itu dengan cepat. "Halo, selamat siang, Pak Hendra... Iya, benar, saya sedang bersama Valerie sekarang... Bagaimana, Pak?"
Kiara memperhatikan ekspresi Arka. Awalnya, wajah cowok itu tampak tegang. Alisnya bertaut rapat saat mendengarkan penjelasan di seberang telepon. Namun, perlahan-lahan, mata Arka melebar. Mulutnya sedikit terbuka, mengekspresikan rasa tidak percaya yang amat sangat.
"Serius, Pak? Mereka setuju?" suara Arka meninggi satu oktav. Dia bahkan sampai setengah berdiri dari kursinya, membuat beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka menoleh. "Satu... satu miliar, Pak? Kontrak eksklusif satu tahun?"
Jantung Kiara rasanya seperti berhenti berdetak saat mendengar kata 'satu miliar'.
"Baik, Pak. Baik! Saya akan diskusikan ini langsung dengan Valerie sekarang juga. Kami akan segera ke kantor setelah ini. Terima kasih banyak, Pak Hendra!" Arka menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia menatap Kiara dengan mata yang berbinar-binar penuh kemenangan, seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre terbesar dalam hidupnya.
"Val! G***! Lo gak bakal percaya ini!" Arka langsung menggenggam kedua tangan Kiara di atas meja. Tangannya yang hangat terasa kontras dengan tangan Kiara yang sedingin es.
"K-kenapa, Babe?" Kiara mencoba menstabilkan suaranya, meski tenggorokannya mendadak terasa seperti disumbat batu.
"Aura Beauty! B**nd kosmetik terbesar di I****esia yang lagi kita incar itu... mereka suka banget sama profil lo! Mereka gak cuma mau kontrak lo buat satu *campaign*, tapi mereka nawarin lo buat jadi *B**nd Ambassador* eksklusif mereka!" Arka berucap dengan nada berapi-api. "Kontraknya satu tahun, Val. Dan nilainya... satu miliar rupiah!"
*Satu miliar.*
Kata itu terngiang-ngiang di kepala Kiara seperti lonceng kematian. Alih-alih merasa senang atau bangga, Kiara merasa bumi di bawah kakinya mendadak runtuh. Kepalanya langsung pening, dan rasa mual yang hebat mulai menyerang perutnya.
"S-satu... m-miliar?" bisik Kiara lirih.
"Iya! Satu miliar!" Arka tertawa lebar, sangat puas. "G***, ini pencapaian terbesar gue sebagai manajer agensi! Dengan kontrak ini, jabatan gue sebagai Head of Talent udah pasti aman di tangan. Dan buat lo, Val... ini bakal naikin kelas lo setara sama artis-artis papan atas! Lo bakal dapet *exposure* g***-g***an. Baliho muka lo bakal dipasang di sepanjang jalan protokol Jakarta, iklan TV, *talkshow*, semuanya!"
Arka terus berbicara dengan penuh semangat, merinci rencana promosi yang ada di kepalanya. Namun, Kiara sudah tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Telinganya berdengung hebat. Suara Arka terdengar samar-samar, tertutup oleh suara kepanikannya sendiri yang berteriak di dalam kepala.
*G***. Ini udah kelewatan. Ini udah bener-bener kelewatan!* Kiara menjerit dalam hati.
Menjadi 'Valerie' di media sosial hanyalah sebuah pelarian baginya. Sebuah eksperimen iseng yang kebablasan demi mendapatkan uang tambahan untuk membayar kosan dan biaya kuliahnya yang menunggak. Dia menggunakan foto-foto hasil editan, filter, wig, makeup tebal, dan segala trik visual untuk menciptakan sosok Valerieβsi gadis cantik nan glamor yang tidak pernah ada di dunia nyata.
Dan sekarang? Kontrak satu miliar? Eksklusif? B**nd Ambassador?
Itu berarti dia harus menandatangani kontrak legal. Kontrak legal membutuhkan KTP asli. KTP aslinya tertulis: Kiara Adiningtyas. Bukan Valerie.
Belum lagi urusan pajak, rekening bank atas nama asli, dan yang paling mengerikan... konferensi pers. Aura Beauty pasti akan mengadakan acara peluncuran besar-besaran. Dia harus berdiri di atas panggung, di bawah sorotan ratusan kamera wartawan, tanpa kacamata hitam, tanpa filter, dan menjawab pertanyaan secara langsung. Kebohongannya akan langsung terbongkar dalam hitungan detik!
Jika itu terjadi, dia tidak hanya akan mempermalukan dirinya sendiri. Ini adalah penipuan bisnis. Nilainya satu miliar! Dia bisa diseret ke jalur hukum. Dia bisa dipenjara!
"Val? Hei, lo kok diem aja?" Arka melambaikan tangannya di depan wajah Kiara, membuyarkan lamunan mengerikan cewek itu. "Lo gak senang? Ini satu miliar, lho! Angka yang bahkan beberapa *influencer* senior butuh bertahun-tahun buat dapetinnya."
"Ah... e-enggak, aku... aku seneng kok. Seneng banget," Kiara memaksakan sebuah senyuman. Tapi sudut bibirnya bergetar hebat.
Arka mengernyitkan dahi. Dia menyadari ada yang aneh. "Tapi muka lo pucat banget. Lo beneran sakit? Tangan lo juga dingin banget, Val. Lo gemetaran?"
"Aku... aku cuma syok aja, Babe," Kiara buru-buru menarik tangannya dari genggaman Arka. Dia berpura-pura merapikan tasnya untuk menyembunyikan tangannya yang gemetar parah. "Satu miliar itu... jumlah yang besar banget. Aku gak nyangka bakal secepat ini."
"Ya, gue juga syok! Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup," kata Arka, mengemasi barang-barangnya juga. "Yuk, kita langsung ke kantor sekarang. Pak Hendra sama tim legal udah nungguin kita buat bahas draf kontrak pertamanya. Kita harus gerak cepat sebelum mereka berubah pikiran."
Mendengar kata 'tim legal' dan 'kantor sekarang', Kiara langsung terkena serangan panik yang sesungguhnya. Napasnya mendadak pendek-pendek. Dada kirinya terasa sangat sesak seolah-olah dihantam benda tumpul. Keringat dingin mengucur deras di balik wig tebalnya.
"Gak! Maksud aku... aku gak bisa sekarang!" Kiara setengah berteriak, membuat Arka terkejut.
"Kenapa?" tanya Arka heran.
"Aku... perut aku sakit banget, Babe. Kayaknya mag aku kambuh. Sakit banget sampai aku gak bisa mikir," Kiara memegangi perutnya, berakting kesakitan setengah mati untuk menyelamatkan nyawanya. "Aku harus pulang sekarang. Aku butuh istirahat. Kita... kita bahas ini besok aja ya?"
Arka menatap Kiara dengan cemas sekaligus bingung. "Tapi, Val, tim legal udah nunggu. Ini kontrak satu miliar. Gak sopan kalau kita tunda-tunda. Kalau lo sakit, gue bisa anterin lo ke rumah sakit dulu, terus..."
"Gak usah!" potong Kiara cepat, nadanya agak meninggi karena panik yang sudah di ujung tanduk. "Aku cuma butuh obat di kamar aku dan tidur. Tolong, Babe. Aku bener-bener gak bisa fokus kalau dipaksain sekarang. Aku gak mau salah baca kontrak gara-gara lagi sakit."
Arka menghela napas panjang, tampak kecewa namun tidak tega melihat kondisi pacarnya yang memang terlihat sangat pucat dan berkeringat dingin. "Ya udah, oke. Kita tunda besok pagi. Tapi besok lo harus bener-bener fit ya? Gue anter lo pulang sekarang."
"Gak usah, aku naik taksi *online* aja! Aku udah pesen kok, udah di depan jalan," bohong Kiara lagi. Dia tidak mungkin membiarkan Arka mengantarnya pulang ke kosan. Kalau Arka mengantarnya, Arka akan tahu kalau Valerie tinggal di kosan murah yang sama dengannya, tepat di sebelah kamarnya! Kebohongan itu akan langsung terbongkar hari ini juga.
"Tapi, Val..."
"Aku duluan ya, Babe. Bye!" tanpa menunggu jawaban dari Arka, Kiara langsung menyambar tasnya dan setengah berlari keluar dari kafe.
Langkah kakinya sangat terburu-buru, hampir saja membuatnya tersandung beberapa kali karena memakai sepatu hak tinggi yang tidak biasa dia gunakan sehari-hari. Begitu sampai di luar kafe, dia langsung memesan ojek *online* lewat ponselnyaβtentu saja dengan titik penjemputan yang agak jauh dari kafe agar tidak terlihat oleh Arka.
Sepanjang perjalanan pulang di atas motor, Kiara hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat di balik helm. Angin jalanan yang menerpa wajahnya sama sekali tidak bisa mendinginkan kepalanya yang terasa mau pecah. Di dalam otaknya, skenario-skenario terburuk berputar seperti film horor tanpa akhir.
*Bagaimana ini? Apa yang harus gue lakuin? Gue harus jujur? Gak, kalau gue jujur, Arka pasti bakal benci banget sama gue. Agensinya bakal nuntut gue. Gue bakal dipenjara! Tapi kalau gue lanjutin... kontrak itu butuh KTP asli!*
Begitu ojek berhenti di depan gerbang kosan, Kiara langsung menyerahkan uang tanpa meminta kembalian dan berlari ma**k ke dalam koridor. Dia buru-buru merogoh tasnya, mencari kunci kamar kosnya dengan tangan yang masih gemetaran hebat.
*Klik.*
Kiara membuka pintu kamar kosnya, melesat ma**k ke dalam, dan langsung membanting pintu itu hingga tertutup rapat. Dia memutar kunci ganda dari dalam dengan gerakan panik.
Tubuhnya lemas. Kiara menyandarkan punggungnya pada pintu yang tertutup rapat itu, lalu perlahan-lahan merosot jatuh hingga terduduk di atas lant** ubin yang dingin. Dia menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis tertahan.
Kamar kosnya yang berantakan, dengan tumpukan baju, wig-wig murah yang digantung di dinding, serta peralatan ring light di sudut ruangan, kini terasa seperti penjara yang siap mengurungnya selamanya. Rahasia yang selama ini dia simpan dengan sangat rapat di balik pintu kamar yang terkunci ini, kini telah tumbuh menjadi monster raksasa yang siap menelan dirinya bulat-bulat.
Kontrak satu miliar itu... bukannya membawa keberuntungan, justru terasa seperti hukuman mati yang siap menjemputnya besok pagi. Dan Kiara sama sekali tidak tahu bagaimana cara melarikan diri dari takdir mengerikan ini.
Ponsel di dalam tasnya kembali bergetar. Satu pesan ma**k dari Arka:
*"Gimana keadaannya, Val? Udah minum obat? Istirahat ya. Besok jam 10 pagi gue jemput lo. Kita harus ke kantor. Love you."*
Kiara menatap layar ponselnya dengan pandangan kosong. Air matanya menetes, membasahi layar yang menampilkan pesan manis namun mematikan dari cowok yang kini berstatus sebagai pacar sekaligus manajer dari sosok fiktifnya.
"Gue harus gimana..." bisik Kiara di tengah kesunyian kamarnya yang dingin, suaranya parau penuh keputusasaan. Rasa panik kembali mencengkeram dadanya, membuatnya kesulitan bernapas seolah-olah pasokan oksigen di kamar kos sempit itu mendadak habis. Kebohongannya kini telah resmi berubah menjadi bencana satu miliar rupiah. Ditambah lagi, waktu terus berjalan mundur menuju jam 10 pagi esok hari. Dan kali ini, pintu yang terkunci pun tidak akan bisa melindunginya lagi.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!