...tu campaign, tapi langsung jadi b**nd ambassador! Nilainya satu miliar, Val! Satu miliar!"
Suara Arka bergaung di telinga Kiara bagaikan lonceng kematian.
Satu miliar rupiah. Bagi mahasiswa tingkat akhir yang merangkap sebagai pekerja serabutan seperti Kiara, angka itu adalah sebuah keajaiban yang bisa melunasi semua utang keluarganya, membayar biaya kuliahnya sampai lulus, bahkan membeli sebuah mobil baru. Tapi bagi "Valerie"—karakter fiktif yang dia ciptakan dengan modal wig murah, lensa kontak abu-abu, dan makeup tebal—angka itu adalah tiket gratis menuju jeruji besi.
Kontrak eksklusif satu tahun dengan b**nd sebesar Aura Beauty pasti membutuhkan verifikasi data yang luar biasa ketat. KTP asli, NPWP, nomor rekening bank atas nama sendiri, hingga tanda tangan di atas meterai. Dan semua hal itu tidak dimiliki oleh Valerie. Karena Valerie tidak pernah ada.
"Val? Kok lo malah bengong?" Arka melambaikan tangannya di depan wajah Kiara. Matanya yang biasanya teduh kini memancarkan binar ambisi yang begitu besar. "Lo gak seneng, ya? Ini pencapaian terbesar kita, Val! Nama lo bakal terpampang di billboard sepanjang jalan protokol!"
Kiara buru-buru menarik napas panjang, berusaha menekan rasa panik yang nyaris meledak di dadanya. Dia memaksakan senyum manja khas Valerie—senyum yang selama beberapa minggu ini dia latih di depan cermin kosannya.
"A-aku... aku seneng banget, Babe," kata Kiara dengan suara mendesah yang dibuat-buat. "Tapi... duh, tiba-tiba kepalaku pusing banget. Kayaknya efek AC kafe ini terlalu dingin, deh."
Arka langsung berubah panik. Dia meletakkan telapak tangannya di dahi Kiara. Sentuhan itu terasa begitu hangat, membuat jantung Kiara berdegup dua kali lebih cepat karena rasa bersalah.
"Eh, lo agak anget, Val. Ya ampun, sori banget. Gue terlalu excited sampai gak sadar lo lagi kurang fit," ujar Arka dengan nada penuh sesal. "Kita langsung ke kantor Aura Beauty besok pagi aja kalau gitu. Sekarang gue anter lo balik ke apartemen lo, ya?"
"Gak usah!" Kiara setengah m****ik, membuat Arka agak terkejut. Kiara segera melembutkan suaranya lagi. "Maksudku... gak usah repot-repot, Babe. Aku udah pesen taksi online kok. Aku mau langsung istirahat aja dan gak mau diganggu dulu. Boleh, kan?"
Arka tampak agak kecewa, tapi dia mengangguk maklum. "Oke, kalau itu mau lo. Tapi besok pagi gue jemput jam sembilan ya? Jangan lupa minum obat."
"Iya, Babe. Dah..." Kiara buru-buru menyambar tasnya, berdiri, dan melangkah cepat keluar dari kafe tanpa menoleh lagi.
Sepanjang jalan di dalam taksi, Kiara hanya bisa menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya kusut. Dia harus mengakhiri keg***an ini. Arka adalah cowok yang baik. Dia tetangga kosnya yang ambisius, pekerja keras, dan sangat menyayangi ibunya di kampung. Kiara tidak boleh menghancurkan karier Arka. Kalau Arka sampai membawa Valerie ke Aura Beauty dan kedoknya terbongkar, Arka bisa dituntut atas penipuan dan pemalsuan identitas.
*Gue harus bunuh Valerie,* batin Kiara tegas. *Malam ini juga.*
***
Begitu sampai di kosannya yang sempit, Kiara langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat—seperti judul novel hidupnya sendiri, semua rahasia terbesar Kiara selalu terkunci di balik pintu kayu yang catnya sudah mengelupas ini.
Dia melemparkan tasnya ke ka**r, lalu berdiri di depan cermin toilet. Dengan kasar, dia mencopot bulu mata palsunya, melepas lensa kontak abu-abu yang membuat matanya perih, dan melepas wig hitam panjang bergelombang yang selama ini menyembunyikan rambut aslinya yang sebahu dan agak ikal.
Setelah memba**h wajahnya dengan *cleansing oil* hingga bersih dari sisa-sisa makeup tebal, sosok Valerie yang glamor dan misterius itu lenyap. Yang tersisa di cermin hanyalah Kiara. Gadis biasa berkaus kedodoran dengan kantung mata hitam khas mahasiswa p***ang skripsi.
"Sori, Arka," bisik Kiara pada pantulan dirinya sendiri. "Gue terpaksa lakuin ini."
Kiara mengambil ponsel khusus yang dia gunakan untuk akun Instagram @valerie.queen. Akun itu kini sudah memiliki hampir seratus ribu pengikut berkat foto-foto estetik yang dia ambil dengan trik kamera pintar.
Dia harus membuat alasan yang c**up dramatis agar Valerie tidak dicari lagi, tapi juga tidak menimbulkan kecurigaan bahwa ini adalah penipuan. Alasan apa yang paling tidak ma**k akal tapi disukai oleh netizen zaman sekarang?
*Mental health.* Ya, isu kesehatan mental selalu berhasil membuat orang-orang berhenti bertanya lebih jauh. Dan ditambah sedikit bumbu kembali ke alam.
Kiara segera berselancar di galeri ponselnya. Dia menemukan sebuah foto lama yang dia ambil saat melakukan KKN di sebuah desa terpencil di lereng gunung beberapa bulan lalu. Foto itu memperlihatkan pemandangan kabut tipis di atas sawah hijau yang asri, diambil dari sudut yang sangat estetik.
Dia mengunggah foto tersebut ke akun @valerie.queen. Dengan jempol yang sedikit gemetar, Kiara mulai mengetik *caption*:
> *Halo semuanya. Pertama-tama, aku mau bilang terima kasih banyak untuk semua cinta dan dukungan yang udah kalian kasih ke aku selama beberapa bulan terakhir ini.*
>
> *Di balik semua kemewahan dan popularitas yang instan ini, jiwaku terasa kosong. Aku merasa kehilangan diriku yang sebenarnya. Tekanan di dunia hiburan membuat kesehatan mental dan fisikku menurun drastis.*
>
> *Oleh karena itu, lewat postingan ini, aku memutuskan untuk pensiun dini dari dunia modeling dan media sosial sepenuhnya. Aku memilih untuk pulang ke kampung halaman, hidup tenang sebagai petani di sebuah desa terpencil, jauh dari internet, gadget, dan hiruk-pikuk kota.*
>
> *Tolong hormati keputusanku untuk tidak dicari lagi. Akun ini akan segera dinonaktifkan. Terima kasih untuk perjalanan singkat yang indah ini. Goodbye.*
Kiara membaca ulang tulisan itu. Terdengar sangat dramatis, sangat "anak muda yang sedang mencari jati diri". Sempurna.
Dia langsung mematikan kolom komentar agar tidak ada yang bisa bertanya, lalu menekan tombol *Publish*.
Begitu foto itu terunggah, Kiara langsung melakukan *logout* dari akun tersebut, mengeluarkan kartu SIM khusus Valerie dari ponselnya, memotong kartu tersebut menjadi dua dengan gunting, dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Selesai," bisik Kiara, menjatuhkan tubuhnya ke ka**r. Dadanya terasa plong, tapi ada sedikit rasa sesak yang aneh. Dia merasa bersalah pada Arka, tapi ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan cowok itu dari kehancuran yang lebih besar.
***
Baru saja Kiara memejamkan mata selama sepuluh menit, ponsel pribadinya tiba-tiba bergetar hebat. Nama "Arka Kos Sebelah" berkedip di layar.
Kiara menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar seperti orang yang baru bangun tidur. Dia menggeser tombol hijau.
"Halo, Ka? Ada apa? Gue baru mau tidur nih—"
"KIARA! LO LIHAT INSTAGRAM SEKARANG! CEPETAN!"
Suara Arka terdengar sangat histeris, bahkan Kiara harus menjauhkan ponsel dari telinganya agar tidak budek. Arka terdengar seperti orang yang sedang dikejar s****.
"Hah? Instagram kenapa sih? Gue gak main medsos malam-malam gini," dusta Kiara dengan nada malas yang dibuat-buat.
"VALERIE, KI! VALERIE POSTING KALAU DIA PENSIUN! DIA MAU JADI PETANI DI DESA TERPENCIL! G*** APA YA?!" teriak Arka frustrasi. "Kontrak satu miliar di depan mata, Ki! Satu miliar! Dan dia tiba-tiba memutuskan buat bertani?! Ini gak ma**k akal! Gue dari tadi telepon nomornya gak aktif, WhatsApp-nya cuma centang satu!"
"Oh... ya... mungkin dia emang lagi stres berat kali, Ka," tanggap Kiara selembut mungkin. "Dunia modeling kan emang keras. Kalau dia butuh ketenangan, kita harus hargai keputusannya dong?"
"Hargai kepala lo peyang!" umpat Arka, terdengar sangat stres sampai-sampai bahasanya jadi sekasar itu. "Gue udah tanda tangan MoU awal sama pihak Aura Beauty sebagai representatif dia! Kalau Valerie mendadak hilang tanpa alasan yang jelas, reputasi gue di kantor hancur total, Ki! Gue bisa dipecat dan dituntut ganti rugi!"
Jantung Kiara mencelos. *Tuntutan ganti rugi?* Dia tidak tahu kalau Arka sudah melangkah sejauh itu sampai menandatangani MoU awal tanpa sepengetahuannya.
Sebelum Kiara sempat membalas, terdengar suara ketukan keras di pintu kamarnya.
*TOK! TOK! TOK!*
"Ki! Buka pintunya! Gue butuh temen ngobrol, otak gue mau pecah!" teriak suara Arka dari balik pintu.
Kiara meringis. Dia buru-buru merapikan rambutnya dan memastikan tidak ada sisa makeup Valerie yang tertinggal di wajahnya. Setelah yakin semuanya aman, dia membuka pintu kamarnya.
Arka berdiri di sana dengan rambut yang acak-acakan, kemeja kerjanya sudah kusut dan tidak terkancing di bagian atas. Wajahnya pucat pasi, matanya merah karena panik. Tanpa permisi, dia langsung ma**k dan duduk di lant** kamar Kiara, menyandarkan punggungnya ke ranjang.
"Gue bisa g***, Ki. Sumpah, gue bisa g***," gumam Arka, menjambak rambutnya sendiri.
Kiara menutup pintu kamarnya kembali, lalu ikut duduk di samping Arka di atas lant** semen yang dingin. Dia merasa sangat bersalah melihat keadaan cowok di sampingnya ini.
"Ka... tenang dulu. Tarik napas," kata Kiara lembut, menepuk-nepuk bahu Arka. "Semua masalah pasti ada solusinya."
"Solusi apa?" Arka menatap Kiara dengan mata putus asa. "Gak ada solusi selain bawa Valerie ke hadapan orang-orang Aura Beauty besok pagi jam sembilan. Tapi sekarang dia malah hilang! Dia bilang mau ke desa terpencil buat bertani? Yang bener aja! Kemarin dia masih wangi parfum stroberi mahal, hari ini dia mau megang cangkul?!"
Kiara menggigit bibir dalamnya, menahan diri agar tidak keceplosan bahwa parfum stroberi itu sebenarnya murah dan dibeli di minimarket depan gang.
"Mungkin... lo bisa cari model lain? Yang lebih terkenal dari Valerie?" usul Kiara hati-hati.
"Gak bisa, Ki. Pihak Aura Beauty itu jatuh cinta sama karakter Valerie yang misterius dan kelihatan berkelas tapi tetep terkesan lokal. Mereka gak mau yang lain," keluh Arka. Dia menatap layar ponselnya yang menyala, menampilkan foto pemandangan desa kabut yang diunggah Valerie beberapa jam lalu.
Tiba-tiba, mata Arka menyipit. Dia memperbesar foto tersebut, menatapnya dengan sangat lekat sampai wajahnya nyaris menempel ke layar.
Kiara mendadak merasa tidak enak. "Ka? Kenapa?"
"Foto ini..." Arka bergumam, jemarinya mengusap layar. "Gue tahu siluet gunung di latar belakang ini. Ini bukan gunung sembarangan."
"Hah? Maksud lo?" Kiara mulai berkeringat dingin lagi.
"Gue sering ikut mapala pas awal kuliah dulu, Ki. Ini Gunung Merbabu. Dan sudut pengambilan gambar ini... ini pasti diambil dari daerah Selo, Boyolali, atau lereng bagian barat." Arka tiba-tiba menegakkan tubuhnya, matanya kembali menyala dengan binar harapan yang mengerikan bagi Kiara.
"Lo... lo tahu dari mana?" Kiara terbata-bata.
"Gue hafal banget bentuk puncak Merbabu dari sisi itu!" Arka berdiri dengan semangat, mondar-mandir di kamar Kiara yang sempit. "Valerie bilang dia mau bertani di desa terpencil. Berarti dia sekarang ada di salah satu desa di lereng gunung ini! Dia gak mungkin pergi jauh-jauh dari area situ!"
"Ka, lo g*** ya?!" Kiara ikut berdiri, mencoba menghentikan pemikiran absurd cowok itu. "Lereng gunung itu luas banget! Ada puluhan atau bahkan ratusan desa di sana! Lo mau nyari satu orang di antara ribuan penduduk desa? Itu kayak nyari jarum dalam tumpukan jerami!"
"Gue gak peduli, Ki!" Arka memegang kedua pundak Kiara, menatapnya dengan tekad yang begitu bulat hingga membuat Kiara merinding. "Ini satu-satunya cara buat nyelatin karier gue. Besok pagi, alih-alih ke kantor Aura Beauty, gue bakal minta izin cuti sakit darurat. Gue bakal sewa motor dan berangkat ke Jawa Tengah. Gue bakal ubek-ubek semua desa di lereng Merbabu sampai gue ketemu Valerie!"
Kiara terpaku di tempatnya berdiri, mulutnya sedikit terbuka karena syok yang teramat sangat.
Rencananya untuk "membunuh" karakter Valerie ternyata tidak menghentikan apa pun. Malahan, drama pensiun dini yang dia buat justru memicu jiwa petualang Arka yang nekat. Dan jika Arka benar-benar pergi ke sana dan tidak menemukan siapa-siapa, atau justru menemukan fakta lain...
"Gue ikut," kata Kiara tiba-tiba, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya sebelum otaknya sempat berpikir jernih.
Arka mengerutkan alisnya. "Hah? Lo ikut? Ngapain? Kuliah lo gimana?"
"Gue... gue kan lagi nunggu jadwal bimbingan skripsi minggu depan, jadi jadwal gue kosong," dalih Kiara secepat kilat. "Lagian, lo kalau pergi sendirian dalam kondisi stres begini bisa bahaya di jalan. Kalau ada gue, minimal ada yang bisa gantian nyetir atau baca maps. Dan... gue juga khawatir sama lo, Ka."
Arka menatap Kiara selama beberapa saat. Perlahan, senyum tipis muncul di wajahnya yang lelah. Dia menepuk kepala Kiara pelan.
"Makasih ya, Ki. Lo emang tetangga kosan terbaik gue," kata Arka tulus. "Oke, besok pagi-pagi banget, kita berangkat ke lereng Merbabu. Kita cari Valerie sampai ketemu."
Kiara hanya bisa tersenyum kecut sambil mengangguk pasrah. Dalam hatinya, dia menjerit histeris. Dia tidak tahu bagaimana caranya harus bersikap sebagai "Kiara sang teman perjalanan" sekaligus memastikan bahwa Arka tidak akan pernah menemukan "Valerie sang model misterius" di lereng gunung itu.
Perjalanan ini dipastikan akan menjadi sebuah bencana besar.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!