Bab 13: Pelacakan IP dan Jebakan Batman
Arka menyandarkan punggungnya di kursi kerja dengan helaan napas panjang. Kepalanya terasa pening, bukan karena tumpukan revisi proposal dari klien, melainkan karena bayangan wajah "Valerie" yang mendadak pucat pasi di kafe tadi.
Sikap Valerie benar-benar aneh. Siapa pun kreator konten pemula yang ditawari kontrak *B**nd Ambassador* senilai satu miliar rupiah pasti akan melompat kegirangan. Tapi Valerie? Cewek itu malah terlihat seperti baru saja menerima vonis hukuman mati. Reaksinya yang panik, penolakannya yang terburu-buru saat ingin diantar pulang, hingga caranya melarikan diri dengan taksi *online* membuat alarm kewaspadaan di kepala Arka berbunyi kencang.
Ada yang gak beres. Arka tahu itu. Sebagai *talent manager* yang sudah menangani belasan *influencer*, instingnya jarang meleset. Valerie menyembunyikan sesuatu yang sangat besar.
Arka melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul dua siang. Dia segera beranjak dari kubikelnya dan melangkah menuju lant** dasar, tempat divisi IT agensinya berada. Di sana, ruangan ber-AC dingin itu tampak berantakan dengan kabel-kabel yang menjunt** dan beberapa monitor besar yang menyala.
"Ren, sibuk gak lo?" Arka menepuk pundak Reno, staf IT andalan agensi mereka yang sedang asyik mengunyah keripik kentang sambil menatap layar coding.
Reno menoleh, menurunkan *headphone* nirkabelnya ke leher. "Yo, Ka! Gak terlalu sih, cuma lagi ngerapihin database bulanan aja. Kenapa? Muka lo kusut amat kayak cucian belum disetrika seminggu."
Arka menarik kursi kosong di sebelah Reno dan duduk. "Gue butuh bantuan lo. Penting banget. Dan tolong, ini rahasia kita berdua aja."
Reno langsung menegakkan posisi duduknya, mendadak tertarik. "Wah, bau-bau konspirasi nih. Bantuan apaan? Lo mau nge-hack akun mantan lo?"
"Bukan, elah," dengus Arka kesal. "Gue mau lo lacak lokasi real-time dan IP address dari pemilik akun Valerie. Lo bisa, kan?"
Reno mengernyitkan dahi. "Valerie? *Talent* baru lo yang lagi naik daun itu? Kenapa harus dilacak? Kan lo manager-nya, tinggal telepon atau samperin ke apartemennya di Senopati, kan? Di data profilnya kan ada."
"Justru itu masalahnya," bisik Arka, mendekatkan wajahnya ke Reno. "Gue ngerasa dia gak tinggal di sana. Dan semua data diri yang dia kasih ke gue... kayaknya fiktif. Dia selalu menghindar kalau diajak ketemu di area apartemennya. Gue butuh bukti konkret sebelum kontrak Aura Beauty ini ditandatangani. Kalau sampai agensi kita kena tipu, kita semua bisa didepak."
Mendengar penjelasan Arka yang serius, ekspresi jenaka di wajah Reno langsung hilang. Dia mengangguk paham. "Oke, paham. Lacak IP lewat Instagram agak ribet kalau kita gak punya akses langsung ke server Meta. Tapi, gue punya trik lain yang lebih gampang dan akurat."
"Gimana caranya?"
Reno tersenyum misterius, jemarinya mulai menari dengan cepat di atas *keyboard*. "Gue bakal bikin link phising yang dibungkus rapi pake domain draf kontrak kerja sama. Nanti lo kirim link itu ke WhatsApp-nya. Bilang aja itu draf kontrak Aura Beauty yang butuh persetujuan cepat. Begitu dia klik link itu, sistem gue bakal langsung nge-grab IP address, tipe perangkat yang dia pakai, provider internetnya, sampai koordinat GPS lokasinya saat itu juga."
Arka tersenyum puas. "Jenius. Kerjain sekarang, Ren. Gue tungguin."
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Reno untuk menyiapkan jebakan digital tersebut. "Selesai. Nih, link-nya udah gue kirim ke WA lo. Sekarang tinggal lo bumbu-bumbuin biar dia langsung nge-klik tanpa curiga."
Arka membuka ponselnya, menyalin link tersebut, lalu membuka ruang obrolan WhatsApp dengan Valerie. Dia mengetik pesan dengan gaya sant** namun terselip nada mendesak.
*Arka: Val, sori ngeganggu istirahat lo. Tapi ini darurat banget. Pihak Aura Beauty minta draf awal disetujui siang ini juga sebelum jam 3 sore supaya termin pertama pembayaran bisa cair besok. Tolong klik link ini buat approval cepat ya, Babe. Makasih banyak! [Link]*
Arka menekan tombol kirim. Di layar, pesan itu langsung menunjukkan centang dua abu-abu, lalu berubah menjadi biru dalam hitungan detik. Valerie sedang *online*.
"Dia lagi baca," gumam Arka tegang.
"Oke, mari kita pantau dasbor gue," kata Reno, matanya fokus menatap salah satu layar monitor yang masih kosong.
Satu menit berlalu. Keheningan di ruangan IT itu terasa begitu mencekam. Arka bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
*Ping!*
Sebuah baris data baru tiba-tiba muncul di layar monitor Reno dengan warna hijau menyala.
"Dapet!" seru Reno setengah berbisik. "Target nge-klik link-nya!"
Reno dengan cepat mengetik beberapa perintah di *keyboard* untuk menjabarkan data yang ma**k. Arka mencondongkan tubuhnya, matanya menyipit membaca tulisan yang tertera di layar.
"Perangkat: iPhone 11. Provider: Telkomsel," Reno membacakan data tersebut. "Dan IP address-nya..." Reno menyalin deretan angka itu ke sebuah program pelacak geografis. Peta digital kota Jakarta langsung muncul, memperbesar tampilannya secara otomatis ke sebuah titik merah yang berkedip-kedip di wilayah Jakarta Selatan.
"Lho?" Reno mengernyitkan dahi, tampak bingung. "Ini kok... areanya bukan di Senopati, Ka?"
"Di mana?" tanya Arka, dadanya mendadak bergemuruh kencang.
Reno menatap Arka dengan pandangan tak percaya. "Ini lokasinya di Tebet. Jalan Flamboyan No. 15. Kos Ibu Retno. Ka... bukannya ini alamat kosan lo sendiri?"
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Arka terpaku di tempatnya. Matanya menatap tajam ke arah titik merah yang berkedip tepat di atas bangunan yang sangat dia kenali. Kos Ibu Retno. Tempat di mana dia menyewa kamar nomor 4 di lant** dua selama dua tahun terakhir.
"Coba presisikan lagi, Ren. Gak mungkin salah, kan?" tanya Arka dengan suara yang mendadak serak.
"Sistem GPS tracker gue gak pernah bohong, Ka. Akurasinya sampai radius tiga meter. Dan ini... lokasinya beneran di kosan lo. Lebih tepatnya di lant** dua," jelas Reno sambil menunjuk titik koordinat yang super det**l. "Ada orang lain di kosan lo yang lagi megang HP Valerie?"
Otak Arka yang cerdas langsung bekerja dengan kecepatan penuh. Dia menghubungkan semua kepingan teka-teki yang selama ini terasa mengganjal.
*Valerie yang selalu menolak video call dengan alasan privasi.*
*Valerie yang parfumnya sangat familiarβaroma lavender murah yang sering dia cium di lorong kosan.*
*Suara Valerie yang sengaja dibuat mendesah dan manja, namun terkadang memiliki intonasi yang sangat mirip dengan seseorang.*
*Dan yang paling penting... kamar nomor 5 di lant** dua, tepat di sebelah kamarnya.*
Kamar Kiara.
Cewek rumahan yang selalu memakai kacamata bulat besar, rambut dikuncir asal-asalan, baju kaus kebesaran, dan selalu terlihat kelelahan karena bekerja serabutan. Cewek yang selalu mengunci rapat kamarnya seolah sedang menyembunyikan sebuah laboratorium rahasia.
Arka menyandarkan tubuhnya, lalu tiba-tiba tawa kecil lolos dari bibirnya. Tawa yang kemudian berubah menjadi kekehan geli yang membuat Reno menatapnya dengan pandangan ngeri.
"Ka? Lo kesurupan ya? Kok malah ketawa?" tanya Reno heran.
"Gak, Ren. Gue gak papa," ujar Arka sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa. Dia tersenyum penuh artiβsenyum kemenangan seorang predator yang baru saja menemukan mangsa yang menggemaskan. "Gue cuma baru sadar kalau ada kelinci bodoh yang lagi nyasar di kandang singa."
Arka berdiri, menepuk pundak Reno dengan keras. "Thanks, Ren. Lo penyelamat karier gue. Jangan bilang siapa-siapa soal ini, oke? Biar gue yang urus sisanya."
"Y-ya... oke, sant** aja, Ka. Tapi lo beneran gak papa, kan?"
"Gue? Gue luar biasa seneng hari ini," jawab Arka dengan seringai yang tak luntur dari wajah tampannya.
***
Tiga puluh menit kemudian, Arka sudah sampai di depan gerbang kos Ibu Retno. Dia melangkah menaiki tangga kayu menuju lant** dua dengan langkah yang sengaja dibuat sepelan mungkin. Lorong kosan tampak sepi dan tenang, khas suasana siang hari yang panas.
Arka berdiri di depan pintu kamar nomor 5. Pintu kayu berwarna cokelat tua itu tertutup rapat, terkunci dari dalam. Dia bisa mendengar suara kasak-kusuk pelan dari dalam kamar, disusul suara helaan napas yang terdengar sangat frustrasi.
Arka merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Dia membuka aplikasi WhatsApp. Pertama, dia mengirim pesan ke nomor Kiaraβnomor tetangga kosnya.
*Arka: Ki, lo di kosan gak? Gue mau minta tolong dong, penting banget.*
Arka menempelkan telinganya ke pintu kayu kamar Kiara. Sedetik kemudian, terdengar bunyi getar khas ponsel di dalam kamar. Ada jeda sekitar satu menit sebelum sebuah balasan ma**k ke ponsel Arka.
*Kiara: Aduh sori banget, Ka. Gue lagi di luar nih, lagi ada urusan kerjaan di daerah Depok. Kenapa emangnya? Ada yang bisa gue bantu nanti pas balik?*
Arka tersenyum miring. *Lying straight to my face, huh?* batinnya geli.
Arka tidak membalas pesan Kiara. Sebaliknya, dia beralih ke ruang obrolan dengan Valerie. Kali ini, dia menekan tombol pangg***n suara WhatsApp.
Di dalam kamar, terdengar bunyi dering telepon yang sangat keras. Suara musik pop yang menjadi *ringtone* bawaan iPhone terdengar jelas di telinga Arka. Tak lama kemudian, suara dering itu mendadak mati, tampaknya sengaja ditolak atau di-silent dengan panik.
Sebuah pesan ma**k dari Valerie.
*Valerie: Sori banget Babe, kepala aku masih pusing banget dan sekarang lagi di toilet. Ada apa ya? Chat aja ya.*
Arka menghela napas, menahan tawa yang hampir meledak. Dia mulai menyusun rencana "Jebakan Batman" untuk membuat Kiara mengaku dengan sendirinya tanpa bisa mengelak lagi. Dia ingin melihat seberapa jauh tetangga kosnya yang lugu ini bisa memainkan perannya sebagai sosialita papan atas bernama Valerie.
Arka mulai mengetik pesan balasan untuk Valerie dengan ekspresi wajah yang sangat usil.
*Arka: Oh, sori ya kalau ngeganggu. Tapi ini beneran gawat, Val. Pihak owner Aura Beauty dapet laporan kalau ada akun fake yang pakai foto-foto lo di daerah Tebet. Mereka curiga lo lagi malsuin identitas atau ada orang lain yang pura-pura jadi lo.*
Arka menempelkan telinganya lagi ke pintu. Dia mendengar suara cegukan kecil dari dalam kamar. Kiara pasti sedang syok setengah mati.
*Arka: Makanya, sekarang gue sama tim legal Aura Beauty lagi otw ke apartemen lo di Senopati buat verifikasi data fisik. Kita udah di jalan, sekitar 15 menit lagi nyampe. Tolong standby di lobby ya, Val. Jangan sampai kontrak satu miliar ini batal cuma karena masalah sepele kayak gini.*
*Gub**k!*
Suara benda jatuh yang c**up keras terdengar dari dalam kamar Kiara. Tampaknya cewek itu panik luar biasa hingga menyenggol sesuatu, mungkin meja rias atau kursi belajarnya. Arka bahkan bisa mendengar suara langkah kaki yang terburu-buru dan napas yang memburu dari balik pintu.
Satu pesan ma**k dari Valerie dengan ketikan yang tampak sangat berantakan dan typo di sana-sini.
*Valerie: JAAANGAANN!!! Maksud aku, jangan ke apartemen sekarang! Aku lagi gak di sana! Aku lagi di luar kota, iya, luar kota! Ada urusan keluarga mendadak banget! Please jangan ke sana!*
Arka tersenyum puas. Umpannya termakan dengan sempurna. Sekarang, saatnya melancarkan serangan pemungkas.
Arka menyimpan ponselnya kembali ke saku. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu kamar Kiara dengan keras, membuat suara ketukan itu menggema di lorong sepi tersebut.
*Tok! Tok! Tok!*
"Kiara? Ki! Lo di dalem, kan?" panggil Arka dengan nada suara yang dibuat seolah-olah dia sedang panik dan terburu-buru. "Ki, tolongin gue dong! Emergency banget!"
Keheningan total langsung tercipta di dalam kamar. Arka tahu Kiara pasti sedang menahan napasnya di balik pintu, membeku seperti patung karena terkejut mendengar suara Arka yang tiba-tiba berada tepat di depan kamarnya, padahal beberapa detik lalu cowok itu mengaku sedang berada di jalan menuju Senopati.
"Ki? Gue denger suara barang jatuh tadi dari dalem. Lo gak papa, kan? Buka pintunya dong, Ki. Gue butuh bantuan lo buat cek dokumen kontrak kerjaan gue!" seru Arka lagi, kali ini sambil menggoyang-goyangkan gagang pintu kamar Kiara.
Dari dalam kamar, terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan mendekati pintu. Arka bisa membayangkan wajah Kiara yang saat ini pasti sudah pucat pasi, keringat dingin bercucuran, dan jantungnya berdegup kencang karena ketakutan setengah mati.
"E-eh... Arka?" suara Kiara terdengar bergetar dari balik pintu. "Gue... gue baru banget nyampe kosan! Ini lagi ganti baju, sori banget! Lo... lo kok udah di kosan? Bukannya lo lagi kerja?"
"Iya, tadi gue mau pergi, tapi ada dokumen penting yang ketinggalan di kamar," jawab Arka dengan nada suara yang sangat meyakinkan. "Gue butuh bantuan lo sekarang juga, Ki. Tolong buka pintunya bentar aja. Cuma lo yang bisa bantu gue keluar dari masalah hidup dan mati ini."
"M-masalah apa, Ka?" tanya Kiara, suaranya terdengar makin panik. "Gue lagi gak pake jilbab nih, berantakan banget. Gak bisa dibuka pintunya."
Arka tersenyum sangat lebar. Waktunya telah tiba untuk menutup jebakan ini.
"Oh, gak papa, pakai handuk atau apa aja dulu, Ki. Penting banget nih," kata Arka, suaranya melembut, namun penuh dengan intonasi yang menggoda. "Gue cuma mau nanya satu hal..."
Arka sengaja menjeda kalimatnya, membuat ketegangan di antara mereka semakin memuncak. Dia mendekatkan bibirnya ke celah pintu kamar Kiara, lalu berbisik dengan nada yang sangat sant**, namun sanggup membuat dunia Kiara runtuh seketika.
"Sejak kapan... lo punya iPhone 11 dan suka pakai parfum lavender, Valerie?"
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!