Rahasia di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Bab 2: Konser Desahan Speaker Bluetooth

Pengaturan Membaca

**Bab 2: Konser Desahan Speaker Bluetooth**

Setelah berhasil meneguk segelas air dingin yang sukses meredakan tenggorokannya yang kering, Kiara buru-buru kembali ke kamarnya. Koridor lant** dua Griya Aruna terasa sangat sunyi, hanya menyisakan deru halus dari AC sentral. Kiara merapatkan piyama satinnya yang bermotif stroberi, lalu membuka pintu kamarnya dengan gerakan cepat.

Begitu ma**k, ia langsung mengunci pintu rapat-rapat.

*Klik.*

Suara kunci yang berputar itu terdengar begitu memuaskan di telinganya. Bagi Kiara, pintu kamar yang terkunci adalah batas suci antara dirinya yang stres setengah mati karena skripsi, dengan dunia luar yang menuntutnya untuk selalu terlihat waras. Di balik pintu ini, dia bebas menjadi dirinya sendiri.

Kiara melempar tubuhnya ke atas ka**r *king size* yang super empuk. Ia berguling beberapa kali, menikmati sensasi dingin dari seprai katun Jepang miliknya. Setelah berjam-jam otaknya diperas oleh teori-teori manajemen Pak Bambang yang super ribet, Kiara merasa berhak mendapatkan sebuah penghargaan. Sebuah *me-time* yang intim, rahasia, dan pastinya bisa mengembalikan hormon endorfinnya yang sudah minus.

"Skripsi bisa menunggu, tapi kesehatan mental gue adalah prioritas utama," gumam Kiara sambil tersenyum lebar.

Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan gerakan lincah, Kiara membuka sebuah aplikasi membaca novel *online* yang juga menyediakan fitur audio drama khusus dewasa berlabel 18+. Malam ini, ia ingin mendengarkan kelanjutan dari cerita audio favoritnya yang berjudul *“The Alpha’s Captive”*. Sebuah audio drama romantis-fantasi dengan pengisi suara cowok yang memiliki suara *baritone* sangat s****, berat, dan selalu sukses membuat bulu kuduk Kiara merinding kegirangan.

Untuk menambah sensasi yang lebih nyata, Kiara merogoh laci mejanya, mengambil sepasang *earphone* nirkabel alias TWS berwarna putih miliknya. Tanpa memeriksa layar ponselnya lagi, Kiara langsung memasangkan kedua *earbud* tersebut ke telinganya. Ia terbiasa mengandalkan fitur koneksi otomatis ponselnya yang biasanya langsung tersambung ke TWS tersebut begitu dikeluarkan dari wadahnya.

Kiara mematikan lampu utama kamarnya, menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram yang menciptakan atmosfer super rileks. Ia menarik selimut tebalnya sampai sebatas dada, memejamkan mata, lalu mengetuk tombol *play* pada layar ponselnya. Volume suara di ponselnya langsung ia geser ke tingkat maksimal—seratus persen. Kiara ingin tenggelam sepenuhnya dalam dunia fantasi itu.

Namun, Kiara tidak menyadari satu hal krusial.

TWS yang dipakainya ternyata kehabisan baterai dan sama sekali tidak menyala. Dan yang lebih parah, beberapa hari yang lalu, Kiara sempat meminjam *speaker* Bluetooth raksasa merek Marshall Stanmore II di ruang tamu lant** satu untuk acara syukuran ulang tahun salah satu anak kos. Ponsel Kiara masih menyimpan profil koneksi *speaker* tersebut sebagai perangkat prioritas utama. Begitu Bluetooth ponselnya aktif, sistem otomatis ponselnya langsung memburu sinyal terkuat yang sedang menyala aktif di rumah itu.

Sinyal milik *speaker* raksasa di ruang tamu lant** satu.

***

Sementara itu, di ruang tamu lant** satu yang super luas dan berdesain minimalis modern, suasana terasa sangat kontras.

Arka, sang pemilik kos, sedang duduk tegap di balik meja kayu m***ni yang besar. Ia mengenakan kemeja hitam formal yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang tegas. Di depannya, sebuah laptop MacBook Pro menyala, menampilkan layar Zoom Meeting yang dihadiri oleh tujuh orang penting.

Mereka bukan orang sembarangan. Di layar itu ada Pak Hendra, CEO dari Aruna Media Group—agensi artis papan atas tempat Arka bekerja sebagai Manajer Representatif—serta jajaran direksi dan investor penting lainnya. Rapat malam ini sangat krusial, membahas tentang kontrak kerja sama eksklusif bernilai miliaran rupiah dengan agensi internasional dari Korea Selatan.

"Jadi, Arka, bagaimana dengan kesiapan draf kontrak dari pihak kita? Apakah poin-poin yang diminta oleh pihak Seoul sudah disesuaikan?" tanya Pak Hendra melalui *speaker* laptop. Suaranya terdengar berat dan sangat berwibawa.

Arka mendeham pelan, memosisikan mikrofon *headset*-nya lebih dekat ke mulut. "Semua poin sudah disesuaikan, Pak. Saya sudah mengirimkan draf revisi terakhir ke email Bapak sepuluh menit yang lalu. Kami juga sudah menyiapkan rencana cadangan jika—"

Kalimat Arka terputus.

Tiba-tiba, lampu indikator di *speaker* Marshall raksasa yang terletak di sudut ruangan—tepat di samping meja rapat Arka—berkedip biru terang. *Speaker* yang tadinya sedang dalam mode siaga itu mendadak mengeluarkan suara dentum koneksi yang c**up keras.

*Bup.*

Arka mengernyitkan dahi. Ia tidak merasa menyambungkan ponselnya ke *speaker* tersebut. Namun, sebelum sempat ia berpikir lebih jauh, sebuah suara frekuensi tinggi langsung memecah keheningan malam di Griya Aruna.

*"Ahhh... mmmhh... Kak, pelan-pelan... sakit... ah!"*

Suara desahan wanita yang sangat nyaring, begitu jernih, dan terdengar sangat sensual langsung menggema di seluruh sudut ruang tamu berkat teknologi *subwoofer* kelas atas dari *speaker* Marshall tersebut. Suara itu begitu menggelegar, memantul di dinding-dinding marmer, dan menciptakan gema yang luar biasa dahsyat.

Arka membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar.

Di layar Zoom, wajah Pak Hendra yang tadinya serius langsung berubah menjadi tegang. Tiga orang direktur lainnya yang sedang mendengarkan langsung melongo dengan mulut setengah terbuka. Seorang ibu direktur keuangan bahkan refleks membetulkan letak kacamatanya dengan ekspresi syok yang tidak bisa disembunyikan.

*"Sshhh... ah... jangan di situ... mmm, kerasa banget... ahh!"* suara audio drama itu berlanjut dengan desahan yang semakin intens, lengkap dengan efek suara napas yang memburu dan berat.

Wajah Arka yang biasanya sedingin es kini mendadak memerah padam sampai ke telinga. Detak jantungnya berpacu seperti sedang dikejar s****. Dengan panik, ia langsung mengarahkan kursor laptopnya untuk mematikan mikrofon Zoom. Namun, karena tangannya gemetaran akibat syok yang luar biasa, kursornya malah tidak sengaja mengeklik tombol *Share Screen* draf kontrak.

"Arka? Suara apa itu?!" tanya Pak Hendra dengan nada suara yang mulai meninggi dan tidak sant**. "Kamu sedang rapat penting, kenapa ada suara... tidak senonoh seperti itu?!"

"Maaf, Pak! Sebentar, ini ada gangguan teknis!" jawab Arka panik, suaranya naik satu oktav.

Ia langsung melepas *headset*-nya dengan kasar, lalu melompat dari kursinya untuk menghampiri *speaker* tersebut. Namun, nasib sial sepertinya sedang senang bermain-main dengan Arka malam ini. Kabel daya *speaker* tersebut terlilit di bawah kaki meja yang berat, dan tombol manual *volume* di atas *speaker* mendadak macet tidak bisa diputar karena ada kerusakan kecil pada bagian *knob*-nya.

Sementara itu, di kamar lant** dua, Kiara masih memejamkan mata dengan khusyuk. Ia merasa heran kenapa *earphone* di telinganya sama sekali tidak mengeluarkan suara.

"Kok sepi ya? Apa draf audionya masih *loading*?" gumam Kiara heran.

Ia membuka matanya, lalu menatap layar ponsel. Di sana, garis durasi audio drama terus berjalan. Detik demi detik berlalu. Kiara menekan tombol volume naik di samping ponselnya berkali-kali hingga mentok ke kanan.

"Kok tetep gak ada suaranya sih? Rusak apa ya?" Kiara melepas satu *earbud*-nya, meniup-niupnya pelan, lalu memasangnya kembali. Tetap hening.

Barulah saat matanya tidak sengaja melirik ke sudut kanan atas layar ponsel, jantung Kiara rasanya seperti berhenti berdetak seketika.

Di sana, logo Bluetooth tidak menampilkan nama "TWS-i12". Melainkan sebuah teks berjalan yang sangat ia kenal:

*Connected to: Marshall Stanmore II (Living Room).*

Seketika itu juga, seluruh pasokan oksigen di paru-paru Kiara menguap. Wajahnya yang tadinya rileks langsung pucat pasi seperti mayat.

"M-marshall... ruang tamu?" bisik Kiara dengan bibir gemetar. "Gue... gue nyambung ke *speaker* bawah?!"

Pikiran Kiara langsung melayang ke situasi di lant** bawah. Kamar kos Arka ada di lant** satu, dan biasanya cowok itu sering bekerja di ruang tamu hingga larut malam. Lebih parah lagi, malam ini adalah malam Jumat, waktu di mana kosan biasanya sepi, yang berarti suara dari *speaker* berkekuatan besar itu pasti akan terdengar sangat jelas ke seluruh penjuru rumah.

Di bawah sana, audio drama itu kini sudah mencapai adegan puncak yang paling dinamis.

*"Ahhh! Lebih cepet... mmhh... aku udah gak tahan... ah! Oh my god... ssshh..."*

Suara desahan wanita dalam audio tersebut kini berpadu dengan suara desahan berat sang karakter cowok yang menimpali dengan beringas: *"Yes, baby... just like that... ahh..."*

"MAMPUS GUE!!! MATI GUEEE!!!" teriak Kiara histeris tanpa suara.

Dengan gerakan secepat kilat, Kiara langsung menekan tombol *pause* di ponselnya berulang kali dengan brutal. Namun, karena ponselnya mendadak *hang* akibat terlalu banyak menerima perintah ketukan cepat, layar ponselnya malah membeku. Audio drama itu tetap berputar dengan riang gembira di lant** bawah.

Tanpa berpikir panjang lagi, Kiara langsung melompat dari ka**r. Ia bahkan tidak peduli lagi kalau dirinya hanya memakai piyama stroberi tipis dan rambutnya yang acak-acakan seperti singa. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar, lalu berlari kencang menyusuri koridor lant** dua, melompati anak tangga menuju lant** satu dengan kecepatan yang menyamai pelari cepat olimpiade.

"Tolong, Tuhan! Jangan biarkan Kak Arka denger! Tolong hamba-Mu yang berdosa ini!" rapalan doa Kiara dalam hati bercampur aduk dengan rasa panik yang luar biasa.

Begitu sampai di ujung tangga lant** satu, Kiara langsung disuguhi oleh pemandangan yang membuatnya ingin segera menelan bumi atau menghilang ke dimensi lain saat itu juga.

Di ruang tamu yang terang benderang, Arka sedang berlutut di lant**, berjuang keras menarik kabel daya *speaker* Marshall yang tersangkut di balik lemari pajangan kayu yang sangat berat. Napas cowok itu memburu, wajahnya merah padam menahan malu sekaligus amarah yang siap meledak.

Dan yang paling mengerikan adalah layar laptop Arka yang masih menyala menampilkan rapat Zoom. Kiara bisa melihat dengan jelas wajah beberapa pria paruh baya mengenakan setelan jas formal yang sedang menatap layar dengan ekspresi antara syok, jijik, dan sangat terganggu.

*"Ahhh... sedikit lagi... mmmhh... ya ampun...!"* suara dari *speaker* itu masih terus meraung-raung dengan gagah berani.

"Kak Arka!!!" teriak Kiara panik, suaranya melengking tinggi, memotong suara desahan dari *speaker*.

Arka tersentak. Ia menoleh dengan cepat ke arah tangga. Matanya yang tajam kini membelalak lebar, menatap Kiara dengan tatapan yang bisa membunuh siapa saja seketika. Napas Arka memburu, rahangnya mengencang hingga urat-urat di lehernya terlihat sangat jelas.

"Kiara?! Jadi ini punya lo?!" geram Arka dengan suara rendah yang terdengar sangat berbahaya di tengah-tengah suara desahan yang masih bergema.

"Maaf, Kak! Sumpah, maaf! Gak sengaja!" Kiara berteriak panik sambil berlari menghampiri Arka.

Karena terlalu panik dan terburu-buru, kaki Kiara tidak sengaja tersangkut di ujung karpet bulu ruang tamu. Tubuhnya langsung kehilangan keseimbangan.

"Aaaaa!"

*Bruk!*

Kiara jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak estetik, tepat di depan meja kerja Arka. Namun, tangannya yang terayun bebas secara tidak sengaja menyenggol kabel daya *speaker* yang sejak tadi diusahakan Arka untuk dilepas.

*Ccereett!*

Kabel itu akhirnya terlepas dari stopkontak dinding.

Seketika itu juga, keheningan total langsung menyelimuti ruang tamu Griya Aruna. Tidak ada lagi suara desahan s****, tidak ada lagi suara napas memburu yang menggelegar. Yang tersisa hanyalah keheningan yang begitu mencekam, begitu sunyi, hingga suara detak jarum jam dinding pun terdengar sangat keras.

Kiara masih terlungkup di atas karpet, tidak berani mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan tatapan dingin nan menusuk dari Arka yang kini berdiri tepat di atasnya.

"Kiara," suara Arka terdengar sangat pelan, namun bergetar menahan amarah yang luar biasa hebat. "Berdiri."

Dengan perlahan dan gemetaran, Kiara mengangkat kepalanya. Ia mendongak, menatap Arka yang kini sedang melipat kedua tangannya di dada. Wajah tampan cowok itu tampak sangat menyeramkan di bawah cahaya lampu ruang tamu.

Namun, penderitaan Kiara belum berakhir. Dari arah meja, suara dehaman keras terdengar dari pengeras suara laptop MacBook milik Arka yang rupanya mikrofonnya masih dalam keadaan aktif.

"Ehem. Arka," suara Pak Hendra terdengar sangat dingin dan penuh penekanan dari dalam pangg***n Zoom. "Saya rasa... rapat malam ini tidak bisa kita lanjutkan dalam kondisi seperti ini. Silakan selesaikan dulu... urusan pribadi kamu di rumah. Kami tunggu laporan revisi final besok pagi pukul sembilan di kantor agensi. Jangan terlambat."

*Tut.*

Pangg***n Zoom terputus secara sepihak oleh sang CEO.

Kiara menatap layar laptop yang kini sudah kembali ke tampilan desktop. Ia kemudian perlahan-lahan mengalihkan pandangannya kembali ke arah Arka.

Cowok itu kini sedang memejamkan matanya rapat-rapat, mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan seolah-olah sedang berusaha keras untuk tidak melempar *speaker* Marshall seharga jutaan rupiah itu langsung ke wajah Kiara.

Ketika Arka kembali membuka matanya, tatapan dingin itu langsung mengunci Kiara di tempatnya berdiri.

"Lo tahu apa yang baru aja lo lakuin?" tanya Arka, suaranya begitu tenang namun justru terdengar sepuluh kali lipat lebih mengerikan daripada bentakan.

Kiara menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya tenggorokannya mendadak tersumbat batu kerikil. "K-Kak... sumpah, aku gak sengaja... Bluetooth aku otomatis nyambung ke—"

"Gue gak peduli soal Bluetooth lo," potong Arka cepat, melangkah satu kali lebih dekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal. Arka menunduk, menyejajarkan wajahnya dengan Kiara yang kini mulai gemetaran. "Gara-gara konser desahan dari ponsel lo itu, proyek agensi senilai lima miliar rupiah malam ini terancam batal."

Mata Kiara membelalak. "L-lima miliar?!"

"Ya," bisik Arka dingin, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Kiara yang panik. "Dan sekarang, Kiara... lo punya utang penjelasan yang sangat besar sama gue. Ma**k ke ruang kerja gue. Sekarang."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca