Rahasia di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Bab 3: Alibi Absurd Dubber Dadakan

Pengaturan Membaca

...sistem otomatis langsung menghubungkan ponsel Kiara dengan *speaker* Bluetooth raksasa merek Marshall Stanmore II di ruang tamu lant** satu.

Di dalam kamarnya yang temaram, Kiara memejamkan mata dengan senyum mengembang. Ia sudah bersiap untuk hanyut dalam suara berat nan s**** dari karakter sang Alpha. Ia menarik napas dalam-dalam, menanti dialog pembuka yang biasanya langsung berbisik manja di telinganya.

Namun, yang terdengar di kedua telinganya hanyalah keheningan. Sunyi. Kosong.

*Loh? Kok gak ada suaranya?* batin Kiara heran. Ia mengetuk-ngetuk TWS di telinganya, mengira alat itu sedang *loading*.

Detik berikutnya, sebuah suara bas yang teramat dahsyat, menggelegar, dan sangat jernih memecah kesunyian malam. Bukan dari dalam telinganya, melainkan merambat dari lant** bawah, menggetarkan lant** kamarnya, bahkan sampai membuat kaca jendela kamarnya ikut bergetar halus.

*"Ahhh... Oh, God... Faster, please... hhh..."*

Suara desahan wanita yang sangat sensual, disusul oleh suara napas berat seorang pria yang terdengar begitu nyata, menggema ke seluruh penjuru Griya Aruna. Volume seratus persen dari sebuah *speaker* premium berdaya tinggi benar-benar tidak main-main. Suara itu terdengar sangat megah, seolah-olah ada adegan syur yang sedang direkam secara langsung di ruang tamu mereka.

Mata Kiara langsung melotot lebar. Jantungnya serasa merosot sampai ke jempol kaki.

"MAMPUS!" pekik Kiara histeris.

Dengan gerakan secepat kilat, Kiara mencabut TWS dari telinganya dan melemparnya ke ka**r. Ia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Tangannya gemetar hebat sampai ponselnya hampir slip dari genggamannya. Kamar yang gelap membuat layarnya terasa sangat menyilaukan. Kiara mencoba membuka kunci ponselnya, namun fitur *Face ID* mendadak tidak bisa mengenali wajahnya yang sudah pucat pasi dan berkeringat dingin.

Sementara itu, di bawah sana, audio drama 18+ itu masih terus berlanjut dengan sensor suara yang semakin intim dan vulgar.

*"Sshhh... kamu sempit banget, Sayang... mmmhh..."*

"Ayo dong, kebuka! Plis, demi apa pun kebuka!" ratap Kiara panik setengah mati. Ibu jarinya gemetar hebat saat mengetikkan PIN ponselnya. Begitu layar terbuka, ia langsung menekan tombol volume turun berkali-kali dengan brutal, lalu mematikan koneksi Bluetooth-nya dalam satu ketukan kasar.

*Hening.*

Seketika itu juga, konser desahan maha dahsyat di lant** bawah langsung terputus.

Griya Aruna kembali sunyi senyap. Namun bagi Kiara, kesunyian ini jauh lebih mengerikan daripada suara desahan tadi. Kamarnya yang dingin ber-AC mendadak terasa seperti sauna. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Seluruh tubuh Kiara gemetar hebat. Ia melempar ponselnya ke ka**r, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan, menjerit tanpa suara.

*Gue mau pindah planet aja malam ini! Tuhan, tolong hanyutkan Kiara ke Sungai Amazon sekarang juga!* jeritnya dalam hati.

Kiara tahu persis siapa saja yang ada di kosan eksklusif ini sekarang. Memang sebagian anak kos sedang pulang kampung karena *weekend*, tapi ada satu orang yang sangat ia hindari yang malam ini dipastikan berada di kamarnya di lant** satu.

Arka.

Arka Dirgantara. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Arsitektur yang terkenal dingin, super disiplin, bermulut pedas, dan merupakan ketua koordinasi keamanan di Griya Aruna. Cowok yang selalu menatap Kiara dengan pandangan menilai seolah-olah Kiara adalah seonggok beban sosial yang salah gaul.

Baru saja Kiara mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menaiki tangga kayu lant** dua. Langkah kaki itu terdengar berat dan tegas.

*Deg. Deg. Deg.*

Jantung Kiara serasa mau copot. Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu kamarnya.

*GEDEBUK! GEDEBUK! GEDEBUK!*

Pintu kayu kamar Kiara digedor dengan sangat keras, membuat Kiara hampir melompat dari tempat tidurnya.

"Kiara! Buka pintunya! Gue tahu lo di dalam!" teriak sebuah suara bariton yang sangat familier. Suara Arka terdengar luar biasa syok, marah, dan... diliputi rasa malu yang amat sangat.

Kiara mematung di tengah kamar. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Ia berpura-pura mati.

"Kiara! Jangan pura-pura tidur! Gedoran gue bisa ngebangunin satu RT kalau lo gak buka sekarang juga!" ancam Arka lagi, kali ini gedorannya semakin tidak sant**.

Menyadari tidak ada jalan keluar, Kiara menarik napas dalam-dalam. Ia merapikan piyama stroberinya yang sedikit berantakan, menepuk-nepuk pipinya agar rona merah karena malu bisa sedikit tersamarkan, lalu berjalan dengan langkah gont** menuju pintu.

Dengan tangan gemetar, Kiara memutar kunci pintu.

*Klik.*

Kiara membuka pintu kamarnya hanya selebar beberapa sentimeter, menyisakan celah kecil yang hanya memperlihatkan separuh wajahnya. Ia mencoba memasang wajah mengantuk yang paling meyakinkan yang pernah ada dalam sejarah hidupnya.

"Kenapa sih, Ka? Berisik banget, orang lagi mau tidur juga..." gumam Kiara dengan suara yang sengaja dibuat serak-serak basah, sok polos.

Namun, akting Kiara sama sekali tidak mempan. Di balik celah pintu, Arka berdiri dengan napas yang memburu. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan yang membuat Kiara semakin ingin menghilang dari bumi adalah wajah Arka yang biasanya pucat, kini tampak memerah padam sampai ke telinga. Matanya menatap Kiara dengan tatapan yang bisa melelehkan besi.

"Tidur pantat lo!" semprot Arka langsung, mengabaikan sopan santun. "Lo sehat, Ra? Lo sadar gak apa yang baru aja lo lakuin?!"

"H-hah? Lakuin apa? Gue gak ngapa-ngapain," cicit Kiara, mulai ciut.

"Jangan bohong!" Arka memijat pelipisnya, tampak sangat frustrasi. "Suara... suara laknat apa yang barusan lo putar di *speaker* ruang tamu, Kiara?! Volume seratus persen! Gue lagi bikin kopi di dapur sampai hampir nyiram tangan gue sendiri pas denger suara desahan cewek kayak mau melahirkan itu! Tetangga sebelah bahkan tadi sempat nengok dari jendela luar!"

Muka Kiara langsung memanas. Rasanya ia ingin melebur menjadi debu dan ditiup angin malam.

"I-itu... itu bukan kayak yang lo pikirin, Ka! Sumpah!" Kiara akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar, panik karena Arka mulai menuduhnya yang tidak-tidak.

"Terus apa? Lo lagi nonton b**** berjamaah sama hantu di kamar lo? Atau lo lagi audisi jadi bintang film dewasa?" tanya Arka sarkas, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap Kiara tajam.

Otak Kiara langsung berputar dengan kecepatan cahaya. Skripsi manajemennya saja tidak pernah membuat otaknya bekerja sekeras ini. Ia harus mencari alibi. Alibi apa pun yang bisa menyelamatkan harga dirinya yang sudah berada di titik nadir.

*Ayo, Kiara! Pikir! Pikir! Cari alasan yang ma**k akal!*

"Itu... proyek *dubbing*! Iya, proyek *dubbing* darurat!" ceplos Kiara tiba-tiba. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa sempat disaring oleh logikanya.

Arka mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Proyek *dubbing*? Lo? Sejak kapan lo jadi pengisi suara?"

Kiara menelan ludah, mencoba menstabilkan suaranya agar terdengar sangat profesional. Ia menegakkan bahunya.

"Lo kan tahu gue anak teater kampus dulu, Ka. Nah, gue tuh kadang dapet *job sampingan* sebagai *voice over talent*. Terus, tadi sore gue dapet tawaran proyek darurat dari agensi temen gue," dusta Kiara dengan lancar, mulai mengarang bebas.

"Proyek darurat yang isinya suara desahan begitu?" Arka menatapnya penuh selidik, sama sekali tidak terlihat percaya.

"Ih, dengerin dulu penjelasan gue!" potong Kiara cepat sebelum Arka memotongnya lagi. "Jadi, ada model s**** pendatang baru... namanya Sisi. Nah, si Sisi ini dapet kontrak buat iklan produk parfum mewah bertema sensual. Konsep iklannya itu emang harus ada desahan estetik di latar belakangnya biar kesannya misterius dan s****."

Arka menaikkan satu alisnya. "Desahan estetik?"

"Iya! Tapi masalahnya, si Sisi ini suaranya cempreng banget kayak bebek kejepit! Gak cocok banget sama visualnya yang s**** membahana. Makanya, agensinya nyewa jasa gue secara *under the table* buat ngisi suara bagian desahannya aja. Istilahnya, gue jadi *ghost dubber*!" Kiara menjelaskan dengan gerakan tangan yang heboh, mencoba meyakinkan Arka seolah-olah ini adalah pekerjaan paling mulia di dunia.

Arka diam selama beberapa detik, menatap Kiara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan datar. "Terus hubungannya sama konser di ruang tamu tadi apa?"

"Nah! Tadi itu file audio mentah yang baru dikirim sama editornya ke gue buat di-review sebelum di-render final. Gue mau dengerin pakai TWS biar fokus, sumpah! Tapi gue gak tahu kalau TWS gue mati baterai, dan HP gue malah otomatis nyambung ke Marshall bawah yang kemarin kita pakai syukuran. Pas gue pencet *play*, ya... lo tahu sendiri kelanjutannya," ujar Kiara dengan nada sesal yang dibuat-buat, sambil menampilkan wajah se-melas mungkin. "Sumpah, Ka, gue juga kaget setengah mati! Jantung gue hampir lepas!"

Arka menatap Kiara lekat-lekat, mencoba mencari celah kebohongan di mata cewek di hadapannya itu. Kiara berusaha keras menahan kedipan matanya, memasang ekspresi paling jujur dan profesional yang ia miliki.

"Jadi... lo mau bilang kalau desahan dahsyat yang bikin kuping gue ternoda malam-malam begini adalah suara lo?" tanya Arka dengan nada suara yang mendadak merendah, terdengar agak aneh di telinga Kiara.

Kiara tersedak ludahnya sendiri. *Mampus, salah fokus!*

"Y-ya... ya bukan suara gue langsung! Itu kan file contoh dari editor! Suara model aslinya yang masih mentah! Gue kan baru mau me-review!" sanggah Kiara cepat, wajahnya kembali merona merah. "Gue mah mana bisa mendesah seheboh itu... eh, maksud gue, suara gue gak kayak gitu!"

Arka mengembuskan napas panjang yang terdengar sangat lelah. Ia mengusap wajahnya dengan satu tangan, lalu menatap Kiara lagi dengan tatapan dinginnya yang biasa, meski sisa-sisa rona merah di telinganya belum sepenuhnya hilang.

"Gue gak peduli itu proyek *dubbing*, proyek skripsi, atau proyek konspirasi kemakmuran global sekali pun, Kiara," kata Arka dengan nada mengancam yang tertata rapi. "Tapi kalau sampai sekali lagi gue denger suara-suara aneh kayak tadi bergaung di kosan ini, gue gak akan segan-segan ngelaporin lo ke Ibu Kos. Dan lo tahu sendiri kan gimana ketatnya peraturan di Griya Aruna?"

Kiara langsung mengangguk dengan cepat bagai boneka di dasbor mobil. "Iya, iya, Ka! Sumpah, gak akan terulang lagi! Gue bakal hapus profil Marshall dari HP gue detik ini juga! Janji!"

"Bagus," ketus Arka. Ia berbalik badan, bersiap untuk kembali ke kamarnya di bawah. Namun sebelum melangkah jauh, ia menoleh sedikit ke arah Kiara. "Satu lagi."

"Apa?" tanya Kiara was-was.

"Lain kali, kalau mau terima *job* aneh-aneh... pastiin lo pakai kabel earphone biasa aja. Jangan sok-sokan pakai teknologi nirkabel kalau otak lo sendiri gak nyambung sama teknologinya."

Setelah melempar sindiran pedas yang sukses membuat Kiara mendelik kesal, Arka berjalan pergi menuruni tangga tanpa berbalik lagi.

Begitu punggung Arka menghilang di balik belokan tangga, Kiara langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat, menguncinya, lalu menyandarkan punggungnya di pintu. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di atas lant** yang dingin.

Kiara menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong, lalu menghela napas pasrah.

"Alibi gue absurd banget, demi Tuhan," gumam Kiara sambil menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Tapi ya sudahlah, yang penting malam ini gue gak diusir dari kosan."

Namun, Kiara tidak tahu bahwa di lant** bawah, Arka berdiri di ruang tamu sambil menatap *speaker* Marshall yang sudah mati itu. Sambil menggelengkan kepalanya heran, sebuah senyuman tipis yang sangat jarang ia perlihatkan mendadak terukir di sudut bibirnya.

"Dubber dadakan... ada-ada aja lo, Ra," gumam Arka pelan, sebelum melangkah kembali ke kamarnya dengan perasaan yang campur aduk.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca