Rahasia di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Bab 4: Lahirnya Sang Ratu Fiktif: Valerie

Pengaturan Membaca

Hening yang mencekam itu berlangsung selama hampir lima menit. Kiara masih berdiri mematung di tengah kamarnya yang remang-remang. Napasnya memburu, seolah-olah dia baru saja menyelesaikan lari maraton keliling kompleks. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai rasanya bisa melompat keluar dari rongga dada.

"Sumpah, demi apa pun... gue mau ng***ng aja dari muka bumi," bisik Kiara lirih, menatap nanar ponsel di genggamannya yang masih terasa hangat.

Griya Aruna memang kos-kosan eksklusif tiga lant** yang dihuni oleh para pekerja kantoran dan mahasiswa kelas atas. Fasilitasnya bintang lima, kedap suaranya lumayan bagusβ€”kecuali kalau ada orang bodoh yang menghubungkan ponselnya ke *speaker* Bluetooth raksasa di ruang tamu lant** satu dengan volume maksimal. Dan orang bodoh itu, sayangnya, adalah Kiara.

Saat Kiara masih sibuk merutuki kebodohannya, telinganya menangkap suara langkah kaki yang menaiki tangga kayu dengan ritme konstan. Langkah kaki yang tenang, namun entah kenapa terdengar sangat mengintimidasi di telinga Kiara.

Langkah kaki itu semakin dekat. Berhenti tepat di depan pintu kamarnya.

*Tok! Tok! Tok!*

Jantung Kiara serasa berhenti berdetak. Ia menahan napas, tidak berani bersuara sedikit pun. Ia mencoba berpura-pura mati.

"Kiara. Gue tahu lo di dalem. Buka pintunya."

Suara bariton yang dingin dan tanpa ekspresi itu terdengar dari balik pintu. Kiara memejamkan matanya rapat-rapat. *Mampus.* Itu suara Kak Arka.

Arka Dirgantara. Cowok usia dua puluh enam tahun yang tinggal di kamar paling ujung lant** dua. Selain statusnya sebagai tetangga kos yang paling ditakuti karena auranya yang super cuek dan galak, Arka adalah seorang manajer bakat profesional di Alpha Managementβ€”salah satu agensi artis dan model paling elite di Jakarta. Singkatnya, Arka adalah sosok yang paling tidak ingin Kiara temui dalam situasi memalukan seperti ini.

Dengan tangan gemetar, Kiara melangkah mendekati pintu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba memasang senyum paling natural yang ia miliki, lalu memutar kunci pintu.

*Cklek.*

Pintu terbuka sedikit. Kiara hanya memunculkan kepalanya dari balik celah pintu, menatap Arka dengan cengiran kaku yang terlihat sangat dipaksakan.

Arka berdiri di sana. Mengenakan kaus hitam polos dan celana jins sant**. Rambutnya agak berantakan, namun ketampanannya sama sekali tidak berkurang. Kedua tangannya disilangkan di depan dada. Matanya yang tajam menatap Kiara tanpa kedip, membuat Kiara merasa seperti seorang terdakwa yang sedang disidang di pengadilan.

"Kak Arka... hehe. Belum tidur? Ada apa, ya?" tanya Kiara dengan nada suara yang sengaja dibuat seceria mungkin, meski suaranya agak bergetar di ujung kalimat.

Arka tidak langsung menjawab. Ia menaikkan satu alisnya, menatap Kiara dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Lo nanya ada apa? Lo gak denger konser desahan berdaya tinggi yang baru aja ngeguncang Griya Aruna tiga menit yang lalu?"

Wajah Kiara langsung memerah padam. Panasnya menjalar sampai ke telinga. "Oh... itu... h-hampir denger sih. Sayup-sayup gitu. Suara TV tetangga sebelah kali, Kak? Atau ada yang lagi nonton film aksi?" Kiara mencoba melawak, berharap keajaiban datang dan Arka mempercayai kebohongannya yang sangat tidak ma**k akal itu.

"Jangan ngadi-ngadi, Kiara," potong Arka cepat, nadanya datar namun menusuk. "Speaker Marshall di bawah itu cuma bisa dikoneksikan lewat satu perangkat dalam satu waktu. Dan tebak, nama perangkat siapa yang muncul di layar panelnya sebelum gue matiin manual?"

Kiara menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa sekering gurun Sahara. "N-nama siapa, Kak?"

"Kiara’s iPhone," sebut Arka pelan, namun setiap suku katanya terdengar seperti vonis mati bagi Kiara. "Jadi, lo mau jelasin ke gue kenapa lo malem-malem muter audio b**** dengan volume seratus persen di ruang tengah?"

"BUKAN B****, KAK! SUMPAH!" pekik Kiara refleks, panik setengah mati karena reputasinya sebagai mahasiswi baik-baik terancam hancur lebur malam ini juga.

Arka kembali melipat tangannya, menunggu penjelasan dengan tatapan skeptis. "Terus apa? Audio terapi pernapasan?"

Otak Kiara berputar dengan kecepatan cahaya. Ia harus mencari alasan logis sekarang juga. Jika ia mengaku bahwa itu adalah audio drama 18+ alias ASMR dewasa yang biasa ia dengarkan untuk pengantar tidur, Arka pasti akan menganggapnya sebagai cewek mesum yang aneh. Reputasinya di kosan ini akan tamat.

"Itu... itu sebenarnya demo suara, Kak!" bohong Kiara, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa sempat ia saring terlebih dahulu.

"Demo suara?" Arka menyipitkan matanya.

"Iya!" Kiara mengangguk-angguk dengan antusias, mencoba meyakinkan Arka. "Kakak kan tahu sendiri, gue dapet proyek *freelance* buat bikin konsep video komersial kosmetik baru dari kampus. Nah, gue lagi nyari *talent* pengisi suara yang karakternya... um, s**** dan sensual. Jadi, tadi itu draf rekaman suara yang dikirim sama calon modelnya ke gue!"

Arka tidak langsung merespons. Sebagai seorang manajer bakat profesional yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di industri hiburan, instingnya langsung bekerja. Ia menganalisis suara yang ia dengar di lant** bawah tadi.

Suara desahan itu... memang sangat sensual. Tapi, sebagai profesional, Arka bisa mendengar sesuatu yang berbeda. Artikulasi desahannya, tempo napasnya yang teratur namun penuh emosi, serta warna suaranya yang serak-serak basah namun tetap terdengar elegan dan mahal. Itu bukan suara amatiran yang asal mendesah. Itu adalah tipe suara yang memiliki daya pikat magnetis yang sangat langka.

Kebetulan sekali, Alpha Management saat ini sedang mengalami krisis. Mereka sedang mencari *talent* baru dengan karakter *sensual-mysterious* untuk menjadi ikon produk parfum mewah asal Prancis yang baru akan meluncur di I****esia bulan depan. Klien mereka sangat pemilih dan sudah menolak belasan model papan atas karena dianggap kurang memiliki "jiwa" yang s**** namun berkelas.

Dan suara misterius dari ponsel Kiara tadi... entah bagaimana, terasa sangat cocok dengan kriteria tersebut.

"Demo suara, ya?" Arka bergumam, tatapan matanya yang tadi dingin kini berubah menjadi penuh selidik dan ketertarikan profesional. "Gue akui, suara tadi punya karakter yang kuat banget. Sangat menjual."

Kiara mengerutkan kening, agak bingung dengan perubahan ekspresi Arka. *Loh, kok dia gak marah lagi?* batinnya heran.

"Siapa nama modelnya?" tanya Arka tiba-tiba, mengeluarkan ponselnya dari saku celana. "Sebutin namanya buat verifikasi. Gue mau cek portofolio dia yang lain. Kalau karakternya cocok, gue mau rekrut dia ke agensi gue."

Seketika itu juga, Kiara merasa dunianya runtuh untuk kedua kalinya.

*Hah? Rekrut?* Kiara berteriak histeris dalam hati. *Mau direkrut gundulmu! Itu kan suara aktor pengisi suara dari situs web luar negeri yang gue dengerin! Mana ada model aslinya di sini!*

"E-eh... itu..." Kiara mulai gugup lagi. Keringat dingin kembali bercucuran di pelipisnya. "Dia... dia gak mau disebutin namanya sembarangan, Kak. Orangnya sangat menjaga privasi."

"Kiara, gue ini manajer bakat profesional," kata Arka dengan nada tegas yang tidak bisa dibantah. "Gue gak bisa cuma dengerin suara tanpa tahu siapa orangnya. Kalau lo emang lagi kerja sama sama dia, sebutin namanya sekarang. Gue perlu verifikasi apakah dia beneran bertalenta atau cuma hoki di rekaman tadi."

Arka menatap Kiara dengan mata elangnya, menuntut jawaban segera. Kiara merasa tersudut. Jika ia tidak menyebutkan nama, Arka pasti akan tahu kalau dia sedang berbohong, dan rahasia memalukan tentang audio drama itu akan terbongkar. Kiara harus menyebutkan satu nama. Nama apa saja. Yang penting terdengar seperti nama perempuan s****.

Otak Kiara yang sedang panik memindai seluruh kamarnya dengan liar dari celah pintu. Matanya menangkap botol parfum tiruan di atas nakasnya, sebuah majalah mode dengan tajuk utama tentang kecantikan, dan bayangan lipstik merahnya. Di kepalanya, huruf-huruf itu berputar dan menyatu secara acak.

*V... A... L...*

"Valerie!" pekik Kiara akhirnya. "Namanya Valerie, Kak!"

Arka menghentikan jemarinya di atas layar ponsel. "Valerie?" ia mengulang nama itu, mencoba meresapi kedengarannya. "Valerie siapa?"

"Ya... Valerie aja. Dia emang cuma mau dipanggil Valerie," jawab Kiara, berpura-pura yakin padahal hatinya sudah menangis meraung-raung. "Dia... dia model indie yang belum gabung agensi mana pun. Makanya dia lewat gue buat nyari proyekan."

"Valerie..." Arka bergumam lagi. Nama itu terdengar sangat cocok dengan karakter suara s**** nan misterius yang didengarnya tadi. Sensual, anggun, sekaligus berbahaya. "Instagram-nya apa? Biar gue cek visualnya."

"A-ah! Instagram-nya *private*, Kak!" potong Kiara cepat-cepat sebelum Arka sempat mengetik di kolom pencarian. "Dia emang tipe orang yang tertutup banget. Gak suka pamer foto di media sosial. Dia lebih fokus ke... um, seni suara dan aura misteriusnya."

Arka justru terlihat semakin tertarik. "Misterius. Itu malah bagus. Pasar sekarang lagi bosen sama model yang terlalu mengumbar kehidupan pribadi di media sosial. Karakter misterius kayak Valerie ini justru bakal bikin orang penasaran setengah mati."

Arka mema**kkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, lalu menatap Kiara dengan senyum tipis yang jarang sekali ia tunjukkanβ€”senyum yang justru membuat Kiara merinding disko.

"Kiara," kata Arka dengan nada suara yang kini jauh lebih bersahabat, namun terasa seperti jebakan Batman bagi Kiara. "Agensi gue lagi butuh banget orang kayak Valerie buat proyek parfum mewah Prancis minggu depan. Dan gue tertarik sama dia."

"Hah?" Kiara melongo.

"Bawa Valerie ke kantor gue lusa jam sepuluh pagi," perintah Arka mutlak. "Gue mau denger suara dia secara langsung, sekaligus wawancara singkat. Kalau dia lolos, gue bakal kasih lo komisi sepuluh persen dari nilai kontrak pertamanya karena lo udah jadi perantara."

Kiara merasa lututnya mendadak lemas. *Komisi sepuluh persen? Lusa? Jam sepuluh pagi? Bawa Valerie?*

"K-Kak... tapi lusa itu kayaknya terlalu mendadak..." Kiara mencoba menawar dengan sisa-sisa kekuatannya.

"Gak ada alasan mendadak dalam dunia profesional, Kiara. Peluang emas gak datang dua kali," potong Arka dingin. "Dan oh, satu lagi. Kalau lo berhasil bawa Valerie lusa, gue gak akan mempermasalahkan insiden 'konser desahan' malam ini di depan pemilik kosan atau anak-anak kos yang lain. Deal?"

Arka mengulurkan tangannya ke depan Kiara, menawarkan kesepakatan yang terdengar seperti ancaman halus.

Kiara menatap tangan Arka, lalu menatap wajah cowok itu yang tampak sangat serius. Di satu sisi, rahasianya aman dan ada iming-iming uang komisi yang besar. Di sisi lain, Valerie adalah tokoh fiktif yang baru saja lahir dari otaknya yang sedang mengalami malafungsi karena panik.

Dengan pasrah, Kiara menjabat tangan Arka dengan sangat lemah. "D-deal, Kak..."

"Bagus. Sampai ketemu lusa bersama Valerie," ucap Arka puas. Ia berbalik badan dan melangkah pergi kembali ke kamarnya di ujung lorong dengan langkah sant**.

Begitu sosok Arka menghilang di balik pintu kamarnya, Kiara langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lant** yang dingin.

Kiara menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"G***! Lo beneran udah g***, Kiara!" rutuknya pada diri sendiri dengan suara berbisik yang histeris. "Dari mana gue bisa nemuin cewek bernama Valerie yang suaranya mirip desahan audio drama dalam waktu kurang dari dua hari?!"

Malam itu, di dalam kamarnya yang sunyi, Kiara menyadari satu hal yang mengerikan. Ia baru saja melahirkan seorang ratu fiktif bernama Valerie, dan kini ia harus memutar otak bagaimana cara menghidupkan karakter itu sebelum hari lusa tiba, atau bersiap menghadapi kehancuran total dalam hidupnya.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca