Rahasia di Balik Pintu Kamar yang Terkunci

Bab 5: Operasi Photoshop Tingkat Dewa

Pengaturan Membaca

"Itu... itu bukan desahan yang kayak gitu, Kak! Sumpah!" Kiara langsung memotong kalimat Arka dengan nada panik setengah mati. Kedua tangannya bergerak heboh di udara, berusaha menyangkal tuduhan yang bisa menghancurkan reputasinya seumur hidup di kosan ini.

Arka masih berdiri kokoh di depan pintu, melipat tangan di dada dengan ekspresi sedatar papan g***san. "Terus apa? Suara kucing kejepit pintu? Atau lo lagi nonton video yang enggak-enggak?"

"Bukan! Itu suara Valerie!" kelonjot Kiara spontan. Nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya tanpa sempat disaring oleh otak.

Arka mengernyitkan dahi. "Valerie? Siapa?"

"Temen gue! Dia... dia itu selebgram, terus tadi dia lagi ngirim *voice note* curhat karena abis putus cinta. Nah, dia nangisnya emang agak... melankolis dan dramatis gitu, makanya kedengeran kayak... ya, kayak yang Kak Arka denger tadi," dusta Kiara, lancar jaya bagai jalan tol fungsional saat mudik lebaran. "Gue gak sengaja nge-connect hp ke speaker bawah. Sumpah, Kak, gue gak bohong!"

Arka menatap Kiara dengan tatapan menyelidik yang sangat mengintimidasi. Sebagai manajer bakat di agensi artis terkenal, Arka sudah biasa menghadapi ratusan kebohongan dari talent-talent baru. Instingnya sangat tajam. "Selebgram? Namanya Valerie? Siapa nama lengkapnya? Biar gue cek Instagram-nya sekarang."

Deg. Jantung Kiara serasa merosot sampai ke jempol kaki.

"Eh... itu, akunnya... di-private, Kak! Iya, dia lagi membatasi diri dari dunia luar karena depresi pascaputus," kilah Kiara, otaknya berputar 180 kilometer per jam demi mencari alasan logis.

Arka mendengus pelan, jelas sekali tidak percaya. "Besok pagi, tunjukin ke gue akun Instagram temen lo itu. Kalau lo gak bisa buktiin dan ternyata lo cuma bikin cerita karangan buat nutupin kelakuan aneh lo, gue bakal laporin lo ke Bu Kos karena udah ngeganggu ketertiban. Paham?"

"P-paham, Kak," cicit Kiara lemas.

"Bagus. Sekarang tidur. Dan jangan berani-berani nyalain speaker itu lagi." Arka berbalik, melangkah pergi meninggalkan Kiara yang perlahan menutup pintu kamarnya dengan tubuh yang lemas tak bertulang.

Begitu pintu terkunci rapat, Kiara langsung merosot ke lant**. Mukanya memerah padam, keringat dingin bercucuran.

"Mampus gue! Valerie siapa, a****?!" teriak Kiara frustrasi dalam hati. Dia menjambak rambutnya sendiri. Dari mana dia bisa mendatangkan sosok bernama Valerie dalam waktu kurang dari delapan jam?

Gak ada pilihan lain. Kiara harus menghidupkan sosok 'Valerie' ini menjadi nyata. Detik itu juga, petualangan begadang semalaman Kiara pun dimulai.

Kiara langsung menyambar laptopnya di atas meja belajar, membukanya dengan kasar, dan buru-buru menyalakan aplikasi Photoshop. Oke, kemampuan editing Kiara sebenarnya sangat pas-pasan. Terakhir kali dia memakai Photoshop adalah saat tugas sekolah membuat poster dilarang membuang sampah sembarangan kelas 11 SMA. Tapi malam ini, di bawah ancaman dilaporkan ke Ibu Kos oleh Arka yang galak, jiwa editor tingkat dewa dalam diri Kiara mendadak bangkit secara paksa.

Pertama-tama, Kiara membuka Pinterest. Dia mengetik kata kunci: *“Aesthetic girl backview”*, *“Tumblr girl side profile”*, dan *“Korean look girl blurry”*. Dia butuh foto-foto cewek yang mukanya tidak terlalu jelas tapi terlihat sangat cantik dan trendi.

Setelah berselancar selama satu jam dan hampir tersesat di dunia foto stock estetik, Kiara akhirnya mengunduh lima foto. Ada foto cewek berambut panjang bergelombang sedang membelakangi kamera di sebuah kafe, foto cewek yang wajahnya tertutup gelas kopi Starbucks, dan foto cewek tampak samping yang sedang memakai topi bisbol.

"Oke, foto-foto ini terlalu pasaran. Kalau Kak Arka jeli, dia pasti tahu ini foto dari internet," gumam Kiara sambil menggigit kukunya panik.

Ide g*** pun muncul di kepalanya. Kiara mengambil ponselnya, menyalakan lampu ring light, lalu mulai mengambil beberapa foto dirinya sendiri dengan berbagai pose yang mirip dengan foto stock tadi. Dia mengambil foto tangannya sendiri yang sedang memegang cangkir, foto rambutnya dari belakang, dan foto cermin kamarnya.

"Sekarang, mari kita racik bumbu-bumbu kebohongan ini," bisik Kiara dengan senyum menyeringai mirip ilmuwan g*** di film fiksi ilmiah.

Dia memindahkan semua foto itu ke laptop. Proses editing dimulai. Menggunakan fitur *lasso tool* yang gerakannya super gemetar, Kiara menempelkan potongan rambutnya sendiri ke foto stock cewek kafe agar terlihat berbeda. Dia menyesuaikan kontras, kecerahan, dan saturasi agar warna kulit di foto stock menyatu sempurna dengan warna kulit tangannya.

Tidak puas sampai di situ, Kiara mengambil satu foto selfienya sendiri yang paling lumayan. Di situlah "Operasi Photoshop Tingkat Dewa" yang sesungguhnya terjadi. Kiara menaikkan *slider* kecantikan sampai maksimal. Dia mengecilkan rahangnya lewat fitur *liquify* sampai dagunya sekecil V-shape artis Korea. Dia memancungkan hidungnya, memperbesar matanya sedikit, mengubah warna matanya menjadi abu-abu estetik, dan memberi efek *freckles* palsu di pipi.

Hasilnya? Luar biasa mengejutkan.

"G***... ini siapa?" gumam Kiara takjub menatap layar laptopnya. "Gue editnya terlalu niat sampai-sampai emak gue sendiri pun gak bakal ngenalin kalau ini anaknya. Cantik banget, a****!"

Sosok di layar itu benar-benar terlihat seperti selebgram blasteran papan atas yang hidupnya penuh kemewahan di Jakarta Selatan. Kiara tersenyum puas. Langkah pertama selesai.

Langkah kedua: membuat identitas digital.

Kiara membuka Instagram di ponsel cadangannya yang jarang dipakai. Dia mendaftarkan akun baru dengan nama pengguna `@valerie.anndy`. Biar kelihatan keren dan meyakinkan, Kiara menulis bio Instagram yang sangat minimalis namun berkelas khas anak Jaksel:

*“Visual storyteller. Based in Jkt. Collabs? DM.”*

Kiara kemudian mengunggah enam foto hasil editannya tadi ke dalam feed dengan jeda waktu pengerjaan yang dibuat seolah-olah sudah diunggah sejak beberapa bulan lalu. Dia juga menambahkan takarir (*caption*) berbahasa Inggris yang sok puitis dan estetik, seperti *“lost in the city lights”* dan *“coffee first, adulting later”*.

Namun, ada satu masalah besar yang langsung menampar kesadaran Kiara.

"Followers-nya nol, a****! Selebgram apaan yang followers-nya cuma akun *second* gue doang?" pekik Kiara frustrasi. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Matanya sudah sangat perih dan kepalanya mulai pusing karena terlalu banyak menatap layar.

Tidak ada waktu untuk mencari pengikut organik. Kiara langsung membuka Google dan mengetik kata kunci paling terlarang bagi para kreator konten sejati: *“Beli followers Instagram murah instan cepat”*.

Setelah membandingkan beberapa situs penyedia jasa, pilihan Kiara jatuh pada sebuah situs yang menawarkan paket kilat: *"Paket Selebgram Instan - 10.000 Followers Pasif (Campuran Indo & Bule) cuma Rp75.000"*. Tanpa pikir panjang, Kiara langsung memindai kode QRIS di layar menggunakan sisa saldo GoPay-nya yang pas-pasan.

"Bismillah, demi kedamaian hidup di kosan ini," bisik Kiara sambil menekan tombol bayar.

Hanya butuh waktu sepuluh menit setelah pembayaran berhasil, keajaiban dunia digital pun terjadi. Ponsel Kiara mulai bergetar tanpa henti. Notifikasi Instagram-nya meledak.

*@ahmed_shaikh99 mulai mengikuti Anda.*

*@olga_ivanova_88 mulai mengikuti Anda.*

*@budi_santoso_bot mulai mengikuti Anda.*

Ratusan, ribuan, hingga akhirnya angka pengikut di profil `@valerie.anndy` merangkak naik dengan sangat cepat hingga menyentuh angka 12,5 ribu pengikut. Meskipun nama-nama pengikutnya sangat mencurigakan karena didominasi oleh akun tanpa foto profil dari berbagai belahan dunia, setidaknya dari jauh angka itu terlihat sangat meyakinkan.

Untuk menyempurnakan kebohongannya, Kiara sengaja menyukai beberapa foto di akun palsu itu menggunakan akun Instagram pribadinya, lalu menulis komentar sok akrab di salah satu postingan Valerie: *“Kapan-kapan nongkrong lagi ya Beb! 💖”*. Dan tentu saja, Kiara membalas komentar itu sendiri menggunakan akun Valerie: *“Sure babe, next week ya! Miss u! 😘”*.

Kiara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu kamar kosnya, menatap mahakarya penipuan publik paling epik yang pernah dia buat seumur hidupnya. Di luar jendela, langit malam yang gelap perlahan-lahan mulai berubah menjadi biru keabu-abuan. Burung-burung gereja mulai berkicau, menandakan pagi telah tiba.

Kiara menguap lebar, matanya terasa sangat berat dan perih bagai kema**kan pasir. Tapi di balik rasa lelah yang luar biasa itu, ada rasa bangga yang membuncah.

"Valerie Anindya... lo resmi lahir ke dunia ini," bisik Kiara dengan suara serak khas orang kurang tidur.

Dia mematikan laptopnya, lalu merebahkan diri di ka**r. Dia hanya punya waktu sekitar dua jam sebelum alarm pagi berbunyi dan dia harus menghadapi sidang lanjutan bersama Kak Arka. Kiara memejamkan matanya, berdoa dalam hati agar Arka tidak c**up jeli untuk menyadari kalau 'Valerie' yang memiliki belasan ribu pengikut itu sebenarnya hanyalah hantu digital hasil kreasi kepanikan tengah malam seorang Kiara.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca