Sinar matahari pagi yang menerobos ma**k lewat celah gorden kamarnya sama sekali gak bikin Kiara merasa segar. Sebaliknya, cewek itu merasa seperti zombi hidup. Matanya perih, kepalanya nyut-nyutan, dan di bawah matanya sekarang sudah tercetak lingkaran hitam tebal bin estetik layaknya panda yang kurang gizi.
Semalaman dia tidak tidur. Sama sekali gak tidur!
Demi menyelamatkan harga diri dan menghindari ancaman dilaporkan ke Ibu Kos, Kiara sukses melakukan mukjizat terbesar dalam sejarah hidupnya: menciptakan sosok "Valerie Clara", selebgram fiktif berwajah blasteran yang sebenarnya adalah hasil editan Photoshop tingkat dewa dari mukanya sendiri yang digabung dengan fitur wajah beberapa model luar negeri yang dia comot acak dari Pinterest.
Dengan modal sepuluh postingan Instagram estetik—yang tanggal unggahannya sengaja dia manipulasi lewat trik coding sederhana—akun @valerie.clara akhirnya kelihatan meyakinkan. Pengikutnya? Kiara terpaksa membeli seribu *followers* bot murah meriah lewat e-commerce yang aktif dalam waktu satu jam saja.
"Oke, Kiara. Lo pasti bisa. Tarik napas, hembuskan," gumam Kiara di depan cermin lemari pakaiannya. Setelah menepuk-nepuk pipinya agar kelihatan sedikit lebih hidup, dia menyambar ponselnya dan melangkah keluar kamar menuju dapur kosan eksklusif itu.
Seperti dugaannya, Arka sudah di sana. Cowok itu selalu punya jadwal yang sepresisi jam atom Swiss. Jam tujuh pagi, dia sudah rapi dengan kemeja ka**al hitam yang lengannya digulung sampai siku, sedang menyeduh kopi hitam tanpa gula yang aromanya langsung menusuk hidung Kiara.
"Pagi, Kak Arka," sapa Kiara dengan suara yang sengaja diceria-ceriakan, meski sebenarnya dia ingin ambruk ke lant**.
Arka tidak langsung menjawab. Dia berbalik, bersandar pada konter dapur sambil menyesap kopinya pelan. Matanya yang tajam langsung mengunci wajah Kiara, terutama fokus pada kantong mata hitam di wajah cewek itu. "Lo gak tidur?"
"Eh? Ah, iya. Semalem... itu, nemenin Valerie nangis di telepon sampai subuh. Namanya juga orang patah hati, Kak. Hehehe," dusta Kiara, lengkap dengan tawa garing yang terdengar sangat dipaksakan.
"Mana?" tagih Arka tanpa basa-basi. Dia mengulurkan satu tangannya yang bebas. "Akun Instagram temen lo itu."
Dengan tangan sedikit gemetar, Kiara menyerahkan ponselnya yang sudah menampilkan profil Instagram @valerie.clara.
Arka menerima ponsel itu, lalu mulai men-scroll layarnya dengan ibu jari. Ekspresi wajahnya datar, sangat sulit dibaca. Detik demi detik berlalu terasa seperti siksaan abadi bagi Kiara. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah mau melompat keluar dari dadanya. *Tolong, jangan ketahuan. Tolong, jangan jeli-jeli amat matanya, ya Tuhan!* batin Kiara menjerit histeris.
"Hm," gumam Arka akhirnya, memecah keheningan yang mencekam. Dia mendongak, menatap Kiara dengan sebelah alis terangkat. "Visualnya lumayan. Karakter wajahnya kuat, tipe-tipe yang disukai b**nd kosmetik indie zaman sekarang. Kenapa lo bilang dia depresi?"
"I-iya, biasa... masalah percintaan remaja tanggung, Kak. Makanya dia nge-private akunnya," jawab Kiara cepat, mencoba mencari alasan seaman mungkin.
Arka menyodorkan kembali ponsel Kiara. "Kebetulan agensi gue lagi butuh talent baru buat campaign b**nd makeup lokal bulan depan. Karakter temen lo ini ma**k kriteria. Suruh dia kirim portofolio lengkap ke email agensi gue. Hari ini."
"Hah?" Kiara melongo. "Por-portofolio?"
"Iya. Portofolio lengkap. Foto *composite*, ukuran tinggi-berat badan ter-update, video perkenalan tanpa filter durasi satu menit, sama scan KTP buat verifikasi data legalitas," jelas Arka sant**, seolah hal itu semudah membalik telapak tangan. "Kirim ke arka@talent-hub.co.id sebelum jam dua siang. Biar langsung gue ma**kin ke sistem database lokal kantor."
Seketika itu juga, dunia Kiara serasa runtuh.
*Scan KTP?! Video perkenalan tanpa filter?!*
Bagaimana caranya Kiara bisa membuat video perkenalan dari sosok yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia nyata? Dan KTP? Memalsukan kartu identitas negara itu sudah ma**k ranah hukum pidana berat! Kiara bisa berakhir di penjara sebelum sempat lulus kuliah!
"Kenapa muka lo pucat gitu?" tanya Arka menyelidik, matanya menyipit curiga melihat reaksi Kiara yang mendadak kaku seperti patung semen.
"Eh? Enggak! Enggak apa-apa kok, Kak! Cuma... kasihan aja sama Valerie, dia kan lagi drop mentalnya. Takutnya dia belum siap buat kerja," kilah Kiara panik.
"Ini kesempatan bagus buat dia. Kalau dia mau, kirim sebelum jam dua. Kalau lewat dari itu, gue anggap dia gak tertarik," ucap Arka dingin. Dia meletakkan cangkir kopinya di wastafel. "Gue mau mandi dan siap-siap dulu. Setengah jam lagi gue berangkat ke kantor."
Arka berbalik dan berjalan menuju kamarnya yang terletak di ujung koridor lant** dua, meninggalkan Kiara yang kini benar-benar lemas.
Kiara kembali ke kamarnya dengan langkah gont**. Dia mengunci pintu, lalu menjatuhkan dirinya ke ka**r. "Mampus gue! Parah, ini mah tamat riwayat gue!" erangnya sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Otak Kiara berputar keras. Dia tidak mungkin bisa membuat KTP palsu atau video perkenalan dalam waktu beberapa jam. Satu-satunya cara agar kebohongannya tidak terbongkar adalah... dia harus memotong jalur verifikasi tersebut.
Sebagai mahasiswa jurusan Sistem Informasi, Kiara tahu kalau agensi besar seperti milik Arka biasanya menggunakan sistem database lokal yang disinkronisasikan ke server pusat setiap sore hari. Jika dia bisa mengakses laptop kerja Arka, ma**k ke sistem database lokal "Talent Hub", dan mema**kkan profil fiktif "Valerie Clara" langsung ke daftar talent yang sudah terverifikasi "Approved", maka tim legal di kantor Arka tidak akan mencurigai apa pun saat email portofolionya ma**k. Mereka akan mengira Valerie adalah talent lama yang datanya sudah aman di sistem.
Masalahnya, bagaimana caranya dia bisa menyusup ke laptop Arka?
Tiba-tiba, telinga Kiara menangkap suara gemercik air dari kamar Arka.
*Arka lagi mandi!*
Kiara langsung terduduk tegak. Ini dia kesempatannya! Arka kalau mandi biasanya butuh waktu minimal lima belas sampai dua puluh menit. Ditambah waktu bersiap-siap, Kiara punya waktu sekitar dua puluh lima menit untuk melancarkan misinya.
Dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, Kiara menyambar flashdisk miliknya yang sudah berisi data portofolio fiktif Valerie—yang sudah dia siapkan semalam, lengkap dengan nomor KTP karangan yang formatnya disesuaikan dengan kode daerah asal Valerie fiktif tersebut.
Dia membuka pintu kamarnya perlahan, melongok ke kanan dan ke kiri. Koridor sepi. Suara air mengalir dari kamar mandi di dalam kamar Arka terdengar samar namun konstan.
Kiara mengendap-endap seperti pencuri profesional di film-film action. Dia melangkah tanpa suara menuju pintu kamar Arka yang untungnya tidak tertutup rapat—hanya berjarak beberapa senti dari kusennya karena Arka memang tipe orang yang agak ceroboh kalau sedang terburu-buru di pagi hari.
Dengan sangat hati-hati, Kiara mendorong pintu kayu itu. *Kriet...* Suara engsel pintu yang sangat pelan membuat Kiara menahan napas selama beberapa detik. Setelah memastikan tidak ada reaksi dari dalam, dia menyelinap ma**k.
Kamar Arka sangat rapi dan berbau maskulin—perpaduan antara aroma kayu cendana dan parfum mahal yang langsung menyeruak ke hidung Kiara. Tapi Kiara gak punya waktu buat mengagumi estetika kamar cowok itu. Pandangannya langsung tertuju pada meja kerja kayu minimalis di sudut ruangan.
Di sana, sebuah laptop A**s ROG Zephyrus hitam milik Arka dalam posisi setengah terbuka, dalam mode *sleep*.
Kiara melangkah cepat menghampiri meja tersebut. Dia membuka layar laptop itu sepenuhnya. Layarnya menyala, menampilkan kolom kata sandi.
*Sial, dikunci!* batin Kiara frustrasi.
Dia mencoba berpikir keras. Apa password laptop Arka? Kiara mengingat-ingat kebiasaan cowok itu. Arka adalah orang yang sangat pragmatis dan tidak suka ribet. Tanggal lahir? Nama tengah? Atau...
Kiara melirik ke sekeliling meja kerja Arka. Ada sebuah gantungan kunci berbentuk logo klub bola Chelsea. Kiara mencoba mengetik kata sandi tebakannya yang pertama: `chelsea1905`.
*Salah.*
"Ayo dong, mikir, Kiara!" bisiknya pada diri sendiri sambil menggigit bibir bawahnya.
Dia melihat sebuah sticky notes kuning yang tertempel di pojok bawah layar laptop dengan tulisan tangan Arka yang rapi: *“Reset DB pass: TH_Admin2024”*.
Kiara langsung mencoba mengetik `TH_Admin2024` di kolom password laptop tersebut.
*Klik.*
Layar laptop langsung terbuka menampilkan desktop! Kiara hampir saja m****ik kegirangan, tapi dia buru-buru membekap mulutnya sendiri. Dia langsung mencolokkan flashdisk-nya ke port USB laptop Arka.
Di desktop, terdapat ikon pintasan aplikasi bernama "Talent Hub Local DB v4.2". Kiara langsung mengklik ganda ikon tersebut. Sebuah jendela aplikasi database lokal agensi Arka terbuka, meminta otentikasi login admin. Karena Arka sudah mencentang opsi *remember me*, Kiara tinggal mengklik tombol "Login".
Aplikasi itu menampilkan ratusan data talent agensi. Kiara menelan ludah. Dia harus bertindak cepat. Suara air mengalir dari kamar mandi Arka terdengar sedikit melemah, menandakan cowok itu mungkin sudah hampir selesai mandi.
Tangan Kiara bergerak lincah di atas trackpad. Dia mengklik menu "Add New Talent", lalu mulai mengisi form pendaftaran dengan data fiktif Valerie Clara yang sudah dia siapkan di flashdisk.
*Nama Lengkap: Valerie Clara Sitorus.*
*Tanggal Lahir: 12 April 2002.*
*Tinggi/Berat: 168 cm / 48 kg.*
Dia kemudian mengunggah file foto komposit hasil editan Photoshop-nya semalam. Saat sistem meminta unggahan scan KTP, Kiara mengunggah file PDF KTP fiktif yang formatnya sudah dia edit sedemikian rupa agar lolos enkripsi database sistem lokal.
"Ayo... ayo... cepetan loading-nya..." bisik Kiara dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahinya.
Indikator progress bar di layar laptop menunjukkan angka 45%... 60%...
Tiba-tiba, suara air di kamar mandi benar-benar berhenti.
*Jantung Kiara rasanya mau copot.*
Dia mendengar suara langkah kaki di dalam kamar mandi, disusul suara geseran pintu kaca shower. Arka sudah selesai mandi!
*Progress bar: 75%... 80%...*
"Aduh, plis! Jangan sekarang!" Kiara meremas tangannya sendiri yang sudah basah oleh keringat dingin. Matanya melotot menatap layar laptop yang terasa lambat sekali memproses data.
*85%... 90%...*
Kiara mendengar suara gagang pintu kamar mandi mulai bergerak turun.
*95%...*
"Ayo, sedikit lagi, si****!" rutuk Kiara dalam hati, kakinya sudah gemetaran hebat sampai rasanya tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri.
*100%. Upload Success. Status: APPROVED (Local Host Bypass).*
Begitu tulisan hijau itu muncul, Kiara langsung mencabut flashdisk-nya dengan kasar dari port USB. Dia menutup aplikasi database tersebut, lalu menutup layar laptop Arka ke posisi setengah terbuka persis seperti semula.
Pintu kamar mandi terbuka.
Kiara tidak punya waktu untuk keluar lewat pintu depan kamar. Dengan insting bertahan hidup yang sangat tinggi, dia langsung melesat ke balik gorden balkon kamar Arka yang tebal dan berwarna abu-abu gelap, menyembunyikan tubuh mungilnya di sana tepat saat Arka melangkah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya dan handuk kecil lain yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Kiara menahan napasnya rapat-rapat di balik gorden. Dia bisa melihat siluet Arka yang berjalan mendekati meja kerja.
Arka berdiri di depan meja kerjanya selama beberapa saat. Dia meraih ponselnya yang tergeletak di samping laptop, lalu bergumam pelan, "Kok berasa ada bau yang beda, ya?"
Kiara memejamkan matanya rapat-rapat. Dia berdoa dalam hati agar parfum stroberi murah yang dipakainya pagi ini tidak tercium terlalu menyengat oleh indra penciuman Arka yang sangat sensitif itu.
Arka tampaknya tidak terlalu ambil pusing karena dia langsung berjalan menuju lemari pakaian untuk memakai baju. Dari balik gorden yang sedikit renggang, Kiara bisa mendengar suara geseran gantungan baju dan gesekan kain.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti beberapa tahun bagi Kiara, Arka akhirnya selesai berpakaian. Dia menyambar tas kerjanya, mengambil laptopnya, lalu melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu dengan rapat.
Begitu mendengar suara langkah kaki Arka menjauh di koridor luar, Kiara langsung luruh ke lant** balkon. Dia terduduk lemas dengan napas yang memburu seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran an**** g***.
"G***... gue bener-bener g***," bisik Kiara sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang luar biasa.
Dia menatap flashdisk di tangannya. Senyum kemenangan tipis perlahan terukir di wajahnya yang pucat. Misi penyusupan berhasil. Profil "Valerie Clara" sekarang sudah resmi terdaftar sebagai talent berstatus "Approved" di sistem lokal agensi Arka.
Sekarang, dia tinggal mengirimkan email formal berisi portofolio fiktif itu, dan kebohongannya akan aman. Setidaknya untuk saat ini. Kiara tidak tahu masalah apa lagi yang akan menantinya di depan, tapi yang jelas, untuk pagi ini, dia berhasil selamat dari terkaman singa galak bernama Arka.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!