"I-iya, biasa, Kak. Namanya juga cewek sensitif. Habis putus dari cowoknya yang *toxic*, dia jadi gampang *overthink*, merasa gak berharga, makanya sampai mengurung diri begitu," Kiara buru-buru menyambung kalimatnya yang sempat gantung.
Dia berusaha memasang wajah se-melancholis mungkin, seolah-olah dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan 'Valerie'. Padahal, di dalam hatinya, Kiara sedang merapalkan mantra keselamatan agar Arka tidak menyadari kepalsuan di balik matanya yang berkejaran panik.
Arka tidak langsung merespons. Dia hanya menatap layar ponsel Kiara sekali lagi, mengamati satu per satu foto estetik Valerieβyang sebenarnya adalah wajah Kiara sendiri yang sudah dimodifikasi habis-habisan lewat teknologi digital.
"Oke," kata Arka datar, mengembalikan ponsel Kiara. "Kirim nomor teleponnya ke gue sekarang. Biar asisten gue, Rian, yang hubungi dia langsung buat atur jadwal *meeting* awal."
*DEG!*
Jantung Kiara rasanya seperti merosot sampai ke jempol kaki. "H-hah? Sekarang banget, Kak?"
"Iya, sekarang. Kenapa? Ada masalah?" Arka menyipitkan matanya, menatap Kiara dengan tatapan menyelidik yang selalu sukses membuat Kiara merasa seperti terdakwa di ruang sidang.
"Eh, enggak! Gak ada masalah kok! Cuma... Valerie itu kan lagi depresi ya, Kak. Kadang dia agak... *moody* kalau dihubungi nomor asing. Tapi tenang aja, nanti biar aku chat dia duluan biar dia tahu kalau asisten Kak Arka mau telepon," cerocos Kiara cepat, mencoba mencari celah untuk menyelamatkan diri.
"Bagus. Jangan lama-lama. Campaign kosmetik baru nyokap gue bakal rilis bulan depan, dan gue butuh wajah baru yang *fresh* secepatnya," ujar Arka dingin, sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan dapur dengan langkahnya yang tegap dan berwibawa.
Begitu sosok Arka menghilang di balik belokan koridor, Kiara langsung melorot ke lant** dapur. Dia memegangi dadanya yang berdetak ugal-ugalan.
"G***, g***, g***! Ini namanya gali kuburan sendiri!" bisik Kiara panik setengah mati.
Tanpa membuang waktu, Kiara langsung lari tunggang-langgang kembali ke kamarnya. Dia mengunci pintu rapat-rapat, lalu menyambar ponsel cadangannyaβsebuah ponsel Android jadul yang layarnya sudah agak retak, yang nomornya sengaja dia cantumkan di bio Instagram Valerie sebagai kontak bisnis.
Kiara buru-buru membuka laptopnya. Dia butuh solusi instan. Dengan tangan gemetar, dia mengunduh sebuah aplikasi pengubah suara real-time yang biasa digunakan para *gamer* atau *streamer* di internet. Setelah menghubungkan ponsel jadulnya ke laptop menggunakan kabel aux khusus yang untungnya dia punya, Kiara mulai melakukan uji coba.
"Tes, tes, satu, dua, tiga..."
Suara Kiara yang tadinya cempreng khas bangun tidur, berubah menjadi suara cewek yang sangat manis, agak serak-serak basah sensual, dengan *pitch* yang sedikit tinggi. Terdengar sangat *flawless* dan... luar biasa manja.
"Oke, oke, ini pas. Tinggal gaya bicaranya yang harus disesuaikan," gumam Kiara. Dia mencoba mengingat-ingat bagaimana gaya bicara para selebgram papan atas atau diva yang sering dia lihat di TikTok. Sombong, ogah-ogahan, tapi tetap terdengar mahal dan bikin gemas.
Baru saja Kiara selesai melakukan pengaturan terakhir, ponsel jadul di tangannya tiba-tiba bergetar hebat. Sebuah nomor tidak dikenal berawalan angka khas nomor kantor atau nomor bisnis ma**k.
*Drrrtt... Drrrtt...*
"Mampus! Ini pasti asistennya Arka!" pekik Kiara tertahan.
Dia menarik napas dalam-dalam, menepuk-nepuk pipinya sendiri untuk mengumpulkan keberanian, lalu berdeham beberapa kali. Kiara menekan tombol hijau, mendekatkan ponsel itu ke mikrofon yang sudah terhubung dengan aplikasi pengubah suara di laptopnya.
"Halo~? Siapa ya? Pagi-pagi banget udah telepon, *literally* merusak *beauty sleep* aku tau gak," sapa Kiara dengan nada suara yang sengaja diseret-seret manja, lengkap dengan desahan napas dramatis di ujung kalimat.
Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik di seberang telepon. Tampaknya orang di sana sempat syok mendengar sambutan yang luar biasa tidak biasa itu.
"Ah, halo. Selamat pagi. Apakah benar ini dengan Mbak Valerie Clara?" Suara seorang cowok terdengar, terdengar sangat sopan dan formal. Itu pasti Rian, asisten Arka.
"Iya, ini Valerie. *Who is this?* Tolong cepat ya, aku lagi maskeran pakai lumpur Laut Mati nih, gak bisa lama-lama ngomongnya, nanti muka aku retak," sahut Kiara, makin melunjak. Dia bahkan sengaja memainkan ujung rambutnya sendiri seolah-olah dia benar-benar sedang berakting di depan kamera.
"Saya Rian, asisten dari Mas Arka, Head of Marketing dari PT Megah Aesthetic. Kami mendapatkan kontak Mbak Valerie dari Kiara, dan kami sangat tertarik untuk mengajak Mbak Valerie bekerja sama sebagai *face of the b**nd* untuk produk kosmetik terbaru kami."
Kiara memutar bola matanya malas. "Oh... Kiara ya? Cewek kosan yang mukanya kasihan itu? Iya, dia emang sempat bilang sih soal lowongan kerjaan ini. Tapi gimana ya... aku tuh sebenarnya lagi malas banget kerja. Aku lagi patah hati, tahu gak sih? Jiwa aku tuh lagi rapuh kayak kerupuk kesiram kuah bakso. Sedih banget..."
Di seberang sana, terdengar suara helaan napas berat. Namun, sebelum Rian sempat membalas, sepertinya ponsel tersebut telah berpindah tangan. Terdengar suara gesekan pakaian, disusul oleh suara berat, dingin, dan sangat familier yang langsung membuat bulu kuduk Kiara merinding.
"Valerie."
Kiara tersentak. Suara Arka! Cowok itu ternyata ada di sana, mendengarkan percakapan mereka!
Kiara buru-buru mengontrol keterkejutannya. Dia harus tetap berada dalam karakter. "Oh... *My God*. Ini siapa ya? Suaranya kok... *manly* banget sih? Bikin dada aku berdegup kencang layaknya genderang mau perang, deh~"
"Gue Arka," potong Arka cepat, tanpa nada ramah sedikit pun. "Gak usah banyak drama. Gue butuh model yang profesional, bukan drama queen yang hobi meratap. Kiara bilang lo butuh kerjaan buat pengalihan isu patah hati lo. Jadi, lo mau kerja atau enggak?"
Kiara menggigit bibir bawahnya. *Si****, Arka galak banget!* batinnya kesal. Tapi, di sisi lain, Kiara harus membuat karakter Valerie ini menyebalkan agar Arka tidak menaruh curiga kalau Valerie adalah Kiara.
"Ih, Kak Arka galak banget sih! Sensi amat, lagi dapet ya?" goda Kiara dengan nada suara yang super manja dan mendayu-dayu. "Aku tuh profesional tau! Tapi ya namanya juga perempuan, butuh kelembutan. Kalau Kak Arka ngomongnya manis sedikit aja, mungkin aku bakal langsung bilang *yes* tanpa mikir dua kali."
"Gue gak punya waktu buat meladeni kemanjaan lo, Valerie," sahut Arka, suaranya terdengar makin dingin dan jengkel. Kiara bisa membayangkan bagaimana wajah cowok itu sekarangβpasti dahinya sedang berkerut dalam dengan tatapan mata yang siap membunuh. "Kalau lo tertarik, datang ke kantor gue besok jam sepuluh pagi buat *casting* fisik dan tanda tangan kontrak."
"Ih, besok? Jam sepuluh pagi? *Are you kidding me, babe?* Jam segitu aku baru aja mau mulai meditasi pagi biar aura negatif aku luntur. Gak bisa sorean dikit apa?" keluh Kiara, sengaja memanggil Arka dengan sebutan '*babe*' untuk memancing emosi cowok itu.
Terdengar suara helaan napas tajam dari Arka. "Jangan panggil gue *babe*. Dan tidak ada negosiasi waktu. Jam sepuluh pagi, atau kerjaan ini gue kasih ke model lain."
"Yeee, ngambek. Yaudah, yaudah! Nanti biar aku pikir-pikir dulu ya, Kak Arka ganteng. Kirim aja det**l alamat kantornya lewat WhatsApp ke nomor ini. Nanti biar asisten akuβeh maksudnya, aku sendiri yang baca kalau gak mager. Bye-bye Kak Arka kesayangan aku, muah!"
*KLIK!*
Kiara langsung memutuskan sambungan telepon sepihak sebelum Arka sempat membalas atau memaki dirinya.
Detik itu juga, Kiara melempar ponsel jadulnya ke atas ka**r dan langsung menjatuhkan dirinya ke lant**. Napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya.
"G***! G***! Gue barusan ngomong apa aja a****?!" pekik Kiara frustrasi, menjambak rambutnya sendiri yang berantakan. "Pake manggil 'babe' segala lagi! Pake kasih kecupan 'muah' pula! Duh, Kiara, lo bener-bener cari mati!"
Kiara berguling-guling di lant** kamarnya, meratapi kebodohannya yang tak tertolong. Dia tahu dia harus bertingkah menyebalkan agar Arka ilfeel, tapi dia tidak menyangka kalau dia malah bertingkah se-absurd itu. Bagaimana kalau Arka malah membatalkan tawarannya?
Tapi, kalau dibatalkan, bukankah itu malah bagus? Dengan begitu, rahasianya akan aman dan dia tidak perlu berpura-pura menjadi Valerie lagi.
Namun, kegembiraan Kiara tidak bertahan lama. Ponsel jadulnya kembali bergetar. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari nomor baru yang tidak dikenal, tapi Kiara tahu persis siapa pemiliknya dari foto profil berupa logo perusahaan kosmetik milik ibu Arka.
**[0812-XXXX-XXXX]:**
*Ini det**l lokasi kantor untuk besok. Jam 10.00 WIB tepat. Jangan terlambat satu menit pun. Dan satu lagi, jangan pernah telepon gue dengan gaya bicara menjijikkan seperti tadi lagi.*
Kiara menatap layar ponselnya dengan mata terbelalak. Dia tidak tahu harus merasa lega karena Arka tetap memberinya kesempatan, atau merasa ngeri karena besok dia harus menghadapi 'bencana' yang sesungguhnya.
"Besok jam sepuluh pagi..." gumam Kiara dengan wajah pucat pasi. "Gimana caranya gue bisa ada di kantor Arka sebagai Valerie, sedangkan Valerie itu sebenarnya... GAK ADA?!"
Kiara menatap langit-langit kamarnya yang putih bersih dengan pandangan kosong. Kebohongan kecil yang dia buat tadi malam, kini telah menjelma menjadi bola salju raksasa yang siap menggelinding dan menghancurkan hidupnya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!