**Bab 8: Kencan Buta Berkedok Penyamaran**
"Gak bisa lewat telepon atau Zoom aja, Kak? Valerie beneran lagi sensitif banget. Dia bahkan gak mau keluar kamar kalau gak terpaksa," bujuk Kiara, menempelkan ponsel jadulnya ke telinga dengan bahu yang menjepit erat, sementara tangannya sibuk mengetik di laptop.
Suara di seberang sana—bukan Rian sang asisten, melainkan Arka sendiri yang mendadak mengambil alih pangg***n—terdengar mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
*"Gak ada cerita meeting virtual buat kontrak senilai ratusan juta, Kiara. Bilang ke temen lo itu, kalau dia emang profesional, temuin gue besok jam tiga sore di Cafe Lumine. Kalau dia gak dateng, gue anggap kerja sama ini batal."*
*PIP.*
Sambungan diputus begitu saja secara sepihak. Kiara menatap layar ponselnya yang retak dengan pandangan kosong. Tubuhnya mendadak lemas, melorot dari kursi belajarnya langsung ke lant** kamar yang dingin.
"Mampus gue. Tamat riwayat lo, Kiara!" pekiknya frustrasi, menjambak rambut hitamnya sendiri.
Bagaimana caranya dia bisa membelah diri menjadi dua? Arka ingin bertemu Valerie. Masalahnya, Valerie itu tidak nyata! Valerie adalah hasil editan luar biasa dari foto-foto Kiara yang disulap menggunakan aplikasi editing tingkat dewa, ditambah sedikit bumbu estetik filter Instagram. Di dunia nyata, tidak ada cewek bernama Valerie dengan rambut ash blonde berkilau, bibir penuh yang sensual, dan gaya hidup ala *it-girl* Jakarta Selatan. Yang ada hanyalah Kiara, mahasiswi tingkat akhir berkacamata bulat yang hobi memakai hoodie kedodoran dan mengurung diri di kamar kos.
Tapi, membatalkan kontrak ini juga bukan pilihan. Uang muka dari b**nd kosmetik milik ibu Arka bisa membayar uang kuliah Kiara sampai lulus, bahkan sisanya bisa dipakai untuk membayar utang-utang keluarganya. Ini adalah kesempatan sekali seumur hidup.
Kiara bangkit dengan tekad bulat yang bercampur keputusasaan. "Oke. Kalau Arka mau ketemu Valerie, gue bakal kasih dia Valerie. Tapi versi... KW super."
Sore itu juga, Kiara melakukan aksi nekat. Dia membongkar celengan daruratnya dan meluncur ke sebuah mal ITC di Jakarta Barat. Tujuannya hanya satu: toko wig dan perlengkapan cosplay.
Di sana, Kiara membeli sebuah wig sintetis berwarna pirang abu-abu (*ash blonde*) yang harganya lumayan menguras dompet. Wig itu sangat mirip dengan rambut Valerie di Instagram, meskipun agak sedikit gatal saat dipakai. Tidak lupa, dia menyambar kacamata hitam berukuran besar ala selebriti Hollywood yang sedang menghindari paparazzi, serta seperangkat bulu mata palsu super tebal.
Tantangan berikutnya adalah pakaian. Valerie di media sosial selalu tampil dengan *vibes* s****, berani, dan *fashionable*. Sangat berbanding terbalik dengan Kiara yang kalau kuliah hanya modal kemeja flanel. Kiara akhirnya memberanikan diri ma**k ke sebuah butik pakaian wanita dan membeli sebuah *bodycon dress* ketat berwarna hitam tanpa lengan, dengan belahan paha yang c**up tinggi.
Saat membayar di kasir, tangan Kiara gemetar hebat. *G***, ini baju paling mini dan ketat yang pernah gue beli seumur hidup,* batinnya menjerit parno.
***
Keesokan harinya, pukul dua siang.
Kiara berdiri di depan cermin besar di kamarnya yang terkunci rapat. Dia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Wig pirang itu terpasang sempurna di kepalanya setelah dia bersusah payah menyembunyikan rambut hitam aslinya di dalam *hairnet*. Wajahnya dipoles dengan *make up* tebal yang tidak biasa dia pakai. Teknik *contouring* yang dia pelajari dari tutorial YouTube dalam semalam berhasil membuat pipi tembamnya terlihat lebih tirus dan rahangnya tampak lebih tajam, mirip dengan manipulasi digital yang biasa dia lakukan. Bibirnya dilapisi lipstik merah bata dengan efek *overlined* agar terlihat lebih tebal dan sensual.
*Dress* hitam ketat itu membungkus tubuhnya dengan sempurna, mengekspos lekuk tubuh Kiara yang selama ini selalu dia sembunyikan di balik pakaian longgar. Dan sebagai sentuhan akhir, kacamata hitam besar itu bertengger di hidungnya, menutupi hampir setengah wajahnya.
"G***... ini beneran gue?" gumam Kiara, menyentuh pipinya sendiri. Penampilannya benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Dia terlihat seperti *influencer* s**** yang siap melenggang di *runway*.
Namun, di balik penampilannya yang *stunning*, Kiara merasa sangat tidak nyaman. *Dress* ini terlalu ketat sampai-sampai dia susah bernapas, dan wig ini mulai membuat kulit kepalanya terasa gatal luar biasa. Terlebih lagi, dia harus memakai sepatu hak tinggi setinggi sembilan senti yang membuatnya berjalan seperti anak ayam baru menetas.
"Fokus, Kiara. Lo adalah Valerie. Cewek keren, misterius, agak dingin, dan mahal. Jangan sampai lo bersikap kayak Kiara yang kagetan," dia menyemangati dirinya sendiri di depan cermin, lalu menarik napas dalam-dalam.
Dengan langkah yang diusahakan seanggun mungkin—meskipun beberapa kali hampir terkilir—Kiara keluar dari kamar kosnya diam-diam, berdoa agar tidak ada tetangga kos yang melihat penampilannya yang super mencolok ini.
***
Cafe Lumine, pukul 14.55 WIB.
Kafe bernuansa estetik minimalis ini terletak di kawasan elit Jakarta Selatan. Pengunjungnya rata-rata adalah orang-orang kantoran kelas atas dan anak-anak muda hits. Begitu Kiara melangkah ma**k, suara ketukan sepatu hak tingginya langsung menarik perhatian beberapa pasang mata.
Kiara menelan ludah, mencoba mengabaikan tatapan orang-orang. Di balik kacamata hitamnya, matanya bergerak liar mencari sosok Arka.
Dan di sana dia berada. Di sudut ruangan dekat jendela kaca besar, Arka sedang duduk dengan sant**. Cowok itu mengenakan kemeja ka**al berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan jam tangan hitamnya yang terlihat sangat mahal. Wajahnya yang tampan tampak serius saat dia menatap layar iPad di tangannya. Vibes-nya benar-benar seperti bos muda yang dingin dan tidak tersentuh.
Jantung Kiara mendadak berdegup ugal-ugalan. Keberaniannya yang tadi sempat terkumpul langsung menguap entah ke mana. Rasanya dia ingin berbalik dan lari pulang sekarang juga.
*Nggak, Kiara. Lo gak boleh mundur. Demi bayaran kuliah!* batinnya menyemangati diri sendiri.
Sambil meremas tali tas selempangnya erat-erat, Kiara melangkah mendekat ke meja Arka. Dia mengatur napasnya, lalu dengan gaya yang dibuat-buat semanja mungkin, dia menyapa, "Hai. Arka, kan?"
Arka mendongak. Untuk sesaat, gerakan cowok itu terhenti. Sepasang mata tajamnya menatap Kiara dari ujung kepala hingga ujung kaki, melakukan penilaian cepat yang membuat Kiara merasa seperti sedang dite*******i di bawah lampu sorot.
Kiara bisa merasakan hawa dingin menjalar di tengkuknya. Dia buru-buru menarik kursi di hadapan Arka dan duduk, menyilangkan kakinya dengan anggun—persis seperti yang sering dia lihat di film-film.
"Gue Valerie," lanjut Kiara, menggunakan suara yang sudah dia latih semalaman. Suaranya terdengar lebih tinggi, sedikit manja, dan sengaja dibuat agak serak-serak basah sensual. Berbeda jauh dengan suara asli Kiara yang cempreng.
Arka meletakkan iPad-nya ke meja. Matanya masih tertuju pada kacamata hitam besar yang dikenakan Kiara. "Valerie. Akhirnya lo dateng juga. Gue pikir lo bakal mangkir lagi dengan alasan depresi."
Nada suara Arka terdengar dingin dan sedikit menyindir. Kiara mendengus pelan, mencoba ma**k ke dalam karakter Valerie yang angkuh. "Well, aku menghargai kerja keras asisten kamu yang bolak-balik ngehubungin aku. Dan karena aku lagi punya waktu luang, kenapa gak?"
"Bagus kalau gitu," kata Arka. Dia memanggil pelayan dan memesankan minuman untuk Kiara. Setelah pelayan pergi, Arka kembali menatap Kiara dengan tatapan menyelidik. "Kenapa kacamata hitamnya gak dilepas? Kita di dalam ruangan, dan di luar sana bahkan gak ada matahari."
Pertanyaan itu langsung membuat Kiara berkeringat dingin di balik *dress* ketatnya. "Oh, *dear*. Mataku agak sembap karena kurang tidur semalam. Biasalah, efek samping dari... proses *healing* aku. Lagian, *lighting* kafe ini agak terlalu terang buat mataku yang sensitif."
Arka menaikkan satu alisnya, tampak tidak terlalu percaya dengan alasan klise tersebut, namun dia memilih untuk tidak memperpanjangnya. Dia mengambil sebuah map kulit hitam dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke hadapan Kiara.
"Ini draf kontrak untuk campaign produk *La Belle*. Nyokap gue secara khusus minta lo yang jadi *face* dari produk baru ini setelah dia lihat portofolio digital lo di Instagram. Nilai kontraknya ada di halaman terakhir," jelas Arka profesional.
Kiara meraih map tersebut. Saat tangannya bergerak, dia bisa merasakan tatapan Arka yang tertuju pada jemarinya. Kiara langsung panik dalam hati. *Aduh, kuku gue!* Dia lupa memakai kuteks atau kuku palsu untuk menutupi kukunya yang biasa saja tanpa perawatan. Dia buru-buru menyembunyikan sebagian jarinya di bawah map.
Kiara membuka draf kontrak itu dengan pura-pura membacanya dengan teliti. Padahal, otaknya langsung nge-blank saat melihat deretan angka nominal di halaman belakang.
*G***! Ratusan juta! Ini beneran nyata?* Kiara hampir saja m****ik girang kalau tidak ingat dia sedang menyamar. Dia mati-matian menahan senyum lebar yang hampir lolos dari bibirnya yang dilapisi lipstik tebal.
"Gimana? Ada poin yang keberatan?" tanya Arka, memecah keheningan.
"Hmm, sejauh ini sih oke," sahut Kiara dengan nada sok sant**, meski hatinya sudah berjoget ria. "Tapi aku perlu bawa draf ini pulang dulu buat didiskusikan sama... tim hukum aku."
"Tim hukum?" Arka mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang tampak meremehkan. "Gue pikir lo cuma selebgram independen yang gak punya agensi."
"Aku emang gak punya agensi, tapi aku punya orang-orang profesional yang bantu aku buat urusan legalitas," jawab Kiara cepat, mencoba terdengar cerdas. Padahal 'tim hukum' yang dia maksud adalah dirinya sendiri yang bakal begadang sambil searching Google tentang hukum kontrak kerja.
Tiba-tiba, pelayan datang mengantarkan secangkir *iced americano* pesanan Kiara dan kopi hitam milik Arka. Saat pelayan meletakkan cangkir, Kiara yang merasa sangat gugup dan haus secara refleks langsung menjangkau cangkirnya.
Namun, karena pandangannya sedikit terdistorsi oleh kacamata hitamnya yang gelap, ditambah jemarinya yang masih gemetar, tangannya justru menyenggol pinggiran gelas kaca tersebut.
*PYARR!*
Gelas itu terguling. Es batu dan cairan kopi hitam pekat itu langsung tumpah membasahi meja kayu, mengalir deras ke arah dokumen kontrak dan... sebagian mengenai rok *dress* hitam Kiara.
"Aduh, mampus!" teriak Kiara panik.
Suara aslinya—suara Kiara yang cempreng dan panik—refleks keluar begitu saja tanpa sempat dia saring.
Arka tertegun. Matanya langsung melebar mendengar seruan spontan tersebut.
Kiara yang menyadari kesalahannya langsung membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dia baru saja mengeluarkan suara aslinya!
Dengan panik, Kiara segera mengubah suaranya kembali ke nada Valerie yang manja dan mendesah panik. "M-maksud aku... *oh my god! What a mess!* Aduh, baju aku basah semua!" Kiara langsung berdiri, mengambil beberapa lembar tisu dari wadah di meja dengan gerakan grasak-grusuk, mencoba membersihkan tumpahan kopi di meja dan bajunya.
Arka ikut berdiri. Dia membantu menyelamatkan map kontrak yang untungnya hanya terkena sedikit cipratan di bagian sudutnya. Namun, fokus Arka tidak lagi pada kontrak itu. Matanya menatap tajam ke arah Kiara yang sedang sibuk mengelap bajunya dengan panik.
"Suara lo..." gumam Arka, suaranya terdengar sangat dekat di telinga Kiara.
Kiara menegang. Dia perlahan mendongak, menatap Arka dari balik kacamata hitamnya yang kini agak melorot ke ujung hidung, memperlihatkan sebagian matanya yang membelalak panik.
"S-suara aku kenapa?" tanya Kiara, mencoba mempertahankan nada suara Valerie-nya, meski kini terdengar agak bergetar karena ketakutan.
Arka melangkah satu tapak lebih dekat. Jarak mereka kini sangat dekat, sampai-sahutan aroma parfum maskulin Arka yang maskulin—campuran aroma cedarwood dan mint yang mahal—langsung menusuk indra penciuman Kiara.
"Suara lo tadi... terdengar sangat familiar," ujar Arka lambat-lambat, matanya menyipit penuh selidik. Dia menatap bibir Kiara yang dilapisi lipstik tebal, lalu beralih ke garis rahangnya. "Dan gaya lo panik tadi... mirip seseorang yang gue kenal."
Keringat dingin Kiara kini benar-benar mengucur deras. Kulit kepalanya di balik wig pirang itu terasa gatal setengah mati, dan dia merasa seolah-olah seluruh penyamarannya akan terbongkar dalam hitungan detik.
"M-mirip siapa? Mungkin cuma perasaan kamu aja," sahut Kiara, mencoba tertawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. "Banyak kok orang yang suaranya mirip di dunia ini."
Arka tidak menjawab. Alih-alih mundur, dia justru mengulurkan tangannya secara perlahan ke arah wajah Kiara.
"Kacamata lo miring," kata Arka dengan suara rendah yang terdengar mengintimidasi. Tangannya bergerak mendekati bingkai kacamata hitam Kiara, berniat untuk membetulkannya—atau mungkin, sengaja ingin melepasnya untuk melihat wajah di baliknya dengan jelas.
"Jangan sentuh!" pekik Kiara refleks, menepis tangan Arka dengan kasar sebelum cowok itu sempat menyentuh kacamatanya.
Suasana di sekitar meja mereka mendadak menjadi sangat tegang. Beberapa pengunjung kafe sempat menoleh ke arah mereka karena reaksi Kiara yang terlalu defensif.
Arka menarik kembali tangannya, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja ditepis, lalu menatap Kiara dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan rasa ingin tahu yang sangat besar di dalam matanya yang gelap.
Kiara tahu dia harus segera pergi dari sana sebelum dia benar-benar melakukan kesalahan fatal yang akan membongkar semuanya.
"A-aku rasa pertemuan hari ini c**up sampai di sini," ujar Kiara terburu-buru, suaranya bergetar. Dia menyambar tas selempangnya dan draf kontrak yang untungnya masih bisa diselamatkan. "Aku akan pelajari kontrak ini di rumah. Nanti asistenku—maksudnya, Kiara, yang akan hubungi asisten kamu lagi."
Tanpa menunggu jawaban dari Arka, Kiara langsung berbalik dan melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Dia bahkan mengabaikan rasa sakit di kakinya akibat sepatu hak tinggi yang dia kenakan. Dia hanya ingin segera keluar dari kafe itu, naik ke dalam taksi, dan menghilang dari pandangan Arka.
Di belakangnya, Arka tetap berdiri di posisinya. Dia menatap punggung cewek berambut pirang abu-abu itu yang berjalan setengah pincang meninggalkan kafe dengan terburu-buru.
Arka menyilangkan dadanya, matanya menyipit tajam. Ada sesuatu yang sangat janggal dari 'Valerie' ini. Mulai dari parfumnya—yang samar-samar beraroma lavender murah yang sangat dia kenali dari area dapur rumahnya—hingga suaranya yang sempat berubah drastis saat panik tadi.
Arka mengambil ponselnya dari saku celana, lalu mengetik sebuah pesan singkat untuk asistennya.
*“Rian, cari tahu semua hal tentang Valerie. Dan gue mau det**l pribadi, bukan cuma apa yang ada di profil Instagram-nya.”*
Arka menyimpan kembali ponselnya, lalu menatap ke arah pintu keluar kafe yang baru saja dilewati Kiara. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan teka-teki terukir di wajah tampannya.
"Permainan yang menarik, Kiara," gumam Arka lirih, seolah dia sudah mulai bisa menyatukan kepingan-kepingan puzzle misteri di balik pintu kamar yang terkunci itu.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!