**Bab 9: Diva KW Super dan Kopi yang Tumpah**
Kalau ada penghargaan untuk kategori "Manusia Paling Sengsara Sedunia", Kiara yakin dia akan menyapu bersih semua piala malam ini.
Saat ini, Kiara sedang berdiri di depan pintu kaca Cafe Lumine. AC dingin dari dalam kafe langsung menerpa kulit lengannya yang terbuka lebar karena memakai *bodycon dress* ketat tanpa lengan. Dress hitam ini benar-benar tidak manusiawi. Kiara merasa organ-organ dalamnya seperti sedang diperas, membuatnya susah bernapas bebas. Belum lagi wig *ash blonde* murahannya yang mulai terasa sangat gatal di kulit kepala, ditambah bulu mata palsu super tebal yang membuatnya harus mengerjap-ngerjap seperti orang kelilipan pasir.
*Lo pasti bisa, Kiara. Demi bayar kuliah. Demi utang-utang. Demi kelangsungan hidup,* bisik Kiara dalam hati, mencoba menyemangati dirinya sendiri yang sudah di ambang kematian sosial.
Dengan langkah yang diusahakan seanggun mungkin—meskipun sebenarnya dia hampir terjungkal karena tidak terbiasa memakai *high heels* sembilan senti—Kiara mendorong pintu kafe.
*Tring!*
Suara lonceng di atas pintu berbunyi, dan pandangan Kiara langsung menyapu seisi kafe yang bernuansa estetis dengan pencahayaan hangat. Dan di sana, di sudut dekat jendela besar yang menghadap langsung ke jalan raya, duduklah sang target.
Arka.
Cowok itu terlihat sangat kontras dengan kekacauan yang ada di dalam kepala Kiara. Arka memakai kemeja putih ka**al dengan lengan yang digulung sampai siku, memamerkan jam tangan kulit hitam yang terlihat sangat mahal. Dia sedang fokus menatap layar iPad-nya, sesekali menyesap kopi hitam dari cangkir porselen di hadapannya. Vibe cowok itu benar-benar intimidatif, tipe-tipe CEO muda di Webtoon yang kalau bicara irit kata tapi sekali ngomong langsung bikin mental lawan bicaranya ciut.
Kiara menarik napas dalam-dalam, membetulkan letak kacamata hitamnya yang berukuran jumbo—yang sebenarnya membuat pandangannya di dalam ruangan yang agak temaram ini jadi super buram—lalu melangkah mendekat.
"Hai... Arka?" sapa Kiara, mencoba memasang nada suara yang manja, agak mendesah, dan... yah, se-kegenitan mungkin agar terdengar seperti Valerie sang *it-girl* Instagram.
Arka mendongak. Alis tebalnya langsung bertaut rapat saat melihat penampakan di hadapannya. Matanya menyusuri Kiara dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Valerie?" tanya Arka, nadanya terdengar sangat ragu. Ada sedikit nada geli sekaligus heran di suaranya.
"Yes, *babe*. *It's me*, Valerie," jawab Kiara cepat. Dia langsung mendudukkan diri di kursi seberang Arka sebelum kakinya benar-benar patah. "Aduh, *sorry* banget ya telat dikit. *You know* lah, jalanan Jakarta tuh *literally* macetnya gak ngotak banget. Bikin pusing, *honestly*."
Kiara sengaja mencampur-campur bahasanya dengan logat ala anak Jakarta Selatan yang sering dia dengar di TikTok. Dia berharap gaya bicara ini bisa menutupi kegugupannya yang sudah level dewa.
Arka masih menatapnya dengan pandangan menilai. "Kenapa pakai kacamata hitam di dalam ruangan? Di sini mendung, bukan pant** Bali."
Jantung Kiara hampir copot. Baru semenit duduk, dia sudah diinterogasi. Kiara buru-buru menyentuh bingkai kacamatanya, menahannya agar tidak melorot.
"Oh, ini? *Well*, mata gue tuh lagi sensitif banget hari ini. *Actually*, gue baru aja perawatan laser mata gitu di klinik langganan gue di Singapura, jadinya gak boleh kena *direct light* dari lampu-lampu LED kafe kayak gini. *It hurts my eyes, you know*," bual Kiara panjang lebar, tangannya melambai-lambai di udara seolah mempertegas kebohongannya.
"Oh ya?" Arka menopang dagunya dengan satu tangan, menatap Kiara dengan senyum tipis yang terasa dingin. "Tapi foto-foto kamu di Instagram kemarin lusa kayaknya lagi di kelab malam tanpa kacamata. Dan setahu saya, lampu strobo di kelab jauh lebih terang daripada lampu kafe ini."
*Mampus!* Kiara menjerit histeris dalam hatinya. Kenapa cowok di depannya ini harus sedet**l dan secerdas ini, sih?
"Ah... itu! Itu kan foto lama, *postponed upload* alias *draft* baru diposting sekarang, *babe*. Biasalah, tuntutan *feed* biar estetik terus," sahut Kiara, tertawa canggung. Suara tawanya terdengar sangat aneh, sampai-sampai seorang pelayan yang lewat sempat meliriknya dengan heran.
Untuk menghindari pertanyaan lebih lanjut, Kiara buru-buru mengambil buku menu dan membukanya lebar-lebar, lalu menutupi seluruh wajahnya dengan buku menu tersebut. Dari balik kertas tebal itu, Kiara menghela napas lega. Setidaknya wajahnya aman untuk beberapa detik.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Arka, matanya masih menatap tajam ke arah buku menu yang menutupi wajah Kiara.
"Gue... gue mau *Iced Americano* aja. Gak pakai gula, ya. *Sugar is bad for my skin, actually*," sahut Kiara dari balik menu. Padahal aslinya, Kiara adalah pencinta boba dengan kadar gula seratus persen. Membayangkan harus meminum kopi hitam pahit tanpa gula saja sudah membuat lidahnya kelu.
Arka memberi tanda pada pelayan dan memesankan minuman untuk Kiara. Setelah pelayan pergi, keheningan yang canggung kembali melanda meja mereka. Kiara perlahan menurunkan buku menu, menyisakan hanya matanya yang tertutup kacamata hitam yang menyembul dari balik kertas.
"Jadi," Arka membuka suara, memecah keheningan. Dia mengeluarkan map dokumen dari dalam tas kulitnya dan meletakkannya di atas meja. "Ini draf kontrak untuk kerja sama *b**nd* kosmetik ibu saya. Nilai kontraknya sudah sesuai dengan yang kita bicarakan lewat asisten kamu, Rian. Ada beberapa poin penyesuaian tentang eksklusivitas konten."
"Ah, iya. Kontrak. *Sure, sure*," kata Kiara, matanya sibuk melirik dokumen tersebut. Kepalanya terasa sangat gatal. Sumpah, wig sintetis seharga seratus lima puluh ribu ini rasanya seperti dihuni oleh sekelompok semut api. Kiara tidak tahan lagi. Dengan gerakan sehalus mungkin, dia menggunakan jari telunjuknya untuk menyusup ke balik wig dan menggaruk kulit kepalanya dengan barbar.
Arka menghentikan penjelasannya. Dia menatap Kiara yang sedang sibuk menggaruk kepala dengan posisi tubuh yang sangat aneh—bahu kirinya terangkat tinggi untuk menutupi gerakan tangannya.
"Kamu... kenapa?" tanya Arka heran.
"Hah? Oh, enggak! Ini... rambut gue agak... apa ya, *windy* gitu habis kena angin AC. Agak berantakan, jadi gue rapihin dikit," elak Kiara panik. Dia buru-buru menurunkan tangannya dan tersenyum kaku.
"Oke," kata Arka, meski jelas-jelas dia tidak percaya. "Bisa tolong tanda tangani di halaman terakhir setelah kamu baca?"
Pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Sebuah gelas tinggi berisi *Iced Americano* diletakkan di depan Kiara, dan secangkir kopi latte hangat baru diletakkan di depan Arka.
Kiara merasa tenggorokannya sangat kering karena terus-menerus berbicara dengan nada suara yang dibuat-buat. Tanpa berpikir panjang, dia langsung meraih gelas *Iced Americano*-nya. Namun, masalah baru muncul. Kiara lupa kalau dia memakai kuku palsu tempel yang super panjang dan runcing ala diva pop Amerika. Kuku plastik murah itu sangat licin dan membuat genggamannya pada gelas basah berembun itu tidak stabil.
*Sret!*
Gelas itu tergelincir dari jari-jarinya.
"Eh—eh!" Kiara panik. Dalam usahanya untuk menangkap kembali gelas yang meluncur, tangannya malah menyenggol cangkir kopi latte hangat milik Arka yang baru saja disajikan.
*PRANG!*
Kejadian selanjutnya berlangsung seperti adegan *slow motion* yang mengerikan bagi Kiara.
Cangkir kopi Arka terguling, mengirimkan cairan cokelat susu yang masih mengepul panas langsung mengalir deras ke atas meja, membasahi draf kontrak kerja sama yang berharga, dan yang paling parah... tumpahan kopi itu meluncur bebas dari tepi meja, mendarat dengan sukses di atas kemeja putih bersih yang dikenakan Arka.
"Argh!" Arka langsung berdiri tersentak, refleks mundur saat cairan panas itu membasahi bagian dada hingga perut kemejanya. Kulitnya pasti terasa perih karena suhu kopi tersebut.
"Oh my God! Oh my God! *I'm so sorry! Literally sorry* banget!" teriak Kiara histeris. Kepanikannya sudah mencapai ubun-ubun. Dia langsung kehilangan semua persona "Valerie" yang anggun.
Dengan panik, Kiara menyambar tumpukan tisu dari wadah di tengah meja. Dia langsung condong ke depan, menyeberangi meja demi mengelap kemeja Arka.
"Sini, sini! Gue lap! Duh, maaf banget, gue gak sengaja!" racau Kiara. Dia setengah merayap di atas meja, menggosok dada Arka dengan tisu secara brutal.
"Valerie, stop! Enggak usah, saya bisa sendiri!" ujar Arka dengan suara tertahan, mencoba menepis tangan Kiara. Tapi Kiara yang sudah terlanjur panik tidak mendengarkan. Dia terus merangsek maju, mengelap kemeja Arka dengan gerakan cepat dan tidak sabaran.
Dan di sanalah petaka terbesar hari itu terjadi.
Karena tubuhnya yang condong terlalu jauh ke depan, kacamata hitam jumbo Kiara melorot jatuh ke atas meja. Kiara yang kaget langsung mendongak refleks. Gerakan mendadaknya itu membuat bagian atas kepalanya—lebih tepatnya, wig *ash blonde*-nya—tersangkut pada kancing lengan kemeja Arka yang sedang terangkat untuk menepis tangannya.
*SRET.*
Kiara merasakan kulit kepalanya mendadak menjadi sangat ringan. Dingin.
"Eh?" Kiara membeku.
Wig sintetis pirang abu-abu itu terlepas sepenuhnya dari kepalanya, kini tergantung dengan mengenaskan di kancing kemeja Arka seperti seekor binatang berbulu mati.
Di bawah wig yang copot itu, kini terlihatlah rambut asli Kiara yang hitam legam, yang diikat asal-asalan dengan jepitan badai berwarna pink neon, lengkap dengan *hairnet* jaring-jaring berwarna hitam yang membungkus kepalanya seperti seorang koki restoran siap saji.
Keheningan yang luar biasa mencekam mendadak menyelimuti sudut meja mereka. Suara musik jazz yang diputar di kafe terasa sangat kontras dengan situasi hidup dan mati yang sedang dihadapi Kiara.
Arka berdiri mematung. Matanya yang tajam kini melebar sempurna, menatap wig pirang yang menggantung di kemejanya, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke kepala Kiara yang kini berbalut jaring-jaring rambut hitam dengan jepitan pink menyala.
Kiara masih dalam posisi setengah merayap di atas meja. Tangannya yang memegang tisu basah membeku di udara. Jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik. Dunia rasanya runtuh saat itu juga.
*Tamat,* batin Kiara pasrah. *Kali ini, gue bener-bener tamat.*
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!