Satu Kosan Sama Musuh Bebuyutan

Bab 1: Kamar Sebelah, Musibah Sebelah

Pengaturan Membaca

Bab 1: Kamar Sebelah, Musibah Sebelah

Satu kardus besar, dua tas jinjing jumbo berwarna biru, dan satu koper merah marun berukuran 28 inci sukses mendarat di lant** kamar nomor 10.

Aurel mengembuskan napas panjang, lalu menyeka keringat yang membasahi dahi dengan punggung tangannya. Rambut panjangnya yang biasa terurai rapi kini dicepol asal-asalan demi mengurangi rasa gerah yang menyiksa. Tapi biar bagaimanapun lelahnya hari ini, senyum lebar tidak bisa lepas dari bibir Aurel.

"Akhirnya! Bebas juga!" seru Aurel setengah berteriak, melompat kecil ke atas ka**r *single bed* yang untungnya sudah dilapisi seprai bermotif kotak-kotak estetis bernuansa sage green.

Mulai hari ini, Aurel resmi menjadi anak kos. Kos Cantika—begitu nama tempat ini—akan menjadi saksi bisu awal kehidupan barunya sebagai mahasiswi tingkat satu di Universitas Jakarta Raya. Kosan ini sangat nyaman. Kamar mandi dalam, AC yang dinginnya langsung menusuk tulang, jendela besar yang menghadap ke arah pohon kamboja di taman bawah, dan yang paling penting: suasananya sangat tenang.

Aurel sengaja memilih kos khusus campur yang katanya dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi elite yang sibuk belajar. Tidak akan ada yang mengganggu jam tidurnya. Tidak akan ada yang membuat keributan tidak jelas. Di sini, Aurel membayangkan dirinya akan belajar dengan tenang, memakai masker wajah sambil mendengarkan musik *lo-fi* di malam hari, dan sesekali pergi ke kafe estetik di sekitar kampus untuk mengerjakan tugas.

Sebuah kehidupan kampus yang sempurna dan damai. Benar-benar sesuai rencana.

Perut Aurel tiba-tiba berbunyi nyaring. Cewek itu baru ingat kalau sejak pagi dia belum sempat makan siang karena terlalu sibuk mengurus kepindahan dari rumah tantenya ke kosan ini.

"Beli es cekek sama ketoprak di depan kayaknya seru nih," gumam Aurel pada diri sendiri.

Dia bangkit dari ka**r, menyambar ponsel dan dompetnya yang tergeletak di atas meja belajar minimalis, lalu berjalan menuju pintu kamar. Sambil bersenandung kecil, Aurel memutar kunci pintu kamarnya, menariknya terbuka lebar, dan melangkah keluar ke koridor lant** dua.

Namun, baru selangkah kaki kanannya memijak lant** koridor, pintu kamar nomor 11—yang letaknya tepat di sebelah kanan kamar Aurel—terbuka dengan sentakan keras.

Sesosok cowok bertubuh tinggi tegap melangkah keluar dari sana. Cowok itu hanya mengenakan kaus oblong hitam polos yang agak longgar dan celana pendek abu-abu. Rambut hitamnya tampak agak acak-acakan, seperti orang yang baru bangun tidur, tapi wajahnya tetap terlihat bersih. Di tangannya, ada sebuah botol minum plastik kosong.

Aurel secara refleks menoleh ke arah tetangga barunya itu. Cowok itu juga menoleh.

Pandangan mereka bertemu di udara.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Waktu seolah berhenti berputar. Udara di koridor lant** dua Kos Cantika mendadak terasa membeku. Senyum di wajah Aurel perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi syok yang luar biasa. Matanya membelalak lebar, hampir saja melompat keluar dari kelopaknya. Di seberangnya, cowok itu juga menunjukkan reaksi yang sama. Matanya yang semula sayu karena mengantuk langsung melebar sempurna.

"Lo..." Aurel menunjuk wajah cowok itu dengan jari telunjuk yang gemetar hebat.

"Aurel?!" Cowok itu bersuara. Suara berat yang sangat, sangat, amat akrab di telinga Aurel—dan sayangnya, suara yang paling Aurel benci di seluruh dunia.

"DEVIAN?!" pekik Aurel histeris. Suaranya melengking tinggi hingga gema suaranya memantul di sepanjang koridor kosan yang tadinya sunyi senyap.

Devian Pratama.

Cowok menyebalkan, sombong, sok ganteng, provokator ulung, dan musuh bebuyutan Aurel sejak hari pertama mereka ma**k SMA tiga tahun lalu. Cowok yang selalu mencari gara-gara dengannya, yang merebut posisi ketua OSIS dari Aurel dengan cara berkampanye menggunakan taktik licik (menurut versi Aurel), dan cowok yang membuat masa-masa SMA Aurel penuh dengan tensi darah tinggi.

"Ngapain lo di sini?!" tanya Aurel setengah berteriak, menatap Devian dengan pandangan penuh permusuhan. Rasa lapar di perutnya mendadak lenyap digantikan oleh gelombang kekesalan yang membakar dada.

Devian mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba mencerna situasi g*** ini. Namun, tak butuh waktu lama bagi cowok itu untuk menguasai diri. Ekspresi terkejut di wajahnya dengan cepat berubah menjadi seringai menyebalkan yang biasa dia tunjukkan di SMA dulu. Seringai yang selalu sukses membuat Aurel ingin melemparnya dengan sepatu.

"Harusnya gue yang nanya begitu ke lo, Nenek Lampir," sahut Devian sant**, menyandarkan bahu kirinya ke kusen pintu kamarnya sambil melipat kedua tangan di dada. "Lo ngapain di depan kamar gue? Oh... jangan-jangan lo duntit gue ya sampai ke kosan ini? Segitunya lo kangen sama gue?"

"Heh, mimpi lo?!" semprot Aurel, wajahnya memerah padam karena menahan emosi. "Siapa juga yang nguntit lo! Kurang kerjaan banget! Gue ngekos di sini! Kamar gue nomor sepuluh!" Aurel menunjuk pintu kamarnya sendiri dengan emosi yang meluap-luap.

Devian menoleh ke arah pintu kamar Aurel, lalu beralih menatap nomor kamarnya sendiri, nomor 11. Cowok itu kemudian menatap Aurel dengan tatapan mengejek, seolah-olah situasi ini adalah hal paling lucu yang pernah dia temui sepanjang tahun.

"Oh, jadi lo tetangga baru gue?" Devian terkekeh sinis. "Wah, musibah macam apa lagi ini. Baru juga mau tenang kuliah, malah ketemu alien dari masa lalu."

"Alien lo bilang?!" Aurel melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga kini mereka berdiri berhadapan hanya terhalang jarak satu meter. Aurel mendongak karena tinggi badannya yang hanya sebatas bahu Devian. "Asal lo tahu ya, Devian! Gue udah bayar lunas kosan ini buat enam bulan ke depan karena gue pikir kosan ini tenang dan bebas dari hama kayak lo! Kalau tahu lo ada di sini, mending gue ngekos di kolong jembatan sekalian!"

"Yaudah, sana pindah ke kolong jembatan. Nggak ada yang larang juga," balas Devian enteng, lalu memainkan botol minum kosong di tangannya. "Lagian, siapa suruh lo milih Kos Cantika? Ini kosan campur bebas. Dan fyi aja, gue udah di sini dari minggu lalu. Jadi, secara teknis, lo yang datang mengganggu ketenangan hidup gue yang damai."

"Damai dari Hongkong!" Aurel bersungut-sungut, tangannya mengepal kuat di sisi tubuh. "Gue nggak sudi tetanggaan sama lo! Lo denger ya, Devian, jangan pernah berani-berani lo ngetok kamar gue, minjem barang gue, atau bahkan sekadar nyapa gue di jalan! Anggap kita nggak saling kenal!"

Devian malah memajukan wajahnya sedikit, menatap Aurel dengan senyum jahil yang membuat mata elangnya menyipit. "Yakin? Gimana kalau nanti malam lo ketakutan karena ada kecoa di kamar lo, terus lo nangis-nangis gedor pintu kamar gue minta tolong?"

"Najis! Amit-amit jabang bayi!" Aurel mengetukkan jari tengah dan telunjuknya ke dahi lalu ke dadanya sendiri. "Gue lebih milih digigit kecoa sampai mati daripada harus minta tolong sama lo!"

"Oke, *deal* ya. Jangan nyesel kalau nanti lo kesepian terus kangen sama suara ganteng gue dari sebelah," goda Devian, mengedipkan sebelah matanya dengan sengaja.

Aurel rasanya ingin muntah saat itu juga. Tingkat kepedean Devian benar-benar belum berkurang satu persen pun sejak lulus SMA. Masih sama-sama menjijikkan dan menguras energi.

"G*** lo ya! Stres!" umpat Aurel.

Tanpa membuang waktu lagi, Aurel berbalik badan dengan cepat, berniat untuk ma**k kembali ke kamarnya. Dia membatalkan niatnya untuk membeli ketoprak. Nafsu makannya sudah menguap entah kemana karena polusi visual bernama Devian.

Namun, sebelum Aurel sempat memegang gagang pintu kamarnya, Devian kembali bersuara dengan nada yang sangat memprovokasi.

"Eh, Aurel."

Aurel menghentikan langkahnya, menahan napas sejenak, lalu menoleh dengan tatapan membunuh. "Apa lagi?!"

Devian menunjuk dinding yang membatasi kamar nomor 10 dan kamar nomor 11 dengan ibu jarinya. "Gue cuma mau ngingetin aja. Tembok kosan ini tuh tipis banget. Kemarin tetangga sebelum lo kalau bersin aja kedengeran jelas di kamar gue. Jadi..." Devian menjeda kalimatnya, memberikan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Aurel merinding. "...kalau lo mau nangis karena stres tugas kuliah, atau mau dengerin lagu-lagu galau lo yang alay itu, tolong volumenya dikecilin. Gue nggak mau telinga gue tercemar."

Aurel melongo. Matanya beralih menatap dinding pembatas di antara kamar mereka. Tembok semen tipis.

*Tunggu... apa?* batin Aurel panik.

Kalau temboknya setipis itu, berarti... semua aktivitas yang dia lakukan di dalam kamarnya bisa terdengar oleh Devian? Dan sebaliknya, suara cowok itu juga akan terdengar di kamarnya?

"Gak... Gak mungkin..." gumam Aurel dengan wajah yang mendadak pucat.

"Sangat mungkin, Tetangga," sahut Devian dengan nada riang yang dibuat-buat. "Selamat menikmati hari-hari penuh siksaan di Kos Cantika, Aurel. *Welcome to my world.*"

Setelah mengucapkan kalimat terkutuk itu, Devian berbalik dengan sant** dan melangkah menuju tangga di ujung koridor, berniat mengisi ulang air minumnya di dispenser utama di lant** bawah, meninggalkan Aurel yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya.

Begitu sosok Devian menghilang di balik tangga, Aurel langsung membuka pintu kamarnya, ma**k ke dalam, lalu menutup pintu itu dengan bantingan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang c**up nyaring.

*B**KK!*

Aurel menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup rapat. Dia merosot perlahan hingga terduduk di atas lant** yang dingin. Kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi.

"Kenapa harus dia?!" teriak Aurel frustrasi, meskipun dia sengaja menahan volumenya agar tidak terdengar sampai ke luar—atau lebih tepatnya, ke kamar sebelah.

Aurel menoleh ke arah dinding di sebelah kanannya. Dinding putih bersih yang kini terasa seperti bom waktu. Di balik dinding itu, ada wilayah kekuasaan Devian Pratama. Musuh bebuyutannya. Orang yang paling ingin dia hindari di dunia ini, sekarang hanya berjarak beberapa senti dari tempatnya tidur.

Ekspektasi Aurel tentang kehidupan kosan yang damai, estetik, tenang, dan mandiri seketika hancur berkeping-keping menjadi debu tak bersisa.

"Tuhan..." Aurel memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi nasib sialnya yang luar biasa aktif hari ini. "Salah apa gue di kehidupan sebelumnya sampai harus satu kosan, bahkan bersebelahan kamar, sama musuh bebuyutan gue sendiri?!"

Di luar jendela, matahari sore mulai meredup, menyisakan warna jingga yang perlahan digantikan oleh kegelapan malam. Dan bagi Aurel, malam ini adalah awal dari mimpi buruk terbesarnya yang baru saja dimulai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca