Suara tarikan ritsleting koper besar itu terdengar begitu nyaring di dalam kamar Aurel yang sunyi.
Aurel menghapus kasar sisa air mata di pipinya. Dadanya masih terasa sesak. Pandangan sinis orang-orang di koridor kampus kemarin, bisik-bisik tetangga kosan, dan tatapan menghakimi yang ia terima sejak foto dirinya dan Devian tersebar, benar-benar sudah di luar batas kemampuannya. Ia tidak sanggup lagi. Berada di kosan ini hanya membuatnya merasa seperti seorang kriminal yang sedang diadili setiap detik.
"Gue harus pergi," bisik Aurel pada dirinya sendiri, mencoba menguatkan hati.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menggenggam erat pegangan kopernya. Dengan langkah berat, Aurel membuka pintu kamar. Roda kopernya bergesekan dengan lant** lorong kosan, menciptakan suara *gret-gret* yang langsung memancing perhatian beberapa anak kos yang sedang bersant** di ruang tengah lant** dua.
Mbak Tari yang sedang memakai masker wajah langsung menoleh, begitu juga dengan Shinta dan Riko yang sedang asyik bermain ponsel. Suasana mendadak hening. Tatapan mereka campur aduk—ada yang kasihan, ada juga yang tampak penasaran setengah mati.
"Aurel? Lo... mau ke mana?" tanya Mbak Tari dengan ragu, matanya melirik koper besar di samping Aurel.
Aurel memaksakan sebuah senyuman tipis, nyaris tak terlihat. "Gue mau pindah, Mbak. Makasih ya buat semuanya selama ini."
Baru saja Aurel melangkah satu tapak menuju tangga, pintu kamar di ujung lorong lant** bawah terbuka dengan sentakan keras. Devian muncul dari sana. Rambutnya berantakan, napasnya memburu, dan wajahnya tampak sangat kacau. Rupanya, cowok itu sudah mendengar suara bising koper Aurel dari bawah.
Begitu mata mereka bertemu, Devian langsung berlari menaiki anak tangga dengan tergesa-gesa. Ia langsung berdiri tepat di depan Aurel, menghalangi jalan turun cewek itu.
"Mau ke mana lo?" tanya Devian dengan nada suara yang bergetar.
"Minggir, Dev," jawab Aurel datar. Ia berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak pecah. "Gue mau lewat."
"Gue tanya lo mau ke mana, Aurel?!" nada suara Devian meninggi, membuat Shinta dan Riko di ruang tengah tersentak kaget.
"Bukan urusan lo! Minggir!" Aurel mendorong bahu Devian, tapi cowok itu sama sekali tidak bergeming. Tubuhnya kokoh seperti tembok.
"Ini urusan gue! Lo mau pergi gara-gara masalah kemarin, kan? Gara-gara gosip sampah itu?" cecar Devian.
Aurel mendongak, menatap mata Devian yang memancarkan rasa bersalah yang teramat sangat. Air mata yang sejak tadi ditahan Aurel akhirnya luruh juga. "Terus gue harus gimana, Dev?! Lo enak, lo cowok! Orang-orang gak akan nge-judge lo sekejam mereka nge-judge gue! Di kampus, semua orang natap gue seolah gue cewek murahan yang numpang tidur di kamar cowok! Gue gak kuat, Devian!" Isak tangis Aurel akhirnya pecah.
Melihat air mata Aurel, dada Devian rasanya seperti dihantam batu besar. Sangat sesak.
Bayangan ancaman papanya tadi pagi—tentang fasilitas yang akan dicabut, uang bulanan yang dihentikan, dan paksaan untuk pulang ke Surabaya—mendadak melintas di kepalanya. Namun, demi melihat air mata cewek di depannya ini, semua ketakutan itu menguap begitu saja. Pers**** dengan uang Papa. Pers**** dengan mobil. Pers**** dengan semuanya. Devian tidak akan membiarkan dirinya menjadi pengecut yang mengorbankan cewek yang dicint**nya demi kenyamanan sendiri.
Devian mengembuskan napas panjang. Tatapannya berubah menjadi sangat tegas dan penuh tekad.
"Gue gak akan biarin lo pergi," ucap Devian pelan, namun terdengar sangat mutlak.
Ia kemudian berbalik badan, menghadap ke arah anak-anak kos yang sejak tadi menonton mereka dengan canggung.
"Guys, dengerin gue," suara Devian menggelegar di area lant** dua kosan. "Gue tahu kalian semua tahu soal rumor yang lagi rame di kampus tentang gue sama Aurel. Dan gue tahu beberapa dari kalian mulai mandang Aurel dengan pandangan yang gak enak."
Mbak Tari dan Shinta tampak salah tingkah, sementara Riko langsung meletakkan ponselnya.
"Gue mau perjelas di sini. Iya, gue sama Aurel emang satu kosan. Tapi kosan ini kosan campur yang punya aturan ketat. Kamar gue di bawah, kamar Aurel di atas. Kita gak pernah macem-macem. Aurel itu cewek terhormat. Dia gak pernah ngegoda gue atau siapa pun di sini. Jadi, kalau sampai gue denger ada desas-desus jahat lagi tentang Aurel di kosan ini, gue gak akan tinggal diam. Paham?"
Anak-anak kos itu terdiam, lalu perlahan mengangguk canggung. Mbak Tari berdeham kecil. "Eh, iya, Dev, Rel... kita juga sebenarnya gak percaya kok sama gosip di kampus itu. Maaf ya kalau sikap kita bikin gak nyaman."
Devian tidak menjawab. Ia kembali berbalik menatap Aurel yang masih termangu dengan air mata yang menggantung di bulu matanya.
Tanpa aba-aba, Devian merebut paksa pegangan koper dari tangan Aurel.
"Dev, lo mau ngapain?!" tanya Aurel panik saat Devian mulai menyeret kopernya kembali ma**k ke dalam kamar Aurel dan meletakkannya begitu saja di sudut ruangan.
"Koper lo tetep di sini. Dan lo, ikut gue sekarang," kata Devian tegas.
"Ke mana?!"
"Kita selesaiin ini sampai ke akar-akarnya. Gue gak mau setengah-setengah." Devian langsung meraih pergelangan tangan Aurel, menggenggamnya dengan erat namun lembut, lalu menariknya keluar dari kosan.
***
Suasana kantin utama kampus siang itu sangat ramai. Di salah satu meja panjang di sudut kantin, Sarah sedang duduk bersama gengnya. Di tangan Sarah, ponselnya menampilkan laman forum gosip kampus yang masih ramai membahas foto Aurel dan Devian.
"G*** sih, emang dasarnya gatel ya cewek kayak gitu. Berlagak polos, eh tahunya satu kosan sama cowok ganteng sekampus," cibir Sarah dengan suara yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa mahasiswa di meja sebelah menoleh.
"Iya, gatel banget. Kasihan ya Devian, pasti dia risih banget dideketin cewek modelan Aurel," sahut salah satu teman Sarah sambil tertawa sinis.
Tiba-tiba, suasana kantin yang tadinya bising oleh obrolan mendadak hening seketika. Seperti ada gelombang keheningan yang merambat cepat dari arah pintu ma**k kantin.
Sarah mengernyitkan dahi. Ia ikut menoleh ke arah pintu ma**k, dan matanya langsung melebar sempurna.
Devian berjalan ma**k ke dalam kantin dengan langkah lebar yang terlihat sangat berwibawa. Dan yang paling membuat semua orang syok adalah tangan kanan Devian yang menggenggam erat tangan Aurel, membawa cewek itu berjalan di sampingnya. Aurel tampak sedikit gugup, namun tatapan matanya tidak lagi menunduk. Ia berjalan dengan kepala tegak karena genggaman tangan Devian memberikan kekuatan yang luar biasa baginya.
Bisik-bisik langsung pecah seperti lebah. Beberapa orang bahkan mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk merekam momen langka itu.
Devian tidak memedulikan tatapan-tatapan itu. Tujuannya sangat jelas: meja Sarah.
*B**k!*
Devian menggeb**k meja Sarah, tidak terlalu keras namun c**up untuk membuat Sarah dan teman-temannya terlompat kaget di kursi mereka.
"D-Devian? Lo... kok sama cewek ini?" tanya Sarah dengan suara terbata-bata, mencoba menutupi kegugupannya dengan senyuman manis yang dipaksakan.
Devian menatap Sarah dengan pandangan mata yang sangat dingin, tipe tatapan yang bisa membekukan apa saja yang dilewatinya.
"Mumpung di sini rame, dan mumpung lo juga ada di sini, Sarah," suara Devian terdengar lantang dan menggema di seluruh sudut kantin. Semua mata kini tertuju pada mereka. "Gue mau klarifikasi soal postingan sampah yang lo sebarin kemarin."
Wajah Sarah langsung memucat. "Postingan apa? Gue gak tahu—"
"Gak usah akting. Gue tahu akun *fake* yang pertama kali nge-up foto itu punya siapa," potong Devian dingin tanpa ampun. "Dengerin gue baik-baik, semuanya."
Devian mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin.
"Iya, bener. Gue sama Aurel emang tinggal di satu kosan yang sama. Tapi itu kosan campur resmi yang punya pengawasan ketat, bukan kos-kosan bebas kayak yang otak kotor kalian bayangkan. Dan yang paling penting..." Devian menjeda kalimatnya, lalu menatap Sarah tepat di matanya. "...Aurel gak pernah ngegoda gue. Dia cewek baik-baik, cewek terhormat yang bahkan selalu galak dan berusaha ngehindar setiap kali gue deketin."
Beberapa mahasiswi di belakang terdengar berbisik heboh.
Sarah mengepalkan tangannya di bawah meja, merasa dipermalukan di depan umum. "Dev! Kenapa sih lo harus belain cewek ini sampai segitunya?! Lo disihir apa sama dia? Jelas-jelas dia cuma mau pansos sama lo!" teriak Sarah, mulai kehilangan kendali emosinya.
Devian tersenyum sinis. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Aurel, lalu mengangkat tangan mereka yang saling bertaut ke udara, menunjukkannya kepada semua orang yang ada di kantin.
"Gue belain dia, karena dia berharga buat gue," ucap Devian, suaranya melunak namun terdengar sangat tegas dan penuh keyakinan.
Ia membalikkan tubuhnya, kini sepenuhnya menghadap Aurel. Di depan ratusan pasang mata yang menonton, Devian menatap Aurel dengan tatapan paling lembut yang pernah ia miliki. Tatapan yang hanya ia berikan khusus untuk cewek menyebalkan yang telah mencuri hatinya ini.
"Gue belain dia, karena gue suka sama dia. Malah, gue rasa... gue udah jatuh cinta sama musuh bebuyutan gue sendiri," kata Devian lantang.
Aurel terbelalak. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat, sebelum akhirnya berdegup dengan kecepatan yang tidak normal. Pipinya mendadak terasa sangat panas. Ia tahu Devian ingin membantunya, tapi ia sama sekali tidak menyangka cowok itu akan menyatakan perasaannya secara terbuka di depan publik seperti ini.
"Gue yang ngejar-ngejar Aurel selama ini, tapi dia selalu nolak gue," lanjut Devian lagi, kini beralih menatap kerumunan mahasiswa di kantin. "Jadi, kalau kalian semua masih punya masalah sama fakta bahwa kita satu kosan, atau kalau kalian masih gatel mau ngehujat orang... hujat gue. Jangan pernah berani-berani lo semua usik Aurel lagi. Karena kalau sampai itu terjadi, lo semua bakal berhadapan langsung sama gue."
Keheningan total melanda kantin selama beberapa detik. Pernyataan perang sekaligus deklarasi cinta dari seorang Devian—cowok populer yang biasanya dingin dan tidak peduli pada apa pun—benar-benar membungkam semua orang. Sarah terduduk lemas di kursinya, wajahnya merah padam menahan malu yang luar biasa karena rencananya untuk menjatuhkan Aurel justru berbalik menghancurkan dirinya sendiri.
Devian kembali menatap Aurel, lalu tersenyum sangat manis—senyuman tulus yang belum pernah Aurel lihat sebelumnya.
"Ayo pergi dari sini," bisik Devian lembut.
Aurel hanya bisa mengangguk pelan, masih terlalu syok untuk mengeluarkan kata-kata. Dengan tangan yang masih bertautan erat, Devian menuntun Aurel berjalan keluar dari kantin, meninggalkan kehebohan besar di belakang mereka yang pastinya akan menjadi topik pembicaraan terhangat di kampus hingga berminggu-minggu ke depan.
Namun, saat ini, baik Devian maupun Aurel tidak lagi peduli pada dunia luar. Di koridor kampus yang mulai sepi, Aurel akhirnya menghentikan langkahnya, membuat Devian ikut berhenti dan berbalik menatapnya bingung.
"Dev..." panggil Aurel lirih. "Lo... lo sadar kan sama apa yang baru aja lo lakuin?"
"Sadar banget," jawab Devian sant**.
"Tapi bokap lo..." suara Aurel mencicit, penuh rasa khawatir. "Bokap lo bakal tahu, Dev. Fasilitas lo, uang kuliah lo..."
Devian tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, lalu dengan berani mengacak rambut Aurel dengan tangan kirinya yang bebas.
"Pers**** sama uang bokap gue, Rel. Gue bisa kerja part-time, gue bisa cari beasiswa, gue bisa hidup mandiri. Tapi satu hal yang gak bisa gue lakuin adalah hidup tenang sambil ngeliat cewek yang gue sayang nangis sendirian gara-gara kepengecutan gue."
Aurel terpaku. Air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena rasa sedih, melainkan karena rasa hangat yang menjalar di seluruh dadanya. Musuh bebuyutannya yang paling menyebalkan ini, baru saja menjelma menjadi pelindung terbaiknya.
"Jadi..." Devian mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap Aurel dengan binar jenaka di matanya. "Sekarang rumornya udah terbukti gak bener. Tapi soal perasaan gue... itu nyata. Lo mau gak jadi pacar dari musuh bebuyutan lo ini?"
Aurel menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan senyum yang ingin meledak di wajahnya. "Gak mau ah. Lo kan nyebelin."
"Oh, jadi nolak nih?" goda Devian sambil menaikkan satu alisnya.
"Pikir-pikir dulu deh," sahut Aurel sambil tertawa kecil, menyeka sisa air matanya.
Devian ikut tertawa, suara tawa lepas yang terdengar begitu merdu di telinga Aurel. Detik itu, di bawah hangatnya sinar matahari siang, keduanya tahu bahwa hidup mereka setelah ini mungkin tidak akan mudah. Masalah dengan ayah Devian masih menanti di depan mata. Namun, selama tangan mereka masih saling menggenggam erat seperti saat ini, tidak ada satu pun rintangan yang terasa mustahil untuk mereka lalui bersama.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!