"Jangan pergi, Rel. Plis..." suara Devian melemah, nyaris berbisik di depan wajah Aurel yang masih basah oleh air mata.
Kedua tangan Devian memegang pundak Aurel dengan erat, seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, cewek di hadapannya ini akan hilang selamanya. Devian tidak peduli lagi dengan tatapan kepo dari Mbak Tari, Shinta, atau Riko yang masih menonton mereka dari ruang tengah. Masa bodoh dengan harga dirinya yang selama ini selalu ia agung-agungkan di depan Aurel. Saat ini, ketakutan terbesar Devian adalah kehilangan Aurel.
"Gue gak bisa biarin lo pergi dalam keadaan kayak gini, Rel. Masalah kemarin... semuanya udah beres," lanjut Devian cepat, napasnya masih memburu.
Aurel mengerjapkan matanya yang sembap. "Maksud lo apa? Beres gimana? Lo gak usah menghibur gue cuma karena kasihan, Dev."
"Gue gak bohong!" Devian buru-buru merogoh saku celananya, mengambil ponsel, lalu menyodorkannya ke depan wajah Aurel. "Lihat ini. Akun lambe kampus yang nyebarin foto kita udah takedown postingan itu. Mereka juga udah nge-post video permintaan maaf secara terbuka. Gue tadi siang datengin adminnya bareng anak-anak BEM. Gue ancam bakal laporin mereka atas pencemaran nama baik pakai UU ITE kalau gak mau bersihing nama lo."
Aurel menatap layar ponsel Devian dengan tangan gemetar. Ia membaca baris demi baris surat pernyataan maaf yang diunggah oleh akun gosip kampus tersebut. Tidak hanya itu, di kolom komentar, orang-orang yang kemarin menghujat Aurel kini berbalik arah, menghujat sang admin dan membela Aurel.
"Dan soal foto itu..." Devian menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Gue juga udah lapor ke pihak rektorat. Gue jelasin kalau foto itu diambil dari sudut yang salah pas lo hampir jatuh dan gue cuma refleks bantuin lo. Lo gak salah apa-apa, Rel. Semua orang sekarang udah tahu kebenarannya."
Aurel terpaku. Air matanya kembali menetes, tapi kali ini bukan karena rasa sesak, melainkan rasa lega yang teramat sangat yang langsung membuncah di dadanya. Beban berat yang menghimpit pundaknya selama beberapa hari terakhir seolah luruh begitu saja.
"Jadi... gue gak usah pindah?" tanya Aurel dengan suara super pelan, seperti anak kecil yang sedang memastikan sesuatu.
Devian tersenyum tipis, lalu dengan lembut mengusap sisa air mata di pipi Aurel menggunakan ibu jarinya. "Enggak usah, Rel. Tetap di sini. Sama gue."
Sorakan heboh langsung terdengar dari arah ruang tengah.
"Ciyeee! Gak jadi pindah nih ye!" goda Mbak Tari sambil bertepuk tangan heboh, masker wajahnya sampai agak retak karena ia tersenyum terlalu lebar.
"G***, tontonan gratis yang lebih seru dari drakor!" sahut Riko sambil nyengir lebar, sementara Shinta hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum lega melihat kedua musuh bebuyutan itu akhirnya berdamai.
Wajah Aurel langsung memerah padam karena malu. Ia buru-buru menepis tangan Devian dari pipinya dan memalingkan muka. "Apaan sih lo semua! Udah ah, bubar-bubar!"
Devian terkekeh pelan. Tanpa aba-aba, ia langsung merebut pegangan koper besar milik Aurel. "Sini, koper lo biar gue yang bawa ma**k lagi ke kamar. Lo ma**k gih, cuci muka. Muka lo udah kayak kepiting rebus."
"Devian! Mulai lagi kan lo!" gerutu Aurel, tapi kali ini tanpa ada nada kemarahan di suaranya. Ada binar bahagia yang tidak bisa ia sembunyikan dari sepasang matanya.
***
Malam harinya, sekitar pukul delapan, suasana Kos Cantika terasa sangat tenang. Angin malam berembus perlahan, membawa kesegaran di area halaman belakang kosan yang sepi. Area ini memang jarang dijamah anak kos lain kalau sudah malam, menjadikannya tempat paling pas untuk menyendiri.
Aurel duduk di bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon mangga hias. Ia mengenakan kaus longgar dan celana kulot sant**, kedua tangannya memeluk lutut sambil menatap langit malam yang bersih tanpa awan.
*Srek.*
Suara langkah kaki mendekat membuat Aurel menoleh. Devian berjalan ke arahnya dengan sant**, mengenakan celana pendek hitam dan kaus abu-abu. Di kedua tangannya, ia membawa dua kaleng susu cokelat hangat.
"Nih, buat nenangin pikiran lo," kata Devian sambil menyodorkan satu kaleng susu ke arah Aurel.
"Makasih," jawab Aurel pelan, menerima kaleng hangat itu dan langsung menempelkannya ke pipinya yang terasa dingin terkena angin malam.
Devian mengambil posisi duduk di samping Aurel. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak sejauh biasanya. Jarak di antara mereka kini terasa pas, tidak lagi canggung. Keheningan sempat menyelimuti mereka berdua selama beberapa saat. Hanya ada suara jangkrik dan gemercik air dari kolam ikan kecil di sudut halaman.
"Soal bokap lo..." Aurel membuka suara lebih dulu, memecah keheningan. Ia menatap kaleng susu di tangannya. "Tadi siang gue gak sengaja denger pas lo berantem di telepon. Bokap lo beneran mau cabut semua fasilitas lo kalau lo gak pulang?"
Devian terdiam sejenak. Ia meneguk susu cokelatnya perlahan, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku kayu. "Iya. Bokap emang kayak gitu. Selalu mau ngatur hidup gue sesuai kemauan dia. Dia gak suka gue ngekos di sini, dan dia pakai masalah kemarin buat maksa gue pulang dan kuliah di kampus pilihan dia."
"Terus... lo bakal pulang?" tanya Aurel, ada nada cemas yang terselip dalam suaranya yang coba ia sembunyikan.
Devian menoleh, menatap samping wajah Aurel yang diterangi cahaya lampu taman yang temaram. "Menurut lo?"
"Ya mana gue tahu. Secara, lo kan anak manja yang apa-apa serba ada. Kalau fasilitas lo dicabut, emang lo bisa bertahan hidup?" sindir Aurel, mencoba mencairkan suasana dengan gaya menyebalkan khas dirinya yang dulu.
Devian malah terkekeh. "Si**** lo. Tapi jujur, kali ini gue gak bakal tunduk sama bokap. Gue udah mutusin buat tetep di sini. Gue bisa cari kerja sampingan, jadi barista atau apa lah yang penting halal. Gue gak mau hidup gue terus-terusan disetir." Devian menjeda kalimatnya, matanya menatap Aurel dengan intensitas yang membuat jantung cewek itu mendadak berdegup dua kali lebih cepat. "Dan yang paling penting... gue gak mau pergi dari kosan ini. Gue gak mau jauh dari lo."
Pipi Aurel mendadak terasa panas. Ia buru-buru meminum susunya untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang luar biasa. "Gak usah mulai deh, Dev. Gombalan lo gak mempan."
"Siapa yang gombal?" Devian mengubah posisi duduknya, kini ia menghadap sepenuhnya ke arah Aurel. Ekspresi wajah cowok itu berubah menjadi sangat serius, tanpa ada sisa-sisa keisengan yang biasanya selalu ia tunjukkan. "Rel, gue serius. Gue tahu kita mulainya gak bagus. Kita selalu berantem, saling sindir, bahkan rasanya pengen saling cakar setiap kali ketemu di koridor kosan. Tapi gue gak bisa bohong lagi sama perasaan gue sendiri."
Aurel menahan napasnya. Jantungnya berpacu sangat cepat sekarang.
"Sejak kapan ya..." Devian menerawang sejenak, lalu tersenyum tipis. "Mungkin sejak gue sering lihat lo ngedumel sendiri pas ngerjain tugas di ruang tengah, atau pas lo dengan galaknya ngelab**k gue gara-gara gue lupa matiin keran air. Aneh emang, tapi semua hal menyebalkan tentang lo itu malah bikin gue makin kepikiran. Dan pas kemarin lo dituduh macem-macem, rasanya dada gue sakit banget melebihi pas gue sendiri yang kena masalah."
Devian mengulurkan tangannya, dengan ragu tapi pasti, ia menggenggam jemari Aurel yang bebas. Tangan Aurel terasa dingin, namun genggaman Devian begitu hangat dan menenangkan.
"Gue janji, Rel. Ke depannya, kalau ada kesulitan lagi, lo gak usah hadapi sendirian. Ada gue di sini. Gue bakal bantu lo, gue bakal ada di depan lo buat ngelindungin lo. Jadi... lo mau kan mulai semuanya dari awal sama gue? Bukan sebagai musuh, tapi sebagai orang yang saling memiliki?"
Aurel menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu beralih menatap mata Devian. Di dalam manik mata hitam kecokelatan itu, Aurel tidak menemukan keraguan sedikit pun. Hanya ada ketulusan yang murni.
Rasa gengsi yang selama ini membentengi hati Aurel perlahan-lahan runtuh, meleleh bagai es yang tersiram air hangat. Cewek itu menarik napas dalam-dalam, lalu sebuah senyuman hangatβsenyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan pada Devianβterukir di bibirnya.
"Lo yakin bisa tahan sama sikap galak gue?" tanya Aurel dengan nada menggoda, matanya berbinar jenaka.
Devian mengerjapkan mata, menyadari lampu hijau yang baru saja diberikan Aurel. "Jangankan galak, lo berubah jadi reog tiap hari juga gue jabanin, Rel."
Aurel tertawa lepas. Suara tawanya terdengar sangat merdu di telinga Devian. "Dasar g***."
"Jadi... ini artinya iya?" tanya Devian memastikan, wajahnya kini dipenuhi binar harapan yang luar biasa besar.
Aurel mempererat genggaman tangannya pada tangan Devian. "Iya, Devian. Mulai sekarang, kita hadapi semuanya bareng-bareng."
Senyum Devian merekah sangat lebar. Jika tidak ingat mereka sedang berada di kosan orang, mungkin cowok itu sudah berteriak kesenangan. Ia membawa tangan Aurel ke bibirnya, mengecup punggung tangan cewek itu dengan lembut, membuat Aurel kembali merona merah.
Dari dua orang asing yang tidak sengaja dipertemukan di satu kosan yang sama, saling membenci dan menganggap satu sama lain sebagai musuh bebuyutan yang paling anti bertatap muka, kini takdir membawa mereka ke titik ini.
Malam semakin larut saat mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Ketika Aurel merebahkan tubuhnya di atas ka**r, pandangannya tertuju pada sekat dinding tipis yang membatasi kamarnya dengan kamar Devian.
Dulu, dinding ini sering menjadi sasaran emosinya. Ia sering menggedor dinding ini dengan kesal jika Devian menyetel musik terlalu kencang atau tertawa terlalu berisik saat bermain game bersama teman-temannya. Namun malam ini, sekat dinding tipis di Kos Cantika itu tidak lagi terasa sebagai pembatas yang menyebalkan.
*Tok, tok, tok.*
Terdengar ketukan pelan sebanyak tiga kali dari balik dinding sebelah. Aurel tersenyum geli. Ia bangkit sedikit dari bantalnya, lalu membalas ketukan itu dengan mengetuk dindingnya sendiri sebanyak dua kali.
*Tok, tok.*
Ponsel di atas nakas Aurel bergetar. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari kontak bernama "Devian (Musuh G***)" yang kini mungkin harus segera ia ganti namanya.
**Devian:** *Tidur, Sayang. Jangan begadang terus. Besok pagi gue yang anter lo ke kampus.*
Aurel memeluk ponselnya di dada, menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman yang enggan hilang. Sekat dinding tipis itu kini tidak lagi memisahkan mereka, melainkan menjadi saksi bisu bersatunya dua hati yang kini memiliki satu tujuan yang sama. Mereka tidak lagi hanya sekadar berbagi atap kosan yang sama, melainkan telah berbagi ruang yang sama di dalam hati masing-masing.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!