Satu Kosan Sama Musuh Bebuyutan

Bab 2: Perjanjian Damai (Palsu)

Pengaturan Membaca

Bab 2: Perjanjian Damai (Palsu)

"Devian?!"

"Aurel?!"

Pekikan kaget itu lolos bersamaan dari mulut keduanya. Suara mereka bergema di sepanjang koridor lant** dua yang sunyi.

Aurel mengerutkan keningnya dalam-dalam, matanya membelalak lebar menatap cowok di depannya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Cowok ituβ€”Devian Mahardikaβ€”adalah manusia paling menyebalkan, paling angkuh, dan musuh bebuyutan Aurel sejak zaman SMA. Dan sekarang, demi apa pun di dunia ini, kenapa dia harus berdiri di depan pintu kamar nomor 11 dengan setelan sant** seperti orang yang sudah menetap di sana selama bertahun-tahun?

"Kok lo bisa di sini?!" tanya Aurel dengan nada menuduh, telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Devian.

Devian mendengus kasar. Dia menurunkan botol minumnya, lalu melipat kedua tangan di dada. Matanya menyipit sinis. "Gue yang harusnya nanya begitu, Aurelie. Ini kos-kosan elite. Kok bisa cewek rewel kayak lo nyasar ke sini? Lo salah alamat, ya? Kosan khusus kaum marjinal bukan di sini tempatnya."

"Mulut lo ya, Dev! Minta dicolok pakai gantungan baju?!" cerocos Aurel langsung tersulut emosi. "Gue bayar kosan ini pakai uang halal, ya! Dan asal lo tahu, gue sewa kamar nomor 10 ini buat cari ketenangan! Tapi kenapa malah dapet musibah bertetangga sama lo?!"

"Gue juga ogah bertetangga sama lo! Si****, tahu gitu gue minta kamar di lant** bawah aja," balas Devian tidak mau kalah. Wajah tampannya yang biasa terlihat sok keren di depan cewek-cewek kampus, kini tampak berkerut masam.

Aurel mengusap dadanya, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Hari pertamanya sebagai anak kos yang harusnya indah dan penuh kedamaian, seketika hancur berkeping-keping dalam hitungan detik. Dari jutaan kos-kosan di sekitar Universitas Jakarta Raya, kenapa takdir harus sebercanda ini dengan mempertemukan mereka di atap yang sama? Bahkan kamarnya bersebelahan langsung!

Sebelum perdebatan mereka semakin memanas dan memancing kemarahan penjaga kos, Devian tiba-tiba mengedarkan pandangannya ke sekeliling koridor dengan gestur waswas. Cowok itu tampak berpikir keras, dahinya berkerut dalam.

"Eh, bentar," gumam Devian, suaranya tiba-tiba merendah.

"Apaan? Masih mau ngehina gue?!" tantang Aurel, masih dengan mode defensif.

"Diem dulu, b***," sela Devian ketus. Dia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Aurel, membuat cewek itu refleks mundur selangkah. "Lo mikir nggak, sih? Kalau anak-anak kampus tahu kita tinggal di kosan yang sama... apalagi kamar kita sebelahan... apa jadinya?"

Aurel tertegun. Otaknya yang sempat korsleting karena emosi kini mulai bekerja kembali.

Di kampus, reputasi mereka berdua benar-benar bertolak belakang, tapi sama-sama berada di puncak popularitas dengan cara yang ekstrem. Devian adalah wakil ketua himpunan mahasiswa jurusan Manajemen yang terkenal cool, pintar, tapi bermulut tajam. Sementara Aurel adalah aktivis organisasi mahasiswa yang vokal, berprestasi, dan tidak pernah mau kalahβ€”terutama jika harus berhadapan dengan Devian dalam rapat-rapat koordinasi kampus.

Pertengkaran hebat mereka di forum terbuka bulan lalu bahkan sempat menjadi *trending topic* di akun autobase kampus. Semua orang tahu kalau Devian dan Aurel adalah air dan minyak. Musuh bebuyutan yang haram hukumnya disatukan dalam satu ruangan.

"G***..." gumam Aurel, mendadak merinding. "Kalau anak-anak tahu kita satu kosan... gosipnya bakal liar banget."

"Bukan cuma liar, tapi reputasi gue sebagai cowok berkelas bisa anjlok kalau dibilang satu atap sama cewek barbar kayak lo," sahut Devian, kembali ke mode menyebalkannya.

"Heh! Reputasi gue juga taruhannya, ya! Gue ogah dikira punya hubungan spesial sama cowok sok kegantengan kayak lo!" balas Aurel sengit.

Devian memutar bola matanya malas. "Makanya, sebelum ada lambe turah kampus yang tahu, kita harus bikin kesepakatan. Ma**k ke kamar lo. Kita rapat darurat."

"Dih? Enak aja main ma**k kamar anak gadis!"

"Gue nggak bakal ngapa-ngapain lo, Aurel. Badan lo yang kayak papan tripleks begitu nggak ada menarik-menariknya buat gue. Cepetan ma**k, atau gue kunciin lo dari luar!" ancam Devian, lalu dengan tidak sopan mendorong bahu Aurel agar cewek itu mundur ma**k ke kamarnya.

Aurel mendengus luar biasa sebal, tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia membiarkan Devian mengekor ma**k ke dalam kamarnya yang berukuran empat kali empat meter itu.

Devian menutup pintu kamar Aurel dengan rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di dekat lemari pakaian, sementara Aurel duduk di tepi ka**rnya dengan tangan bersendekap dada.

"Oke, langsung aja," kata Devian membuka obrolan. Dia merogoh saku celananya, mengambil ponsel pintarnya, lalu membuka aplikasi catatan. "Kita butuh aturan tertulis biar hidup kita di sini nggak saling mengganggu, dan yang paling penting: rahasia ini nggak boleh bocor ke luar."

"Setuju. Gue juga ogah hidup gue terusik gara-gara lo," sahut Aurel ketus. "Tulis poin pertamanya. Di kampus, kita pura-pura nggak kenal."

"Emang biasanya kita juga nggak pernah akrab," cibir Devian sambil mengetik cepat di ponselnya. "Poin satu: Dilarang saling menyapa di area kampus. Kalau papasan di koridor, kantin, atau perpustakaan, kita wajib pasang muka datar dan pura-pura nggak lihat. Anggap aja masing-masing dari kita itu makhluk gaib invisible."

"Sip. Bagus. Poin kedua," Aurel menimpali, bersemangat untuk menambahkan aturannya sendiri. "Dilarang ikut campur urusan pribadi masing-masing. Mau gue pulang jam berapa, mau gue bawa temen-temen gue ke kosan, atau mau gue ngapain aja, lo nggak berhak protes atau ngadu ke penjaga kos. Begitu juga sebaliknya."

Devian mengetuk-ngetuk jarinya di layar ponsel. "Oke, sepakat. Tapi ada pengecualian. Kalau temen-temen lo berisik di atas jam sepuluh malam dan mengganggu jam tidur gue, gue tetep bakal protes. Gue butuh tidur tenang buat pertahanin IPK gue yang sempurna."

"Sombong amat, najis," cibir Aurel pelan, namun dia tidak membantah karena dia sendiri juga menyukai ketenangan. "Oke, kesepakatan waktu tenang di atas jam sepuluh malam berlaku buat kita berdua."

"Poin ketiga," lanjut Devian, menatap Aurel dengan tatapan serius yang jarang dia perlihatkan. "Di area kosan ini, kita juga harus minimalisir interaksi. Jangan sampai ada anak kos lain yang curiga kalau kita itu saling kenalβ€”apalagi musuhan. Kalau ketemu di dapur umum atau ruang jemur, bersikap biasa aja. Nggak usah pakai acara adu bacot kayak biasanya."

"Itu sih maunya gue! Lo pikir gue doyan denger suara lo yang mirip kaleng rombeng?" balas Aurel sengit. "Satu lagi. Jangan pernah ketuk kamar gue kecuali dalam keadaan darurat yang mengancam nyawa. Kayak kebakaran, gempa bumi, atau kalau lo sekarat butuh ambulans."

Devian mendengus geli, sebuah senyum sinis terukir di sudut bibirnya. "Tenang aja. Bahkan kalau gue sekarat pun, orang terakhir yang bakal gue mint**n tolong itu lo. Gue lebih milih mati tenang daripada harus denger ocehan lo."

"Bagus kalau lo sadar diri!"

Devian selesai mengetik semua poin kesepakatan itu di ponselnya. Dia kemudian berjalan mendekati meja belajar Aurel, mengambil selembar kertas kosong dari buku catatan Aurel yang tergeletak di sana, beserta sebuah pulpen hitam. Dengan tulisan tangannya yang rapi namun tegas, Devian menyalin kembali poin-poin kesepakatan yang baru saja mereka rundingkan.

Setelah selesai, Devian meletakkan kertas itu di atas meja dan menyodorkan pulpen ke arah Aurel.

"Tanda tangan di sini. Ini bukti kesepakatan fisik kita. Biar kalau salah satu dari kita melanggar, ada sanksinya," ujar Devian.

"Sanksinya apa?" tanya Aurel sambil menyambar pulpen tersebut.

"Yang melanggar harus bayar denda satu juta rupiah, dan uangnya harus dipakai buat bayar kuota internet pihak yang dirugikan selama setahun," jawab Devian enteng.

Aurel membelalakkan matanya. "Satu juta?! G*** ya lo, lo kira gue pohon duit?!"

"Makanya jangan melanggar. Simpel, kan?" tantang Devian dengan senyum kemenangan yang membuat Aurel ingin sekali menjejalkan kaus kaki kotor ke mulut cowok itu.

Sambil menggerutu panjang pendek, Aurel membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut dengan coretan yang sangat tajam, seolah sedang menusuk wajah Devian lewat pulpen itu. Setelah selesai, dia melemparkan pulpen itu ke atas meja dan memberikan kertasnya kembali kepada Devian.

Devian tersenyum puas, lalu membubuhkan tanda tangannya sendiri di sebelah tanda tangan Aurel.

"Deal. Perjanjian damai resmi berlaku mulai detik ini," ucap Devian sambil melipat kertas tersebut dan mema**kkannya ke dalam saku celana.

"Perjanjian damai palsu," koreksi Aurel ketus. "Sekarang, silakan keluar dari kamar gue. Keberadaan lo di sini bikin sirkulasi udara di kamar gue jadi beracun."

"Dengan senang hati, Aurelie. Selamat menikmati hari pertama lo di kosan baru yang... sayangnya, bakal sering lo bagi atmosfernya bareng gue," ujar Devian dengan nada mengejek yang sangat kentara.

Sebelum Aurel sempat melempar bantal hiasnya, Devian sudah lebih dulu melangkah cepat keluar dari kamar nomor 10 dan menutup pintunya dengan bunyi klik yang pelan namun tegas.

Aurel mengembuskan napasnya dengan sangat keras, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ka**r empuknya. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan frustrasi yang luar biasa.

Bayangan tentang kehidupan kosan yang damai, estetik, dan penuh ketenangan seketika menguap begitu saja ke udara. Yang ada di depannya sekarang adalah medan perang dingin yang harus dia jalani setiap hari. Dia harus berbagi dinding pembatas yang tipis dengan musuh bebuyutannya.

"G***... cobaan hidup gue kenapa seberat ini, sih?" keluh Aurel pada sunyinya kamar.

Namun, di tengah rasa kesalnya yang meluap, Aurel mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia bertekad di dalam hati. Dia tidak boleh kalah dari Devian. Mulai besok, dia akan memasang radar kewaspadaan tingkat tinggi. Dia akan sebisa mungkin menghindari Devian di dapur, di koridor, di tangga, bahkan di parkiran. Dia harus bertahan hidup di Kos Cantika ini tanpa membiarkan cowok menyebalkan itu merusak hari-harinya.

"Lihat aja, Devian. Lo pikir lo bisa bikin gue gak betah di sini? *No way*," gumam Aurel dengan seringai penuh tekad yang mulai muncul di wajahnya. "Gue bakal bikin lo menyesal karena udah setuju tinggal di sebelah kamar gue."

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca