Satu Kosan Sama Musuh Bebuyutan

Bab 3: Tembok Tipis dan Perang Dingin

Pengaturan Membaca

**Bab 3: Tembok Tipis dan Perang Dingin**

Ternyata, menandatangani "perjanjian damai palsu" di koridor tempo hari sama sekali tidak menyelesaikan masalah. Malahan, itu adalah awal dari penderitaan tiada akhir bagi Aurel.

Hanya butuh waktu tiga hari bagi Aurel untuk menyadari satu kenyataan pahit: tembok kamar kos mereka sangat amat tipis. Saking tipisnya, Aurel merasa seperti sedang tinggal satu kamar dengan musuh bebuyutannya itu, hanya terhalang selembar tripleks tebal yang dicat putih.

Malam itu, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aurel baru saja merebahkan tubuhnya di ka**r, berniat untuk tidur cepat karena besok ada kelas pagi pukul tujuh. Namun, baru saja matanya terpejam, sebuah dentuman bas yang berat mendadak menghantam dinding kamarnya.

*Dug! Dug! Dug!*

Suara musik EDM bertempo cepat menghentak-hentak, menembus dinding kamar nomor 10 dengan begitu lancang. Aurel langsung melek. Dia menggeram frustrasi, menutup kedua telinganya dengan bantal. Tapi percuma, getaran dari kamar sebelah bahkan terasa sampai ke kepalanya.

"Devian si****," umpat Aurel.

Dia menyibak selimutnya dengan kasar, lalu menyambar sapu ijuk di sudut kamar. Tanpa ragu, Aurel memukulkan ujung gagang sapu ke arah tembok pembatas kamar mereka berkali-kali.

*TOK! TOK! TOK!*

"WOI, DEVIAN! MATIIN NGGAK MUSIK LO?! GUE MAU TIDUR!" teriak Aurel sekencang mungkin.

Musik itu mendadak berhenti. Sunyi sesaat. Aurel menghela napas lega dan baru saja hendak meletakkan sapunya kembali ketika sebuah suara berat dan teredam terdengar dari balik tembok.

"BERISIK, REY! GUE LAGI NYARI INSPIRASI BUAT TUGAS DESAIN!" balas Devian berteriak, suaranya terdengar sangat jelas seolah cowok itu sedang berdiri tepat di samping ka**rnya.

"INSPIRASI APAAN JAM SEGINI PAKE MUSIK DUGEM?! MATIIN ATAU GUE LAPORIN IBU KOS?!" ancam Aurel, tidak mau kalah.

Ada jeda beberapa detik sebelum terdengar gumaman ketus dari sebelah. "Cewek rewel. Sensitif amat kayak pantat bayi."

Meskipun menggerutu, untungnya suara musik itu akhirnya mati total. Aurel mengembuskan napas panjang, melempar sapunya ke lant**, lalu kembali mengempaskan tubuhnya ke ka**r. Dadanya masih kembang kempis menahan dongkol. Hari-hari tenang yang dia impikan di kosan ini resmi hancur lebur.

***

Pembalasan dendam berjalan dengan sangat cepat.

Keesokan harinya, giliran Aurel yang membuat Devian naik pitam. Pukul satu siang, Aurel harus memimpin rapat koordinasi divisi acara untuk festival kampus secara online via Zoom. Sebagai ketua divisi yang terkenal tegas dan perfeksionis, Aurel tentu saja berbicara dengan suara lantang dan penuh penekanan di depan laptopnya.

"Ya, untuk konsep *creative market*-nya, kita harus pastikan vendor makanan nggak boleh ada yang sejenis. Dan tolong, PJ perlengkapan segera *follow up* pihak tendaβ€”"

*BZZZZZZZTTTTT!*

Suara bising yang sangat nyaring tiba-tiba memotong kalimat Aurel. Itu adalah suara *hair dryer* yang dinyalakan dengan kekuatan penuh, tepat di balik tembok tempat Aurel bersandar.

Aurel tersentak, wajahnya langsung memerah menahan malu karena mikrofon Zoom-nya sedang menyala.

"Eh, Aurel? Maaf, itu di tempat kamu ada suara mesin apa, ya? Kenceng banget," tanya salah satu anggota divisinya lewat layar laptop.

Aurel buru-buru menekan tombol *mute*. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kukunya memutih. "Sengaja banget ini orang!" bisiknya geram.

Aurel sengaja mendekat ke tembok, lalu memukulnya sekali lagi. "Devian! Gue lagi rapat formal, ya! Bisa matiin dulu nggak pengering rambut lo yang kayak mesin gergaji itu?!"

"Gak bisa! Rambut gue basah, nanti gue ma**k angin!" sahut Devian dari seberang dengan nada yang terlampau sant**, bahkan terdengar seperti sedang mengejek.

Aurel terpaksa menyelesaikan rapatnya dengan menahan emosi setengah mati, menggunakan *earphone* paling rapat yang dia punya, sambil terus mengutuk cowok di sebelah kamarnya itu di dalam hati.

***

Perang dingin mereka tidak berhenti di area kamar saja, melainkan meluas hingga ke fasilitas bersama kosan.

Sore harinya, Aurel yang merasa kelaparan setelah seharian kuliah berniat membuat mi instan di dapur umum lant** dua. Dia sudah membawa panci kecil, sebungkus mi instan rasa soto, dan sebutir telur. Namun, begitu dia sampai di dapur, pemandangan menyebalkan langsung menyambutnya.

Devian sedang berdiri di depan kompor tunggal yang ada di sana, sedang asyik memasak nasi goreng. Cowok itu hanya memakai kaus oblong hitam longgar dan celana pendek, tampak sangat sant** seolah dapur itu adalah milik pribadinya.

"Minggir, gue mau pakai kompornya," ujar Aurel ketus, berdiri di samping Devian dengan melipat tangan di dada.

Devian melirik Aurel sekilas tanpa menghentikan kegiatan mengaduk nasi di wajannya. "Antre, Aurelie. Nggak lihat gue lagi masak? Lo pikir ini dapur nenek moyang lo?"

"Gue laper banget, ya! Lo masak nasi goreng lama banget, mending gue dulu yang cuma rebus mi instan. Cuma lima menit!" paksa Aurel.

"Gak ada. Perut gue lebih berharga daripada mi instan instan lo yang nggak bergizi itu," balas Devian dingin. Dia sengaja memperlambat gerakannya, menuangkan kecap dengan gaya super lambat yang sengaja dibuat-buat untuk memancing emosi Aurel.

"Devian, lo bener-benerβ€”"

"Apa? Mau nangis?" goda Devian, menoleh ke arah Aurel dengan seringai menyebalkan yang membuat Aurel ingin sekali menjejalkan spatula kayu di tangan cowok itu ke dalam mulutnya.

Karena terlanjur kesal, Aurel sengaja menyenggol lengan Devian saat hendak mengambil mangkuk di rak atas. "Aduh, sori. Sengaja," ucap Aurel datar.

Devian mendengus, menatap Aurel tajam. "Oh, main fisik sekarang? Oke."

Ketika Devian selesai masak dan hendak memindahkan nasi gorengnya ke piring, dia dengan sengaja menaruh wajan panas yang baru dipakainya tepat di depan wastafel, menghalangi akses Aurel untuk mengambil air untuk rebusan minya.

"Awas panas, ya," ujar Devian lempeng, lalu melenggang pergi membawa piring nasi gorengnya dengan senyum penuh kemenangan.

"DEVIAN SIALAAAN!" pekik Aurel frustrasi.

***

Puncak dari segala kekacauan minggu itu terjadi di area jemuran lant** atas.

Hari Minggu adalah hari mencuci nasional bagi anak kos. Aurel sudah bangun sejak pagi-pagi buta demi mendapatkan spot jemuran yang paling banyak terkena sinar matahari langsung. Dia sudah menjemur seluruh pakaiannya dengan rapi.

Namun, ketika sore hari Aurel hendak mengambil jemurannya, dia mendapati pemandangan yang membuat darahnya langsung mendidih.

Semua baju-baju miliknya yang berwarna cerah telah digeser dengan kasar ke sudut jemuran yang teduh dan terhalang tembok. Sementara itu, di area tengah yang panasnya maksimal, kini berjejer rapi kaus-kaus hitam, jaket hoodie, hingga celana jins milik Devian.

Aurel langsung mengambil ponselnya dari saku celana. Dengan jari yang gemetar karena emosi, dia mengetik pesan di WhatsApp.

**Aurel:** *LO APA-APAAN SIH?! Kenapa jemuran gue digeser ke tempat teduh?! Baju gue belum kering semua, b***!*

Hanya butuh beberapa detik sampai status Devian berubah menjadi *Online*, lalu membalas.

**Devian:** *Baju lo kan tipis-tipis, kena angin dikit juga kering. Jaket sama jins gue tebel, butuh sinar UV maksimal.*

**Aurel:** *Gak mau tahu! Balikin jemuran gue ke tempat semula! Lo egois banget jadi manusia ya!*

**Devian:** *Males. Lagian siapa cepat dia dapat.*

**Aurel:** *GUE YANG DATENG DULUAN TADI PAGI, DEVIAN MAHARDIKA!*

**Devian:** *Tapi gue yang berkuasa siang ini. Bye, mau nge-game.*

Aurel menatap layar ponselnya dengan mata membelalak. "Sumpah ya, ini orang urat saraf malunya udah putus!" umpatnya keras-keras di area jemuran yang sepi.

Tanpa pikir panjang, Aurel langsung mengeksekusi aksi balas dendam instan. Dia mengambil gantungan baju berisi hoodie hitam kesayangan Devian, lalu memindahkannya ke gantungan paling pojok yang sangat dekat dengan pipa pembuangan air AC yang kotor.

"Rasain lo, biar bau apek sekalian!" gumam Aurel puas sambil tersenyum sinis.

***

Malam harinya, perang dingin beralih kembali ke dalam kamar lewat ketukan-ketukan dinding dan pesan singkat yang saling menyerang.

*Dug!* (Suara ketukan dari kamar Devian).

Satu pesan ma**k di ponsel Aurel.

**Devian:** *Suara ketawa lo kayak kuntilanak pas nonton drakor. Kecilin dikit, kuping gue panas.*

Aurel mendengus geli, langsung mengetik balasan.

**Aurel:** *Suka-suka gue! Daripada lo, suara ngorok lo kedengeran sampe kamar gue! Mirip traktor rusak tahu gak?!*

**Devian:** *Gue gak ngorok, fitnah lo.*

**Aurel:** *Gue denger pake kuping gue sendiri ya! Tembok ini tipis banget kayak moral lo, jadi jangan harap lo bisa ngelak!*

**Devian:** *Besok-besok gue beliin lo obat budek biar gak usah denger apa-apa sekalian.*

**Aurel:** *Beliin diri lo sendiri kaca gih, biar sadar seberapa s****nya lo jadi tetangga!*

Aurel melempar ponselnya ke atas ka**r, lalu menatap langit-langit kamar kosnya dengan helaan napas berat. Kamar nomor 10 yang awalnya dia bayangkan sebagai tempat pelarian paling damai dan nyaman dari penatnya dunia perkuliahan, kini resmi berubah menjadi medan perang harian yang menguras energi.

Setiap kali mendengar langkah kaki di koridor luar, Aurel otomatis akan merasa panik, takut kalau-kalau dia harus berpapasan dengan wajah menyebalkan Devian. Setiap kali ingin ke toilet atau dapur, dia harus mengintip lewat celah pintu terlebih dahulu demi memastikan situasi aman dari keberadaan musuh bebuyutannya itu.

Aurel memejamkan matanya rapat-rapat, meratapi nasibnya yang malang. "Ya tuhan... baru seminggu aja rasanya tensi gue udah naik ratusan persen. Gimana gue bisa bertahan satu tahun di kosan ini kalau tiap hari harus satu atap sama Devian?!" bisiknya frustrasi pada kesunyian kamar.

Dan seolah menjawab keluhannya, dari balik tembok sebelah, terdengar suara tawa pelan Devian yang samar namun c**up jelas untuk membuat Aurel kembali meraih bantalnya dan berteriak sekencang-kencangnya di sana. Perang ini jelas masih jauh dari kata usai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca