Gerimis tipis mengguyur Jakarta malam itu, membawa hawa dingin yang perlahan menembus celah-celah jendela kamar kos Aurel. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Kamar nomor 10 yang biasanya bising oleh berbagai macam polusi suara—mulai dari musik EDM kencang sampai bunyi *hair dryer* yang disengaja—malam ini terasa sangat sunyi.
Aurel sedang rebahan di ka**rnya yang sempit, menatap layar laptop yang menampilkan draf proposal kegiatan festival kampus. Matanya sudah terasa sangat perih dan lengket, efek begadang berhari-hari demi mengejar *deadline*. Namun, kafein dari kopi saset yang dia minum dua jam lalu masih bekerja dengan sangat baik di dalam tubuhnya, membuat kepalanya tetap terjaga meskipun tubuhnya sudah berteriak minta diistirahatkan.
Sejak insiden balas dendam menggunakan *hair dryer* dan Zoom meeting kemarin lusa, mereka berdua sempat melakukan gencatan senjata sementara. Bukan karena mereka tiba-tiba sadar dan mau berteman, melainkan karena mereka sama-sama capek lahir batin untuk bertengkar terus-menerus. Aurel menghela napas lega, bersyukur karena setidaknya malam ini dia bisa fokus bekerja tanpa perlu emosi jiwa menghadapi tingkah menyebalkan cowok di sebelah.
Namun, ketenangan itu ternyata tidak bertahan lama.
*Drrrtt... drrrtt... drrrtt...*
Suara getaran ponsel di atas meja kayu kamar sebelah terdengar sangat jelas. Tembok tipis ini memang luar biasa ajaib. Saking tipisnya, Aurel bahkan bisa mendengar suara gesekan selimut saat Devian bergerak di ka**rnya untuk meraih ponsel tersebut.
Aurel memutar bola matanya malas. *Siapa sih yang teleponan jam segini?* batinnya kesal. Dia sudah bersiap-siap mengambil sapu ijuk di sudut kamar, berjaga-jaga kalau Devian mulai berisik lagi dan mengganggu fokusnya.
"Halo, Pa?"
Suara Devian terdengar berat dan serak, khas orang yang baru bangun tidur.
Aurel awalnya berniat untuk mengabaikan suara itu dan kembali mengetik draf proposalnya. Namun, suara dari seberang telepon yang terdengar samar-samar lewat speaker ponsel Devian mendadak meninggi. Nadanya begitu tajam dan penuh penekanan, membuat jemari Aurel di atas *keyboard* laptop langsung terhenti seketika. Tembok tipis pembatas kamar mereka seolah-olah kehilangan fungsinya, membiarkan setiap kata dari percakapan itu lolos begitu saja ke telinga Aurel.
"Devian! Papa tidak mau dengar alasan lagi!" Suara seorang pria paruh baya, yang terdengar sangat berwibawa namun dingin, menembus dinding kamar. "Kamu sengaja tidak memberi tahu Papa soal nilai semester lalu, kan?"
"Bukan gitu, Pa. Devian cuma belum sempat—"
"Jangan bohong!" potong suara itu dengan nada kasar yang membuat Aurel refleks tersentak di tempat duduknya. "Papa sudah telepon pihak kaprodi kamu. Nilai kamu memang bagus, tapi untuk apa? Nilai A di jurusan main-main seperti itu tidak ada gunanya sama sekali! Mau jadi apa kamu nanti? Seniman jalanan? Desainer miskin?"
Aurel menahan napasnya. Dia tahu Devian mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual, dan cowok itu memang terkenal sangat berbakat di kampus. Karya-karyanya sering dipajang di galeri fakultas dan dipuji oleh banyak dosen. Tapi mendengar bagaimana bakat luar biasa itu direndahkan sedemikian rupa oleh ayah kandungnya sendiri, ada rasa sesak yang tiba-tiba menyelinap di dada Aurel.
"Ini bukan jurusan main-main, Pa," suara Devian terdengar bergetar, mencoba membela diri meskipun terdengar sangat lemah dan ketakutan. Nada sombong dan menyebalkan yang biasa dia tunjukkan di kampus menguap entah ke mana. "Devian suka di sini. Devian bisa berkembang, Pa. Tugas-tugas Devian bahkan sempat dapet apresiasi dari—"
"Apresiasi apa? Piala pajangan yang tidak bisa menghasilkan uang?!" potong ayahnya lagi tanpa belas kasihan. "Kamu itu anak Papa, Devian! Kamu harus seperti kakakmu, Adrian. Dia sudah mengelola anak perusahaan Papa di usianya yang sekarang. Sedangkan kamu? Malah sibuk menggambar hal-hal tidak berguna!"
"Tapi Devian bukan Kak Adrian, Pa..." gumam Devian lirih. Suaranya terdengar sangat frustrasi, seolah dia sudah mengulang kalimat yang sama ratusan kali dalam hidupnya.
"Papa tidak mau tahu. Semester depan, kamu harus urus surat kepindahan ke jurusan Manajemen atau Hukum. Papa sudah siapkan semuanya. Kamu harus jadi nomor satu di sana, mengerti? Jangan membuat malu nama keluarga!"
"Pa, tolong... sekali ini aja, dengerin Devian..." nada suara Devian kini benar-benar terdengar memelas, nyaris seperti anak kecil yang memohon agar tidak dihukum. "Devian nggak mau ma**k Manajemen. Devian nggak suka..."
"Papa tidak butuh pendapatmu, Devian. Papa yang membiayai semua fasilitasmu, kosanmu, hidupmu. Kalau kamu masih membangkang, silakan cari uang sendiri untuk bayar kuliah tidak bergunamu itu! Mengerti?!"
*Klik.*
Sambungan telepon diputus secara sepihak dari seberang sana.
Keheningan yang sangat pekat mendadak menyelimuti kosan. Namun, kali ini keheningan itu terasa sangat berat, mencekam, dan menyesakkan dada.
Aurel masih terpaku di atas ka**rnya. Laptopnya yang masih menyala kini diabaikan begitu saja. Dia tidak berani bergerak sedikit pun, bahkan untuk sekadar menarik napas dengan keras, takut kalau suara sekecil apa pun dari kamarnya akan mengganggu keheningan di sebelah. Dia merasa bersalah karena telah menguping pembicaraan yang begitu pribadi dan menyakitkan, namun di sisi lain, dia terlalu syok dengan apa yang baru saja didengarnya.
Tiba-tiba, terdengar suara benda berat yang dilempar kasar ke arah ka**r—mungkin ponsel Devian.
Diikuti oleh suara helaan napas yang sangat panjang dan berat. Dan kemudian... suara yang paling tidak pernah Aurel bayangkan akan keluar dari seorang Devian.
Suara isakan kecil yang tertahan.
Aurel tertegun. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.
Devian. Cowok paling menyebalkan se-fakultas, yang selalu bertingkah sok keren, mengendarai motor sport mahal dengan gaya angkuh, berisik, dan selalu punya cara untuk membuat hari Aurel terasa seperti neraka... sekarang sedang menangis di balik dinding kamarnya.
Suara isakan itu terdengar sangat rapuh dan menyedihkan. Tampaknya Devian sedang menutupi wajahnya dengan bantal untuk meredam suaranya, namun karena dinding kamar mereka yang hanya selembar tripleks tebal, suara tangis frustrasi yang sarat akan tekanan itu tetap lolos dan terdengar sangat jelas.
"Kenapa sih... kenapa selalu nggak pernah c**up?" gumam Devian dengan suara yang sangat serak dan bergetar hebat. "Gue harus gimana lagi..."
Mendengar gumaman putus asa itu, Aurel merasakan dadanya mendadak terasa sangat ngilu. Ada rasa empati yang sangat besar yang tiba-tiba menyeruak, menggantikan semua rasa benci, kesal, dan dendam yang selama ini dia simpan untuk cowok itu.
Selama ini, Aurel selalu berpikir bahwa hidup Devian sangat sempurna dan menyenangkan. Dia tampan, populer, kaya, dan seolah bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan dengan mudah. Aurel sering mengutuk nasibnya sendiri yang harus berjuang keras demi mendapatkan beasiswa, sementara cowok seperti Devian bisa hidup sant** tanpa beban.
Namun malam ini, topeng kesempurnaan itu hancur berkeping-keping di depan mata—atau lebih tepatnya, di telinga Aurel.
Di balik semua kesombongan dan sikap menyebalkan Devian di kampus, ternyata ada seorang anak laki-laki yang sedang ditekan habis-habisan oleh ekspektasi luar biasa besar dari orang tuanya. Seseorang yang dipaksa membunuh impian dan bakatnya sendiri demi memenuhi ego sang ayah yang tidak pernah puas. Seseorang yang merasa sangat kesepian dan tidak berdaya, meskipun dikelilingi oleh banyak orang di luar sana.
Aurel perlahan-lahan menurunkan kakinya dari ka**r. Dengan gerakan yang sangat pelan dan tanpa suara, dia berjalan mendekati tembok pembatas kamar mereka. Dia mendudukkan dirinya di lant** yang dingin, lalu menyandarkan punggungnya pada dinding putih tersebut, tepat di titik di mana dia memperkirakan Devian sedang bersandar di seberang sana.
Aurel menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya yang temaram. Dia melipat kedua lututnya dan memeluknya erat. Dia ingin sekali mengetuk tembok itu, ingin mengatakan sesuatu untuk menenangkan cowok di sebelah, atau setidaknya memberi tahu bahwa dia tidak sendirian. Namun, Aurel tahu itu adalah ide yang buruk. Devian adalah cowok dengan harga diri yang sangat tinggi. Jika dia tahu Aurel mendengar semua kerapuhannya malam ini, Devian pasti akan merasa sangat malu dan membencinya setengah mati.
Jadi, yang bisa Aurel lakukan sekarang hanyalah duduk diam di sini, menemani musuh bebuyutannya yang sedang hancur sendirian di balik dinding.
Suara tangisan di sebelah perlahan-lahan mulai mereda, digantikan oleh suara helaan napas yang teratur, menandakan kalau cowok itu mungkin sudah mulai tenang atau bahkan tertidur karena terlalu lelah menangis.
Aurel memejamkan matanya rapat-rapat. Malam ini, gerimis di luar kamar terasa lebih dingin dari biasanya. Dan malam ini juga, untuk pertama kalinya, pandangan Aurel terhadap Devian berubah total. Dia bukan lagi sekadar musuh bebuyutan yang harus dia lawan setiap hari.
Devian hanyalah seorang manusia biasa yang sedang terluka parah, terperangkap dalam sangkar emas yang perlahan-lahan mencekik lehernya sendiri.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!