Bab 5: Sogokan Nasi Padang
Sejak malam di mana Aurel tidak sengaja mendengar pertengkaran hebat antara Devian dan ayahnya lewat dinding kamar mereka yang setipis lembaran tisu, suasana di antara keduanya mendadak berubah. Tidak ada lagi perang suara *hair dryer* vs EDM di pagi hari. Tidak ada lagi aksi saling sindir saat berpapasan di depan dispenser.
Namun, ada hal lain yang mulai menarik perhatian Devian.
Aurelβsi cewek menyebalkan yang biasanya selalu punya stok energi tak terbatas untuk mengajaknya baku hantam verbalβbelakangan ini terlihat seperti zombi hidup.
Devian yang sering begadang demi menyelesaikan tugas-tugas kuliah DKV-nya, beberapa kali menyadari suara pintu gerbang kosan yang terbuka pelan di atas jam sebelas malam. Lewat celah gorden kamarnya yang menghadap ke halaman depan, Devian sering melihat Aurel berjalan gont** dengan bahu merosot, masih mengenakan almamater kampus atau kaus hitam polos khas kru *event*.
Awalnya Devian cuek. *Palingan juga sibuk tebar pesona di organisasi,* pikirnya sinis.
Sampai pada suatu sore, saat Devian sedang rebahan sant** di sofa ruang tengah kosan sambil bermain *game* di ponselnya, dia mendengar Aurel sedang menelepon seseorang di dekat area jemuran. Suara Aurel terdengar sangat pelan, jauh dari nada ketus yang biasa dia gunakan sehari-hari.
"Iya, Ibu... uang kuliah semester ini udah beres, kok. Ibu nggak usah kepikiran, ya? Aurel kan udah dapet kerjaan paruh waktu di kafe deket kampus. Gajinya lumayan banget buat nambah-nambahin bayar UKT mandiri sama uang kos."
Devian menurunkan ponselnya. Layar *game*-nya menampilkan tulisan *DEFEAT*, tapi dia tidak peduli.
"Ibu sehat-sehat di sana, ya. Aurel di sini makannya teratur, kok. Kemarin malah habis makan enak sama anak-anak kos."
Devian berdecit pelan dalam hati. *Makan enak apanya?* Kemarin malam dia jelas-jelas melihat Aurel hanya menyeduh satu bungkus mi instan kuah tanpa telur, lalu membaginya menjadi dua porsi untuk dimakan malam itu dan keesokan paginya.
Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Entah kenapa, ada rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyusup di dadanya. Kenyataan bahwa musuh bebuyutannya harus membanting tulang demi bertahan hidup di Jakarta sendirian, sementara dirinya sendiri masih bisa mengeluh tentang pilihan jurusan kuliah, mendadak terasa seperti tamparan tidak kasat mata.
***
Hari Kamis pukul delapan malam.
Hujan baru saja reda, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang. Aurel baru saja melangkah ma**k ke dalam koridor kosan dengan langkah gemetar. Hari ini benar-benar menguras seluruh energinya. Setelah kelas pagi yang padat, dia harus langsung berlari ke tempat kerjanya dan berdiri selama enam jam melayani pelanggan kafe yang sedang ramai-ramainya.
Lututnya rasanya mau copot. Ditambah lagi, kepalanya mulai terasa pusing berputar karena dia sengaja melewatkan makan siang demi menghemat uang sakunya yang tinggal beberapa puluh ribu rupiah sampai akhir bulan.
Aurel bersandar di tembok koridor, memejamkan mata sejenak untuk meredakan rasa pusingnya. Wajahnya pucat pasi, bibirnya kering. Dia memegangi perutnya yang sedari tadi sudah berbunyi nyaring, melakukan protes keras karena hanya diisi segelas air putih sejak siang.
"Gue harus masak mi instan lagi kayaknya," gumam Aurel lirih pada dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak punya tenaga bahkan hanya untuk sekadar menyalakan kompor.
Tepat saat dia hendak melangkah menuju kamarnya, pintu kamar nomor 9 di sebelahnya terbuka.
Devian berdiri di ambang pintu. Cowok itu mengenakan hoodie hitam longgar dan celana pendek. Di tangan kanannya, ada sebuah kantong plastik putih berukuran c**up besar yang mengeluarkan aroma sangat wangi dan menggoda iman.
Aroma bumbu rendang, gulai, dan sambal ijo langsung menyerbu indra penciuman Aurel, membuat air liurnya hampir menetes detik itu juga.
Aurel mengerutkan keningnya, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya untuk memasang wajah defensif yang biasa dia tunjukkan di depan Devian. "Apa? Mau pamer makanan?" tanyanya dengan suara serak yang nyaris habis.
Devian tidak langsung menjawab. Dia menatap Aurel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tatapan matanya yang biasanya menyebalkan dan penuh ejekan, malam ini tampak sedikit berbeda. Ada gurat kecemasan yang coba dia sembunyikan rapat-rapat di balik ekspresi datarnya yang sok cool.
"Nih," Devian menyodorkan kantong plastik itu tepat di depan wajah Aurel.
Aurel mundur selangkah, menatap kantong plastik itu dan wajah Devian bergantian dengan penuh kecurigaan. "Apaan nih? Lo mau ngeracunin gue ya?"
Devian mendengus, memutar bola matanya malas. Gengsinya yang setinggi langit mendadak aktif kembali. "Sembarangan. Kurang kerjaan banget gue ngeracunin lo. Ini Nasi Padang."
"Ya terus? Kenapa dikasih ke gue?"
"Tadi gue laper banget, terus mesen GoFood. Tapi dasar aplikasi si****, sistemnya eror atau gimana gak tahu, malah kepencet dua porsi menu yang sama. Nasi rendang komplit pakai paru goreng," dusta Devian dengan wajah sedatar tripleks. Padahal, dia sengaja berkendara menembus sisa gerimis ke rumah makan Padang di ujung jalan demi membeli makanan ini. Dia bahkan sengaja meminta porsi nasinya ditambah.
Aurel menyipitkan matanya. "Masa? Seorang Devian yang teliti bisa salah klik porsi? Lo gak lagi bohong kan?"
"Heh, kalau gak mau ya udah!" Devian pura-pura hendak menarik kembali kantong plastik itu. "Gue buang aja ke tong sampah depan. Mubazir sih sebenarnya, tapi ya daripada menuh-menuhin tempat sampah kamar gue dan bikin bau gulai ke mana-mana."
"Eh, jangan!" refleks Aurel menahan lengan hoodie Devian. Sentuhan singkat itu membuat keduanya sempat tertegun sejenak. Aurel yang sadar langsung melepaskan tangannya dengan canggung, pipinya mendadak terasa sedikit hangat meskipun udara malam itu sangat dingin.
"Sayang kalau dibuang... pamali," cicit Aurel pelan. Perutnya kembali berbunyi *kruuuk* dengan sangat lantang di tengah keheningan koridor kosan.
Wajah Aurel langsung memerah padam karena malu setengah mati. Dia ingin sekali tenggelam ke dalam lant** kosan detik itu juga.
Devian menahan senyumnya agar tidak pecah. Dia berdeham pelan untuk menutupi rasa gelinya. "Tuh, cacing di perut lo udah demo anarkis. Ambil gih. Gue beneran gak bakal habis makan dua porsi besar begini."
Aurel menatap bungkusan hangat di tangannya yang kini sudah berpindah tangan. Kehangatan dari nasi yang baru matang itu merambat ke telapak tangannya yang dingin. Wangi kuah gulai yang gurih benar-benar meruntuhkan seluruh pertahanan dan gengsi yang selama ini dia bangun di depan Devian.
"Ini... beneran buat gue?" tanya Aurel memastikan, suaranya melunak.
"Iya, bawel. Buruan makan sebelum dingin. Gak enak kalau kuahnya udah membeku," sahut Devian sambil mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie, mencoba bersikap seolah-olah hal ini bukan masalah besar baginya.
Aurel menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan aneh yang membuncah di dadanya. Musuh bebuyutan yang biasanya membuat tensi darahnya naik, malam ini justru menjadi penyelamat perutnya yang kelaparan.
"Makasih ya, Dev," ucap Aurel tulus. Ini adalah pertama kalinya dia mengucapkan terima kasih kepada Devian tanpa ada nada sarkasme di dalamnya.
Devian sempat terpaku mendengar ucapan tulus itu. Dia terbiasa mendengar Aurel berteriak marah atau mendengus kesal padanya. Mendengar suara lembut cewek itu mendadak membuat jantungnya memberikan reaksi aneh yang tidak bisa dia jelaskan.
"Hmm, sama-sama. Anggap aja itu sebagai kompensasi karena lo gak berisik akhir-akhir ini," jawab Devian, masih mencoba mempertahankan mode gengsinya. "Yaudah, gue ma**k dulu."
Namun, baru saja Devian hendak membalikkan badan, Aurel memanggilnya lagi.
"Dev?"
Devian menoleh. "Apa lagi?"
Aurel menunjuk area ruang tengah kosan yang kosong dan sepi. "Lo... mau makan bareng di luar gak? Maksud gue, di meja makan tengah. Kamar gue sempit, bau gulainya pasti susah ilang kalau makan di dalam." Aurel merutuki dirinya sendiri dalam hati. *Kenapa juga gue malah ngajakin dia makan bareng?!*
Devian menatap Aurel sejenak. Melihat wajah pucat cewek itu yang perlahan mulai kembali berwarna karena gembira melihat makanan, Devian akhirnya mengembuskan napas pasrah. Pertahanannya runtuh juga.
"Yaudah. Tapi jangan GR ya, gue cuma males kamar gue bau bumbu Padang aja," kilah Devian.
Aurel terkekeh pelanβsebuah tawa renyah yang sudah lama tidak Devian dengar. "Iya, iya, si paling steril. Kamar lo kan udah kayak museum, rapi banget."
Keduanya pun berjalan beriringan menuju meja makan kayu di ruang tengah kosan yang remang-remang. Aurel dengan cekatan membuka bungkusan nasi Padang miliknya, sementara Devian kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil porsi miliknya sendiri dan dua gelas air putih hangat.
Saat bungkusan kertas minyak itu terbuka sempurna, uap hangat langsung mengepul, membawa aroma harum daun singkong rebus, sambal ijo yang melimpah, kuah kuning yang kental, dan potongan rendang yang besar serta empuk.
Aurel tidak bisa menahan senyum lebarnya. Dia langsung menyendok nasi dan lauknya dengan sendok garpu yang dia ambil dari dapur bersama, lalu menyuapkannya ke dalam mulut dengan tidak sabar.
"Enak banget..." gumam Aurel dengan mata terpejam, menikmati setiap kunyahan seolah itu adalah makanan termewah yang pernah dia makan seumur hidupnya.
Devian yang duduk di seberangnya memperhatikan ekspresi wajah Aurel tanpa berkedip. Ada rasa lega yang luar biasa mengalir di dalam dirinya melihat cewek itu akhirnya makan dengan lahap.
"Pelan-pelan makannya, kayak gak makan setahun aja lo," celetuk Devian, namun nadanya kali ini sama sekali tidak terdengar mengejek. Lebih terdengar seperti sebuah perhatian yang disamarkan.
"Gue emang seharian belum makan nasi, Dev," sahut Aurel jujur di sela-sela kunyahannya. "Tadi di kafe rame banget, gak sempat istirahat."
Devian terdiam. Dia menyendok nasinya sendiri, mengunyahnya pelan sebelum akhirnya membuka suara. "Gak usah terlalu dipaksain kerja kali, Rel. Kuliah lo gimana nanti kalau lo sakit terus?"
Aurel menghentikan gerakan sendoknya sejenak. Dia menatap Devian, terkejut mendengar perhatian yang tidak biasa dari cowok itu. Namun, kehangatan dari makanan di depannya membuat dinding pertahanan Aurel runtuh. Dia tidak merasa perlu menyembunyikan apa pun lagi malam ini.
"Mau gimana lagi? Jalur mandiri kan mahal banget, Dev. Orang tua gue di kampung udah susah-susah ngumpulin uang buat bayar uang pangkal kemarin. Untuk semesteran selanjutnya, gue harus usaha sendiri biar gak terlalu ngebebanin mereka," ujar Aurel dengan nada suara yang tenang, namun tersirat kedewasaan yang membuat Devian semakin kagum secara diam-diam.
Devian menatap cewek di depannya dengan pandangan yang kini sepenuhnya melunak. Keangkuhan yang biasanya dia tunjukkan menguap begitu saja ke udara malam.
"Hebat lo," gumam Devian pelan, hampir seperti bisikan.
"Hah? Lo ngomong apa?" tanya Aurel yang tidak terlalu mendengar karena fokus mengunyah paru gorengnya yang renyah.
"Gak ada. Gue cuma bilang, makan tuh sambalnya dihabisin, mubazir," elak Devian cepat, wajahnya sedikit memerah karena hampir saja ketahuan memuji musuhnya sendiri.
Aurel tertawa kecil, matanya menyipit membentuk bulan sabit yang manis. "Tenang aja, bakal gue bersihin sampai ke kertas-kertasnya kalau perlu!"
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang tengah kosan yang sederhana, dengan aroma kuah gulai yang menguar di udara dan suara sisa gerimis di luar sana, perang dingin di antara dua penghuni kamar nomor 9 dan 10 resmi mencair. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ego yang saling berbenturan. Yang ada hanyalah kehangatan sederhana yang tercipta dari sebungkus nasi Padang dan sebuah perhatian kecil yang dibungkus dengan gengsi yang perlahan mulai meluruh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!