Guntur menggelegar membelah langit Jakarta, disusul suara hantaman air hujan yang mendadak turun dengan sangat deras. Angin kencang berembus kencang, membuat kaca jendela kamar kos Aurel bergetar pelan.
Aurel yang baru saja merebahkan tubuh lelahnya di ka**r langsung tersentak. Kepalanya masih terasa pening, sisa dari kelelahan bekerja paruh waktu hari ini. Dia menarik selimut tipisnya sampai ke dada, mencoba mengabaikan rasa dingin yang mulai menusuk kulit.
*Cklek.*
Tiba-tiba, lampu kamar Aurel padam. Bukan hanya kamarnya, tapi seluruh koridor Kos Cantika mendadak gelap gulita. AC yang tadinya mendengung pelan langsung mati, menyisakan kesunyian yang mencekam di tengah deru hujan.
Jantung Aurel langsung berdegup dua kali lebih cepat. Napasnya mulai terasa memburu. *Nyctophobia*—ketakutan akut pada kegelapan—adalah kelemahan terbesar yang selalu dia sembunyikan rapat-rapat. Bagi orang lain, mati lampu mungkin hanya masalah sepele. Namun bagi Aurel, kegelapan total seperti ini terasa seperti ruangan sempit yang perlahan-lahan menghimpit dada dan mencekik napasnya.
"Gak, gak... tenang, Rel. Cuma mati lampu biasa," bisik Aurel pada diri sendiri. Tangannya yang gemetar meraba-raba ka**r, mencari ponselnya.
Begitu layarnya menyala, hatinya mencelos. Baterainya tinggal dua persen. Belum sempat dia menyalakan fitur senter, layar ponsel itu berkedip sekali, lalu mati total karena kehabisan daya.
"A****! Kenapa harus sekarang, sih?!" pekik Aurel frustrasi. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Kegelapan di sekelilingnya terasa semakin pekat dan menakutkan. Dia meringkuk, melipat lututnya ke dada, dan menyembunyikan wajahnya di sana sambil terisak pelan. Dia benar-benar merasa lumpuh dan tidak bisa bergerak.
Di tengah keputusasaannya, terdengar suara ketukan pelan di pintunya.
*Tok, tok, tok.*
"Rel? Aurel? Lo di dalem?"
Suara itu berat, familier, dan sangat tidak asing. Itu suara Devian.
Aurel tidak bisa menjawab. Tenggorokannya terasa tercekat.
"Rel, gue tahu lo di dalem. Buka pintunya, Rel. Lo gak apa-apa, kan?" Suara ketukan di pintu terdengar lebih mendesak sekarang.
Devian tahu. Dia ingat betul kejadian beberapa bulan lalu saat kosan mereka sempat mati lampu sebentar, dan dia tidak sengaja mendengar suara napas tersengal-sengal Aurel dari balik dinding kamar mereka yang tipis. Cowok itu sadar kalau musuh bebuyutannya ini punya ketakutan luar biasa pada kegelapan.
Pintu kamar Aurel perlahan terbuka dari dalam. Di ambang pintu, tampak Aurel berdiri dengan wajah seputih kertas. Matanya sembap, dan tangannya mencengkeram kusen pintu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Di hadapannya, Devian berdiri sambil memegang sebuah lilin kecil yang menyala di atas tatakan gelas. Cahaya oranye yang lembut dari lilin itu seketika menerangi wajah Devian, memperlihatkan gurat kecemasan yang jarang sekali—bahkan tidak pernah—ditunjukkannya pada Aurel.
"Hey," sapa Devian lembut, sangat jauh dari nada ketus yang biasa dia gunakan. "Gue bawa lilin. Di kamar lo pengap banget kalau mati lampu begini. Yuk, di ruang tengah aja. Lebih lega."
Aurel tidak punya tenaga lagi untuk gengsi atau mendebat cowok itu. Dia hanya mengangguk pelan, lalu mengekor di belakang Devian dengan langkah gont** menuju ruang tengah kosan.
Mereka berdua akhirnya duduk lesehan di atas karpet bulu di ruang tengah. Devian meletakkan lilin di atas meja kayu rendah di antara mereka. Suasana kosan sangat sepi karena sebagian besar anak kos lainnya sedang pulang kampung karena akhir pekan panjang, atau mungkin sedang tidur pulas di kamar masing-masing.
"Nih," Devian menyodorkan sebuah bungkusan kertas cokelat yang masih terasa hangat ke hadapan Aurel. "Nasi Padang. Lauk ayam pop kesukaan lo."
Aurel mengerjapkan matanya yang masih basah. "Lo... kok tahu?"
"Gue sering lihat lo pesen itu kalau lagi dapet kiriman bulanan," jawab Devian sant**, meski telinganya sedikit memerah. Dia mengalihkan pandangan ke arah lilin. "Makan deh. Lo kayak zombi hidup belakangan ini. Gue gak mau ya, dituduh macem-macem kalau lo pingsan di kosan karena kelaparan."
Meskipun kalimat terakhirnya terdengar ketus, Aurel tahu itu hanyalah cara Devian untuk menutupi rasa pedulinya. Perut Aurel yang sedari tadi berbunyi akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Dia membuka bungkusan itu dan mulai makan dengan pelan. Rasa hangat dari nasi dan ayam pop itu perlahan mengembalikan energinya yang sempat terkuras habis.
Devian hanya memperhatikan dalam diam, sesekali membenarkan posisi lilin agar tidak tertiup angin yang ma**k dari celah jendela.
"Makasih," gumam Aurel pelan setelah menyelesaikan makannya. Dia meneguk air putih yang juga sudah disiapkan Devian di dekatnya.
"Sama-sama," balas Devian pendek. Dia meluruskan kakinya, bersandar pada sofa di belakang mereka. "Jadi... lo kerja *part-time* di kafe deket kampus?"
Aurel membeku sejenak, lalu mengembuskan napas pasrah. Ternyata pertahanannya memang sudah runtuh sepenuhnya malam ini. "Lo denger ya, pas gue telepon Ibu kemarin?"
Devian mengangguk jujur. "Dinding kosan kita setipis lembaran tisu, Rel. Lo lupa?"
Aurel tersenyum kecut. Dia memeluk lututnya, menatap nyala lilin yang menari-nari ditiup angin malam. "Gue terpaksa, Dev. Biaya kuliah mandiri makin mahal. Ibu di kampung udah kewalahan biayain adik-adik gue. Gue gak mau egois dengan cuma nuntut dikirimin uang jajan. Makanya, selagi gue bisa kerja, gue bakal kerja apa aja."
Devian terdiam. Dia menatap profil samping wajah Aurel yang diterangi cahaya lilin. Selama ini, dia hanya melihat Aurel sebagai cewek kompetitif yang ambisius, menyebalkan, dan selalu ingin menang sendiri di kampus. Dia tidak pernah menyangka ada beban seberat itu yang harus dipikul oleh pundak mungil gadis di hadapannya ini.
"Hebat lo," ucap Devian tulus.
Aurel menoleh, menatap Devian dengan dahi berkerut heran. "Lo gak lagi ngeledek gue, kan?"
"Gak, Aurel. Gue serius," kata Devian sambil menatap balik mata Aurel. "Gue salut sama lo. Lo tahu apa yang lo mau, dan lo berjuang buat itu. Gak kayak gue."
Kini giliran Aurel yang tertegun. Suara Devian terdengar sangat rapuh, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya cuek dan tengil.
"Maksud lo?" tanya Aurel lembut.
Devian terkekeh pelan, tawa yang terdengar hambar. "Bapak gue... dia pengin banget gue ma**k Teknik Sipil. Biar bisa nerusin perusahaan kontraktor kecil-kecilan miliknya. Tapi gue malah nekat milih DKV karena gue suka gambar. Tiap kali bapak telepon, ujung-ujungnya pasti kita berantem hebat. Dia pikir DKV itu jurusan gak berguna. Masa depan suram, katanya."
Aurel teringat suara bentakan keras dari kamar Devian beberapa malam lalu. Sekarang dia mengerti semuanya.
"Tapi lo berbakat, Dev," ujar Aurel tanpa ragu. "Desain poster buat acara makrab jurusan kemarin... itu lo yang bikin, kan? Bagus banget. Anak-anak lain juga pada muji. Jurusan lo gak gak berguna sama sekali."
Devian menatap Aurel dengan mata membelalak kecil. Ada binar hangat yang tiba-tiba muncul di matanya. "Lo... beneran mikir kayak gitu?"
"Gue emang musuh lo, tapi gue gak buta," kata Aurel, membuat sudut bibir Devian berkedut membentuk senyuman tipis. "Gue rasa, bapak lo cuma belum paham aja. Suatu saat nanti, pas lo bisa buktiin kalau lo bisa sukses lewat jalur lo sendiri, beliau pasti bakal bangga banget sama lo."
Keheningan kembali menyelimuti ruang tengah, namun kali ini terasa sangat hangat dan menenangkan. Suara hujan di luar seolah menjadi latar musik yang menemani obrolan mereka.
"Dulu pas kecil, lo pengen jadi apa, Rel?" tanya Devian, memecah keheningan.
"Gue?" Aurel tertawa kecil. "Gue pengen jadi astronot. Biar bisa pergi jauh dari bumi, ngeliat bintang-bintang dari deket. Konyol banget, kan? Sekarang jangankan ke luar angkasa, bayar UKT aja gue harus pusing setengah mati."
"Nggak konyol, kok. Impian anak kecil emang harusnya setinggi langit," sahut Devian. "Gue dulu pengen jadi komikus. Pengen bikin karakter pahlawan super sendiri. Tapi sekarang... ya gini, cuma jadi mahasiswa DKV yang tiap malam begadang dikejar *deadline* asistensi."
Mereka berdua tertawa bersama. Tawa yang tulus, tanpa ada nada sinis atau ejekan di dalamnya. Malam itu, di bawah temaram cahaya lilin, tidak ada lagi sebutan 'musuh bebuyutan' di antara mereka. Yang ada hanyalah dua orang remaja tanggung yang sedang berjuang keras menghadapi realitas hidup yang ternyata tidak seindah fiksi.
Satu jam, dua jam berlalu begitu cepat. Mereka terus bercerita tentang banyak hal—tentang dosen mereka yang menyebalkan, tentang makanan kantin yang rasanya aneh, hingga rahasia-rahasia kecil masa kecil yang belum pernah mereka bagikan kepada siapapun sebelumnya.
Aurel menyadari sesuatu. Devian yang selama ini dia cap sebagai cowok menyebalkan, egois, dan bermulut pedas, ternyata adalah sosok pendengar yang sangat baik. Cowok itu tidak pernah memotong ceritanya, selalu menanggapi dengan penuh perhatian, dan yang paling penting, membuat ketakutannya akan kegelapan malam ini menguap begitu saja.
Sebaliknya, Devian juga menyadari bahwa di balik sikap galak dan defensif Aurel, ada sisi rapuh dan lembut yang sangat ingin dia lindungi.
Mata Aurel mulai terasa berat seiring dengan rasa lelah yang kembali menjalar di tubuhnya. Kepalanya beberapa kali terkantuk-kantuk ke depan.
"Tidur aja, Rel. Gue bakal di sini nemenin lo sampai lampunya nyala lagi," kata Devian dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan.
"Beneran, ya?" gumam Aurel dengan suara serak khas orang mengantuk. "Jangan tinggalin gue sendiri di kegelapan."
"Iya, janji. Gue gak bakal ke mana-mana."
Aurel akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Devian. Gerakan itu terjadi begitu alami, tanpa ada keraguan. Devian sempat tegang sesaat, namun perlahan tubuhnya rileks. Dia membiarkan bahunya menjadi sandaran yang kokoh bagi gadis itu.
Sambil menatap nyala lilin yang mulai meredup, Devian tersenyum tipis. Malam ini, di tengah hujan deras dan mati lampu, dia akhirnya sadar. Seseorang yang selama ini dia anggap sebagai musuh bebuyutannya, ternyata adalah orang yang paling bisa memahaminya di dunia ini.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!