Pagi harinya, suasana di Kos Cantika terasa tiga kali lipat lebih canggung dari biasanya.
Aurel berdiri di depan dispenser koridor lant** dua, memandangi air yang perlahan mengisi botol minumnya. Kepalanya masih agak pening, tapi kepalanya jauh lebih pusing memikirkan kejadian semalam.
Dia masih ingat betul bagaimana rasanya jemari hangat Devian yang menggenggam tangannya di tengah kegelapan, menemani Aurel yang hampir mati lemas karena serangan panik akibat *nyctophobia*-nya. Cowok yang biasanya selalu mencari gara-gara dengannya itu, semalam berubah menjadi sosok yang begitu menenangkan.
*Cklek.*
Pintu kamar nomor 4 terbuka. Devian keluar dengan kaus hitam polos dan celana jins, siap-siap mau berangkat kuliah. Rambutnya masih agak basah dan berantakan, memberikan kesan *effortless* yang menyebalkan karena dia tetap terlihat tampan.
Begitu mata mereka bertemu, langkah Devian sempat terhenti. Aurel refleks menahan napas.
"Pagi," sapa Devian lirih. Suaranya yang serak khas bangun tidur terdengar jauh lebih berat dari biasanya.
"Pagi," balas Aurel kaku. Dia buru-buru mematikan keran dispenser. "Soal... semalam. Makasih, ya. Dan... sori udah ngerepotin lo."
Devian mema**kkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Dia berdeham pelan, mencoba mengusir kecanggungan yang mendadak menyelimuti koridor sempit itu. "Sant**. Anggap aja gue lagi beramal. Lagian, kalau lo pingsan di kosan, repot juga gue harus gotong lo ke rumah sakit."
Aurel memutar bola matanya. Nah, ini dia Devian yang asli. Sifat menyebalkannya sudah kembali 100 persen. Tapi anehnya, ada rasa lega di dada Aurel. Setidaknya, benteng pertahanan mereka yang sempat runtuh semalam kini kembali tegak.
"Tapi, Rel," Devian melangkah mendekat, membuat Aurel refleks mundur satu langkah hingga punggungnya membentur dispenser. Devian menunduk sedikit, menatap Aurel intens. "Di kampus, lo tahu kan kita harus kayak gimana?"
"Tahu lah," sahut Aurel cepat. "Pura-pura gak kenal. Kayak biasa."
"Bagus. Jangan sampai ada anak-anak kampus yang tahu kita tinggal di kosan yang sama. Apalagi sampai tahu kejadian semalem," ucap Devian dengan nada memperingatkan. "Bisa gempar satu fakultas."
"Gue juga ogah kali digosipin sama lo! Najis banget," ketus Aurel, meski dalam hati jantungnya berdegup kencang karena jarak mereka yang terlalu dekat.
"Oke. Deal." Devian menegakkan tubuhnya kembali. "Gue cabut duluan."
Sebelum melangkah pergi, Devian menyambar kunci motornya yang tergeletak di atas meja komunal koridor. Aurel juga melakukan hal yang sama, mengambil kunci kamarnya. Namun, saat mata mereka tidak sengaja melirik gantungan kunci masing-masing, keduanya langsung tertegun.
Di kunci motor Devian, menggantung sebuah mainan karet berbentuk dinosaurus hijau memakai helm pink mini. Dan di kunci kamar Aurel... menggantung barang yang persis sama. Dino ijo berhelm pink.
Itu adalah *merchandise limited edition* dari festival seni luar kampus yang diadakan minggu lalu. Hanya ada 20 buah di dunia, dan entah bagaimana ceritanya, mereka berdua sama-sama membelinya secara terpisah tanpa saling tahu.
"Lo... kok gantungan kuncinya samaan kayak gue?" tanya Aurel dengan dahi berkerut.
Devian menatap gantungan kunci di tangan Aurel, lalu beralih ke miliknya sendiri. Wajah cowok itu mendadak salah tingkah, walau dia berusaha menutupinya dengan dengusan remeh. "Lo yang niru gue. Gue beli ini minggu lalu."
"Heh! Gue juga beli minggu lalu kali! Ih, ogah banget dibilang kembaran sama lo. Buruan lo ganti!" tuntut Aurel.
"Ogah. Lo aja yang ganti," balas Devian cuek, lalu berbalik dan berjalan cepat menuruni tangga kosan, meninggalkan Aurel yang menghentakkan kakinya kesal.
***
Suasana kampus siang itu sangat ramai. Di koridor gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Aurel berjalan beriringan dengan Cia, sahabat dekatnya yang hobi bergosip.
"Sumpah ya, Rel, lo harus lihat drakor yang semalem gue tonton. Visual cowoknya itu bener-bener spek dewa, mirip-mirip tipis lah sama si Devian anak Teknik sebelah," celoteh Cia heboh.
Mendengar nama Devian disebut, Aurel hampir saja tersedak air ludahnya sendiri. "Hah? Apaan sih, jauh-jauh hari napa kalau ngebandingin. Lagian ngapain lo bawa-bawa si batu es itu?"
"Ya habisnya emang ganteng, Rel. Tapi ya gitu, galak dan susah dideketin. Cuma Sarah doang kayaknya yang kuat nempel-nempel sama dia," bisik Cia sambil menyenggol lengan Aurel.
Aurel mengarahkan pandangannya ke depan. Benar saja, di ujung koridor dekat mading, tampak gerombolan anak-anak Teknik. Di tengah-tengah mereka berdiri Devian yang sedang bersandar di tembok dengan gaya maskulinnya yang khas. Di sampingnya, ada Sarah—cewek populer kampus yang terkenal cantik, modis, dan agresif mendekati Devian sejak semester satu.
Sarah sedang berbicara dengan penuh semangat, sesekali menyentuh lengan Devian manja. Namun, Aurel menyadari ada yang aneh dengan musuh bebuyutannya itu.
Devian tidak fokus. Cowok itu hanya mengangguk-angguk malas, pandangannya justru kosong dan beberapa kali melamun.
Dan yang membuat jantung Aurel mendadak berhenti berdetak adalah ketika mata Devian bergerak, lalu menangkap sosok Aurel yang sedang berjalan di koridor.
Bukannya memalingkan muka seperti biasanya, Devian justru menatap Aurel. Lama. Tatapannya dalam, seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat mengganggunya. Aurel yang ditatap seperti itu langsung merasa merinding sekaligus salah tingkah. Dia buru-buru membuang muka dan mempercepat langkah kakinya.
Di tempatnya berdiri, Sarah menyadari perubahan sikap Devian. Dia menyadari arah pandang cowok itu yang sejak tadi tidak fokus padanya. Sarah mengikuti arah pandang Devian dan mendapati punggung Aurel yang mulai menjauh di ujung koridor.
Sarah menyipitkan matanya. Kecurigaan yang sejak beberapa hari lalu tertanam di kepalanya kini semakin menguat.
"Dev? Devian!" panggil Sarah agak keras sambil menepuk pundak Devian.
Devian tersentak, lalu menatap Sarah dengan kening berkerut. "Kenapa?"
"Lo dengerin gue gak sih dari tadi?" tanya Sarah dengan nada merajuk yang dibuat-buat. "Gue nanya, Sabtu ini lo mau ikut anak-anak *camping* ke Bogor gak?"
"Gak tahu. Gue sibuk," jawab Devian singkat, terdengar tidak berminat.
Sarah bersedekap dada, matanya menatap Devian penuh selidik. "Lo kenapa sih akhir-akhir ini sering melamun? Terus... ngapain lo ngeliatin Aurel anak FISIP itu? Lo ada masalah sama dia?"
Devian mendengus pelan, berusaha mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap datar. "Gak ada. Gue cuma ngerasa gaya jalannya aneh. Kayak bebek."
Teman-teman Devian yang mendengar itu langsung tertawa, tapi tidak dengan Sarah. Sarah tahu betul bagaimana Devian. Cowok itu biasanya sangat acuh tak acuh pada perempuan yang tidak dia sukai. Mengomentari cara jalan seseorang—bahkan dengan nada mengejek—bukanlah gaya Devian yang biasanya dingin dan tidak peduli sekitar.
*Ada yang gak beres di antara mereka berdua,* batin Sarah curiga.
***
Sore harinya, Aurel dan Cia memutuskan untuk nongkrong di kafe kampus yang terletak di area basemen gedung perpustakaan. Kafe itu c**up ramai karena AC-nya dingin dan tempatnya cocok untuk mengerjakan tugas kuliah.
Aurel meletakkan tas ranselnya di atas meja kayu panjang, lalu mengeluarkan laptop dan beberapa buku referensi. Karena merasa gerah, dia menguncir rambutnya asal-asalan menjadi cepol tinggi.
"Aduh, sumpah ini tugas statistik bikin pala gue mau pecah," keluh Cia sambil membanting pelan buku tebalnya ke meja.
"Makanya dicicil, Cia. Jangan sistem kebut semalam terus," sahut Aurel sambil tersenyum geli. Dia merogoh tasnya untuk mengambil flashdisk. Namun, karena flashdisk-nya menyatu dengan gantungan kunci kamarnya, Aurel tanpa sadar meletakkan seluruh ikatan kuncinya di atas meja.
Dino hijau dengan helm pink itu kini tergeletak manis di samping laptop Aurel.
Tak lama kemudian, pintu kaca kafe berdenting. Serombongan anak Teknik ma**k ke dalam kafe, dipimpin oleh Devian yang tampak lelah setelah praktikum seharian. Di belakangnya, tentu saja ada Sarah yang setia mengekor, ditemani dua teman mereka yang lain.
Karena meja di kafe hampir penuh, rombongan Devian akhirnya memilih meja kosong yang letaknya tepat di sebelah meja Aurel dan Cia. Jaraknya hanya terpisah sekitar satu meter.
Aurel langsung menegang begitu menyadari kehadiran Devian. Dia berpura-pura sangat sibuk mengetik di laptopnya, tidak mau mengangkat kepala sama sekali.
Devian duduk di kursi yang posisinya berhadapan langsung dengan Aurel, meski terhalang jarak antar meja. Cowok itu melepaskan jaket denimnya, menyisakan kaus hitam yang melekat pas di tubuh atletisnya. Dengan gerakan ka**al, Devian merogoh saku celananya dan melempar kunci motornya ke atas meja begitu saja.
*Plak.*
Suara benturan kunci motor Devian di meja kayu terdengar c**up jelas.
Cia, yang pada dasarnya sangat jeli dan menyukai det**l-det**l kecil, mendadak berhenti mengeluh tentang tugas statistiknya. Matanya menyipit, memandang bergantian antara kunci di meja Aurel dan kunci di meja Devian yang berada tepat di sebelahnya.
"Eh... Rel," bisik Cia dengan suara yang sebenarnya tidak bisa dibilang pelan.
"Apaan?" jawab Aurel tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.
"Coba lo liat kunci lo deh. Terus lo liat kuncinya Devian di meja sebelah."
Jantung Aurel serasa merosot ke perut. Dia refleks menoleh ke arah gantungan kuncinya sendiri, lalu melirik ke meja sebelah.
Di sana, gantungan kunci dinosaurus hijau berhelm pink milik Devian tergeletak sangat mencolok. Warnanya yang kontras dengan meja kayu gelap membuat siapa pun pasti langsung menyadarinya.
*Mampus!* pekik Aurel dalam hati. Dia langsung panik setengah mati. Dengan gerakan secepat kilat, Aurel mencoba meraih kuncinya untuk dima**kkan kembali ke dalam tas.
Namun, gerakan panik Aurel justru menarik perhatian Sarah yang duduk di samping Devian.
"Lho? Kok..." Sarah tiba-kira bersuara, membuat seisi meja mereka langsung menoleh ke arah Sarah, lalu mengikuti arah pandang cewek itu.
Pandangan Sarah tertuju pada gantungan kunci dino di meja Devian, lalu beralih ke tangan Aurel yang baru saja hendak menyembunyikan kuncinya.
"Kok gantungan kunci kalian berdua samaan sih?" tanya Sarah dengan nada suara yang meninggi, c**up untuk membuat beberapa pengunjung kafe di sekitar mereka ikut menoleh.
Cia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya membelalak heboh. "Oh my God! Iya! Sumpah, sama banget! Dino ijo pake helm pink!"
Aurel membeku di tempat. Wajahnya mendadak pucat pasi. Dia melirik Devian lewat sudut matanya, memberi kode darurat "kita-harus-selamatin-diri-sekarang".
Devian sendiri tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat dia berhasil menguasai ekspresi wajahnya menjadi sedingin es.
"Samaan apanya?" tanya Devian dengan nada suara datar dan cuek.
"Itu gantungan kunci lo, Dev!" Sarah menunjuk kunci motor Devian, lalu beralih menunjuk ke arah Aurel. "Sama persis kayak punya Aurel! Padahal itu kan *merchandise limited edition* dari festival seni minggu lalu? Yang cuma diproduksi 20 biji dan harus antre dari subuh buat dapetinnya? Kok bisa pas banget kalian berdua punya?"
Suasana di sudut kafe itu mendadak hening dan tegang. Aurel bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Otaknya berputar cepat mencari alasan logis.
"Ah, ini?" Aurel akhirnya bersuara, mencoba tertawa hambar yang terdengar sangat dipaksakan. "Ya... kebetulan aja kali. Banyak kok yang jual tiruannya di online shop. Punya gue ini cuma barang KW murah belasan ribu. Ya kan, Cia?" Aurel menyenggol kaki Cia di bawah meja dengan keras.
"Eh? Ah... iya! Iya kali, namanya juga barang viral, pasti banyak tiruannya," sahut Cia, meski matanya masih menatap Aurel penuh selidik.
Sarah tidak tampak puas dengan jawaban itu. Dia mengambil kunci motor Devian dan mengamatinya lekat-lekat. "Tapi punya Devian ini ada nomor seri produksinya di bagian bawah helm. Ini asli, nomor 12 dari 20. Dan setahu gue, Devian mana pernah mau antre barang unyu kayak gini kalau bukan karena ada sesuatu?"
Sarah kemudian menatap Aurel dengan tajam. "Aurel, coba gue liat punya lo. Ada nomor serinya juga gak?"
Ketegangan di udara semakin memuncak. Aurel meremas tali tasnya erat-erat. Jika dia memperlihatkan gantungan kuncinya yang juga memiliki nomor seri asli (nomor 13), rahasia mereka bisa benar-benar terancam terbongkar. Orang-orang akan mulai berspekulasi mengapa mereka bisa membeli barang pasangan yang sangat langka itu bersamaan.
Di saat Aurel sudah hampir kehilangan kata-kata, Devian tiba-tiba merebut kunci motornya dari tangan Sarah dengan gerakan kasar.
"Gak usah lebay deh, Sar," potong Devian dingin. Nada suaranya terdengar sangat tidak bersahabat, membuat Sarah tersentak kaget.
"Tapi, Dev—"
"Ini gantungan kunci dikasih sama sepupu gue yang cewek. Dia yang antre dan maksa gue buat pasang karena katanya motor gue keliatan terlalu monoton," bohong Devian dengan wajah sangat meyakinkan tanpa berkedip sedikit pun. "Gue bahkan gak tahu kalau ada orang lain di kampus ini yang punya barang murahan yang sama."
Devian kemudian menatap Aurel dengan pandangan meremehkan yang sangat natural—akting permusuhan mereka yang biasa. "Lagian, kalau gue tahu barang ini samaan kayak punya dia, udah dari kemarin-kemarin gue buang ke tempat sampah. Najis banget disama-samain sama cewek rese."
Mendengar ucapan pedas Devian, entah mengapa ada sedikit rasa cubitan di hati Aurel. Namun, dia tahu ini adalah bagian dari sandiwara untuk menyelamatkan mereka berdua.
Aurel langsung memasang wajah tersinggung dan mendengus kencang. "Heh! Lo pikir gue seneng apa disama-samain sama cowok gak punya sopan santun kayak lo? Gue juga bakal langsung ganti gantungan kunci gue malam ini! Ngerusak estetika barang gue aja!"
Aurel dengan kasar mema**kkan kunci kamarnya ke dalam bagian paling dalam ranselnya, lalu menutup ritsletingnya dengan hentakan keras.
"Ayo, Cia, kita pindah tempat aja. Gerah banget di sini, banyak polusi visual," sindir Aurel tajam sambil mengemas laptopnya dengan terburu-buru.
"Eh? Tapi tugas kita belum selesai, Rel..." Cia protes pelan, namun melihat tatapan mata Aurel yang seolah bisa membunuh orang, dia akhirnya menurut dan ikut membereskan barang-barangnya.
Sebelum pergi, Aurel sempat memberikan tatapan permusuhan terakhir pada Devian, yang dibalas dengan tatapan dingin dan angkuh oleh cowok itu. Di sebelah Devian, Sarah memperhatikan interaksi panas itu dengan kedua alis yang bertautan rapat.
Meskipun pertengkaran mereka berdua terlihat sangat alami dan meyakinkan seperti biasanya, insting kewanitaan Sarah mengatakan ada sesuatu yang salah. Kemarahan mereka berdua terasa... terlalu defensif. Seperti ada sesuatu yang sedang coba mereka tutupi dengan sangat rapat di balik topeng permusuhan itu.
Aurel setengah berlari keluar dari kafe, disusul oleh Cia yang kerepotan membawa barang-barangnya. Begitu mereka sampai di luar area perpustakaan, Aurel akhirnya bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya.
Jantungnya masih berdegup sangat kencang, bukan hanya karena hampir ketahuan, tapi juga karena dia sadar... mulai hari ini, bermain petak umpet di kampus bersama musuh bebuyutannya akan menjadi jauh lebih sulit dan berbahaya dari yang pernah dia bayangkan.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!