Malam itu, gerimis tipis baru saja reda, meninggalkan aroma tanah basah dan aspal dingin yang menguar di udara. Aurel berjalan pelan menyusuri gang sempit menuju Kos Cantika, menjinjing sebuah kantong plastik putih berisi dua cup mi instan dan satu kotak susu rasa stroberi yang baru dibelinya dari minimarket depan. Kepalanya masih agak pusing karena kurang tidur, tapi rasa laparnya jauh lebih tidak bisa ditoleransi.
Tepat di depan pagar besi hitam Kos Cantika yang menjulang tinggi, sebuah motor gede berwarna hitam legam berbelok ma**k. Lampu depannya yang terang sempat membuat Aurel silau dan refleks menutupi matanya dengan tangan.
Begitu mesin motor dimatikan, sosok tinggi tegap berbalut jaket denim hitam turun dari sana. Devian melepas helmnya, mengacak-acak rambutnya yang sedikit lepek dengan jemari tangannya, lalu menoleh ke arah Aurel.
"Baru balik lo?" tanya Devian, memecah keheningan malam yang sunyi.
"Iya. Nyari makan," jawab Aurel singkat. Nada suaranya masih terdengar agak canggung. Kejadian mati lampu semalam, di mana mereka saling menggenggam tangan dalam kegelapan, masih membekas jelas di kepalanya dan membuat jantungnya mendadak berdegup aneh tiap kali menatap cowok di hadapannya ini.
Devian melirik kantong plastik yang dibawa Aurel, lalu mendengus geli. "Mi instan mulu. Pantesan otak lo rada geser."
"Heh! Enak aja!" Aurel langsung menyalak, tidak terima dibilang otaknya geser. Jiwa sengitnya yang biasa langsung bangkit. "Gini-gini otak gue IPK-nya hampir sempurna ya, sori banget. Gak kayak lo yang tugas kalkulus aja masih sering nyontek Raka!"
"Dih, fitnah. Gue ngerjain sendiri, ya. Cuma referensinya emang dari dia," kilah Devian dengan cengiran khasnya yang menyebalkan, tapi entah kenapa malam ini terlihat... c**up manis di bawah temaram lampu jalan.
Sebelum Aurel sempat membalas, Devian dengan gerakan cepat merebut kotak susu stroberi dari dalam plastik Aurel.
"Eh! Devian! Balikin gak!" seru Aurel panik, mencoba menggapai tangan Devian yang sengaja mengangkat susu itu tinggi-tinggi di atas kepala.
"Enggak mau. Anggap aja ini pajak lewat karena lo udah berani nyolot sama gue," goda Devian, wajahnya menampilkan seringai jahil yang membuat Aurel gemas setengah mati.
"Ih, lo mah kebiasaan banget sih jadi orang! Siniin gak!" Aurel melompat kecil, mencoba meraih susu tersebut, namun tubuhnya malah oleng dan menab**k dada bidang Devian.
Seketika, tawa mereka pecah di depan gerbang kosan. Momen rebutan yang kekanak-kanakan itu entah bagaimana terasa begitu hangat dan menyenangkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama saling bermusuhan, mereka bisa tertawa lepas bersama tanpa ada ketegangan atau adu mulut yang penuh emosi negatif.
Namun, di balik kegelapan seberang jalan, di antara bayangan pohon palem yang rimbun, sepasang mata memperhatikan mereka dengan tatapan penuh kebencian.
Sarah mencengkeram ponselnya erat-erat. Napasnya memburu menahan amarah yang membakar dadanya. Kecurigaannya selama ini ternyata benar. Devian, cowok populer yang selalu bersikap dingin dan mengabaikan semua usahanya untuk mendekat, ternyata tinggal di tempat yang sama dengan Aurel. Dan yang lebih menyakitkan lagi, Devian bisa tertawa seasing dan sehangat itu hanya bersama Aurelβcewek yang paling Sarah benci di kampus.
*Ckrek. Ckrek. Ckrek.*
Kamera ponsel berspesifikasi tinggi milik Sarah menangkap setiap det**l momen tersebut. Foto-foto di mana Aurel tampak bersandar di dada Devian sambil tertawa, foto saat mereka saling menatap dekat di depan pagar Kos Cantika, semuanya tersimpan dengan sangat jelas di galeri ponselnya.
Sarah menatap layar ponselnya dengan senyum miring yang mengerikan. "Dapet lo, jalang kecil," bisiknya dengan nada penuh dendam. "Kita lihat, besok lo masih bisa ketawa kayak gini apa enggak di kampus."
***
Keesokan harinya, pagi berjalan seperti biasa bagi Aurel. Setidaknya, sampai ia menginjakkan kaki di koridor gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
Sejak melewati gerbang depan kampus, Aurel merasa ada yang aneh dengan atmosfer di sekitarnya. Beberapa mahasiswi yang sedang berkumpul di koridor mendadak berhenti mengobrol saat Aurel berjalan melewati mereka. Pandangan mereka terasa begitu menusuk, menatap Aurel dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menghakimi, lalu saling berbisik di balik telapak tangan mereka.
Aurel mengernyitkan dahi. Ia meraba wajahnya sendiri, khawatir ada noda makanan atau riasannya yang berantakan. Namun, setelah mengecek lewat pantulan kaca jendela kelas, semuanya tampak normal. Ia hanya memakai kemeja flanel longgar, celana jins, dan tas punggung hitam seperti biasanya.
Namun, begitu ia melangkah ma**k ke dalam lobi utama gedung fakultas yang ramai, bisikan-bisikan itu terasa semakin nyata dan bising.
"Eh, itu kan ceweknya? Yang di foto?"
"G***, gak nyangka banget ya. Muka doang polos kayak anak baik-baik, aslinya liar abis."
"Murahan banget sumpah. Demi dapet cowok ganteng, rela tinggal bareng."
"Kumpul kebo gak sih namanya kalau kayak gitu? Ih, najis banget."
Langkah kaki Aurel mendadak melambat. Jantungnya mulai berdegup kencang, memompa darah dengan sangat cepat hingga telinganya mulai berdengung. Perasaan cemas yang sangat familiar mulai merayap di dadanya, membuat napasnya terasa agak sesak. Apa yang sedang terjadi? Kenapa semua orang menatapnya seolah-olah dia adalah seorang kriminal?
"Aureeel!"
Sebuah teriakan panik membuat Aurel tersentak. Ia menoleh dan mendapati Cia, sahabat dekatnya, berlari kencang ke arahnya dengan napas terengah-engah. Wajah Cia tampak pucat pasi, matanya membelalak penuh kecemasan.
"Cia? Kenapa? Lo kayak dikejar s****," tanya Aurel, berusaha bersikap tenang meski hatinya sudah sangat tidak tenang.
"Lebih parah dari s****, Rel!" Cia langsung menyambar pergelangan tangan Aurel dan menariknya paksa ke sudut lobi yang agak sepi, di balik pilar beton yang besar. "Lo... lo udah buka ponsel belum pagi ini?!"
"Belum. Kuota gue habis dari semalam, belum sempat isi ulang. Kenapa emangnya?"
Tanpa banyak bicara, Cia langsung membuka ponselnya sendiri dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Aurel. "Lo lihat ini sendiri. Grup angkatan kita sama forum *chat* anonim kampus lagi bener-bener meledak gara-gara ini!"
Aurel memicingkan mata, menatap layar ponsel Cia. Fokusnya langsung tertuju pada sebuah postingan di grup telegram besar bernama "FISIP GOSSIP & CONFESS" yang beranggotakan ribuan mahasiswa dari berbagai jurusan. Postingan itu baru dikirim sekitar tiga puluh menit yang lalu, namun jumlah komentarnya sudah menembus angka ratusan.
Di bagian atas postingan, terpampang foto-foto dirinya dan Devian semalam di depan gerbang Kos Cantika. Foto-foto itu diambil dari sudut yang sangat pas, membuat posisi mereka yang sebenarnya hanya bercanda merampas susu tampak sangat intim dan mesra. Wajah mereka berdua terlihat sangat jelas di bawah cahaya lampu jalan, begitu pula plang nama "KOS CANTIKA" yang terpampang nyata di atas pagar.
Aurel merasa seluruh pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang saat ia membaca narasi kejam yang tertulis di bawah foto tersebut:
*βSpill teh hangat pagi-pagi biar pada melek! Ternyata oh ternyata, mahasiswi berprestasi kebanggaan dosen kita, Aurel, aslinya gatel banget ya guys. Diam-diam dia udah tinggal bareng alias kumpul kebo sama Devian, anak teknik yang terkenal ganteng itu di Kos Cantika. Lihat aja fotonya, mesra banget kan malam-malam berduaan di depan kosan? Pantesan di kampus pura-pura gak saling kenal dan kayak musuhan, ternyata kalau malam langsung satu atap. Murahan banget ya, demi bisa deket sama cowok populer rela jual harga diri dan tinggal bareng.β*
Dunia di sekitar Aurel seolah runtuh seketika. Kepalanya mendadak pening luar biasa, dan dadanya terasa seperti dihantam oleh batu besar yang sangat berat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang memanas saat ia membaca beberapa komentar kejam di bawah postingan tersebut.
*User992: "A****, seriusan Aurel? Yang langganan juara lomba debat itu? Ternyata di balik otak encernya, kelakuannya minus."*
*Riri_anti: "Ih g***, murah banget ya ampun. Mau-mauannya diajak tinggal bareng cowok sebelum nikah. Kasihan orang tuanya kuliahin mahal-mahal."*
*Dika_T: "Wah, Devian menang banyak nih wkwkwk. Mantap juga seleranya."*
*Sasaaa: "Paling juga si Aurel yang gatel ngejar-ngejar Devian duluan. Cowok mana yang bakal nolak kalau disodorin cewek murah kayak gitu?"*
"Rel... Rel, lo gak apa-apa?" suara Cia terdengar sayup-sayup, tertutup oleh dengungan keras di kepala Aurel. Cia meremas tangan Aurel yang kini terasa dingin seperti es dan gemetar hebat. "Ini gak bener, kan? Lo gak beneran tinggal sekamar sama Devian, kan? Cerita ke gue, Rel!"
"G-Gak, Cia..." suara Aurel bergetar, nyaris tidak terdengar. Air matanya akhirnya luruh membasahi pipinya. "Kita... kita emang satu kosan. Tapi Kos Cantika itu kosan campuran yang kamarnya pisah-pisah! Gue di lant** dua, dia di lant** satu! Kita gak pernah tinggal sekamar, demi Allah gue gak pernah ngapa-ngapain sama dia!"
"Gue percaya sama lo, Rel. Gue tahu lo kayak gimana," ucap Cia dengan nada panik, ikut merasa cemas setengah mati melihat kondisi sahabatnya. "Tapi masalahnya, anak-anak kampus gak bakal peduli sama kebenaran itu! Mereka cuma butuh gosip panas buat dijadiin bahan omongan, dan foto ini... foto ini bener-bener ngegiring opini publik kalau lo itu cewek gatel yang kumpul kebo!"
Sebelum Aurel sempat menenangkan diri atau menyeka air matanya, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dengan ketukan yang sengaja dibuat keras.
"Wah, wah, lihat siapa yang lagi sembunyi di sini. Artis baru kampus kita ternyata lagi nangis bombay."
Aurel mendongak perlahan. Di hadapannya, berdiri Sarah dengan kedua tangan terlipat di dada dan senyum kemenangan yang terpatri jelas di wajahnya yang dipoles kosmetik tebal. Di belakang Sarah, ada beberapa temannya yang ikut menatap Aurel dengan pandangan meremehkan dan sinis.
"Gimana, Rel? Enak ya semalam sama Devian? Hangat gak satu atap sama dia?" sindir Sarah tanpa rasa bersalah sedikit pun. Suaranya sengaja dikeraskan agar beberapa mahasiswa yang berada di sekitar lobi ikut mendengar.
Beberapa pasang mata langsung tertuju ke arah mereka, membuat suasana semakin mencekam bagi Aurel.
Kemarahan yang teramat sangat mendadak membakar rasa takut Aurel. Ia melangkah maju, menatap tajam langsung ke dalam manik mata Sarah yang penuh kebencian. "Lo... lo kan yang sebarin foto ini?! Lo sengaja ngikutin gue semalam?!"
Sarah tertawa renyah, seolah-olah tuduhan Aurel adalah hal paling lucu yang pernah ia dengar. "Ngikutin lo? Kurang kerjaan banget gue. Gue itu cuma kebetulan lewat, dan mata gue langsung sakit lihat pemandangan menjijikkan kayak gitu. Lagian, kalau lo emang beneran bersih dan gak ngelakuin hal aneh-aneh, kenapa harus takut? Kecuali... isi postingan itu emang fakta?"
"Jaga mulut lo, Sarah!" bentak Cia, mencoba berdiri di depan Aurel untuk melindunginya. "Lo gak punya hak buat fitnah Aurel dengan narasi murahan kayak gitu! Lo bisa dilaporin ke pihak kampus atas pencemaran nama baik!"
"Fitnah dari mana? Itu fotonya nyata, gak ada editan sama sekali," sahut Sarah sant**, menyingkirkan Cia dengan kibasan tangannya yang kasar. Ia kembali menatap Aurel, kali ini dengan tatapan yang sangat menghina. "Muka doang yang sok polos, sok pinter, sok aktif di organisasi, ternyata aslinya cuma cewek gatel yang numpang hidup di tempat cowok biar bisa digrepe-grepe tiap malam. Kasihan ya orang tua lo, punya anak kelakuannya kayak pe*****."
*PLAK!*
Suara tamparan yang sangat keras berdesing di udara dan bergema di lobi fakultas yang mendadak hening seketika.
Semua orang yang berada di sana terengah kaget, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Sarah memegangi pipi kirinya yang kini memerah padam, matanya membelalak lebar dengan rasa tidak percaya yang amat sangat. Ia tidak pernah menyangka bahwa Aurel yang biasanya selalu menghindari konflik dan memilih diam akan nekat menamparnya di depan umum.
"Lo... lo berani nampar gue?!" desis Sarah, suaranya bergetar hebat antara marah dan malu yang luar biasa karena menjadi tontonan banyak orang.
"Gue diam selama ini bukan karena gue takut sama lo, Sarah!" napas Aurel memburu, dadanya naik turun dengan cepat, dan air matanya terus mengalir deras namun tatapannya tidak goyah sedikit pun. "Lo boleh benci sama gue, lo boleh saingan sama gue secara sehat dalam hal akademik atau apa pun! Tapi fitnah keji kayak gini? Ini udah keterlaluan! Gue gak pernah tinggal sekamar sama Devian, dan gue bukan cewek murahan kayak yang lo tuduhkan dalam postingan sampah itu!"
Di tengah ketegangan yang memuncak dan hampir pecah menjadi perkelahian fisik, kerumunan mahasiswa yang memadati lobi mendadak terbelah dengan sendirinya.
Sesosok cowok berpostur jangkung melangkah ma**k dengan aura dingin yang begitu pekat, seolah membawa badai bersamanya. Devian.
Tudung jaket *hoodie* hitamnya ditarik ke atas, menutupi sebagian rambutnya yang berantakan. Matanya yang tajam dan sedingin es langsung mengunci pandangan ke arah pusat keributanβke arah Aurel yang wajahnya sudah basah oleh air mata, dan Sarah yang sedang memegangi pipinya yang memerah. Di belakang Devian, Raka tampak setengah berlari berusaha menahan lengan sahabatnya itu, namun Devian dengan kasar mengibaskannya.
Seluruh lobi menahan napas. Suasana mendadak menjadi sangat sunyi, bagaikan bom waktu yang detiknya terus berjalan cepat, bersiap untuk meledakkan apa saja yang tersisa dari ketenangan hidup yang selama ini dijaga erat oleh Aurel.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!