Pagi itu, dunia Devian seolah runtuh hanya dalam satu pangg***n telepon berdurasi tiga menit.
Ponselnya yang diletakkan di atas meja nakas bergetar hebat sejak pukul enam pagi. Dengan mata setengah terpejam, Devian meraih benda pipih itu. Namun, begitu melihat nama yang tertera di layar, kantuknya langsung hilang tak berbekas.
*Papa calling.*
Devian menelan ludah dengan susah payah sebelum menggeser tombol hijau. "Halo, Pa—"
"Apa-apaan ini, Devian?!"
Suara bariton di seberang sana langsung menggelegar, memotong ucapan Devian tanpa ampun. Nada bicaranya sarat akan kemarahan yang tertahan, tipe suara yang selalu berhasil membuat nyali Devian menciut sejak ia masih kecil.
"Papa kuliahin kamu jauh-jauh ke Jakarta itu buat belajar, bukan buat bikin skandal murahan di kampus! Apa maksudnya foto-foto kamu sama cewek itu? Kamu satu kosan sama dia? Dan sekarang gosipnya sudah menyebar ke mana-mana!"
Devian memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Jantungnya berdegup kencang. "Pa, itu cuma salah paham. Kita cuma..."
"Papa gak mau dengar alasan apa pun!" bentak papanya, memotong dengan dingin. "Kamu tahu sendiri bagaimana reputasi keluarga kita. Papa gak akan biarkan nama baik keluarga rusak cuma karena tingkah konyol kamu dengan cewek gak jelas itu. Selesaikan masalah ini hari ini juga!"
"Pa, tapi—"
"Dengar baik-baik, Devian," ancam papanya dengan nada yang sangat serius, membuat bulu kuduk Devian merinding. "Kalau sampai besok Papa masih mendengar rumor ini, atau kalau kamu masih berhubungan dengan cewek itu, Papa akan potong semua biaya kuliah kamu. Papa juga akan tarik mobil, hentikan uang bulanan, dan kamu harus pulang ke Surabaya saat ini juga. Selesaikan gosip sampah itu, jauhi cewek itu, atau hidup mandiri tanpa satu persen pun uang dari Papa. Kamu paham?!"
*Klik.*
Pangg***n diputus sepihak. Devian menatap layar ponselnya yang menggelap dengan napas memburu. Kepalanya terasa mau pecah. Ia tahu betul papanya tidak pernah bermain-main dengan ancamannya. Jika papanya bilang akan memotong biaya kuliahnya, maka laki-laki itu benar-benar akan melakukannya tanpa ragu.
Devian mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan mondar-mandir di kamarnya yang sempit. Di satu sisi, ada harga dirinya dan masa depannya yang dipertaruhkan. Di sisi lain... ada Aurel.
Cewek galak, menyebalkan, tapi entah sejak kapan mulai terasa hangat di hidupnya. Kejadian tadi malam saat mereka berebut susu stroberi masih segar di ingatannya. Tawa Aurel, matanya yang berbinar jenaka, dan bagaimana tubuh mungil cewek itu sempat menab**k dadanya—semuanya terasa begitu nyata.
Namun, kenyataan pahit langsung menamparnya pagi ini. Devian tidak punya pilihan. Ia harus menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu.
***
Suasana koridor kampus hari itu terasa sangat menyesakkan bagi Aurel.
Sejak ia melangkahkan kaki melewati gerbang utama, pandangan orang-orang yang biasanya cuek mendadak berubah menjadi tatapan penuh selidik dan bisik-bisik yang mengganggu. Aurel mencoba mengabaikannya, mempercepat langkahnya menuju kelas. Namun, bisikan-bisikan itu tetap saja lolos ke telinganya.
"Eh, itu kan cewek yang di foto kemarin?"
"Oh, yang katanya satu kosan sama Devian?"
"Iya, g*** ya. Kelihatannya aja polos, ternyata pinter juga nyari kesempatan."
"Murahan banget sih, sampai rela sekamar demi deketin cowok kaya kayak Devian."
Tangan Aurel mengepal erat di sisi tubuhnya. Buku-buku jarinya memutih. Rasanya ia ingin berteriak dan mencakar wajah orang-orang itu satu per satu. *Satu kamar?* Siapa yang menyebarkan rumor sekotor itu? Mereka bahkan tidak tahu kalau kosan Cantika itu adalah kosan campur yang memiliki sekat dinding yang tebal, dan mereka tinggal di kamar yang berbeda!
"Rel! Aurel!"
Caca, sahabat dekatnya, berlari menghampirinya dengan wajah panik. Ia langsung menarik tangan Aurel menjauh dari kerumunan koridor ke sudut yang agak sepi di dekat mading.
"Rel, lo gak apa-apa? Lo udah lihat grup angkatan?" tanya Caca dengan napas terengah-engah.
"Grup angkatan? Ada apa lagi, Ca?" tanya Aurel, suaranya mulai bergetar karena menahan emosi.
Caca menyodorkan ponselnya. Di sana, terpampang sebuah foto yang diambil dari jarak jauh secara sembunyi-sembunyi. Foto itu diambil tadi malam, tepat di depan pagar Kos Cantika. Di dalam foto itu, Aurel sedang tertawa lebar sambil menab**k dada Devian, sementara Devian memegang kotak susu stroberi tinggi-tinggi dengan senyum lebar di wajahnya.
Foto itu terlihat sangat intim jika dilihat dari sudut pandang orang luar yang tidak tahu kejadian sebenarnya. Di bawah foto itu, tertulis *caption* anonim yang sangat menyudutkan: *“Ternyata musuh bebuyutan cuma kedok. Aslinya udah tinggal serumah, bahkan denger-denger udah sering 'main' bareng di kosan. Ceweknya pinter banget ya akting sok suci di kelas.”*
Air mata Aurel hampir saja tumpah saat itu juga. Dadanya terasa sesak, seperti dihantam batu besar. "Ini... ini fitnah, Ca. Sumpah, ini gak kayak yang mereka pikirkan! Semalam itu gue cuma—"
"Gue tahu, Rel. Gue percaya sama lo," potong Caca cepat, menggenggam tangan Aurel untuk menenangkannya. "Tapi masalahnya, rumor ini udah menyebar luas banget. Dan yang lebih parah, Sarah sama gengnya dari tadi pagi terus-terusan manas-manasin suasana."
Tepat saat Caca menyelesaikan kalimatnya, sekelompok mahasiswa berjalan melewati koridor. Di tengah-tengah mereka, ada Devian. Cowok itu berjalan dengan kedua tangan dima**kkan ke dalam saku celana jinsnya, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di sampingnya, Sarah berjalan dengan gelayutan manja di lengannya, sesekali membisikkan sesuatu yang membuat teman-teman mereka tertawa.
Melihat kehadiran Devian, Aurel merasa seperti menemukan secercah harapan. Ia yakin Devian tidak akan tinggal diam. Devian pasti akan membantunya meluruskan masalah ini. Bagaimanapun, mereka berdua adalah korban di sini.
Aurel melepaskan genggaman tangan Caca dan melangkah maju, menghalangi jalan Devian.
"Devian," panggil Aurel, suaranya sedikit serak.
Langkah Devian terhenti. Matanya menatap Aurel. Namun, tidak ada lagi tatapan hangat, jahil, atau bersahabat seperti tadi malam. Mata cokelat gelap itu kini terasa sangat asing, dingin, dan... kosong. Seolah-olah Aurel hanyalah seonggok sampah yang tidak sengaja menghalangi jalannya.
"Dev, lo udah lihat rumor di grup angkatan, kan?" tanya Aurel mendesak, mencoba mengabaikan rasa tidak nyaman yang merayapi hatinya. "Kita harus jelasin ke mereka kalau itu semua gak bener. Kita harus bilang kalau—"
"Jelasin apa?" potong Devian dingin. Suaranya terdengar sangat datar, bahkan cenderung acuh tak acuh.
Aurel tertegun. "Ya... jelasin kalau kita gak kayak yang mereka omongin! Kita cuma tetangga kosan, dan foto semalam itu cuma salah paham!"
Devian mendengus kecil, sebuah tawa sarkas yang membuat hati Aurel mencelos.
"Gak penting," ujar Devian pendek. "Gue gak ada waktu buat ngurusin hal gak berguna kayak gini."
Aurel membelalakkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Gak penting? Dev, nama baik gue dirusak di sini! Orang-orang ngat**n gue cewek murahan! Dan lo bilang ini gak penting?!"
"Ya terus? Itu urusan lo, bukan urusan gue," jawab Devian kejam. Ia bahkan tidak menatap mata Aurel saat mengatakannya. Tatapannya lurus ke depan, dingin membeku. "Lagian, dari awal kan emang lo yang selalu nyari masalah sama gue. Mungkin ini taktik lo aja biar bisa dapet perhatian?"
*Plak!*
Suasana koridor mendadak hening seketika.
Aurel menatap telapak tangannya yang terasa panas, lalu menatap wajah Devian yang sedikit terengat ke samping akibat tamparannya. Napas Aurel naik-turun dengan cepat. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh membasahi pipinya.
"Lo... keterlaluan, Devian," bisik Aurel dengan suara bergetar hebat. Rasa sakit di dadanya begitu menyiksa, jauh lebih sakit daripada saat ia membaca komentar-komentar jahat di grup angkatan.
Devian perlahan memutar kembali wajahnya menghadap Aurel. Ada kilatan emosi yang sempat melintas di matanya selama sepersekian detik, namun dengan cepat ia menyembunyikannya kembali di balik topeng dinginnya. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku celana begitu erat hingga kukunya memutih, menahan diri agar tidak menarik Aurel ke dalam pelukannya dan meminta maaf.
*Maaf, Rel. Gue terpaksa. Gue gak punya pilihan lain,* jerit Devian dalam hati. Namun, di luar, ia hanya menampilkan senyum sinis.
"Mulai sekarang, jangan pernah temui gue lagi. Anggap kita gak pernah kenal. Dan soal kosan... terserah lo mau tetep di sana atau pergi. Gue gak peduli," ucap Devian tajam, sebelum melangkah pergi melewati Aurel begitu saja, diikuti oleh Sarah yang tersenyum puas di belakangnya.
Aurel berdiri mematung di tengah koridor yang ramai. Bisik-bisik di sekitarnya terdengar semakin keras, menertawakan nasibnya yang baru saja dicampakkan secara publik. Caca langsung berlari memeluknya, mencoba menyembunyikan wajah Aurel yang sudah basah oleh air mata dari pandangan orang-orang.
Namun bagi Aurel, dunia di sekitarnya sudah menjadi sunyi. Hanya ada rasa sakit, kecewa, dan amarah yang membakar dadanya.
Semua perhatian, bantuan kecil, dan tawa hangat yang Devian berikan selama beberapa hari terakhir di kosan ternyata hanyalah kepalsuan. Cowok itu adalah monster yang sesungguhnya. Dan Aurel benci dirinya sendiri karena sempat berpikir bahwa musuh bebuyutannya itu telah berubah menjadi orang baik.
***
Sore harinya, hujan deras mengguyur kota Jakarta, seolah mewakili perasaan Aurel yang hancur lebur.
Dengan langkah gont** dan tubuh yang lelah, Aurel kembali ke Kos Cantika. Suasana kosan yang biasanya terasa hangat kini terasa begitu dingin dan mencekam di matanya. Setiap sudut ruangan ini seolah mengejek kebodohannya yang sempat merasa nyaman tinggal di sini.
Aurel ma**k ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Ia menyalakan lampu kamar, menatap sekeliling ruangan berukuran 3x4 meter itu. Matanya tertuju pada meja belajarnya. Di sana, masih ada satu kotak susu stroberi kosong yang sengaja ia simpan tadi malam—susu yang sempat didebatkan dengan Devian sebelum cowok itu akhirnya meminumnya setengah dan mengembalikannya pada Aurel.
Dengan amarah yang membuncah, Aurel meraih kotak susu kosong itu dan meremasnya kuat-kuat hingga hancur, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah.
"Go**** banget lo, Aurel," umpatnya pada diri sendiri sembari menghapus air mata yang kembali menetes kasar dengan punggung tangannya. "Bisa-bisanya lo baper sama cowok br****** kayak dia."
Aurel tidak ingin tinggal di tempat ini sedetik pun lebih lama. Ia tidak sudi berbagi atap dengan orang yang telah mempermalukannya dan mengkhianati kepercayaannya begitu saja.
Ia menarik koper besar berwarna biru tua dari bawah tempat tidur. Dengan gerakan kasar dan tidak sabaran, Aurel membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil tumpukan baju, kaus, celana, dan buku-buku kuliahnya, lalu mema**kkannya ke dalam koper tanpa berniat melipatnya dengan rapi. Pikirannya kacau, jemarinya bergetar hebat karena emosi yang meluap-luap.
Saat sedang mengemasi barang-barangnya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Aurel? Rel, lo di dalam?"
Itu suara Ibu Kos, Bu Cantika.
Aurel menghentikan gerakannya sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya sebelum berjalan membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, Bu Cantika menatapnya dengan wajah khawatir. "Aurel... kamu gak apa-apa, Nak? Ibu tadi dengar dari beberapa anak kos tentang rumor yang beredar di kampus kalian. Ibu cuma mau mastiin—"
Ucapan Bu Cantika terhenti saat matanya melihat koper besar yang terbuka di atas lant** kamar Aurel, dengan pakaian yang berantakan di dalamnya.
"Aurel... kamu mau pindah?" tanya Bu Cantika dengan nada sedih.
Aurel memaksakan sebuah senyum tipis, meski matanya yang sembap tidak bisa berbohong. "Iya, Bu. Maaf banget sebelumnya. Aurel rasa... Aurel udah gak cocok tinggal di sini lagi. Aurel mau cari kosan khusus putri aja yang lebih tenang."
Bu Cantika menghela napas panjang, lalu mengusap bahu Aurel dengan lembut. "Ibu mengerti, Nak. Ibu minta maaf ya kalau lingkungan di sini malah bikin kamu gak nyaman. Kamu anak baik, Ibu tahu betul itu. Gosip-gosip di luar sana itu gak bener."
Mendengar ucapan tulus dari Bu Cantika, pertahanan Aurel kembali runtuh. Ia mengangguk pelan, menahan agar air matanya tidak tumpah lagi di depan ibu kosnya. "Terima kasih banyak ya, Bu, selama ini udah baik banget sama Aurel."
"Sama-sama, sayang. Kalau kamu butuh bantuan buat angkat barang-barang besok, bilang Ibu ya."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Setelah Bu Cantika pergi dan menutup pintu, Aurel kembali terduduk di lant** di samping kopernya. Ia memeluk lututnya erat-erat, membiarkan tangisnya pecah dalam keheningan kamar yang dingin.
Hubungannya dengan Devian yang baru saja mulai mencair, kini tidak hanya kembali membeku, melainkan telah hancur berkeping-keping menjadi abu yang tidak akan pernah bisa disatukan kembali. Kesalahpahaman ini telah menciptakan jurang pemisah yang teramat dalam di antara mereka. Dan bagi Aurel, tidak akan ada lagi kesempatan kedua untuk seorang Devian.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!