Senandung Kematian di Ujung Jemari Senja

Bab 1: Kepulangan di Batas Senja

Pengaturan Membaca

Kabut selalu tahu kapan harus menjemput kematian hari. Di Desa Sasana Kala, batas antara siang dan malam tidak pernah ditandai oleh semburat jingga yang hangat, melainkan oleh kepulan uap putih keabu-abuan yang merayap turun dari lereng bukit, menelan setiap jengkal tanah, dan menyisakan dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Senja mengencangkan lilitan syal rajut abu-abu di lehernya. Langkah kakinya yang beralas sepatu bot kulit menyuarakan ritme monoton di atas jalan setapak berbatu yang basah. Di tangan kanannya, sebuah koper tua berbahan kulit cokelat terasa begitu berat, seolah membawa seluruh beban masa lalu yang enggan ia lepaskan.

Ia berhenti sejenak, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Udara di Sasana Kala selalu beraroma sama: tanah basah, pinus yang membusuk, dan sesuatu yang asingβ€”sesuatu yang menyerupai bau karat atau darah yang mengering. Bagi orang asing, aroma ini mungkin memuakkan. Namun bagi Senja, ini adalah aroma kepulangan. Aroma duka yang telah setahun ini mengendap di dadanya.

"Kau kembali, Senja."

Sebuah suara serak memecah kesunyian kabut. Senja tersentak, kelopak matanya terbuka cepat. Di ujung persimpangan jalan, berdiri seorang pria tua dengan mantel wol kumal yang terkoyak di bagian bahu. Itu Pak Karsa, penjaga gerbang desa sekaligus salah satu sesepuh yang masih bertahan di Sasana Kala. Wajahnya yang keriput tampak seperti pahatan kayu kuno yang lapuk, dan matanya yang keruh menatap Senja dengan kombinasi antara ketakutan dan rasa bersalah.

"Pak Karsa," sapa Senja, suaranya parau, hampir tenggelam oleh desau angin senja yang mulai bangkit. "Ya, saya kembali."

Pak Karsa tidak mendekat. Ia tetap berdiri di batas kabut, menyandarkan tubuh ringkihnya pada sebuah tiang lampu jalan yang telah mati. "Satu tahun, Nduk. Satu tahun sejak... kejadian itu. Mengapa harus sekarang? Di saat kabut sedang tebal-tebalnya?"

Senja mengeratkan genggamannya pada gagang koper. "Saya harus mencari tahu apa yang terjadi pada Fajar, Pak. Polisi sudah menyerah, tetapi saya tidak bisa. Kami lahir bersama, dan saya tahu dia belum mati. Setidaknya, tidak dengan cara yang mereka duga."

Mendengar nama Fajar disebut, raut wajah Pak Karsa berubah tegang. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri secara refleks, seolah-olah nama itu adalah mantra terlarang yang bisa memanggil kutukan dari balik kegelapan hutan pinus di sekeliling mereka. Beberapa penduduk desa yang kebetulan sedang menutup jendela kayu rumah mereka buru-buru mengunci selot, mengabaikan kehadiran Senja seolah gadis itu adalah pembawa wabah. Tatapan curiga dan bisik-bisik samar di balik tirai jendela mulai terasa menghimpit udara.

"Jangan mencari apa yang sudah ditelan oleh senja, Nak," bisik Pak Karsa, suaranya bergetar hebat. "Desa ini tidak lagi sama sejak saudaramu hilang. Ada melodi yang tidak seharusnya didengar, dan ada jemari yang tidak seharusnya menari di atas tuts hitam. Perg***h sebelum kabut benar-benar menutup jalan keluar."

"Saya seorang pianis, Pak Karsa," sahut Senja dingin, jemari tangannya yang panjang dan lentik bergerak secara tidak sadar di balik saku mantelnya, meniru gerakan mengetuk tuts piano. "Musik adalah satu-satunya bahasa yang kami mengerti. Jika Fajar meninggalkan pesan, ia pasti meninggalkannya di rumah itu. Di atas piano kami."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut dari Pak Karsa, Senja melangkah pergi. Ia menembus kabut yang kian pekat, meninggalkan keputusasaan sang orang tua di belakangnya. Di Sasana Kala, waktu seolah berhenti berputar, menyisakan duka yang abadi.

***

Rumah keluarga Senja berdiri di ujung paling terpencil desa, tepat di perbatasan hutan pinus liar yang dikenal penduduk setempat sebagai 'Wana Pangruwat'. Rumah bergaya kolonial Belanda itu tampak seperti monster raksasa yang sedang tertidur dalam balutan kabut. Dinding-dindingnya yang berwarna putih gading kini telah kusam, ditumbuhi lumut kerak hijau kehitaman yang merayap seperti pembuluh darah yang mati.

Senja berdiri di depan gerbang besi yang telah berkarat. Ia mendorongnya perlahan. Suara derit besi yang beradu terdengar sangat nyaring, merusak kesunyian senja yang mencekam. Langkah demi langkah ia ambil menyusuri jalan setapak taman yang kini dipenuhi semak berduri setinggi pinggang.

Saat tiba di depan pintu kayu jati yang kokoh, Senja mengeluarkan sebuah kunci kuningan tua dari saku mantelnya. Kunci itu terasa sangat dingin, seolah-olah baru saja dikeluarkan dari lemari es. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mema**kkan kunci ke lubangnya.

*Klik.*

Suara mekanisme kunci yang terbuka terdengar seperti desah napas lega dari rumah yang telah lama kesepian. Senja mendorong pintu itu.

Kehangatan yang aneh langsung menyergapnya, namun itu bukan kehangatan yang nyaman, melainkan udara pengap yang terperangkap selama setahun penuh. Bau debu, kertas tua yang lembap, dan kayu lapuk langsung menyerang indra penciumannya. Senja melangkah ma**k, menutup pintu di belakangnya, dan seketika itu juga, kebisingan dunia luarβ€”bahkan desau angin hutanβ€”lenyap sama sekali. Sunyi yang mutlak langsung menguasai ruangan.

Ia menyalakan senter kecil yang dibawanya. Cahaya senter itu membelah kegelapan ruang tamu, menyoroti partikel-partikel debu yang menari-nari di udara seperti kunang-kunang mati. Perabotan rumah masih berada di tempatnya, ditutupi oleh kain-kain putih pelindung debu yang kini tampak seperti deretan hantu yang berdiri membeku.

Senja berjalan melewati lorong tengah. Di dinding kanan dan kiri, berderet foto-foto keluarga dalam bingkai kayu hitam. Ada foto masa kecilnya bersama Fajarβ€”mereka berdua mengenakan pakaian formal, tersenyum ke arah kamera sambil duduk bersama di bangku piano besar. Fajar selalu memiliki senyum yang lebih lebar, mata yang lebih hidup, sementara Senja selalu tampak lebih tenang, seolah ia adalah bayangan dari cahaya saudaranya.

Langkah kaki Senja membawanya ke ruang musik di bagian belakang rumah. Ruangan ini memiliki jendela kaca patri besar yang langsung menghadap ke arah hutan pinus. Di tengah ruangan, tertutup oleh selembar kain brokat hitam yang tebal, berdiri sebuah *grand piano* Steinway & Sons peninggalan kakek mereka.

Jantung Senja berdegup lebih kencang. Di sinilah tempat terakhir Fajar terlihat sebelum ia lenyap tanpa jejak pada suatu senja yang dingin, tepat satu tahun yang lalu. Polisi hanya menemukan partitur musik kosong di atas piano dan segelas teh yang masih hangat. Tidak ada tanda-tanda kekerasan, tidak ada pintu yang rusak. Fajar menguap begitu saja seperti kabut yang tersapu angin pagi.

Dengan tangan gemetar, Senja mendekati piano tersebut. Ia memegang ujung kain brokat hitam itu, lalu menariknya dengan satu sentakan kuat.

*Wusss.*

Debu tebal berterbangan, membuat Senja terbatuk kecil. Di bawah cahaya senter yang temaram, permukaan piano kayu m***ni hitam itu berkilau muram, memantulkan bayangan wajah Senja yang pucat dan bermata sembap.

Ia menyapukan jemarinya di atas penutup tuts piano yang tertutup. Dingin yang teramat sangat menjalar dari kayu itu, merambat naik melalui ujung jarinya, menembus lengan, hingga mencengkeram dadanya dengan rasa sesak yang luar biasa.

"Fajar..." bisik Senja. Suaranya bergetar, sarat akan kerinduan dan keputusasaan yang teramat dalam. "Di mana kau? Apa yang kau sembunyikan di sini?"

Tiba-tiba, angin malam berembus kencang di luar, menghantam jendela kaca patri dengan keras hingga bergetar. Bersamaan dengan itu, seolah merespons pangg***n Senja, sebuah suara denting pelan terdengar dari dalam piano yang masih tertutup.

*Ting.*

Satu nada rendah, berat, dan bergema panjang di dalam ruangan yang sunyi itu.

Senja tersentak mundur dua langkah, napasnya memburu. Matanya menatap liar ke arah penutup piano. Tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada tikus, tidak ada barang jatuh yang bisa menekan tuts itu. Nada itu berbunyi dari dalam mekanismenya sendiri, seolah-olah ada jemari tak kasat mata yang baru saja menekan tuts rendah di ujung kiri instrumen tersebut.

Udara di dalam ruangan mendadak turun drastis, membuat napas Senja mengepulkan uap putih. Di batas pandangannya, di luar jendela kaca patri yang buram oleh embun, kabut Sasana Kala tampak bergulung-gulung merapat ke dinding kaca, seolah-olah ada ribuan tangan yang sedang meraba-raba mencari jalan ma**k ke dalam rumah.

Senja tahu, kepulangannya kali ini bukanlah akhir dari duka, melainkan awal dari simfoni kematian yang baru saja dimulai. Dan ia, entah siap atau tidak, harus memainkan bagiannya hingga nada terakhir berdentang.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca