...tiap ketukan melodi terasa bagai paku panas yang menghunjam langsung ke dalam sumsum tulangnya. Rasa sakit itu bukan lagi sekadar fisik; ia telah bermutasi menjadi entitas dingin yang merayap di sepanjang saraf, merenggut kendali atas tubuhnya sendiri. Senja hanya bisa menyaksikan dengan kengerian yang mutlak ketika jemarinya yang hancur, dengan kulit yang mengelupas dan menyisakan daging merah yang basah, terus menari di atas tuts-tuts gading gajah. Setiap kali tuts ditekan, darah segar tepercik, meninggalkan jejak merah pekat yang langsung diserap oleh kayu piano kuno tersebut, seolah instrumen itu sendiri sedang kehausan.
Di belakangnya, bayangan Sang Pemotong Jemari semakin memadat. Bau anyir darah bercampur karat besi dan tanah kuburan yang basah memenuhi rongga dada Senja, membuatnya mual dan sesak napas. Sosok itu membungkuk di atas pundaknya. Dingin yang terpancar dari jubah hitamnya yang compang-camping terasa seperti tusukan ribuan jarum es. Bilah-bilah pisau di ujung jemari makhluk itu saling bergesekan, menghasilkan suara melengking yang menyiksa telinga.
"Sedikit lagi..." bisik suara tanpa wujud itu, bergema di dalam tengkorak Senja, menggetarkan jiwanya yang nyaris hancur. "Biarkan nadanya selesai. Serahkan sisa dirimu pada keheningan yang agung, dan biarkan tempat ini tertidur selamanya dalam dekapan kabut."
Melalui jendela besar di samping piano, Senja dapat melihat kabut perak di luar tidak lagi sekadar diam. Kabut itu bergerak merayap, menjalar seperti tentakel-tentakel raksasa yang perlahan menelan rumah-rumah di Desa Sasana Kala. Suara jeritan histeris para penduduk yang sebelumnya terdengar sayup-sayup kini sepenuhnya lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mati dan menindas. Senja tahu, jika bait terakhir dari "Senandung Kematian" ini selesai dimainkan, kutukan ini akan mengunci desanya dalam kegelapan abadi. Jiwa-jiwa yang hidup akan tersedot ke dalam melodi ini, menjadi santapan bagi entitas yang berdiri di belakangnya.
*Ting. Tong. Tsang.*
Nada-nada itu semakin cepat, semakin liar. Piano itu bergetar hebat, seolah-olah mesin di dalamnya digerakkan oleh keputusasaan ribuan arwah penasaran. Kesadaran Senja mulai goyah. Sudut-sudut matanya mulai menggelap, tergoda untuk menyerah pada rasa sakit yang begitu hebat dan membiarkan kegelapan mengambil alih. *Menyerahlah,* sebuah bisikan halus mengha**t di sudut kepalanya. *Jika kau menyerah, rasa sakit ini akan hilang. Kau hanya perlu membiarkan lagu ini selesai.*
"Tidak..." bisik Senja melalui bibirnya yang pecah-pecah dan berdarah.
Dengan sisa kekuatan kesadarannya yang kian menipis, Senja mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang temaram. Lilin-lilin di sudut ruangan bergoyang ditiup angin gaib, memancarkan cahaya kekuningan yang berkedip-kedip dramatis. Di dinding sebelah kanan piano, tepat di atas perapian batu yang dingin, matanya menangkap siluet sebuah benda yang berkilau samar tertimpa cahaya lilin.
Sebuah kapak hiasan peninggalan leluhurnya. Kapak upacara kuno dengan bilah perak tebal yang masih tampak tajam, tergantung pada dua penyangga kayu.
*Hanya itu satu-satunya cara,* sebuah kesadaran mengerikan menghantam benak Senja.
Selama jemarinya masih menempel pada tuts ini, melodi terkutuk itu tidak akan pernah berhenti. Mantra pengikat yang ditenun oleh Sang Pemotong Jemari terlalu kuat untuk dilawan oleh kekuatan tekad belaka. Tubuhnya telah dikhianati oleh sihir hitam yang mengalir melalui musik. Untuk menghentikan lagu ini, ia harus memutus koneksinya secara fisik. Ia harus menghancurkan instrumen pembawa petaka tersebut—atau menghancurkan dirinya sendiri.
*Dua bait lagi.*
Lengan makhluk di belakangnya bergerak turun, bilah-bilah pisaunya yang berkarat melayang tepat di atas leher Senja, siap mengeksekusinya begitu nada terakhir berdentang. Napas makhluk itu—jika asap hitam itu bisa disebut napas—terasa dingin di tengkuknya.
"Selesaikan..." desis Sang Pemotong Jemari, suaranya dipenuhi ketidaksabaran yang purba.
Senja mengumpulkan seluruh kebencian, ketakutan, dan cinta yang tersisa di dalam dadanya. Ia memikirkan ayahnya, memikirkan anak-anak di Desa Sasana Kala yang berhak melihat matahari terbit, dan memikirkan dirinya sendiri yang menolak untuk mati sebagai budak melodi i**** ini.
Dengan satu hentakan kehendak yang luar biasa—sebuah ledakan adrenalin yang memutus belenggu tak kasat mata sesaat—Senja menarik paksa tangan kirinya dari tuts piano.
*SRAKK!*
Rasa sakit yang luar biasa menjalar hingga ke otaknya saat kulit dan daging di ujung-ujung jari kirinya yang menempel erat pada tuts piano robek, tertinggal di atas gading putih yang kini memerah. Senja menjerit histeris, suara tangisannya memenuhi ruangan sunyi itu. Tanpa membuang waktu satu detik pun sebelum kekuatan gaib itu kembali mencengkeramnya, ia melompat dari kursi kayu, menerjang ke arah perapian.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Raungan murka bergema dari bayangan hitam. Ruangan itu berguncang hebat. Buku-buku di rak berjatuhan, dan kaca-kaca jendela retak menimbulkan bunyi gemertak yang m****akan telinga.
Tangan kiri Senja yang bersimbah darah, gemetar dan mati rasa, meraih gagang kayu kapak kuno di dinding. Kapak itu terasa sangat berat dan sedingin es, namun kemarahan serta keputusasaan memberi Senja kekuatan yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Ia menurunkannya dengan sekali sentakan kasar.
Di atas piano, tangan kanannya masih bergerak sendiri secara magis, memainkan melodi yang mendekati nada penutup. Hanya tinggal tiga nada lagi. Tiga nada sebelum kegelapan abadi mengunci takdir mereka semua.
"Hentikan!" teriak Senja, suaranya parau dan habis.
Dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya yang pucat, Senja meletakkan pergelangan tangan kanannya di atas papan kayu piano, tepat di samping tuts-tuts yang bergerak. Sambil mengangkat kapak perak itu tinggi-tinggi dengan tangan kirinya yang terluka, ia mengarahkan bilahnya yang tajam ke pergelangan tangannya sendiri.
*Satu nada lagi.*
"TIDAK!" raung Sang Pemotong Jemari, bayangannya melesat maju, tangan-tangan pisaunya terangkat untuk menebas leher Senja.
*TEBAS!*
Kapak itu berayun turun dengan kecepatan luar biasa, membelah udara temaram sebelum menghantam pergelangan tangan kanan Senja dengan telak. Suara tulang yang patah dan daging yang terkoyak berpadu dengan jeritan kesakitan yang paling memilukan yang pernah keluar dari tenggorokan manusia. Darah segar menyembur, membasahi wajah Senja dan menodai seluruh permukaan piano kuno itu. Tangan kanannya terputus, jatuh ke lant** dengan suara gedebuk yang tumpul.
Namun, melodi itu belum sepenuhnya mati. Ibu jari tangan kirinya yang tergeletak di dekat piano masih berkedut, bersiap untuk menekan tuts terakhir yang akan mengunci kutukan tersebut.
Dalam sisa kesadaran yang hampir padam akibat kehilangan banyak darah dan syok, Senja tahu tugasnya belum selesai. Ia tidak bisa lagi mengayunkan kapak dengan tangan yang telah putus. Dengan sisa-sisa tenaga hidupnya, Senja menjatuhkan kapak itu ke lant**, lalu memosisikan pergelangan tangan kirinya di atas bilah kapak yang menghadap ke atas.
Sambil memejamkan mata erat-erat dan membayangkan wajah ibunya yang telah tiada, Senja menjatuhkan seluruh berat tubuhnya ke bawah, menekan pergelangan tangan kirinya sendiri dengan keras ke atas mata kapak yang tajam.
*KRETEK!*
Sensasi dingin yang tajam diikuti oleh rasa panas yang membakar seketika melumpuhkan seluruh inderanya. Tangan kirinya terpisah dari lengannya.
Melodi itu terhenti seketika.
Keheningan yang mutlak dan mengerikan tiba-tiba jatuh menimpa ruangan itu. Nada penutup yang dinantikan tidak pernah terdengar.
Di detik berikutnya, Sang Pemotong Jemari mengeluarkan jeritan yang sangat mengerikan—sebuah lolongan frustrasi, kemarahan, dan rasa sakit yang luar biasa karena mangsanya terlepas dan ritualnya hancur berantakan. Tubuh bayangan hitam itu mulai retak, memancarkan cahaya merah darah dari celah-celahnya sebelum akhirnya meledak menjadi kepulan asap hitam yang hancur berkeping-keping. Bersamaan dengan lenyapnya makhluk itu, kabut tebal yang menyelimuti ruangan dan luar rumah mulai menipis dan memudar dengan cepat, ditarik kembali ke dalam kegelapan tanah yang paling dalam.
Senja jatuh berlutut di lant** kayu yang dingin, bersandar pada kaki piano yang kini basah oleh darahnya sendiri. Kedua lengannya yang kini berakhir pada tunggul berdarah terasa mati rasa, hanya menyisakan denyut rasa sakit yang tumpul yang perlahan-lahan meredup seiring dengan kesadarannya yang kian menjauh. Pandangannya mengabur, menatap langit-langit ruangan yang perlahan-lahan diterangi oleh seberkas cahaya yang belum pernah ia lihat selama bertahun-tahun di Desa Sasana Kala.
Cahaya fajar.
Perlahan, warna keemasan yang hangat mulai menerobos ma**k melalui celah-celah jendela yang pecah, menyapu kegelapan yang selama ini mendekam di sudut-sudut ruangan. Di luar, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, terdengar kicauan burung yang menyambut pagi. Kutukan itu telah patah. Desa Sasana Kala akhirnya dibebaskan dari senandung kematian yang mengint** di ujung senja.
Senja tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh kelegaan di tengah rasa sakit yang tak terperi. Matanya perlahan terpejam saat kesunyian yang murni dan damai akhirnya datang menjemputnya ke dalam ketidaksadaran yang panjang. Sunyi yang kini tercipta bukan lagi sunyi yang mengancam, melainkan sunyi yang damai di ujung jemarinya yang telah tiada.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!