Senandung Kematian di Ujung Jemari Senja

Bab 2: Resonansi Jemari Gading

Pengaturan Membaca

**BAB 2: RESONANSI JEMARI GADING**

Rumah tua di ujung Desa Sasana Kala itu berdiri layaknya monumen kesedihan yang membeku dalam waktu. Ketika Senja melangkah melewati ambang pintu kayu yang telah lapuk, bau apak, debu, dan udara lembap langsung menyergap indra penciumannya. Di dalam sini, kabut di luar seakan tidak benar-benar lenyap, melainkan menjelma menjadi keheningan yang menekan dada.

Senja meletakkan kopernya di dekat pintu yang berderit keras saat ditutup. Ia menyalakan lampu minyak gantung di langit-langit yang langsung berpendar kuning temaram, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang menari aneh di dinding retak. Rumah ini adalah tempat terakhir Fajar tinggal sebelum menghilang tanpa jejak setahun yang lalu. Di tempat ini pula, impian mereka sebagai duo pianis hancur berkeping-keping.

"Fajar..." bisik Senja, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, langsung ditelan oleh kesunyian ruangan.

Mencoba mengusir rasa cemas yang mulai menggerogoti ketenangannya, Senja memutuskan untuk mulai membersihkan ruang tengah. Ia melepas mantelnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mengambil selembar kain lap usang yang ia temukan di dapur kering. Ia menyapu debu dari meja kayu, merapikan tumpukan buku yang telah digerogoti gegat, dan menyingkirkan beberapa bingkai foto yang kacanya telah retak. Di dalam salah satu bingkai, wajah Fajar tersenyum lebar di sampingnya, masing-masing memegang piala kompetisi piano tingkat nasional. Senja mengusap kaca berdebu itu dengan ibu jarinya, merasakan denyut kerinduan yang menyakitkan di dadanya.

Saat ia berbalik untuk membersihkan sudut terdalam ruang tengah, langkahnya mendadak terhenti.

Di sana, di bawah bayang-bayang langit-langit yang melengkung, berdiri sebuah objek besar yang diselimuti oleh kain penutup beludru hitam pekat. Kain itu tampak begitu tebal, seolah-olah dirancang untuk menyembunyikan sesuatu yang teramat berhargaβ€”atau teramat mengerikan. Anehnya, kain itu tidak terlalu berdebu, seolah ada tangan tak terlihat yang baru saja merapikannya belum lama ini.

Senja mendekat perlahan. Setiap langkahnya terasa berat, seakan lant** kayu di bawah kakinya memohon padanya untuk berbalik arah. Namun, rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Dengan satu gerakan sentakan yang kuat, ia menarik kain hitam tersebut.

Debu seketika berhamburan ke udara, menari-nari dalam berkas cahaya lampu minyak yang minim. Di hadapan Senja, kini berdiri sebuah piano kuno berjenis *grand piano* dengan kayu berwarna hitam legam yang meng***p misterius.

Senja menahan napas. Piano itu bukan instrumen biasa.

Di sekeliling tubuh piano, terdapat ukiran gading yang luar biasa det**l. Namun, saat Senja mengamati lebih dekat, bulu kuduknya meremang seketika. Ukiran gading itu tidak membentuk motif floral atau malaikat seperti piano klasik Eropa pada umumnya. Ukiran-ukiran itu berbentuk jemari manusia. Ratusan jemari gading yang tampak sangat nyata, lengkap dengan det**l ruas-ruas kuku, kerutan kulit pada sendi, hingga urat-urat halus yang menonjol. Jemari-jemari gading itu seolah-olah tumbuh dari dalam kayu hitam piano, mencengkeram sisinya dengan erat, seolah mencoba merayap keluar dari kegelapan di dalam instrumen tersebut.

"Indah sekali... tapi sangat mengerikan," gumam Senja. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh salah satu ukiran jemari gading itu. Permukaannya terasa sedingin es, namun ada sensasi aneh yang menjalar ke ujung jarinyaβ€”seperti getaran nadi yang sangat halus.

Senja menarik tangannya kembali dengan terkejut. Jantungnya berdegup lebih kencang. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah ilusinya yang terlalu lelah setelah perjalanan jauh.

Pandangannya kemudian beralih ke atas papan tuts piano yang tertutup. Di atas penutup kayu itu, terletak selembar kertas partitur usang. Kertas itu berwarna kuning kecokelatan, pinggirannya telah koyak dan rapuh dimakan usia. Tidak ada nama pencipta, tidak ada judul lagu di bagian atasnya. Yang ada hanyalah barisan paranada yang ditulis dengan tinta merah kecokelatan yang pekat.

Senja mendekatkan wajahnya ke partitur itu. Ia menghirup udara dan seketika merasakan mual yang luar biasa. Bau tinta itu tidak seperti tinta biasa. Ada aroma karat yang menyengat, aroma zat besi yang familier... aroma darah kering.

*β€œJangan mencari apa yang sudah ditelan oleh senja... Ada melodi yang tidak seharusnya didengar...”*

Peringatan Pak Karsa tiba-tiba terngiang kembali di kepalanya, bergema seperti lonceng kematian. Senja menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir ketakutan itu. "Tidak. Aku adalah seorang pianis. Ini hanya sebuah piano tua, dan ini hanya sebuah partitur kuno. Fajar pasti pernah menyentuh piano ini. Mungkin lagu ini yang menuntunku kepadanya."

Tepat pada saat itu, di luar jendela besar ruang tengah, matahari mulai tergelincir di ufuk barat. Semburat cahaya merah darah menerobos ma**k melalui kaca jendela yang berdebu, menyirami piano hitam dan ukiran jemari gading itu dengan warna merah yang pekat dan mengerikan. Suasana ruangan berubah seketika; bayang-bayang di sudut-sudut kamar seolah memanjang, berbisik satu sama lain dalam kegelapan yang merayap naik.

Senja seakan terhipnotis. Matanya terpaku pada not-not balok berwarna merah kecokelatan di atas kertas usang itu. Pikirannya mendadak kosong, digantikan oleh dorongan mistis yang sangat kuat untuk memainkan melodi tersebut. Jemarinya, yang awalnya gemetar karena dingin dan takut, tiba-tiba terasa hangat dan ringan. Seolah-olah ada sepasang tangan tak terlihat yang menuntun tangannya untuk melayang di atas tuts-tuts piano.

Ia membuka penutup tuts piano. Tuts-tuts hitam dan putih di hadapannya berkilau di bawah cahaya senja yang memudar.

Senja menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu meletakkan jari-jarinya pada posisi awal.

Nada pertama dimainkan.

*DONG.*

Suara yang dihasilkan begitu berat, dalam, dan bergaung dengan resonansi yang luar biasa dahsyat. Getarannya terasa hingga ke dalam rongga dada Senja, membuat jantungnya berdegup seirama dengan ketukan nada tersebut. Itu bukan suara piano biasa; suaranya terdengar seperti ratapan sunyi yang ditarik dari kedalaman sumur tanpa dasar.

Senja melanjutkan ke nada berikutnya. Jarinya bergerak dengan keluwesan yang tidak wajar. Melodi yang tercipta adalah sebuah komposisi melankolis yang teramat indah, namun dipenuhi oleh rasa sakit, keputusasaan, dan duka yang mendalam. Setiap nada yang lahir seakan merobek keheningan malam yang mulai turun di Desa Sasana Kala.

Tanpa disadari Senja, saat melodi itu mengalir, kabut tebal di luar rumah mulai berputar-putar liar di dekat jendela, seolah-olah ditarik oleh kekuatan magnetis dari dalam ruangan. Suhu di dalam rumah merosot tajam hingga napas Senja mengembun menjadi uap putih di udara.

*DONG... CLANG... DONG...*

Senja terus bermain, matanya kini terbuka lebar, menatap lurus ke partitur berdarah itu. Ia ingin berhenti. Di dalam sudut kecil kesadarannya yang tersisa, ia menyadari ada sesuatu yang salah. Tangannya tidak lagi berada di bawah kendalinya. Jari-jarinya menari dengan kecepatan yang kian meningkat di atas tuts, menekan nada-nada minor yang semakin gelap dan kacau. Tuts-tuts piano itu terasa hangat, hampir seperti menyentuh kulit manusia yang hidup.

Lalu, ia mendengarnya.

Sebuah suara bisikan halus, berbaur di antara resonansi nada piano yang berdengung. Bisikan itu terdengar seperti suara puluhan orang yang sedang meratap, menangis, dan memanggil namanya dari balik dinding-dinding kayu rumah tua itu.

*"Senja... Senja..."*

Senja mencoba menarik tangannya dari atas tuts, namun jarinya seolah menempel erat, direkat oleh kekuatan tak kasat mata yang sangat kuat. Air mata dingin mulai mengalir di pipinya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung jemarinya, naik ke pergelangan tangan, hingga ke pundaknya. Seolah-olah piano itu sedang menyedot energi kehidupannya melalui setiap ketukan nada.

Di bawah cahaya remang-remang yang tersisa, Senja melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti berdetak.

Ukiran jemari gading yang mengelilingi piano itu... mulai bergerak.

Satu per satu, jemari gading yang kaku itu meregangkan diri. Mereka mengeluarkan suara gemertak yang mengerikan, mirip dengan suara tulang yang patah. Jemari-jemari pucat itu mulai merayap naik dari sisi piano, bergerak lambat namun pasti menuju ke arah papan tuts, mendekati tangan Senja yang masih terikat memainkan melodi terlarang.

Bersamaan dengan itu, dari balik bayang-bayang hitam di sudut ruangan yang tidak terjangkau cahaya lampu minyak, sebentuk siluet tinggi besar mulai mewujud. Siluet itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya berupa kegelapan pekat yang bergulung-gulung dengan sepasang mata berwarna merah menyala yang menatap Senja dengan rasa haus yang tak terhingga. Aroma darah segar dan tanah kuburan yang basah seketika memenuhi ruangan, mencekik napas gadis itu.

Senja ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan. Nada terakhir dari baris pertama partitur itu hampir selesai. Ia tahu, dengan sisa insting bertahannya, bahwa jika nada terakhir itu dimainkan, sesuatu yang mengerikan di sudut ruangan itu akan sepenuhnya bebas, dan jiwanya akan menjadi milik melodi kematian ini selamanya.

Namun, jemari gading di sampingnya kini telah mencapai tangannya, menyentuh kulitnya dengan ujung jari mereka yang sedingin es maut, memaksa jari manis Senja untuk menekan tuts terakhir.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca