**BAB 3: TUMBAL PERTAMA**
Kabut pagi di Desa Sasana Kala tidak pernah benar-benar terusir oleh matahari. Ia hanya menipis, menyisakan lapisan tipis serupa selendang abu-abu yang mengambang malas di atas tanah basah. Senja terbangun dengan rasa pening yang menghantam dinding kepalanya. Ia mendapati dirinya tertidur di atas sofa usang di ruang tengah, masih mengenakan kemeja yang sama dengan yang ia pakai kemarin.
Namun, bukan rasa pening itu yang pertama kali merebut kesadarannya. Melainkan rasa dingin yang janggal.
Senja mengangkat kedua tangannya ke hadapan wajah. Ujung-ujung jarinyaβsepuluh jemari yang biasanya begitu lentur dan sensitif di atas tuts pianoβkini terasa kaku. Sangat kaku, seolah aliran darah di sana telah membeku atau digantikan oleh cairan lilin yang dingin. Ia mencoba menekuk jemarinya, tetapi gerakan itu terasa berat dan lambat, menyisakan sensasi ngilu yang merayap hingga ke pergelangan tangan.
Lebih buruk lagi, di dalam rongga kepalanya, sisa-sisa melodi semalam masih berdengung. Itu bukan melodi yang indah. Itu adalah unt**an nada minor yang ganjil, berputar-putar seperti gasing yang tak mau berhenti, berbisik lirik-lirik tanpa kata yang terus-menerus memanggil namanya.
*Ting... tong... ting...*
Senja menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir gema melodi itu. "Hentikan," bisiknya pada kesunyian rumah tua tersebut. Suaranya serak. Ia bangkit berdiri, melirik ke arah sudut ruangan tempat *grand piano* kuno itu berada. Di bawah remang cahaya pagi, ukiran ratusan jemari gading di badan piano itu seolah-olah bergerak sekilas, merayap dalam ilusi optik yang membuat perut Senja mual.
Sebelum ia sempat memikirkan keg***an itu lebih jauh, sebuah teriakan histeris memecah keheningan pagi dari arah luar rumah.
"Tolong! Astaga, tolong! Ada mayat di perbatasan!"
Teriakan itu melengking tinggi, disusul oleh suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di atas jalan setapak berbatu di depan rumah. Senja tersentak. Rasa kaku di jemarinya mendadak terlupakan oleh lonjakan adrenalin yang tiba-tiba. Ia menyambar mantel cokelatnya yang tersampir di sandaran kursi dan bergegas keluar, membiarkan pintu rumahnya berderit terbuka lebar dibelakangnya.
Udara luar sangat dingin, menusuk hingga ke tulang. Senja mengikuti arah kerumunan warga desa yang berlarian menuju perbatasan hutan pinus di ujung utara Desa Sasana Kala. Tempat itu adalah batas langsung antara pemukiman dan vegetasi liar yang gelap, tempat yang selalu dihindari warga jika malam telah larut.
Sesampainya di sana, kerumunan telah memadat. Bau anyir darah yang pekat dan menusuk hidung mengambang di udara, mengalahkan aroma tanah basah dan pinus. Beberapa wanita menutup mulut mereka, berpaling dengan wajah pucat pasi, sementara beberapa pria dewasa berdiri terpaku dengan tatapan kosong yang dipenuhi horor.
"Minggir! Beri jalan!" suara tegas dari Pak Surya, kepala dusun setempat, memecah kerumunan.
Senja menyelip di antara bahu-bahu warga yang gemetar. Ketika ia berhasil mencapai baris depan, napasnya tercekat di tenggorokan. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik.
Di bawah pohon beringin tua yang akarnya menjulur seperti tentakel hitam, duduk menyandar tubuh kaku Pak Joko, sang penjaga malam desa. Pria paruh baya yang biasanya ramah itu kini telah menjadi sesosok mayat. Matanya melotot lebar, menatap kosong ke langit-langit daun pinus dengan pupil yang telah melebar sempurna, merekam ketakutan terakhir yang teramat sangat sebelum nyawanya direnggut. Mulutnya menganga setengah terbuka, seolah-olah ia mati di tengah jalan saat hendak meneriakkan nama pembunuhnya.
Namun, bukan wajah Pak Joko yang membuat semua orang dicekam ketakutan luar biasa. Melainkan tangannya.
Kedua tangan Pak Joko diletakkan di atas pangkuannya dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, terbuka lebar seolah-olah ia sedang bersiap memainkan sebuah instrumen yang kasat mata. Dan di sana, di ujung kedua telapak tangan itu, tidak ada lagi jemari.
Sepuluh jari Pak Joko telah lenyap.
Senja melangkah maju selangkah tanpa sadar, matanya melekat pada luka mengerikan itu. Potongan pada pangkal jari-jarinya begitu rapi. Sangat rapi. Tidak ada bekas robekan kasar, tidak ada serpihan tulang yang mencuat hancur, dan tidak ada sisa daging yang koyak. Potongan itu sangat bersih, halus, seolah-olah dipangkas dengan pisau bedah khusus yang sangat tajam oleh seorang ahli bedah yang memiliki presisi luar biasa. Luka-luka itu bahkan tampak telah diolesi sejenis cairan lilin hitam yang mengeras, menghentikan pendarahan hebat sehingga mayat itu tidak bersimbah darah, melainkan terlihat bersih. Bersih dan... estetis. Seolah-olah mutilasi ini adalah sebuah karya seni yang dipamerkan.
"Ini g***..." bisik salah seorang warga di samping Senja, suaranya bergetar hebat. "Siapa yang tega melakukan ini pada Pak Joko? Dan jarinya... di mana jari-jarinya?"
"Ini bukan perbuatan manusia biasa," sahut Mbah Danu, seorang tetua desa berkulit keriput yang berdiri tak jauh dari sana. Matanya yang mulai memutih karena katarak menatap lurus ke arah hutan yang gelap. "Ini adalah persembahan. Tumbal telah diambil."
"Apa maksudmu, Mbah?" Pak Surya menyela dengan nada frustrasi yang bercampur takut. "Jangan menyebarkan takhayul di saat seperti ini! Kita harus memanggil polisi kota!"
"Polisi tidak akan bisa menyelesaikan ini, Surya," desis Mbah Danu, suaranya terdengar seperti gesekan daun kering. "Kau tidak melihat kerapiannya? Ini adalah potongan sang pembuat melodi. Hutan ini... ia meminta bagian dari apa yang telah lama hilang. Seseorang telah membangunkan melodi terkutuk itu lagi."
Mendengar kata 'melodi', dada Senja mendadak sesak. Melodi minor yang sejak tadi berputar di kepalanya mendadak berdenting lebih keras, menghantam gendang telinganya dengan nada tinggi yang menyakitkan.
*Ting... tong... ting...*
Senja mengerang pelit, memegangi kepalanya yang mendadak berdenyut hebat. Ia memandang kembali ke arah telapak tangan tanpa jari milik Pak Joko. Sepuluh jari yang hilang. Sepuluh.
Seketika, sebuah ingatan visual dari malam sebelumnya menghantamnya dengan kekuatan penuh: ukiran ratusan jemari gading di sekeliling *grand piano* milik Fajar. Jemari gading yang tampak sangat nyata, lengkap dengan det**l ruas-ruas kuku dan kerutan kulit pada sendi.
*Apakah... apakah jemari gading itu...*
Pikiran mengerikan itu terputus ketika sebuah tangan dingin tiba-tiba mencengkeram bahu Senja dari belakang. Senja terlonjak dan berbalik dengan cepat, napasnya memburu.
Ia berhadapan dengan Mbah Danu. Orang tua itu menatapnya dengan pandangan yang teramat tajam, seolah-olah ia bisa melihat menembus isi kepala Senja.
"Kau..." bisik Mbah Danu, suaranya hanya ditujukan untuk telinga Senja. "Kau tinggal di rumah Fajar sekarang, bukan?"
Senja menelan ludah yang terasa seperti pasir kering di tenggorokannya. Ia hanya bisa mengangguk pelan.
"Pergi dari sana, Nak," kata Mbah Danu, cengkeramannya di bahu Senja mengeras. "Atau kau akan menjadi tuts berikutnya dalam simfoni kematiannya. Alat itu... ia selalu lapar akan jemari yang bisa menari."
"Mbah, apa yang sebenarnya terjadi pada Fajar?" tanya Senja dengan suara bergetar, mencoba mencari jawaban di tengah labirin ketakutannya sendiri. "Apakah ini ada hubungannya dengan piano di rumah itu?"
Mbah Danu tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik dan berjalan menjauh, membiarkan tubuh tuanya tenggelam kembali ke dalam kabut pagi yang merayap turun dari lereng bukit.
"Mbah! Tunggu!" seru Senja, tetapi suaranya tenggelam oleh hiruk-pikuk warga yang mulai histeris ketika petugas medis desa mencoba mengevakuasi jasad Pak Joko.
Senja mundur perlahan dari kerumunan itu. Kepalanya berputar hebat, dan rasa dingin di ujung-ujung jarinya kini telah berubah menjadi rasa kaku yang menjalar hingga ke telapak tangannya. Ia melihat ke bawah, ke arah tangannya sendiri. Kulit di ujung jarinya tampak sedikit pucat, kehilangan rona merah kehidupan, seolah-olah perlahan-lahan mengeras menjadi sesuatu yang menyerupai... gading.
Ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menjalar di sekujur tubuhnya. Senja berbalik dan berlari. Ia berlari secepat yang ia bisa, mengabaikan tatapan heran dari beberapa warga yang ia lewati. Sepatunya menghentak tanah basah, menimbulkan suara cipratan yang berirama konstan di telinganya, menyatu dengan melodi terkutuk yang masih terus berbisik di dalam kepalanya.
Ia harus kembali ke rumah itu. Ia harus menghancurkan piano itu, atau setidaknya mencari tahu apa yang sebenarnya ditinggalkan oleh kakaknya sebelum ia menghilang.
Saat Senja tiba di depan pintu rumah tua yang masih terbuka lebar, angin dingin berembus dari dalam, membawa serta bau apak yang kini terasa bercampur dengan aroma anyir yang samar. Senja melangkah ma**k dan membanting pintu di belakangnya, menguncinya rapat-rapat dengan napas yang terengah-engah.
Ia bersandar pada daun pintu yang dingin, memejamkan mata erat-erat, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mengg***. Namun, keheningan di dalam rumah itu justru terasa lebih mengancam daripada kekacauan di luar sana.
Dari sudut ruangan yang gelap, di balik kain beludru hitam yang kini tersingkap sebagian, piano itu berdiri diam. Dan dalam kesunyian yang mencekam itu, Senja bersumpah ia mendengar suara dencingan satu tuts piano yang ditekan dengan lembut, meskipun tidak ada siapa pun di sana selain dirinya.
*Ting...*
Senja membuka matanya lebar-lebar, menatap lurus ke arah piano hitam legam itu. Di sana, di antara ratusan ukiran jemari gading yang menghiasi tubuhnya, tampak ada satu baris ukiran baru yang semalam ia yakini belum ada di sana. Sepuluh ukiran jemari baru, diletakkan berdampingan, tampak sangat segar seolah-olah baru saja dipahat beberapa menit yang lalu.
Dan di ujung jemari gading yang baru itu, setitik cairan merah pekat perlahan-lahan meleleh jatuh, menetes ke atas lant** kayu dengan suara yang teramat sunyi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!