**BAB 4: BISIKAN DARI BALIK KACA**
Ketakutan bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba; ia merayap, setapak demi setapak, seperti embun beracun yang perlahan-lahan melumpuhkan saraf.
Ketika Senja berhasil menembus kerumunan warga di perbatasan hutan pinus pagi itu, dunianya seakan runtuh. Di atas tanah berlumpur yang dingin, terbujur tubuh kaku milik Ki Martha, sang penabuh gamelan tertua di Desa Sasana Kala. Namun, bukan kematiannya yang membuat bulu kuduk Senja berdiri, melainkan kondisi jasadnya. Sepuluh jari Ki Martha patah, tertekuk ke belakang dengan sudut yang mustahil, seolah-olah dipaksa memainkan instrumen tak terlihat dengan kekuatan yang menghancurkan tulang. Wajahnya membeku dalam ekspresi ngeri yang absolut, dengan mulut ternganga lebar melayangkan jeritan sunyi yang abadi.
Senja tidak tahan. Ia melarikan diri dari kerumunan itu, mengabaikan teriakan histeris warga dan bisik-bisik ketakutan yang mulai menuduh kutukan lama telah bangkit. Ia berlari kembali ke rumah tuanya, mengunci pintu rapat-rapat, dan menyeret langkahnya yang gemetar menuju kamar tidur di lant** dua.
Kini, jarum jam dinding kuno di kamarnya berdenting lambat, seolah-olah waktu sendiri enggan bergerak di rumah itu. Suasana kamar terasa begitu pengap dan dingin, diselimuti kegelapan tipis yang merayap dari sudut-sudut ruangan. Senja duduk di tepi tempat tidur, mendekap kepalanya yang berdenyut kencang. Bayangan jemari Ki Martha yang patah terus berputar di pelupuk matanya, bersanding dengan gema melodi jahanam yang ia mainkan di atas tuts piano semalam.
"Itu bukan kebetulan," bisik Senja pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar, parau oleh rasa takut yang mencekik. "Melodi itu... melodi itu yang membunuhnya."
Ia bangkit dengan tubuh yang masih gemetar, melangkah mendekati meja rias tua di sudut kamar. Di atas meja itu berdiri sebuah cermin oval besar dengan bingkai kayu jati yang sudah menghitam dimakan usia. Kacanya sedikit buram, tertutup lapisan debu tipis dan bercak-bercak keperakan akibat usia. Senja menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat pasi, lingkaran hitam menggelayut di bawah matanya, dan rambutnya kusut masai. Ia tampak seperti mayat hidup.
Senja mengangkat tangan kanannya, berniat mengusap keringat dingin yang mengucur di dahinya.
Namun, pantulan di dalam cermin tidak melakukan hal yang sama.
Senja membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak seketika.
Di dalam cermin, bayangan dirinya tetap berdiri diam dengan kedua tangan terkulai di samping tubuh. Detik berikutnya, permukaan kaca itu beriak, seperti permukaan air yang dijatuhi kerikil. Perlahan tapi pasti, fitur wajah di dalam pantulan itu mulai bergeser, meleleh, dan membentuk wajah yang sangat ia kenal.
Wajah Fajar. Saudaranya yang telah hilang tanpa jejak setahun lalu.
"F-Fajar...?" desis Senja, melangkah mundur satu tapak. Lututnya terasa lemas seperti jeli.
Bayangan Fajar di dalam cermin tidak ikut mundur. Sebaliknya, ia melangkah maju, mendekatkan wajahnya ke permukaan kaca dari sisi dalam. Kulit Fajar tampak kelabu, matanya cekung dan dipenuhi oleh keputusasaan yang amat sangat. Kedua tangan Fajar terangkat, menempel pada permukaan kaca dari dalam, meninggalkan jejak uap dingin yang seketika membekukan permukaan cermin.
*Tok... tok... tok...*
Suara ketukan itu terdengar begitu nyata, berasal dari balik kaca.
"Senja..."
Sebuah bisikan lolos dari bibir bayangan Fajar. Suara itu tidak terdengar di udara kamar, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepala Senja. Suara yang serak, basah, dan dipenuhi ketakutan yang teramat dalam.
"Fajar! Kamu di mana? Apa yang terjadi padamu?!" teriak Senja, histeris. Ia maju kembali, menempelkan telapak tangannya pada kaca, tepat di atas posisi tangan bayangan Fajar. Rasa dingin yang luar biasa menjalar dari kaca, menembus kulitnya, membekukan aliran darahnya hingga ke tulang.
"Hancurkan... piano itu, Senja..." bisik Fajar lagi. Bayangan itu menggelengkan kepalanya dengan panik, matanya melirik liar ke arah luar bingkai cermin, seolah-olah ada sesuatu yang sedang mengawasinya dari kegelapan di belakangnya. "Dia... Dia lapar. Melodi itu... jangan biarkan berlanjut."
"Siapa? Siapa yang lapar?!" Senja berteriak, air mata frustrasi mulai mengalir di pipinya. "Fajar, katakan padaku!"
"Bait kedua..." Suara Fajar semakin melemah, terputus-putus oleh distorsi statis yang aneh. Bayangannya mulai bergoyang dan memudar, seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal. "Jika senja tiba... dia akan mengambil alih... Jangan mainkan bait kedua! Senja, lari! Lari dari rumah inβ"
Sebelum Fajar menyelesaikan kalimatnya, bayangan di dalam cermin tiba-tiba ditarik ke belakang oleh sepasang tangan tak terlihat yang sangat hitam dan berminyak. Bayangan Fajar menjerit tanpa suara, wajahnya menghantam kaca sekali lagi sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya ke dalam kegelapan pekat yang menelan pantulan cermin tersebut.
Seketika itu juga, cermin kembali normal, memantulkan wajah Senja yang dipenuhi horor dan air mata.
Senja terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia melangkah mundur hingga punggungnya menghantam dinding kamar. "Tidak... tidak, ini tidak nyata. Aku sudah g***. Aku pasti sudah g***!" raungnya, menjambak rambutnya sendiri untuk meyakinkan bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk.
Namun, waktu tidak berpihak pada mereka yang ketakutan.
Di luar jendela, langit mulai berubah warna. Semburat jingga keemasan yang biasanya indah kini tampak seperti genangan darah yang meleleh di kaki langit. Senja telah tiba. Dan bersamanya, kegelapan mulai merayap naik, menelan sisa-sisa cahaya hari.
Tiba-tiba, rasa dingin yang luar biasa kembali menyerang ujung-ujung jari Senja. Rasa kaku yang ia rasakan sejak pagi tadi mendadak berubah menjadi rasa nyeri yang menusuk-nusuk, seolah ada ribuan jarum mikro yang disuntikkan ke dalam aliran darahnya.
Lalu, tubuhnya menegang.
Senja mencoba melangkah, tetapi kakinya tidak bergerak sesuai keinginannya. Alih-alih melangkah mundur untuk bersembunyi, kaki kirinya maju satu langkah. Kemudian kaki kanannya menyusul.
"T-tidak... tunggu," gumam Senja, panik.
Ia mencoba menghentikan gerakannya, mengerahkan seluruh kekuatan otot dan pikirannya untuk berdiam diri. Namun, tubuhnya menolak untuk patuh. Ia merasa seperti boneka kayu yang talinya ditarik secara paksa oleh dalang tak kasatmata. Sendi-sendinya berderit pelan saat tubuhnya berbalik secara mekanis, berjalan keluar dari kamar tidurnya.
"Berhenti! Kumohon, berhenti!" Senja berteriak pada tubuhnya sendiri, tetapi suaranya hanya bergema sia-sia di lorong rumah yang sepi.
Ia berjalan menuruni tangga selangkah demi selangkah. Setiap pijakan terasa seperti siksaan. Jiwanya meronta di dalam sangkar dagingnya sendiri, mencoba memutus kendali asing yang kini menguasai motoriknya. Tangannya terjulur ke depan, kaku dan dingin, menunjuk ke arah ruang tengah.
Di sana, di bawah siraman cahaya jingga kemerahan dari jendela besar, *grand piano* kuno itu menunggu.
Ukiran jemari gading di badannya tampak berkilau dalam kegelapan, seolah-olah mereka sedang menari kegirangan menyambut kedatangan mangsa baru. Tutup piano itu perlahan terangkat dengan sendirinya, memamerkan barisan tuts hitam dan putih yang tampak seperti deretan gigi monster yang siap mengunyah korbannya.
Tubuh Senja berjalan mendekat. Ia tidak bisa memejamkan mata; kelopak matanya dipaksa terbuka lebar, memaksanya menyaksikan setiap detik dari mimpi buruk yang menjadi kenyataan ini. Ia didudukkan di atas bangku piano yang dingin.
"Jangan... kumohon, jangan..." Senja terisak, air matanya menetes di atas tuts-tuts piano putih.
Kedua tangannya terangkat ke atas tuts. Sepuluh jemarinya yang kaku mendadak melentur dengan cara yang menyakitkan, meregang melampaui batas normalnya hingga terdengar bunyi *klek* yang mengerikan dari persendiannya.
Lalu, jemari itu turun menghantam tuts.
*Ting... tong... ting...*
Melodi itu dimulai kembali. Namun kali ini, tempo musiknya berbeda. Jika semalam melodi itu mengalir lambat dan menghantui seperti ratapan kematian, kini bait kedua dimainkan dengan tempo yang jauh lebih cepat, agresif, dan penuh amarah.
Jari-jari Senja menari di atas tuts dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Nada-nada minor yang tajam dan kacau melompat dari dalam piano, merobek keheningan sore. Musik itu terdengar seperti jeritan keputusasaan ribuan jiwa yang tersiksa di dalam neraka.
Senja bisa merasakan otot-otot tangannya menegang hingga ke batas maksimal. Rasa sakit yang amat sangat menjalar dari ujung jarinya, merayap naik ke pergelangan tangan, siku, hingga ke bahunya. Kulit di sekitar kukunya mulai retak akibat hantaman yang terlalu keras pada tuts piano yang kaku, meneteskan darah segar yang langsung menodai warna putih gading tuts tersebut.
Setiap ketukan nada seperti menyedot paksa energi kehidupannya. Pandangan Senja mulai mengabur, kepalanya berputar hebat, tetapi tangannya tidak berhenti. Mereka terus bergerak dengan kecepatan yang semakin g***, menuruti kemauan entitas kegelapan yang bersemayam di dalam instrumen terkutuk itu.
Di balik jendela yang menghadap ke arah desa, kabut tebal berwarna abu-abu pekat mulai turun dengan cepat, menelan sisa-sisa cahaya senja. Dan di dalam melodi yang semakin cepat itu, Senja bisa mendengar suara bisikan ribuan suara yang tumpang tindih, tertawa di balik denting piano yang kaku, menuntut tumbal berikutnya yang akan segera datang.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!