Senandung Kematian di Ujung Jemari Senja

Bab 5: Histeria Sasana Kala

Pengaturan Membaca

**BAB 5: HISTERIA SASANA KALA**

Rona merah darah di cakrawala baru saja meredup ketika jeritan itu merobek kesunyian Desa Sasana Kala.

Di dalam kamarnya yang dingin, Senja tersentak mundur dari cermin oval. Bayangan Fajarβ€”saudaranya yang hilangβ€”yang baru saja menempelkan wajah pucatnya pada permukaan kaca, memudar bagai asap yang ditiup angin kencang. Jantung Senja bertalu liar di rongga dadanya, seolah-olah hendak menjebol tulang rusuk. Napasnya memburu, meninggalkan jejak uap tipis di udara malam yang kian membeku.

"Fajar..." desisnya dengan tenggorokan kering.

Namun, tidak ada waktu untuk meratapi ilusi atau hantu di dalam cermin. Dari arah luar, tepatnya dari rumah sebelah yang hanya berjarak sepelemparan batu, jeritan histeris kembali terdengar, disusul oleh suara gaduh langkah kaki yang panik dan teriakan-teriakan warga yang memanggil bantuan.

Senja menyambar selendang rajutnya yang lusuh, lalu bergegas menuruni tangga kayu yang berderit memprotes setiap langkahnya. Ketika ia membuka pintu depan, angin malam langsung menampar wajahnya yang pucat, membawa serta aroma anyir yang samar namun tajam. Aroma yang sangat ia kenal dari hutan pinus pagi tadi. Darah segar.

Kerumunan warga sudah berkumpul di halaman rumah Pak Harjo, seorang perajin kayu tua yang ramah, tetangga terdekat Senja yang sering kali membagikan singkong rebus padanya. Obor-obor bambu dinyalakan, melemparkan bayangan-bayangan menari yang mengerikan di dinding anyaman bambu rumah Pak Harjo.

"Minggir! Beri jalan!" teriak Kang Darman, salah satu pemuda desa yang bertubuh kekar, sambil menerobos kerumunan.

Senja menyelinap di antara tubuh-tubuh yang gemetar ketakutan. Ketika ia berhasil mencapai ambang pintu rumah Pak Harjo, lututnya seketika lemas. Ia harus berpegangan pada tiang penyangga kayu agar tidak jatuh tersungkur.

Pak Harjo terduduk di kursi goyangnya di teras rumah. Kepalanya terkulai ke belakang dengan mata melotot tanpa nyawa, menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Mulutnya menganga lebar, persis seperti ekspresi terakhir Ki Martha pagi tadi. Namun, yang membuat semua orang menahan napas dalam kengerian yang mutlak adalah kedua tangannya yang diletakkan di atas meja kayu kecil di depannya.

Sepuluh jari Pak Harjo telah patah, terpuntir ke arah yang berlawanan dengan sudut yang mustahil, dan di sepanjang sendi-sendinya, kulitnya terkelupas serta terpotong rapi seolah disayat oleh kawat baja yang sangat tipis. Darah segar masih menetes dari ujung-ujung jemari yang hancur itu, menggenang di atas meja, membentuk pola merah yang mengerikan. Itu adalah tiruan persis dari kondisi jasad Ki Martha. Siksaan yang sama. Kematian yang sama.

"Ini g***... Ini benar-benar kutukan!" bisik seorang wanita di barisan belakang, mulai terisak histeris.

"Siapa yang melakukan ini? Siapa ba****** yang tega melakukan kekejian ini pada Pak Harjo?!" raung Darman, wajahnya merah padam oleh perpaduan antara murka dan ketakutan yang luar biasa.

Tiba-tiba, seorang tetua desa, Mbah Carik, melangkah maju. Matanya yang rabun menyipit, menatap nanar dari jasad Pak Harjo ke arah rumah tua milik Senja yang berdiri kokoh di bawah bayang-bayang pohon beringin tua.

"Melodi itu..." suara Mbah Carik yang bergetar memecah keheningan yang mencekam. "Sebelum Pak Harjo berteriak, aku mendengarnya. Melodi piano itu. Melodi sumbang yang sama yang terdengar saat senja mulai tenggelam... tepat sebelum Ki Martha ditemukan tewas di hutan pinus."

Bisikan-bisikan langsung menjalar seperti api menyiram bensin di tengah kerumunan. Puluhan pasang mata kini perlahan berbalik, mengunci pandangan mereka pada satu sosok yang berdiri gemetar di sudut halaman.

Senja.

"Mbah benar!" teriak seorang pemuda lain. "Aku juga mendengarnya! Musik itu berbunyi dari arah rumah Senja beberapa menit yang lalu! Setiap kali piano jahanam itu berbunyi saat senja, seseorang akan mati!"

"Dia pembawa sial!" teriak yang lain. "Sejak keluarganya hilang, dan dia mulai tinggal sendirian di rumah terkutuk itu, desa kita tidak pernah tenang!"

Senja merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak surut. Ia melangkah mundur, mengangkat kedua tangannya yang gemetar di depan dada, mencoba membela diri. "Tidak... bukan aku! Aku bersumpah, aku tidak memainkan piano itu! Aku bahkan tidak menyentuhnya!"

"Lalu siapa?!" bentak Darman, melangkah mendekati Senja dengan obor yang diacungkan tinggi-tinggi. Cahaya api menyinari wajahnya yang terdistorsi oleh kemarahan. "Hanya kau yang tinggal di rumah itu! Tidak ada orang lain! Ayahmu, ibumu, dan saudaramu Fajar sudah pergi atau mati! Kau memelihara s**** di dalam rumah itu, Senja!"

"Aku tidak memelihara apa-apa!" air mata Senja akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang dingin. "Tolong, percayalah padaku! Piano itu... piano itu berbunyi sendiri! Ada kekuatan lain di rumah itu!"

"Bohong!" teriak warga serempak. Histeria massa telah mengambil alih akal sehat mereka. Ketakutan yang amat sangat telah bermutasi menjadi kemarahan yang haus darah.

"Bakar saja rumahnya! Bakar piano itu!" teriakan itu mulai bergema, disusul oleh persetujuan dari warga lainnya. Mereka mulai merangsek maju, mengepung Senja.

"C**up!" suara wibawa Mbah Carik kembali terdengar, menghentikan langkah para pemuda yang sudah bersiap menyerbu. "Kita tidak boleh bertindak barbar tanpa bukti yang nyata. Tapi, Senja..." Mbah Carik menatap Senja dengan pandangan dingin tanpa simpati. "...demi keselamatan desa ini, sampai misteri ini terpecahkan, kau dilarang meninggalkan rumahmu setelah matahari terbenam. Dan jika melodi itu terdengar sekali lagi... kami sendiri yang akan menyeretmu keluar dan meratakan rumah peninggalan keluargamu dengan tanah. Perg***h."

Tanpa menunggu perintah kedua, Senja berbalik dan berlari sekuat tenaga. Ia mengabaikan tatapan-tatapan sarat dendam dan bisikan kutukan yang dilemparkan warga padanya. Ia terus berlari membelah kegelapan malam, ma**k ke dalam rumahnya, lalu membanting pintu jati yang tebal itu dan menguncinya dengan tiga selot sekaligus.

Senja menyandarkan punggungnya pada pintu, perlahan merosot hingga terduduk di lant** yang dingin. Ia menekuk lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan menangis dalam kesunyian yang mencekik. Di luar, desas-desus kemarahan warga masih terdengar samar, seperti dengung lebah yang bersiap menyengat.

"Fajar... Ibu... Ayah... apa yang sebenarnya terjadi pada rumah ini?" bisiknya di sela-sela tangisnya.

Setelah beberapa menit yang melelahkan, Senja menghapus air matanya dengan kasar. Ketakutan memang melumpuhkan, tetapi rasa ingin tahu dan naluri bertahan hidup mulai mengambil alih. Jika ia tidak menemukan jawaban malam ini, esok hari warga desa yang dipimpin Darman benar-benar akan membakarnya hidup-hidup di dalam rumah ini.

Ia bangkit, mengambil lampu minyak kuno dari atas meja kayu di aula, memantik apinya, dan berjalan perlahan menuju ruang tengah.

Di sana, di bawah sorot cahaya kuning yang bergoyang-goyang, instrumen terkutuk itu berdiri. Piano besar berwarna hitam legam dengan ukiran kayu bergaya gotik yang rumit. Tuts-tutsnya yang putih tampak berkilau seperti deretan gigi monster yang siap mengunyah mangsanya. Senja mendekat, menatap piano itu dengan ngeri sekaligus benci.

Ia mengitari piano tersebut, mengamati setiap jengkal bagian luarnya. Mengapa instrumen ini bisa mengeluarkan suara sendiri? Mengapa setiap nadanya menuntut nyawa berupa jemari manusia?

Saat ia melangkah ke sisi belakang piano, kakinya tiba-tiba merasakan sensasi yang berbeda. Papan lant** kayu jati di bawah karpet beludru merah yang menopang piano itu terasa sedikit amblas dan mengeluarkan suara derit yang lebih dalam, tidak seperti papan lant** lainnya.

Kerutan muncul di dahi Senja. Ia meletakkan lampu minyaknya di atas meja terdekat, lalu berlutut. Dengan susah payah, ia menyibakkan ujung karpet beludru merah yang tebal dan berdebu itu.

Di balik karpet, tersembunyi di bawah bayang-bayang bodi piano yang besar, terdapat sebuah garis sambungan kayu yang membentuk persegi panjang sempurna di lant**. Ada sebuah cincin besi berkarat yang tertanam rata dengan permukaan kayuβ€”sebuah pintu jebakan.

Jantung Senja kembali berdegup kencang. Ia telah tinggal di rumah ini sepanjang hidupnya, namun ia tidak pernah tahu bahwa ada ruang bawah tanah di bawah ruang tengah ini. Orang tuanya selalu melarangnya mendekati area sekitar piano dengan alasan instrumen itu adalah pusaka keluarga yang rapuh. Kini ia mengerti, ada sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan.

Senja meraih cincin besi itu. Dinginnya logam berkarat itu seolah menusuk langsung ke tulang-tulangnya. Sambil menahan napas, ia menarik cincin tersebut dengan seluruh tenaganya.

Dengan suara derit engsel berkarat yang m****akkan telinga sunyi, pintu jebakan itu terbuka.

Aroma busuk seketika menyeruak dari dalam kegelapan di bawah sana. Itu bukan sekadar bau debu atau kelembapan bawah tanah, melainkan bau kertas-kertas tua yang lapuk, minyak tanah, dan... bau amis besi yang sangat pekat.

Senja mengambil lampu minyaknya, mengarahkannya ke dalam lubang yang menganga hitam. Cahaya kuning yang lemah memperlihatkan deretan anak tangga batu yang menurun tajam ke dalam kegelapan yang absolut.

Menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, Senja memantapkan hati. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, ia mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga pertama, membiarkan kegelapan ruang bawah tanah menelan sosoknya bulat-bulat, sementara di atas sana, angin malam berembun mulai melolong lewat celah jendela, menyanyikan melodi kematian yang belum usai.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca