**BAB 6: LEMBARAN DARAH MASA LALU**
"Tiba-tiba, seorang tetua desa, Mbah Sastro, melangkah maju dengan tubuh gemetar, tongkat kayunya mengetuk tanah dengan ritme yang kacau. Wajah keriputnya yang biasanya tenang kini menyiratkan kengerian yang teramat sangat. Matanya yang kabur menatap lurus pada jasad Pak Harjo yang mengenaskan, lalu perlahan beralih menatap kegelapan hutan di kejauhan.
"Ini bukan perbuatan manusia," bisik Mbah Sastro, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam riuh tangis warga. "Dia... Dia telah kembali. Sang Pemotong Jemari sedang menagih hutang yang belum lunas!"
Jeritan histeris kembali pecah mendengar ucapan sang tetua. Rumor kuno yang selama ini dianggap dongeng pengantar tidur untuk menakut-nakuti anak-anak desa, kini menjelma menjadi kenyataan yang berdarah di depan mata mereka.
Di tengah kepanikan yang kian memuncak, Senja merasa dunianya berputar. Kata-kata Mbah Sastro bagaikan gada godam yang menghantam dadanya. Napasnya terasa sesak, seolah-olah udara di sekitar rumah Pak Harjo telah menjelma menjadi racun yang mencekik tenggorokan. Tanpa memedulikan kerumunan yang kian liar dalam ketakutan, Senja melangkah mundur perlahan, lalu berbalik dan berlari sekencang mungkin menembus kegelapan malam.
Ia harus pulang. Ada sesuatu di rumahnya—sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik bayang-bayang ketakutan mendiang ayahnya—yang harus ia temukan saat ini juga.
Sesampainya di rumahnya yang sunyi, Senja langsung mengunci pintu rapat-rapat, menyandarkan punggungnya pada kayu jati yang dingin. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdengung. Di dalam keheningan rumah yang mencekam, ia hanya ditemani oleh detak jam dinding tua yang lambat dan bayangan-bayangan hitam yang dilemparkan oleh sisa cahaya bulan melalui celah jendela.
Langkah kakinya menuntunnya ke ujung lorong belakang, tempat sebuah pintu kayu ek tua yang selalu digembok rapat berdiri dengan angkuh. Itu adalah pintu menuju ruang bawah tanah. Sejak kecil, mendiang ayahnya selalu melarang keras dirinya dan Fajar untuk mendekati area tersebut. *“Ada i**** yang tidur di sana,”* begitu ayahnya selalu memperingatkan dengan mata yang menyiratkan ketakutan luar biasa sebelum pria itu akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri di studio musiknya.
Namun malam ini, rasa takut Senja telah dikalahkan oleh rasa ingin tahu yang membakar. Menggunakan sebuah kunci kuningan berkarat yang ia curi dari laci rahasia meja kerja ayahnya beberapa bulan lalu, Senja mema**kkannya ke dalam lubang gembok.
*Klek.*
Suara logam yang berputar terdengar nyaring di tengah kesunyian, disusul oleh derit engsel pintu yang berkarat saat Senja mendorongnya perlahan. Aroma udara yang pengap, bau debu yang tebal, dan kelembapan yang berbau anyir samar langsung menyergap indra penciumannya. Senja menyalakan sebuah lentera minyak tanah tua, membiarkan api kecilnya mengusir kegelapan yang telah mengendap di tangga batu itu selama puluhan tahun.
Satu demi satu anak tangga ia turuni dengan sangat hati-hati. Setiap langkahnya menimbulkan gema yang seolah-olah memanggil makhluk-makhluk yang bersembunyi di sudut-sudut tergelap. Ketika kakinya menapak di lant** dasar yang terbuat dari semen kasar, cahaya lenteranya menyingkap sebuah ruangan yang dipenuhi oleh barang-barang kuno: alat musik gesek yang telah rusak, tumpukan kertas musik yang menguning, dan sebuah meja kayu besar di tengah ruangan.
Di atas meja tersebut, sebuah peti kayu kecil berukir motif tanaman sulur yang rumit tampak begitu mencolok di antara debu-debu yang menebal. Anehnya, permukaan peti itu bersih dari debu, seolah-olah baru saja ada seseorang yang menyentuhnya belum lama ini.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Senja membuka tutup peti tersebut. Di dalamnya terletak seikat dokumen keluarga yang diikat dengan pita sutra merah lusuh, sebuah silsilah keluarga besar mereka, dan sebuah buku harian bersampul kulit hitam yang tebal. Kulit sampul itu terasa aneh saat disentuh—terlalu halus, terlalu kenyal, dengan aroma samar seperti daging kering yang terbakar.
Senja membuka lembaran pertama buku harian tersebut. Tulisan tangan di dalamnya menggunakan tinta hitam legam dengan gaya kaligrafi abad ke-19 yang anggun namun kaku. Itu adalah buku harian milik Raden Wiryodiningrat, leluhur pertamanya yang dikenal sebagai maestro biola legendaris yang membawa nama keluarga mereka ke panggung-panggung megah di Eropa.
Senja mulai membaca baris demi baris, suaranya berbisik gemetar di dalam kesunyian ruang bawah tanah.
*“14 November 1887.*
*Kemasyhuran tidak datang dari Tuhan. Tuhan terlalu tuli untuk mendengar doa seorang pemusik gagal seperti diriku. Di dalam kegelapan hutan Sasana Kala, pada malam ketika bulan berwarna merah darah, aku telah menyerahkan apa yang ia minta. Sang Pemotong Jemari telah menerima persembahanku. Melalui jemarinya yang dingin, ia menyentuh biolakuku. Kini, setiap gesekan busurku akan menghasilkan melodi yang mampu membuat para malaikat menangis dan manusia menyerahkan jiwa mereka.”*
Senja membalik halaman berikutnya dengan napas yang kian memburu. Jantungnya mencelos saat membaca lembaran-lembaran berikutnya yang dipenuhi oleh rincian perjanjian jahanam tersebut.
*“Namun, keindahan yang abadi menuntut tebusan yang kekal. Sang Pemotong Jemari tidak meminta emas. Ia meminta bunga tercantik dari darah dagingku sebelum mekar sempurna. Setiap tiga generasi, seorang anak perempuan dari darah Wiryodiningrat harus diserahkan kepadanya. Jemari mereka harus dipatahkan satu demi satu, dipotong sebagai persembahan untuk menghidupkan kembali melodi magis dalam darah keturunan kami. Jika janji ini diingkari, maka kutukan kehancuran akan menimpa seluruh keturunan, dan ia sendiri yang akan datang untuk memotong jemari kami semua hingga tak tersisa satu pun manusia yang membawa darahku.”*
"Tidak... Ini tidak mungkin..." gumam Senja, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
Ia membalik halaman-halaman buku itu dengan tergesa-gesa, mencari lembaran yang lebih baru. Di bagian belakang buku, ia menemukan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan tangan ayahnya sendiri. Catatan itu ditulis dengan tinta merah yang telah mengering, tampak terburu-buru dan penuh dengan keputusasaan yang mendalam.
*“Maafkan ayah, Fajar. Maafkan ayah... Keagungan musik keluarga ini telah memudar, dan bayangan hitam itu mulai berdiri di sudut kamarku setiap malam, memegang pisau perak dan kawat bajanya. Ia menagih janjinya. Jika aku tidak menyerahkanmu, ia akan mengambil kedua anak perempuanku sekaligus. Fajar, anakku yang malang... Biarlah jemarimu yang indah menjadi tumbal agar adikmu, Senja, bisa terus hidup.”*
Buku harian itu terjatuh dari genggaman Senja, menghantam lant** semen dengan suara debuman yang keras.
Senja menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan histeris yang nyaris lolos dari tenggorokannya. Air matanya tumpah ruah membasahi pipinya yang pucat pasi. Kenyataan pahit itu menghantamnya tanpa ampun: Fajar tidak pernah melarikan diri. Fajar tidak pernah meninggalkan dirinya karena egois. Saudaranya yang malang itu telah diserahkan oleh ayah mereka sendiri kepada entitas gaib itu demi menyelamatkan hidup Senja dan mempertahankan sisa-sisa kemasyhuran palsu keluarga mereka.
"Fajar..." ratap Senja, tubuhnya luruh ke lant**. Bayangan wajah Fajar yang pucat di cermin kamarnya tadi malam kini ma**k akal. Itu bukan sekadar ilusi atau halusinasi; itu adalah arwah Fajar yang mencoba memperingatkannya.
Tiba-tiba, keheningan di ruang bawah tanah itu pecah oleh suara yang membuat bulu kuduk Senja berdiri tegak.
*Kreeek... Kreeek...*
Suara derit anak tangga kayu di atas sana terdengar sangat lambat. Seseorang—atau sesuatu—sedang menuruni tangga menuju ke tempat Senja berada.
Senja membeku. Ia menahan napasnya, memadamkan lentera minyak tanah di sampingnya dengan sekali tiup. Kegelapan total langsung menelan ruangan itu, menyisakan keheningan yang begitu mencekik hingga suara detak jantung Senja sendiri terdengar seperti dentuman genderang perang.
Di tengah kegelapan, indra pendengaran Senja menajam. Ia mendengar suara langkah kaki yang tidak biasa. Itu bukan langkah kaki manusia normal. Suara itu terdengar seperti gesekan benda tajam yang diseret di atas permukaan batu, disusul oleh suara ketukan kecil yang berirama.
*Tik... tok... tik... tok...*
Seperti suara kuku-kuku jari yang sangat panjang dan tajam yang diketukkan pada anak tangga kayu.
Aroma udara di dalam ruang bawah tanah itu mendadak berubah drastis. Bau debu menguap, digantikan oleh aroma anyir darah segar yang sangat pekat dan bau busuk dari daging yang membusuk. Suhu udara di sekitar Senja turun drastis hingga ia bisa melihat uap napasnya sendiri menguar di kegelapan, meskipun ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
"Senja..."
Sebuah bisikan parau, terdengar seperti gesekan dua bilah pisau berkarat, menggema di sudut ruangan. Suara itu tidak datang dari arah tangga, melainkan dari kegelapan yang berada tepat di belakang tempat Senja berlutut.
Senja membelalakkan matanya dalam kegelapan. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, terkunci oleh rasa takut yang mutlak. Perlahan, dengan keberanian terakhir yang tersisa, ia menolehkan kepalanya ke belakang.
Di sudut ruangan yang paling gelap, sepasang mata berwarna merah menyala bagaikan bara api yang sekarat tampak menatapnya dengan penuh rasa lapar. Di bawah cahaya samar yang entah datang dari mana, Senja bisa melihat siluet sesosok makhluk jangkung dengan tubuh yang kurus kering bagai tengkorak yang dibungkus kulit ari hitam. Namun, yang paling mengerikan adalah tangannya.
Makhluk itu memiliki jari-jari yang sangat panjang, bercabang-cabang seperti ranting pohon mati, dengan ujung-ujung yang meruncing tajam menyerupai pisau bedah yang berkilau dalam kegelapan. Di sela-sela jemarinya yang mengerikan itu, tampak sisa-sisa darah segar yang masih menetes perlahan, jatuh ke lant** dengan suara ketukan yang konstan.
*Tetes... tetes... tetes...*
"Jemarimu..." bisik makhluk itu lagi, suaranya kini terdengar begitu dekat, seolah-olah entitas itu sedang berbisik tepat di lubang telinga Senja. "Jemarimu sangat indah... persis seperti milik saudaramu..."
Senja menyadari dengan kengerian yang mutlak bahwa malam ini, rahasia masa lalu tidak hanya terungkap untuk membebaskannya, melainkan untuk menandai akhir dari hidupnya sendiri. Sang Pemotong Jemari telah datang untuk menagih bagian terakhir dari perjanjian darah mereka.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!