**BAB 7: KUTUKAN YANG MENJALAR**
...gat hati-hati. Langkah kakinya menimbulkan gema samar yang beradu dengan detak jantungnya yang kian berpacu liar. Udara di bawah sini terasa berkali-kali lipat lebih dingin, seolah-olah seluruh kehangatan di dunia ini telah disedot habis oleh kegelapan yang mendekam di dasar tangga. Bau apak debu berbaur dengan aroma anyir yang pekat—seperti bau karat besi bercampur darah lama—membuat perut Senja mual.
Di ujung tangga, cahaya lentera Senja menerangi sebuah ruangan kecil berkubah batu yang lembap. Di tengah ruangan itu tidak ada tumpukan harta atau barang antik milik ayahnya. Hanya ada sebuah meja kayu ek tua yang permukaannya dipenuhi coretan-coretan tak beraturan, dan di atasnya, sebuah kotak beludru hitam yang telah berjamur bersemayam dengan anggun.
Senja mendekat, jemarinya yang gemetar terjulur untuk menyentuh kotak itu. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh permukaan beludru, sebuah rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menghantamnya.
"Aaaakh!"
Senja menjerit, menjatuhkan lenteranya hingga minyaknya tumpah dan membakar sedikit genangan air di lant** batu. Rasa sakit itu tidak seperti luka bakar atau sayatan pisau biasa; itu adalah rasa sakit yang menjalar dari dalam sumsum tulangnya, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk keluar dari pembuluh darahnya.
Ia jatuh berlutut, mendekap tangan kanannya ke dada. Di bawah cahaya api yang bergoyang, Senja menatap telapak tangannya dengan ngeri.
Manifestasi itu dimulai dari ujung-ujung jemarinya.
Kulit di bawah kuku-kukunya perlahan kehilangan warna merah mudanya yang sehat, berubah menjadi abu-abu pucat, lalu dengan cepat menggelap menjadi sehitam jelaga. Nekrosis menyebar bagai tinta hitam yang ditumpahkan di atas kertas saring. Kulit di ujung jarinya mulai mengerut, mengering, dan membusuk dalam hitungan detik. Bau anyir yang sangat menyengat—bau daging mati—langsung menguar memenuhi ruangan bawah tanah tersebut.
"Tidak... tidak! Apa yang terjadi padaku?!" raung Senja dalam tangisnya. Rasa sakit itu begitu hebat hingga membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Kepalanya berdenyut kencang, dan bayangan-bayangan hitam di dinding seolah menari-nari menertawakan penderitaannya.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, Senja menyeret tubuhnya kembali menaiki tangga batu. Setiap kali jemarinya yang menghitam menyentuh lant** untuk menumpu tubuhnya, rasa sakit yang luar biasa menyengat seluruh sarafnya, memaksanya berteriak hingga tenggorokannya terasa kering dan berdarah.
Ia berhasil mencapai ruang tengah rumahnya. Di sana, di bawah temaram cahaya bulan yang menerobos jendela, grand piano hitam milik mendiang ayahnya berdiri kokoh bagai sebuah monolit kematian.
Senja merangkak mendekati instrumen tersebut. Air matanya terus mengalir, membasahi pipinya yang kian pucat. Rasa sakit di jemarinya kini telah menjalar hingga ke pergelangan tangan. Ia merasa tangannya akan segera hancur dan lepas dari lengannya jika ia tidak melakukan sesuatu.
Secara naluriah, dengan keputusasaan yang berada di ambang keg***an, Senja mengangkat tangannya yang telah membusuk dan menjatuhkannya ke atas tuts-tuts piano.
*Plink.*
Sebuah nada minor bergaung di keheningan malam.
Dan seketika itu juga, keajaiban yang mengerikan terjadi.
Rasa sakit yang membakar, yang tadinya seolah siap merenggut nyawanya, lenyap tanpa bekas. Hilang begitu saja dalam satu ketukan nada.
Senja terengah-engah, matanya melebar tak percaya. Ia menatap jemarinya yang masih hitam legam dan mengeluarkan bau anyir samar. Secara visual, jemari itu tampak mati dan membusuk, namun ia tidak merasakan sakit sedikit pun saat kulit yang rusak itu bersentuhan dengan gading tuts piano. Sebaliknya, kehangatan yang aneh dan menenangkan justru mengalir ma**k ke dalam tubuhnya melalui tuts-tuts tersebut.
Seolah digerakkan oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata, jemari Senja mulai menari di atas tuts. Ia memainkan sebuah melodi yang belum pernah ia pelajari sebelumnya—sebuah senandung yang lambat, melankolis, namun penuh dengan aura kematian yang kental. Setiap nada yang lahir dari jemarinya yang membusuk terasa seperti bisikan dari alam kubur, membelai dinding-dinding rumah tua itu dengan keheningan yang mencekam.
Namun, kedamaian semu itu tidak bertahan lama.
*B**k! B**k! B**k!*
Suara gedoran keras pada pintu depan seketika memutus melodi indah yang dimainkan Senja. Rasa sakit di jemarinya langsung kembali menyengat, meski tidak sehebat sebelumnya, memaksa Senja untuk menarik tangannya dari tuts piano dan mendekapnya kembali.
"Senja! Keluar kau, anak i****!"
Suara teriakan parau dan penuh amarah menggema dari luar rumah. Itu adalah suara Pak Surya, Kepala Desa yang terkenal tegas namun keras kepala.
Senja tersentak. Ia melangkah perlahan menuju jendela, bersembunyi di balik tirai brokat yang berdebu, dan mengintip ke halaman luar.
Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Halaman depan rumahnya yang biasanya sunyi kini telah berubah menjadi lautan api. Puluhan warga desa berkumpul, wajah-wajah mereka yang biasanya ramah kini mengeras, dipenuhi oleh kebencian dan ketakutan yang mendalam. Mereka membawa obor yang menyala-nyala, menciptakan bayangan-bayangan merah yang menari liar di dinding luar rumah Senja. Di tangan mereka tergenggam arit, cangkul, dan balok kayu.
Di barisan paling depan, Pak Surya berdiri dengan obor terangkat tinggi, matanya berkilat memancarkan kemurkaan. Di sampingnya, Mbah Sastro berdiri dengan tubuh gemetar, menunjuk-nunjuk ke arah jendela rumah Senja dengan telunjuknya yang ringkih.
"Kami tahu kau ada di dalam, Senja!" teriak Pak Surya lagi, suaranya menggelegar menembus kaca jendela. "Mbah Sastro telah melihat segalanya! Kau telah membangkitkan kutukan itu! Kematian Pak Harjo adalah ulahmu! Kau adalah penyihir pembawa petaka bagi desa ini!"
"Bakar! Bakar rumah penyihir!" teriak massa di belakangnya, saling bersahutan bagai paduan suara i****.
"Serahkan dia pada kami! Dia harus dihukum mati sebelum seluruh desa ini habis dikutuk!" teriak warga yang lain, mengacungkan senjata mereka ke udara.
Senja mundur selangkah, napasnya memburu. Keringat dingin bercampur air mata membasahi wajahnya. "Tidak... ini tidak benar," bisiknya lirih, suaranya bergetar hebat. "Aku bukan penyihir..."
Namun, bagaimana ia bisa membela diri? Jika ia keluar dan mereka melihat ujung-ujung jarinya yang menghitam, membusuk, dan berbau anyir ini, mereka tidak akan mendengarkan penjelasan apa pun. Jemari ini adalah bukti nyata dari kutukan itu. Mereka akan langsung menyeretnya ke tiang gantungan atau membakarnya hidup-hidup di tengah alun-alun desa.
*B**k!*
Sebuah batu besar menghantam kaca jendela ruang tamu, membuatnya hancur berkeping-keping. Serpihan kaca berserakan di lant** kayu, beberapa di antaranya mendarat tepat di dekat kaki Senja yang gemetar. Udara malam yang dingin menyapu ma**k, membawa serta bau asap minyak tanah dan hawa kemarahan warga.
"Senja! Kami beri kau waktu tiga menit!" seru Pak Surya, suaranya terdengar kian dekat. "Keluar dan serahkan dirimu, atau kami sendiri yang akan meratakan rumah ini dengan tanah! Kami akan membakar tempat ini beserta seluruh i**** yang kau sembunyikan di dalamnya!"
"Bakar! Bakar!" teriakan warga kian histeris. Beberapa orang mulai melemparkan obor menyala ke arah halaman depan, membakar semak-semak mawar liar peliharaan mendiang ibunya. Api mulai menjalar dengan cepat, melahap dedaunan kering dan merayap menuju teras kayu.
Dalam kepanikan yang luar biasa, Senja menatap tangannya yang kian menghitam. Rasa sakit mulai merayap naik kembali ke lengannya, seolah mendesaknya untuk kembali ke satu-satunya pelindung yang ia miliki.
Ia menatap piano hitam di tengah ruangan.
Di luar, kepungan api kian membesar, dan teriak kemarahan warga desa menuntut nyawanya kian membara. Namun di dalam sini, piano itu seolah memanggilnya, membisikkan janji manis tentang kedamaian tanpa rasa sakit, meski harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri yang perlahan terkikis oleh kutukan yang menjalar.
Senja tahu, tidak ada jalan keluar lagi. Pintu depan telah dikepung, dan api mulai menjilat dinding kayu rumahnya. Dengan air mata yang mengalir deras, ia kembali melangkah mendekati piano, siap menyanyikan senandung kematian terakhirnya.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!