Secara naluriah, seolah ada seutas benang tak kasat mata yang menjerat pergelangan tangannya, tubuh Senja ditarik paksa mendekati bangku piano kayu m***ni itu. Dia tidak ingin bermain. Demi Tuhan, jemarinya yang menghitam dan membusuk terasa seakan sedang dipanggang di atas bara api sekaligus dibekukan oleh es kutub secara bersamaan. Kulit mati di ujung jarinya mengelupas, meneteskan cairan keruh berbau anyir ke atas lant** kayu yang berdebu. Namun, kehendak tubuhnya telah dirampas sepenuhnya.
"Tidak... kumohon, jangan lagi..." bisik Senja parau. Suaranya nyaris habis, tercekat di tenggorokan yang terasa sekering padang pasir.
Di luar rumah, badai kemarahan sedang bergolak. Langkah-langkah kaki yang berat berderap di atas tanah yang basah, diiringi oleh seruan-seruan penuh kebencian dan ketakutan. Cahaya obor kemerahan bergoyang-goyang liar di balik jendela kaca yang buram, memantulkan bayangan-bayangan c**** di dinding ruang tengah. Penduduk Desa Karang Senja telah berkumpul, dipicu oleh histeria massal atas rangkaian kematian ganjil yang belakangan ini meneror desa mereka. Bagi mereka, Senja—dan piano peninggalan ayahnya—adalah sumber kutukan yang harus dimusnahkan.
"Bakar rumahnya! Seret gadis terkutuk itu keluar!" teriak sebuah suara berat yang sangat dikenali Senja. Itu suara Danu, pemuda desa bertubuh kekar yang paling vokal mengha**t warga.
"Dia penyihir! Dia membawa maut ke desa kita! Jangan biarkan dia menyelesaikan lagu i**** itu!" sahut suara yang lain, disusul oleh hantaman keras pada pintu depan.
*B**K! B**K!*
Pintu kayu ek yang kokoh itu bergetar hebat di bawah hantaman linggis dan kapak. Setiap dentuman terasa seperti palu yang menghantam dada Senja. Namun, sebelum para penduduk berhasil merubuhkan pertahanan terakhirnya, keheningan yang janggal tiba-tiba turun menyelimuti malam.
Suara jangkrik mati seketika. Desau angin yang biasanya memainkan dahan-dahan pohon pinus lenyap tanpa bekas. Bahkan rintik hujan yang baru saja turun seolah tertahan di udara. Kesunyian itu begitu pekat, begitu menindas, hingga detak jantung Senja yang berpacu liar terdengar bagai ketukan lonceng kematian di telinganya sendiri.
Lalu, kabut itu datang.
Ia tidak turun dari langit, melainkan merayap keluar dari celah-celah papan lant**, dari bawah pintu, dan dari sela-sela dinding batu yang lembap. Kabut itu tebal, berwarna abu-abu keperakan yang tidak wajar, membawa hawa dingin yang mematikan. Hawa dingin yang tidak sekadar membekukan kulit, tetapi seolah-olah merayap ma**k ke dalam pembuluh darah, membekukan aliran kehidupan, dan menyedot habis setiap jengkal kehangatan yang tersisa di dunia.
Di luar, teriakan kemarahan para penduduk mendadak berubah menjadi pekikan kebingungan yang dilingkupi ketakutan.
"Kabut apa ini? Dingin sekali... tanganku sampai kaku!"
"Aku tidak bisa melihat oborku sendiri! Tolong! Siapa yang mematikan cahayanya?!"
Di tengah kepanikan massal di luar, piano hitam di hadapan Senja seolah terbangun dari tidurnya. Tuts-tuts gadingnya yang putih dan hitam bergerak turun dengan sendirinya, mengeluarkan dentang nada rendah yang bergetar hebat. Nada itu begitu kelam, begitu sarat dengan kepedihan dan dendam yang tak kasat mata, hingga meretakkan gelas kaca di atas meja di dekatnya.
Seketika itu juga, sepasang tangan Senja terhempas ke atas tuts piano.
*DENTANG!*
"Aaaaaaaakkkhhh!" Senja menjerit histeris saat jemarinya dipaksa menghantam tuts-tuts gading tersebut.
Rasa sakit yang teramat sangat menjalar dari ujung saraf jarinya yang membusuk, melesat ke pergelangan tangan, hingga menusuk langsung ke pusat otaknya. Kuku-kukunya yang telah melonggar akibat nekrosis terangkat paksa, mengucurkan darah hitam pekat yang langsung menodai warna putih gading piano. Namun, siksaan itu baru saja dimulai.
Kekuatan mistis yang mendekam di dalam piano memaksa jemari Senja menari dengan kecepatan yang tidak ma**k akal. Tangannya bergerak melompati oktaf demi oktaf, memainkan bait-bait akhir dari simfoni kematian yang belum pernah ia ketahui keberadaannya, namun anehnya terasa sangat familier di dalam jiwanya. Melodi itu bertempo cepat, rumit, dan terdengar bagai jeritan jiwa-jiwa yang tersiksa di neraka.
Setiap kali jemari Senja yang hancur menekan tuts, tulang-tulang di dalam jarinya berderak kencang, patah dan bergeser di bawah kulit yang mengelupas. Bau daging mati berbaur dengan aroma besi dari darah segar yang kini memenuhi ruang tengah. Air mata Senja mengalir deras, membasahi pipinya yang kian pucat pasi, namun ia tidak bisa berhenti. Pandangannya mengabur, terkunci pada tuts-tuts yang kini bersimbah darahnya sendiri.
*B**KK!*
Pintu depan akhirnya hancur berkeping-keping. Kabut tebal mengalir ma**k bagai air bah yang dingin, membawa serta Danu dan beberapa pria desa yang memegang senjata. Wajah-wajah mereka pucat pasi, bibir mereka membiru akibat hawa dingin kabut yang mematikan.
"Hentikan... Hentikan permainan si**** ini, Senja!" raung Danu, melangkah maju dengan kapak terangkat di tangan kanannya. Matanya terbelalak ngeri melihat sosok Senja yang duduk membelakangi mereka, bergerak dengan kecepatan g*** yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia normal.
Senja ingin berteriak memperingatkan mereka untuk pergi, namun mulutnya terkunci rapat oleh kekuatan gaib yang menindasnya. Hanya rintihan keputusasaan yang berhasil lolos dari bibirnya yang gemetar.
Saat melodi piano mencapai bagian klimaks yang paling bising dan cepat, hawa dingin di dalam ruangan itu mendadak mengental. Udara seolah berputar, menciptakan riak-riak tak kasat mata yang menari-nari mengikuti setiap ketukan nada yang dimainkan Senja. Riak udara itu tidak tampak oleh mata, tetapi mereka sangat nyata—dan mereka sangat tajam.
*SRET!*
Danu tiba-tiba mematung. Kapak di tangannya terjatuh, menghantam lant** kayu dengan bunyi deburan yang keras. Ia menatap tangan kanannya dengan mata membelalak penuh teror murni.
Ibu jari kanannya telah hilang. Potongannya begitu rapi, begitu bersih, seolah-olah ditebas oleh pisau bedah yang meluncur di udara secepat kilat. Detik berikutnya, darah segar menyembur keluar, membasahi wajahnya sendiri.
"Aaagh... J-jariku... Jariku hilang!" jerit Danu, jatuh berlutut sambil memegangi pergelangan tangannya yang buntung.
Namun, kengerian itu belum berakhir. Seiring dengan jemari Senja yang terus menghantam tuts piano dengan kecepatan yang kian menyiksa, kekuatan tak kasat mata di udara semakin mengg***. Riak-riak tajam itu melesat ke segala arah, menyasar para penduduk yang berkerumun di ambang pintu dan di dalam ruang tengah.
*SRET! SRET! SRET!*
"Tolong! Tanganku!"
"Aaaaakkkhhh! Jariku terputus! Semuanya terputus!"
Jeritan histeris memenuhi udara malam, beradu dengan alunan piano yang kian megah dan mengerikan. Satu per satu penduduk desa bertumbangan ke atas lant** kayu. Jemari mereka—satu demi satu, mulai dari kelingking hingga ibu jari—terpotong secara gaib oleh kekuatan tak kasat mata yang menari di udara seiring alunan musik.
Potongan-potongan jari manusia berterbangan di dalam kabut tebal, jatuh berhamburan di atas lant** seperti hujan daging yang mengerikan. Darah merah segar menyembur dari puluhan tangan yang kini hanya menyisakan tunggul-tunggul daging, mengalir dan menggenang di lant** kayu, berbaur dengan darah hitam milik Senja yang menetes dari meja piano.
Seorang pria tua mencoba merangkak keluar dari pintu, menyeret tubuhnya yang gemetar. Namun, saat ia memainkan jemari tangan kirinya di atas lant** untuk menumpu tubuh, sebuah tebasan tak terlihat kembali meluncur di udara. Kelima jarinya terputus sekaligus, menyisakan telapak tangan yang memancarkan air mancur darah. Pria itu melengkingkan jeritan terakhir yang memilukan sebelum akhirnya pingsan karena syok yang teramat sangat.
Senja menyaksikan seluruh pembant**an itu dari sudut matanya. Jiwanya meronta, menjerit dalam penyesalan yang membakar dada. Setiap nada tinggi yang ia mainkan memotong jari-jari manis tetangganya; setiap nada rendah yang berat memotong ibu jari mereka. Dialah senjata pembunuh itu. Jemarinya yang membusuk adalah pemicu dari setiap sayatan maut yang merenggut bagian tubuh orang-orang di sekitarnya.
*C**up... kumohon hentikan! Biarkan aku mati saja!* batin Senja berteriak histeris, memohon pada entitas kegelapan yang kini menguasai tubuhnya.
Namun, piano itu menginginkan simfoni ini selesai.
Kecepatan tangan Senja kini melampaui batas kemampuan biologisnya. Gesekan yang terlalu cepat antara kulitnya yang membusuk dan tuts gading mulai menimbulkan bau hangus. Tulang-tulang jemarinya patah menjadi bagian-bagian kecil di dalam dagingnya yang menghitam, namun kekuatan gaib itu terus menggerakkannya, memaksa jemari yang hancur itu terus memukul tuts-tuts berdarah demi menyelesaikan bait terakhir.
Danu, yang kini bersimbah darahnya sendiri di atas lant**, menatap Senja dengan mata yang meredup namun sarat akan kebencian. "Kau... kau i****, Senja..." bisiknya serak, sebelum akhirnya pandangannya mengosong dan tubuhnya ambruk tak bergerak di atas genangan darah yang mulai membeku akibat hawa dingin kabut.
Lagu itu menyisakan satu akor penutup. Satu nada terakhir yang akan mengakhiri simfoni penjerat jiwa ini.
Senja merasakan seluruh sisa energi kehidupannya disedot habis, mengalir dari dadanya, melewati lengannya yang kini seutuhnya menghitam, dan bermuara pada ujung-ujung jarinya yang hancur. Dengan satu sentakan terakhir yang mematahkan sisa sendi di pergelangan tangannya, kedua tangan Senja menghantam tuts piano secara bersamaan.
*DENGGGGGGGGGGGGGGGGG!*
Nada terakhir bergaung dahsyat, menggetarkan fondasi rumah kayu itu hingga debu-debu berguguran dari langit-langit. Gelombang suara yang dihasilkan begitu kuat hingga mencerai-beraikan kabut tebal yang menyelimuti ruangan, menyisakan kesunyian yang dingin, hampa, dan mengerikan.
Di dalam ruangan itu, tidak ada lagi suara jeritan. Yang tersisa hanyalah tubuh-tubuh yang bergelimpangan di atas genangan darah yang membeku, dikelilingi oleh potongan-potongan jari yang berserakan bagai sisa-sisa persembahan yang keji.
Kesadaran Senja perlahan meredup. Napasnya tersengal-sengal, dangkal dan dingin. Kedua tangannya yang kini tak lebih dari sepasang lengan hitam yang hancur dan mati terkulai lemas di atas tuts-tuts piano yang merah bersimbah darah. Di ujung jemari senja yang membawa kematian itu, piano peninggalan ayahnya berdiri kokoh, berkilau di bawah temaram cahaya bulan, siap menunggu saat di mana ia akan menuntut mangsa berikutnya.
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!