Bab 9: Pertunjukan Senja Terakhir
Tuts-tuts piano itu mulai bergerak turun dengan sendirinya, seolah ditekan oleh jemari-jemari tak kasat mata yang dingin dan kurus. Nada pertama yang tercipta adalah sebuah denting rendah yang bergetar hebat, merayap di sepanjang lant** kayu, mera**k ke dalam tulang-tulang Senja. Suara itu bukan lagi sekadar musik; itu adalah ratapan dari jiwa-jiwa yang telah lama terkubur di bawah lapisan tanah Karang Senja.
Di luar jendela, kabut perak yang tebal telah memutus hubungan rumah tua itu dengan dunia luar. Suara teriakan marah para penduduk desa terdengar semakin menjauh, teredam oleh kesunyian magis yang pekat, sebelum akhirnya lenyap sama sekali. Keheningan yang tersisa di dalam ruangan itu begitu menindas, menyisakan deru napas Senja yang memburu dan detak jantungnya yang berdentum bagai genderang perang.
Secara paksa, kedua tangan Senja terangkat ke udara. Kulit di ujung-ujung jarinya yang telah menghitam dan membusuk mengelupas lebih lebar, memperlihatkan gumpalan daging merah muda yang mati rasa. Rasa sakitnya telah melampaui batas kemampuan manusia untuk menahannya—itu adalah rasa sakit yang membakar sekaligus membekukan, merayap naik melalui urat nadi menuju kepalanya.
"Hentikan... kubenasi kau, hentikan..." Senja meratap, namun air matanya mengering sebelum sempat jatuh ke pipi.
Tiba-tiba, bayang-bayang di sudut ruangan, tepat di belakang piano kayu m***ni itu, mulai menggeliat. Cahaya lilin yang temaram bergoyang liar, melempar bayangan-bayangan aneh ke dinding berpola usang. Kegelapan di sudut itu seolah memadat, menyedot sisa-sisa cahaya yang ada, membentuk sebuah siluet yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit ruangan yang tinggi.
Itulah dia. 'Sang Pemotong Jemari'.
Sosok itu termaterialisasi dengan mengerikan. Wujudnya menyerupai pria jangkung dengan jubah hitam yang compang-camping, namun tubuhnya tampak terbuat dari jalinan asap hitam yang pekat dan berbau anyir darah serta besi berkarat. Wajahnya tidak memiliki mata, hidung, ataupun mulut—hanya berupa kekosongan hitam yang mutlak. Namun, yang paling mengerikan adalah lengannya. Dari balik lengan jubahnya yang lebar, menjulur sepasang tangan dengan jemari yang sangat panjang, bercabang banyak, dan berujung pada bilah-bilah pisau berkarat yang saling bergemeretak saat bergerak.
*Kring... Srak...*
Bunyi bilah logam yang saling bergesekan itu mengirimkan gelombang ngeri ke sekujur tubuh Senja.
"Selesaikan... bait... terakhirnya..."
Suara itu tidak datang dari udara, melainkan bergema langsung di dalam tempurung kepala Senja. Suara yang berat, parau, dan bergaung bagai bisikan ribuan orang mati yang berbicara serempak.
Kedua tangan Senja terhempas ke atas tuts piano. Lagu "Senandung Kematian" kembali mengalun. Kali ini, temponya jauh lebih cepat, nadanya lebih liar, menyeret kesadaran Senja ke dalam pusaran keg***an. Jemarinya yang rusak menari di atas tuts-tuts gading gajah yang kini bernoda darah segar miliknya sendiri. Setiap ketukan menghasilkan rasa sakit yang membuat Senja ingin mencungkil matanya sendiri agar bisa melupakan rasa sakit itu.
"Tolong aku... siapa pun... tolong aku..." Senja menjerit di sela-sela melodi yang kian membubung tinggi.
Di tengah keputusasaan yang merajam, sebuah kilatan cahaya perak muncul dari sudut ruangan yang lain. Senja melirik dengan sisa kekuatannya. Cermin besar berbingkai kayu jati di dinding samping kiri piano tiba-tiba berembun. Retakan-retakan halus menjalar di permukaannya yang berdebu.
Dari balik kaca yang retak itu, sesosok bayangan yang sangat familier muncul. Wajahnya pucat, berselimut cahaya keperakan yang lembut namun menyedihkan.
"Fajar..." bisik Senja, suaranya tercekat di tenggorokan.
Roh Fajar berdiri di balik dinding kaca cermin, menatap Senja dengan mata yang menyiratkan kesedihan mendalam dan ketakutan yang luar biasa. Dia tidak lagi mengenakan pakaian pemuda desa biasa; wujudnya tampak samar, seolah-olah dia ditenun dari sisa-sisa kabut pagi yang rapuh.
"Senja! Dengar aku!" suara Fajar terdengar seperti gema yang memantul dari dasar sumur yang dalam. "Waktumu tidak banyak. Dia... dia menuntut penyelesaian bait terakhir ini untuk menyempurnakan kontrak kutukan yang telah mengikat keluarga kita selama tiga generasi!"
"Aku tidak bisa berhenti, Fajar! Tanganku... tanganku bukan milikku lagi!" jerit Senja. Di bawah kendali kekuatan gaib itu, jemari kanan Senja mengeksekusi rangkaian nada arpeggio yang rumit, menyisakan jejak cairan keruh di atas tuts putih piano.
Di belakang Senja, sosok 'Sang Pemotong Jemari' membungkuk. Hawa sedingin es berembus dari tubuhnya yang gelap, membekukan tengkuk Senja. Bilah-bilah pisau di ujung jemari makhluk itu perlahan mendekati leher Senja, bersiap untuk memotong lehernya begitu nada terakhir bergema, melengkapi ritual pemanenan jiwa yang sempurna.
"Kau harus memotong melodinya, Senja!" teriak Fajar dari dalam cermin, tubuhnya mulai bergetar hebat saat cermin itu retak lebih parah. "Kutukan ini... ia memakan kesempurnaan! Jiwa ayahmu, jiwaku, dan semua korban sebelum ini... kami semua mati karena mencoba memainkan lagu ini hingga selesai dengan sempurna demi melepaskan diri. Namun itu adalah jebakan! Semakin sempurna kau memainkannya, semakin kuat cengkeramannya!"
"Lalu apa yang harus kulakukan?!" air mata Senja akhirnya tumpah, bercampur dengan peluh dingin yang memba****i wajahnya. Melodi piano kini telah mencapai bagian klimaks, bersiap menuju bait penutup yang megah namun mematikan.
"Kau harus merusak melodinya!" Fajar berteriak, suaranya mulai terputus-putus seiring dengan bayangannya yang memudar di balik retakan kaca yang kian melebar. "Kau harus menghasilkan nada yang salah... nada yang sangat kacau hingga merusak seluruh struktur lagu ini. Tapi... kekuatan piano ini akan memaksamu bermain dengan sempurna. Satu-satunya cara untuk menghentikannya... kau harus memberikan pengorbanan yang ekstrem..."
"Pengorbanan apa?!"
"Kau harus menghancurkan media penghubungnya... tanganmu sendiri, Senja! Kau harus mematikan fungsi jemarimu secara permanen sebelum jari-jari itu menyentuh bait terakhir!"
Mendengar hal itu, 'Sang Pemotong Jemari' mengeluarkan raungan kemarahan yang m****akkan telinga. Suara itu begitu keras hingga kaca jendela rumah tua itu pecah berkeping-keping. Dengan gerakan secepat kilat, salah satu lengan bayangannya yang panjang menebas ke arah cermin tempat roh Fajar berada.
*PRANG!*
Cermin jati itu hancur berantakan menjadi ribuan serpihan tajam yang berserakan di lant**. Sosok Fajar lenyap, meninggalkan Senja dalam kesendirian yang mutlak bersama sang i****.
"Selesaikan..." bisik makhluk itu lagi, kali ini terdengar lebih mendesak dan penuh ancaman. Tekanan pada pergelangan tangan Senja meningkat dua kali lipat. Kekuatan gaib itu memaksa jemari Senja yang hancur untuk bersiap menekan akor terakhir—tiga nada yang akan mengunci jiwanya selamanya dalam kegelapan.
Senja tahu, jika dia menekan tiga nada terakhir itu dengan benar, dia akan mati, dan jiwanya akan diseret ke dalam kegelapan abadi bersama Fajar dan korban-korban lainnya. Namun, jika dia berhenti... tidak, dia tidak bisa berhenti secara sukarela. Kekuatan piano itu terlalu besar. Otot-otot lengannya bergerak di luar kendalinya, ditarik oleh benang-benang gaib yang tak terlihat.
Akor terakhir tinggal berjarak beberapa senti di atas tuts.
Di tengah keputusasaan yang membakar, mata Senja tertuju pada penutup piano kayu m***ni yang tebal dan berat di atas deretan tuts. Penutup kayu itu terbuat dari kayu jati solid berlapis kuningan yang sangat berat, biasanya ditopang oleh sebatang kayu penyangga kecil di sisi kanan.
Dalam sepersekian detik, sebuah keputusan g*** lahir dari sudut tergelap akal sehatnya. Ini adalah pertunjukan senja terakhirnya. Jika dia harus kehilangan segalanya, dia akan memastikan i**** ini tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
Dengan sisa kekuatan kehendak terakhir yang berhasil dia rebut kembali dari tubuhnya yang lumpuh, Senja tidak menggunakan tangannya untuk memainkan nada terakhir. Sebaliknya, dia menggerakkan seluruh berat tubuhnya, melemparkan dirinya ke samping, dan dengan tangan kirinya yang gemetar hebat, dia menyentak kayu penyangga penutup piano itu keluar dari tempatnya.
"TIDAAAAKKK!" raung 'Sang Pemotong Jemari'.
Penutup kayu m***ni yang sangat berat itu jatuh dengan kecepatan penuh, ditarik oleh gravitasi dan keputusasaan.
*B**AAKKK!!!*
Suara hantaman kayu keras yang beradu dengan daging dan tulang terdengar begitu mengerikan di dalam keheningan malam. Rasa sakit yang belum pernah dirasakan oleh manusia mana pun di dunia langsung meledak di seluruh sistem saraf Senja.
Tangan kanannya, yang sedang bersiap menekan akor terakhir di atas tuts, hancur seketika di bawah jepitan penutup piano yang berat. Tulang-tulang jemarinya patah menjadi serpihan, dagingnya yang memang sudah membusuk hancur merata, mengalirkan darah kental yang membasahi celah-celah tuts piano. Nada yang dihasilkan bukanlah melodi yang sempurna, melainkan sebuah denting sumbang yang sangat keras, kacau, dan menyakitkan telinga—sebuah jeritan mekanis dari instrumen yang rusak bersama dengan kehancuran fisik pemainnya.
Senja melolong kesakitan, sebuah jeritan yang melampaui batas suara manusia. Dia terjatuh dari bangku piano, menyeret tangan kanannya yang kini terjepit erat di bawah penutup kayu, hancur tak berbentuk.
Namun, efek dari nada sumbang itu segera terlihat.
'Sang Pemotong Jemari' m****ik histeris. Suara jeritannya terdengar seperti besi yang bergesekan dengan batu gerinda, sangat m****akkan telinga. Tubuh bayangannya yang hitam pekat mulai retak, memancarkan cahaya putih yang menyilaukan dari dalam celah-celahnya. Bilah-bilah pisau di tangannya patah satu demi satu, berjatuhan ke lant** dan berubah menjadi abu hitam yang layu.
"Melodi... yang rusak..." makhluk itu meraung, suaranya perlahan melemah, tersedot kembali ke dalam pusaran dimensi kegelapan yang kini terbuka di atas piano.
Pusaran angin gaib berputar di tengah ruangan, menyedot kabut abu-abu yang menyelimuti rumah itu. Bersama dengan itu, sisa-sisa kegelapan yang membentuk tubuh sang i**** koyak berkeping-keping, ditarik paksa kembali ke dalam perut piano m***ni yang kini mulai mengeluarkan retakan-retakan besar di badannya.
Dengan satu ledakan energi spiritual terakhir yang sunyi, piano kuno itu terbelah menjadi dua. Senandung kematian itu telah berakhir—bukan dengan tepuk tangan, melainkan dengan kehancuran total.
Senja terbaring lemas di lant** kayu yang dingin, berlumuran darahnya sendiri. Napasnya pendek dan tersengal-sengal. Rasa sakit di tangan kanannya yang hancur perlahan berubah menjadi mati rasa yang dingin. Namun, saat dia menatap ke arah jendela, dia menyadari sesuatu.
Kabut perak di luar telah lenyap.
Cahaya kemerahan yang lembut perlahan mulai menyembul dari ufuk timur, menembus kaca-kaca jendela yang pecah dan menyinari ruangan yang hancur itu. Untuk pertama kalinya setelah malam yang seolah tanpa akhir, fajar akhirnya tiba.
Di sisa-sisa serpihan cermin yang hancur di lant**, Senja melihat pantulan samar wajah Fajar untuk terakhir kalinya. Kali ini, tidak ada lagi ketakutan atau kesedihan di wajah pemuda itu. Fajar tersenyum lembut kearahnya, sebuah senyuman penuh rasa terima kasih dan kedamaian, sebelum bayangannya benar-benar larut dalam kehangatan sinar matahari pagi yang mulai menerangi ruangan.
Kutukan itu telah patah. Namun, di ujung jemarinya yang kini telah hancur dan mati, Senja tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa memainkan melodi apa pun lagi untuk selamanya. Di atas lant** yang berlumuran darah, di bawah sinar matahari pertama yang hangat, sang pianis menutup matanya, menyambut keheningan yang akhirnya murni.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!